HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DENGAN KINERJA PROFESIONAL GURU SMA NEGERI DI KOTA BLITAR

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DENGAN KINERJA PROFESIONAL GURU

SMA NEGERI DI KOTA BLITAR

SKRIPSI

 

 

 

 

 

 

Oleh

Arie Mey Dhiana

NIM 102131416278

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN

SEPTEMBER 2006

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Memasuki abad 21 berarti bangsa Indonesia memasuki era globalisasi yang menjadikan dunia ini menjadi suatu kesatuan yang tidak lagi mengenal batas-batas negara dan teritori sebagai akibat adanya revolusi informasi, mengakibatkan pendidikan yang pada hakikatnya merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, merupakan suatu hal yang mutlak dan tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Globalisasi akan mengakibatkan terjadinya persaingan secara bebas, hal ini mengakibatkan peranan pemerintah dalam bidang ketatanegaraan terutama upaya perlindungan terhadap tenaga kerja dalam negeri menjadi surut dan digantikan oleh mekanisme pasar yang ditentukan sepenuhnya oleh kualitas tenaga kerja itu sendiri.

Namun pada kenyataan yang ada menunjukkan bahwa kondisi dan mutu pendidikan yang diharapkan bisa berperan dalam meningkatkan kualitas SDM saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Penelitian dari sebuah lembaga konsultan di Singapura yaitu PERC (The Political and Economics Risk Consultacy) pada akhir tahun 2001, menemukan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara Asia yang disurvei. Korea Selatan berada pada peringkat pertama disusul Singapura dan Jepang. Sementara itu berdasarkan hasil penilaian Program Pembangunan PBB (UNDP) pada tahun 2000 menunjukkan bahwa kualitas SDM Indonesia berada pada urutan ke-109 dari 174 negara, yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan beberapa negara tetangga seperti Singapura (urutan 24), Malaysia (urutan 61), dan Thailand (urutan 76).

Kondisi tersebut menuntut perlu adanya suatu sistem pendidikan yang mampu menyediakan sumberdaya manusia yang mampu bersaing secara global. Oleh karena itulah kebijakan pendidikan nasional perlu diarahkan agar mampu menyiapkan sumberdaya manusia yang mampu menghadapi tantangan masa depan secara efektif sejak usia sekolah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, termasuk teknologi komunikasi dan informasi. Dengan meningkatnya sektor pendidikan berarti meningkatkan kapasitas manusia (human capacity development) untuk bisa berkompetisi dengan bangsa-bangsa maju. Tentu saja pemerintah tidak tinggal diam menghadapi semua kenyataan tersebut, oleh karena itu untuk memajukan sektor pendidikan, pemerintah telah berupaya sekuat tenaga melalui Depdiknas dengan mengembangkan berbagai program untuk memajukan pendidikan nasional.

Banyak usaha dan terobosan telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional agar menghasilkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif sesuai standar nasional. Langkah-langkah strategis yang bisa diidentifikasi sebagai upaya peningkatan mutu lulusan antara lain adalah (1) diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) 2004, (2) pengesahan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN), (3) Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, (4) Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (5) pelibatan tanggung jawab (partisipasi) masyarakat terhadap kemajuan sekolah melalui Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS), dan (6) pelibatan tanggung jawab guru terhadap peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan di sekolah melalui penyelenggaraan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Kebijakan pemerintah kesemuanya tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) Indonesia. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan tentu tak bisa dilepaskan dari peran guru, yang bertanggung jawab atas terselenggaranya suatu proses pembelajaran yang baik dan bisa dipertanggungjawabkan.

Dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia, sekolah memiliki peranan strategis sebagai institusi penyelenggara kegiatan pendidikan. Jalur penyelenggara pendidikan nasional diatur melalui jalur sekolah dan jalur luar sekolah termasuk pendidikan keluarga. Para orang tua berharap banyak terhadap peranan sekolah dalam mengembangkan potensi dan kemampuan anak menjadi manusia berguna. Sekolah juga bermuara pada tujuan utama pendidikan nasional, yaitu (1) mencerdaskan kehidupan bangsa dan (2) mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki kemampuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Suroso, 2002:87-88).

Tujuan pendidikan yang diungkapkan tersebut menjadi arah bagi penyelenggaraan semua jalur, jenis dan jenjang pendidikan, mulai pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi. Keberadaan sekolah menjadi institusi sosial yang menentukan pembinaan pribadi anak dan sosialisasi serta pembudayaan suatu bangsa. Scotter dkk (dalam Suroso, 2002:88) mengutip pendapat John Dewey yang mengungkapkan hubungan erat sekolah dan masyarakat. Dikemukakannya, bahwa pendidikan adalah embrio masyarakat berbudaya tinggi. Dalam praktiknya, sekolah menciptakan lingkungan pembelajaran baru bagi pelajar, termasuk perpustakaan, lapangan olahraga, bidang pekerjaan, seni dan musik, laboratorium sains, taman dan tempat bermain. Di belakang kelas, sekolah menjadi pusat dinamika masyarakat.

Meskipun sekolah merupakan gejala universal dalam kehidupan manusia, tidak berarti sekolah dibiarkan tumbuh begitu saja. Dari waktu ke waktu, sekolah menghadapi berbagai perubahan dalam lingkungan eksternal. Oleh karena itu, sekolah memerlukan pengelolaan yang baik agar menjadi bermutu. Di sini perlu dikemukakan fungsi sekolah sebagai institusi pendidikan yang diatur secara formal . Ben M. Harris (dalam Suroso, 2002:88) mengatakan ada lima bidang fungsi sekolah yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Mengajar

Fungsi ini merupakan pokok untuk mencapai tujuan utama keseluruhan operasional sekolah. Usaha mengajar berhubungan dengan pengajaran dan juga berhubungan dengan murid secara langsung. Mengajar ialah bekerja bersama murid menuju tercapainya tujuan pengajaran.

  1. Pelayanan Khusus Kepada Siswa

Fungsi ini mencakup usaha yang secara tinggi berhubungan dengan murid, tetapi tidak berhubungan dengan pengajaran. Pelayanan khusus kepada murid antara lain memberikan perawatan, konseling, psikologi, bus angkutan, dokter, dan alat-alat seperti halnya guru di kelas yang merupakan bidang fungsi sekolah.

  1. Manajemen

Fungsi ini merupakan ciri usaha yang tidak berhubungan dengan pengajaran dan juga kepada murid. Usaha ini merupakan kewajiban urusan manajer, kepala sekolah,  dewan sekolah, dan pengawas seperti halnya guru-guru dalam kelas. Manajemen dalam pengertian ini bukan hanya dalam bisnis, tapi juga memberikan dukungan pelayanan dalam kegiatan organisasi sekolah.

  1. Supervisi

Fungsi ini adalah bidang yang mencakup hubungan dengan pengajaran, tetapi juga berhubungan dengan murid. Pekerjaan supervisor, koordinator, konsultan, ahli kurikulum, kepala sekolah dan guru kelas, semuanya mempengaruhi pengajaran. Usaha dari pengajaran juga memberikan pengaruh tidak langsung kepada pembelajaran murid. Supervisi memberikan dukungan pelayanan kepada fungsi pengajaran secara tinggi yang berhubungan dengan pengajaran bagi anak-anak.

  1. Administrasi

Bidang administrasi umum dalam operasional sekolah merupakan usaha secara erat yang berhubungan dengan pengajaran atau terhadap murid. Di sini ada koordinasi, fasilitas, pengawasan menjadi karakteristik pekerjaan kepala sekolah, direktur, pengawas, dan lainnya. Usaha ini tidak secara erat berhubungan dengan pengajaran dan murid.

Keseluruhan fungsi utama sekolah sebagaimana dikemukakan secara operasional berhubungan dengan pengajaran dan pembelajaran sebagai tujuan akhir. Dalam bagan ini diungkapkan bahwa pengajaran sebagai tujuan akhir. Dalam bagan ini diungkapkan bahwa pengajaran menjadi fungsi produktif dalam operasional sekolah. Pelayanan supervisi dan pelayanan khusus murid tampak secara langsung mendukung pengajaran. Sementara itu pelayanan manajemen cenderung kurang berhubungan langsung dengan pengajaran.

Hasil

Pembelajaran


Pengajaran

Pelayanan

Supervisi

Pelayanan

Khusus Siswa

Pelayanan

Administrasi

Manajemen

Gambar 1.1 Fungsi Sekolah Sebagai Institusi Pendidikan (Ben M. Harris, dalam Suroso, 2002:90)

Lima fungsi sekolah tersebut dibagi pada dua dimensi fungsi utama dalam operasionalnya, yaitu dimensi yang berhubungan dengan pengajaran dan dimensi yang berhubungan dengan murid. Semua fungsi tersebut bermuara pada terjaminnya pencapaian tujuan. Ini pula yang membedakan sekolah dari institusi pendidikan lainnya dan pengaruh yang diberikan.

Dalam konteks manajemen sekolah, semua kegiatan sekolah harus dikelola dengan memanfaatkan semua sumberdaya (resources) baik sumberdaya manusia, material, dan dana dalam rangka mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Efektivitas dan efisiensi pencapaian tujuan berarti pembelajaran efektif yang bermuara pada pengajaran dan pembelajaran yang menghasilkan murid berprestasi tinggi dan lulusan yang bermutu.

Keberhasilan sekolah dalam mengelola dan menyelenggarakan pendidikan sangat ditentukan oleh komponen-komponen masukan, proses, dan keluaran. Peran kepala sekolah sebagai pimpinan formal di sekolah mempunyai andil cukup besar terutama dalam penerapan fungsinya baik sebagai edukator, manajer, administrator, maupun supervisor. Di samping itu keberhasilan satuan pendidikan (termasuk Sekolah Menengah Atas) dalam menjalankan fungsinya juga dipengaruhi oleh faktor guru.

Sekolah Menengah Atas (SMA) merupakan jenjang pendidikan sebagai lanjutan pendidikan dasar, yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki karakter, kecakapan, dan keterampilan yang kuat untuk digunakan dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar, serta mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan lebih lanjut (Depdiknas, 2002:6).

Upaya mewujudkan tujuan Sekolah Menengah Atas (SMA) tersebut ditentukan oleh berbagai faktor salah satu di antaranya, yaitu guru. Pendidik atau guru merupakan salah satu penentu dalam keberhasilan pelaksanaan proses pembelajaran. Hal ini disebabkan keberadaan guru di sekolah menjadi peranan utama dalam menyampaikan materi pelajaran kepada siswa. Oleh karena itu, keberadaan guru dalam segala keadaan dan latar belakang kemampuan yang dimiliki akan senantiasa memberikan warna terhadap model pembelajaran yang diberikan kepada siswa. Sosok penampilan dan kemampuan seorang guru akan selalu menjadi contoh dan teladan serta menjadi kebanggaan bagi peserta didik di sekolah. Apabila seorang guru kurang bisa memenuhi harapan bagi siswa disebabkan penampilan dan kemampuannya yang sangat rendah, tidak mustahil akan dapat menimbulkan krisis kewibawaan dan kepercayaan bagi siswa yang berujung pada rendahnya kualitas pendidikan yang ada (ISPI, 1992:40). Namun di sisi lain, guru dihadapkan pada berbagai tantangan dalam melaksanakan tugasnya.

Tantangan yang dihadapi guru saat ini jelas berbeda dengan tantangan yang dihadapi guru pada masa sebelumnya. Guru masa kini memang harus berpacu dengan perbuahan zaman yang ditandai dengan pesatnya masyarakat memasuki dunia informasi (information based society). Masyarakat modern dituntut untuk mampu mengakses informasi dalam waktu cepat. Sedangkan guru masih tertatih-tatih mengejar percepatan informasi itu. Sarana pemberdaya guru seperti organisasi profesi guru (PGRI) yang seharusnya bertanggung jawab untuk memberdayakan kreativitas guru, malah membebani guru dengan berbagai iuran dan pemotongan (Syafaruddin, 2002:165).

Riset yang dilakukan oleh Wahyono (dalam Syafaruddin, 2002:165-166) menemukan adanya empat penyakit birokrasi pendidikan. Keempat penyakit birokrasi itu antara lain; (1) rigiditas pelayanan yang cukup kronis, (2) korupsi pelayanan kategori kronis, (3) formalisme birokrasi akut, dan (4) sikap instruktif aparat yang cukup akut. Keempat penyakit itu tentu berimplikasi pada kinerja guru yang menyebabkan kreativitas dan inisiatif mereka rendah. Jika kreativitas guru rendah tentu saja akan berkorelasi dengan rendahnya kreativitas siswa. Jadi, jangan disalahkan jika dalam beberapa tahun terakhir ini belum terlalu banyak siswa unggul. Hal ini barangkali disebabkan oleh suasana penciptaan guru unggul tidak terkondisi.

Seperti dikemukakan Kotten (2005:77), salah satu komponen sistem pendidikan yang cukup menentukan prestasi belajar siswa khususnya kualitas “out put” pendidikan pada umumnya adalah guru, yakni menyangkut kualutas kemampuan mengajarnya. Prestasi belajar dan “out put” pendidikan yang berkualitas merupakan hasil dari proses belajar mengajar yang berkualitas. Proses belajar mengajar yang berkualitas harus dikelola oleh guru-guru yang berkualitas pula. Guru yang berkualitas adalah guru yang memiliki kemampuan profesional yang memadai dalam hal merencanakan dan mengelola kegiatan belajar mengajar, serta menilai hasil belajar siswa.

Amidjaya (1979) menyatakan bahwa kualitas guru yang dibutuhkan dalam era pembangunan ialah mereka yang mampu dan siap berperan secara profesional dalam dua lingkungan besar yaitu sekolah dan masyarakat. Pendapat ini memberi arti bahwa guru yang profesional adalah guru yang mampu menunjukkan performansi mengajar yang tinggi dalam tugasnya, dan berinteraksi dengan warga sekolah dan anak didik, sesama guru, staf administrasi sekolah, dan masyarakat di luar sekolah. Di samping itu guru yang profesional juga diharapkan mampu berkomunikasi dengan orang tua anak didik, masyarakat sekitarnya, dan organisasi atau institusi terkait dengan lembaga pendidikan itu. Darmodihardjo (1982) menyatakan bahwa untuk dapat menghasilkan guru-guru yang performansinya bagus, maka guru-guru harus memiliki kemampuan dalam bahan pelajaran, profesi, penyesuaian diri, sikap-sikap nilai dan kepribadian.

Sedangkan menurut Hamalik (1991), ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu: (a) kompetensi profesional, (b) kompetensi kepribadian, dan (c) kompetensi kemasyarakatan. Kemampuan profesional adalah guru yang bertanggung jawab, mampu melaksanakan perannya, mampu bekerja untuk mencapai tujuan pendidikan dan mampu melaksanakan perannya dalam mengajar di kelas.

Guru yang profesional bukan ditentukan oleh di mana ia bersekolah, tetapi lebih ditentukan oleh apakah ia brhasil dalam bekerja sehingga bisa menyuguhkan karya yang berguna untuk masyarakat yang membutuhkan. Tenaga profesional tidak pernah langsung dihasilkan dari lembaga pendidikan. Suatu cabang profesi hanya bisa dicapai melalui pekerjaan dan karya yang didukung oleh proses inovasi yang terus menerus. Mutu profesi akan terwujud jika seseorang memiliki keahlian dalam suatu bidang yang berkaitan dengan pekerjaan, belajar terus menerus agar semakin berhasil, dan dapat menghasilkan karya yang bermutu sesuai dengan kebutuhan. Pasar (masyarakat). Jika seseorang ingin mencapai suatu tingkat profesional, ia harus belajar terus dengan membaca, menulis, berbicara, meneliti, berinovasi agar dapat menghasilkan karya yang unggul. Alhasil, ia dapat menggantungkan hidupnya dari pekerjaan yang ditekuninya itu (Suryadi, 2003:8-9).

Hasil penelitian pada beberapa SMAN dan pada Kantor Dinas Pendidikan Nasional di Kota Manado (Rumapea, 2005:36), menunjukkan bahwa kinerja guru masih rendah. Rendahnya kinerja guru tersebut dapat dilihat pada kurangnya kesiapan guru dalam melaksanakan tugas pengajarannya, antara lain banyak guru yang tidak menyusun satuan pengajaran, dan masih banyaknya mata pelajaran yang tidak memiliki buku ajar. Permasalahan tersebut diduga disebabkan oleh lemahnya kemampuan kepala sekolah menggunakan kewenangannya dalam mempengaruhi peningkatan kinerja guru yang tinggi. Artinya, jika kewenangan kepala sekolah tersebut digunakan dengan benar diduga dapat memperbaiki kinerja guru.

Menurut Suryadi (2003:9-10), guru yang bermutu ialah yang memiliki kemampuan profesional dengan berbagai kapasitasnya sebagai pendidik. Dalam studi Basic Education Quality (EPP, 1992) ditemukan bahwa guru yang bermutu ditentukan oleh empat faktor utama: (1) kemampuan profesional (professional capacity), (2) upaya profesional (professional effort), (3) waktu yang tercurah untuk kegiatan profesional (professional time devotion), dan (4) akuntabilitasnya (professional accountability).

Pertama, kemampuan profesional adalah inteligensi, sikap dan prestasi di bidang pekerjaannya. Secara sederhana mungkin bisa ditunjukkan dengan penguasaan materi ajar dan metodologinya. Untuk mencapai kemampuan profesional, tidak cukup seorang guru mengantongi ijazah suatu perguruan tinggi, tetapi bahkan yang paling penting adalah kemampuan belajar seumur hidup untuk memperkaya (enrich) dan memutahirkan (update) pengetahuan dan kemampuannya.

Kedua, upaya profesional adalah upaya guru untuk mentransformasikan kemampuan profesional ke dalam tindakan mendidik dan mengajar secara berhasil. Antara lain diwujudkan dengan kecakapan dalam menyusun program pengajaran sesuai tahap perkembangan anak, menyiapkan pengajaran, menggunakan bahan-bahan ajar, mengelola kegiatan belajar, dan mendiagnosa keberhasilan atau kegagalan belajar. guru juga harus dapat memperkaya dan meremajakan kemampuan melalui inovasi dalam mengajar, serta membantu memecahkan kesulitan belajar anak. Sebagai seorang profesional guru dituntut untuk mengkaji, meneliti, dan mengevaluasi cara mengajarnya untuk tidak mengulangi kegagalan, dan tetap berhasil meningkatkan kemampuan belajar anak setiap saat.

Guru seyogyanya bukan kepanjangan tangan birokrasi, ia harus otonom dalam menentukan ppendekatan teknis apapun untuk mencapai keberhasilan dalam bekerja. Guru tidak bisa “dipaksa” menggunakan metoda mengajar tertentu dan atau “dihukum” jika tidak menggunakannya, karena hanya ia yang tahu persis metoda mengajar apa yang ia bisa dan sesuai dengan keadaan anak muridnya. Guru itu juga yang bisa meneliti, misalnya, mengapa anaknya menjadi lamban dalam belajar, dan seterusnya.

Ketiga, waktu yang dicurahkan untuk kegiatan profesional adalah intensitas waktu dari seorang guru yang dikonsentrasikan untuk tugas membelajarkan siswa. Konsep waktu belajar (time on task) yang diukur dari intensitas belajar siswa secara perorangan, dari berbagai studi di berbagai negara termasuk di Indonesia, telah ditemukan sebagai salah satu prediktor terbaik dari hasil belajar siswa. Tidak mungkin guru menjadi profesional jika hanya sebagian kecil saja waktu yang tercurah untuk pekerjaannya, sedangkan sebagian besar waktunya digunakan untuk, misalnya, bekerja di tempat lain, seperti mencari nafkah tambahan, atau mengajar rangkap sehingga menjadi kehabisan waktu untuk menekuni pekerjaan dan hasil-hasilnya.

Keempat, guru itu profesional jika pekerjaannya dapat menjamin kehidupan mereka. Pendapatan seorang profesional ditentukan oleh kemampuan dan prestasi kerjanya. Ia terikat oleh kepentingan klien, yaitu siswa atau keluarganya sebagai pembayar pendidikan. Jika klien puas atas hasil kerjanya, guru akan memperoleh imbalan yang setimpal. Jika sebaliknya maka ia tidak sepantasnya memperoleh imbalan yang memadai. Hanya sebagian kecil status profesional guru itu ditentukan oleh pendidikan guru, yaitu sebagian dari kriteria pertama. Sebagian besar justru ditentukan oleh dirinya sendiri dalam belajar dan berkarya untuk memuaskan klien. Sebagian dipengaruhi oleh sistem pembinaan guru sebagai jabatan profesional seperti pengupahan dan akuntabilitasnya.

Menyadari kondisi tersebut, Indonesia berupaya melakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru agar mampu menghadapi tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global yang penuh dengan persaingan tajam. Dalam rangka meningkatkan mutu guru, UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Depdiknas, 2003:7), menetapkan guru sebagai tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran. Sementara dalam UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (Depdiknas, 2005:10) disebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi akademik diperoleh melalui pendidikan tinggi program sarjana atau program diploma empat. Sedangkan kompetensi guru meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

Untuk lebih meningkatkan penghargaan, diberikan sertifikat pendidik kepada guru. Sertifikat itu merupakan pengakuan atas kedudukan guru sebagai tenaga profesional. Agar dapat melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berhak atas penghasilan di atas kebutuhan hidup  minimum yang meliputi gaji pokok, tunjangan profesi, tunjangan fungsional, tunjangan khusus, dan maslahat tambahan yang terkait dengan tugasnya sebagai guru yang ditetapkan dengan prinsip penghargaan atas dasar prestasi. Selain itu guna mengoptimalkan fungsi dan peran, kepada guru diberikan perlindungan hukum dan perlindungan profesi serta perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja. Itulah beberapa hal yang ditetapkan dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam mengokohkan status guru.

Namun, peningkatan profesionalisme akan ditentukan juga oleh kemauan masing-masing guru untuk memberdayakan diri. Pemberdayaan dapat ditempuh melalui pendidikan, pelatihan, mengikuti seminar-seminar atau melalui media cetak dan elektronik. Guru memang dituntut memiliki semangat pantang menyerah untuk terus menimba ilmu dan terbuka tehadap perkembangan teknologi. Satu hal yang membuat guru tidak boleh merasa lelah adalah tugas mulia yang dipercayakan kepadanya, yaitu menyiapkan masa depan anak-anak bangsa. Kerja keras dan simbah peluh guru menjadi simbol keseriusan bangsa ini untuk mengejar kemajuan.

Sebelum diterbitkannya UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen tersebut, pemerintah telah banyak melakukan upaya dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru, seperti penyelenggaraan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), gugus sekolah dan peningkatan pendidikan bagi guru. Walaupun demikian masih banyak sorotan tentang rendahnya kinerja guru dalam melaksanakan profesinya.

Seiring dengan kebijakan pemerintah tentang otonomi daerah dengan UU No. 22 Tahun 1999 yang berimbas dengan otonomi penyelenggaraan pendidikan kemudian ke otonomi sekolah, maka diharapkan sekolah berusaha secara mandiri untuk mengembangkan dirinya tanpa menunggu perintah (instruksi) dari atas atau dengan budaya petunjuk. Kemandirian sekolah terutama dalam hal upaya peningkatan kualitas (mutu) penyelenggaraan pendidikan terhadap siswa, tentunya dapat menumbuhkembang-kan potensi yang dimiliki guru, seperti kemampuan guru dalam melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah. Untuk mewujudkan hal tersebut salah satu upaya dalam rangka pengembangan potensi atau sumberdaya guru yaitu melalui peningkatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi guru-guru di sekolah.

Berdasarkan permasalahan di atas, peneliti merasa tertarik untuk mengkaji lebih jauh mengenai keadaan guru Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri khususnya yang ada di Kota Blitar, melalui studi dengan judul: “Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Pelatihan dengan Kinerja Profesional Guru SMA Negeri di Kota Blitar”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penelitian ini difokuskan dengan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimanakah gambaran tingkat pendidikan yang dimiliki guru SMA Negeri di Kota Blitar?
  2. Bagaimanakah gambaran tingkat pelatihan yang dialami guru SMA Negeri di Kota Blitar?
  3. Bagaimanakah gambaran kinerja profesional guru SMA Negeri di Kota Blitar?
  4. Apakah ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat pelatihan dengan kinerja profesional guru SMA Negeri di Kota Blitar?

C. Tujuan Penelitian

            Bertolak dari rumusan masalah di atas, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mendeskripsikan tentang:

  1. Tingkat pendidikan yang dimiliki guru SMA Negeri di Kota Blitar.
  2. Tingkat pelatihan yang dialami guru SMA Negeri di Kota Blitar.
  3. Kinerja profesional guru SMA Negeri di Kota Blitar.
  4. Ada atau tidaknya hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat pelatihan dengan kinerja profesional guru SMA Negeri di Kota Blitar.

D. Hipotesis

            Berdasarkan rumusan masalah, maka hipotesis penelitian ini adalah: ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat pelatihan dengan kinerja profesional guru SMA Negeri di Kota Blitar.

E. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:

  1. Bagi para guru SMA Negeri di Kota Blitar, sebagai upaya untuk mendorong dan memotivasi dalam peningkatan kemampuan pelaksanaan tugas-tugas sesuai dengan lingkup pekerjaannya sehingga dapat meningkatkan prestasi kerja sesuai dengan keterampilannya.
  2. Bagi para Kepala SMA Negeri se-Kota Blitar, diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam upaya supervisi dan pengembangan kualitas guru terutama berkenaan dengan tugas dan kompetensi guru di sekolah.
  3. Bagi pimpinan, terutama di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Blitar, dapat digunakan sebagai bahan masukan di dalam merumuskan kebijakan pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia, khususnya bagi para guru SMA Negeri/Swasta.
  4. Bagi pemerintah, dalam hal ini Pemerintah Daerah Kota Blitar, sebagai bahan masukan evaluasi dalam merumuskan penerimaan dan penempatan guru baru (rekrutmen) maupun dalam promosi karier.
  5. Bagi Peneliti Lanjut, sebagai bahan rujukan/referensi dalam upaya melaksanakan penelitian lanjut yang relevan berkenaan dengan permasalahan guru terutama di lingkungan jenjang pendidikan formal..

F.  Asumsi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan asumsi yaitu: ada dugaan bahwa para guru SMA Negeri di Kota Blitar telah memiliki tingkat pendidikan dan pelatihan yang memadai sesuai dengan tugas dan kompetensinya, dengan demikian dapat meningkatkan kinerjanya secara profesional.

G.  Ruang Lingkup Penelitian

Berdasar rumusan masalah, maka ruang lingkup penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1.1 Ruang Lingkup Penelitian

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Sumber Data

Instrumen Penelitian

Tingkat Pendidikan Pendidikan formal yang dimiliki
  • Lulus SD
  • Lulus SLTP (SMP)
  • Lulus SLTA (SMA/SMK)
  • Lulus Diploma I
  • Lulus Diploma II
  • Lulus Diploma III
  • Lulus Sarjana Muda
  • Lulus Diploma IV/S1
  • Lulus S2
  • Lulus S3

 

Guru SMA Negeri di Kota Blitar Dokumen-tasi dan angket
Tingkat Pelatihan Pengalaman pelatihan
  1. Melakukan pendalaman/mempelajari materi pelajaran bidang studi sesuai dengan kurikulum?
  2. Mendiskusikan materi pelajaran bidang studi dengan guru lain?
  3. Mengidentifikasi kesulitan materi pelajaran bidang studi?
  4. Mendiskusikan kesulitan materi pelajaran bidang studi tersebut dengan guru lain?
  5. Membuat rincian pembelajaran untuk minggu efektif?
Guru SMA Negeri di Kota Blitar Dokumen-tasi dan angket

 

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Sumber Data

Instrumen Penelitian

  1. Mendiskusikan rincian pembelajaran minggu efektif dengan guru lain?
  2. Membuat analisis materi pelajaran?
  3. Mendiskusikan analisis materi pelajaran dengan guru lain?
  4. Membuat program semester?
  5. Mendiskusikan program semester dengan guru lain (bidang studi sejenis maupun bukan sejenis)?
  6. Membuat program satuan pelajaran/rencana pembelajaran?
  7. Mendiskusikan program satuan pelajaran/rencana pembelajaran dengan guru lain?
  8. Membuat lembar kerja siswa?
  9. Mendiskusikan lembar kerja siswa tersebut dengan guru lain?
  10. Mengadakan latihan praktik (simulasi) mengajar antar sesama guru?

 

 

 

 

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Sumber Data

Instrumen Penelitian

  1. Mengikuti kegiatan latihan mengajar antar sesama guru (peer teaching)?
  2. Mengikuti latihan mengajar yang disampaikan oleh para ahli/pakar?
  3. Mengunjungi kegiatan belajar mengajar guru lain (kunjungan kelas)?
  4. Membuat perencanaan dan instrumen penilaian/evaluasi hasil belajar siswa?
  5. Mendiskusikan perencanaan dan instrumen penilaian/ evaluasi hasil belajar siswa tersebut dengan guru lain?

 

Kinerja Profesional Guru Kinerja (performan-si) guru
  1. Mampu merumuskan tujuan instruksional dan mengkaji ciri-ciri rumusan tujuan instruksional (tujuan pembelajaran)
  2. Memahami dan menggunakan metode mengajar yang tepat
  3. Mampu memilih dan menyusun program instruksional (program pembelajaran) yang tepat
Guru SMA Negeri di Kota Blitar Dokumen-tasi dan angket

 

 

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Sumber Data

Instrumen Penelitian

  1. Mampu memilih materi pembelajaran yang tepat
  2. Mampu melaksanakan program instruksional (program pembelajaran) yang telah direncanakan secara efisien dan efektif
  3. Mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang efisien dan efektif
  4. Mampu merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
  5. Mampu mengelola interaksi belajar mengajar
  6. Mampu memotivasi siswa untuk belajar
  7. Mampu mengajukan berbagai bentuk pertanyaan secara tepat kepada siswa selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar
  8. Mampu melaksanakan berbagai mekanisme/prosedur belajar mengajar secara tepat

 

 

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Sumber Data

Instrumen Penelitian

  1. Mampu melaksanakan cara-cara berkomunikasi dengan siswa secara efektif
  2. Mampu mengatur tata ruang kelas yang efektif untuk proses belajar mengajar
  3. Mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat
  4. Mampu menciptakan keterlibatan siswa secara mental dan fisik dalam proses belajar mengajar
  5. Mampu menilai prestasi belajar siswa

H.  Definisi Operasional

 

Untuk menghindarkan salah pengertian atau penafsiran terhadap istilah-istilah yang terdapat dalam penelitian ini, maka perlu diberikan penegasan operasional yang

berhubungan dengan istilah-istilah dimaksud, sebagai berikut:

  1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada SMA Negeri, dalam hal ini guru SMA Negeri di Kota Blitar.
  2. Profesional guru adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau kompetensi tertentu serta memerlukan pendidikan profesi yang dipersyaratkan
  3. Kompetensi guru adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
  4. Jabatan adalah kedudukan yang menunjukkan tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak seorang guru yang berstatus  Pegawai Negeri Sipil (PNS) dalam suatu satuan organisasi negara atau pemerintah.
  5. Diklat adalah kegiatan pendidikan jabatan bagi pegawai yang berstatus PNS, dalam hal ini bagi guru SMA Negeri melalui penyelenggaraan proses belajar mengajar baik melalui jalur formal maupun nonformal dalam rangka meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugasnya/tugas keprofesionalan.
  6. Tingkat Pendidikan adalah jenjang pendidikan formal yang dimiliki/dialami guru SMA Negeri.
  7. Tingkat Pelatihan adalah pengalaman pelatihan kerja yang diikuti dan dimiliki guru SMA Negeri sebagai PNS di Kota Blitar.
  8. Kinerja guru adalah kemampuan pencapaian hasil kerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh guru SMA Negeri dalam melaksanakan kompetensi tugasnya, dalam hal mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar sertya menilai hasil belajar siswa.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Pengertian Guru

Untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualyats manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta menguasaui ilmu pengetahuan, teknologi dan seni, diperlukan pendidikan yang berkualutas pula. Sedangkan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak dapat dipisahkan peran seorang pendidik, dalam hal ini yaitu guru.

Pendidik adalah seorang yang memberi atau melaksanakan tugas pendidikan, tugas untuk mendidik. Dalam kehidupan sehari-hari orang mengatakan “dia adalah seorang pendidik”, biasanya dimaksud “seorang ahli pendidikan, seorang pendidik yang haik”. Orang tua atau guru, atau seorang pemimpin agama yang berhasil dalam usaha pendidikannya, dapat disebut “pendidik”. Orang tua adalah pendidik atas dasar hubungan darah, guru atau pemimpin agama adalah pendidik atas dasar jabatan atau kedudukannya (Poerbakawatja & Harahap, 1981:2570. menurut Tirtarahardja dan Sulo, 2005:55), yang dimaksud dengan pendidik ialah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasaran peserta didik.

Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam pasal 1, disebutkan yang dimaksud dengan “guru”, adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (Depdiknas, 2005:3). Dengan demikian dalam konteks penelitian ini, guru SMA negeri adalah mereka yang sudah diangkat dan ditetapkan sebagai pendidik pada satuan pendidikan formal pada jenjang pendidikan menengah. Pendidikan formal di Sekolah Menengah Atas (SMA), guru sebagai pendidik memberi pengaruh terhadap subjek didik (siswa). Dengan demikian bahasan tentang guru selalu dilihat dalam konteks mendidik. Selain itu salah satu ciri penting dari yang dimaksud dengan “guru” adalah suatu lapangan pekerjaan atau suatu profesi dengan persyaratan tertentu, dengan “suatu vokasi khusus yang mempunyai ciri-ciri: expertise (keahlian), responsibility (tanggung jawab), corporateness (kesejawatan)” (Huntington, 1964, Notosusanto, 1984, dalam Tirtarahardja & Sulo, 2005:144).

Berdasarkan paparan di atas, bahwa guru merupakan sebutan yang menunjukkan suatu status profesional yang dimiliki seseorang melalui persyaratan sesuai dengan jenjang dan satuan pendidikan formal tertentu. Suatu profesi erat kaitannya dengan jabatan atau pekerjaan tertentu yang dengan sendirinya menuntut keahlian, pengetahuan, dan keterampilan tertentu pula. Dalam pengertian telah tersirat adanya suatu keharusan “kompetensi” agar profesi itu berfungsi dengan sebaik-baiknya. Dalam hal ini, pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan-pekerjaan lainnya, oleh sebab itu kedudukan, fungsi dan tujuan guru merupakan ciri esensial dari profesionalitasnya.

 

 

B. Kedudukan, Fungsi dan Tujuan Guru

            Ditetapkannya Undang-undang tentang Guru dan Dosen yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 pada hakikatnya adalah dilandasi oleh keinginan untuk memperjelas kedudukan, fungsi dan tujuan tenaga pendidik dalam hal ini guru, mempertegas prinsip profesionalisme, mempertegas kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi, serta hal-hal lain yang terkait dengan hak dan kewajiban tenaga pendidik, termasuk pengangkatan dan perlindungan tenaga pendidik. Di samping itu, lahirnya Undang-undang tersebut juga dilandasi oleh keinginan pemerintah dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan para guru maupun dosen di semua jenjang pendidikan formal, mulai dari jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi.

1. Kedudukan Guru

            Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 2 ayat (1) disebutkan (Depdiknas, 2005:7), bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Selanjutnya juga disebutkan, pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

            Pasal 2 dalam undang-undang tersebut menunjukkan adanya pengakuan bahwa kedudukan guru pada jalur pendidikan formal adalah sebagai tenaga profesional. Hal ini mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikasi pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

            Kualifikasi akademik dimaksud, yaitu ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru dan diperoleh melalui pendidikan tinggi sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal tempat ia ditugaskan. Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 dalam pasal 8 dan pasal 9 disebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik Program Sarjana (S1) atau Program Diploma Empat (D-IV) yang diperoleh melalui pendidikan tinggi (Depdiknas, 2005:10). Ketentuan ini mengisyaratkan bahwa sejak ditetapkannya undang-undang tersebut, seseorang yang diangkat dan ditetapkan sebagai guru pada jenjang dan satuan pendidikan formal tertentu khususnya yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) diwajibkan memiliki tingkat pendidikan formal yang berkualifikasi sarjana (S1) atau Diploma Empat (D-IV). Selain itu, seorang guru juga diwajibkan telah memiliki sertifikat pendidik. Sertifikasi pendidik ini diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Setiap orang yang telah memperoleh sertifikat pendidik memiliki kesempatan yang sama untuk diangkat menjadi guru pada satuan pendidikan tertentu (Depdiknas, 2005:11-12). Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat untuk guru. Guru yang telah memenuhi persyaratan diberikan sertifikat pendidik yang merupakan bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru sebagai tenaga profesional (Baedhowi, 2006:280).

 

2. Fungsi Guru

            Guru sebagai tenaga profesional tentunya memiliki fungsi untuk meningkat-kan mutu pendidikan nasional. Pembangunan nasional dalam bidang pendidikan adalah upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 (Depdiknas, 2005:1).

            Pembangunan nasional di bidang pendidikan tersebut memberikan arah kepada segenap kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai atau merupakan gambaran dari tujuan pendidikan. Guru sebagai suatu komponen pendidikan, fungsi guru menduduki posisi penting di antara komponen-komponen pendidikan lainnya. Dapat dikatakan bahwa segenap potensi yang dimiliki guru, seperti kemampuan dalam hal pengetahuan dan keterampilan semata-mata diarahkan kepada atau ditujukan sebagai agen pembelajaran melalui kegiatan-kegiatan pendidikan di sekolah untuk pencapaian tujuan pembangunan nasional dalam bidang pendidikan tersebut.

3. Tujuan Guru

             Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005, menyebutkan, kedudukan guru sebagai tenaga profesional, bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Depdiknas, 2005:8).

            Sehubungan dengan tujuan yang demikian penting itu, maka menjadi keharusan bagi setiap guru untuk memahaminya. Kekurangpahaman pendidik (guru) terhadap tujuan pendidikan dapat mengakibatkan kesalahan di dalam melaksanakan pendidikan. Gejala demikian oleh Langeveld disebut salah teoretis (dalam Tirtarahardja & Sulo, 2005:37). Setiap guru perlu melihat dengan jelas tujuan-tujuan yang hendak dicapai melalui kegiatan pendidikan. Ia harus tahu ke arah mana peserta didik (siswa) itu harus dibawa. Ia harus mampu menguasai prinsip-prinsip psikologi peserta didik (siswa) supaya mampu mengajar dan mendidik sesuai dengan kebutuhan peserta didik (siswa). Ia juga harus mampu memahami dirinya sesuai dengan kedudukannya sebagai tenagaprofesional, selain itu harus mampu memahami akan tugas, peran dan kompetensinya selaku guru. Hal itu perlu disadari dan dipahami oleh setiap guru, karena harus disadari bahwa ia adalah sebagai agen pembelajaran, pembawa nilai dan pembaca contoh yang patut ditiru oleh peserta didik (sisw). Oleh sebab itu, guru bukan hanya mengajar, melatih dan membimbing tetapi juga sebagai cermin tempat peserta didik (siswa) dapat berkaca, dengan kata lain bahwa seorang guru pada hakikatnya adalah seorang pendidik yang dapat “digugu” dan “ditiru” oleh peserta didik (siswa).

 

 

 

C. Tugas, Peran dan Kompetensi Guru

1. Tugas Guru

            Sebagai suatu profesi dan kedudukannya sebagai tenaga profesional dalam penyelenggaraan pendidikan formal, guru memiliki tugas utama, yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik (Depdiknas, 2005:3). Menurut  Usman (2005:6-7), tugas guru dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis yakni tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan dan tugas dalam bidang kemasyarakatan. Tugas guru dalam bidang profesi meliputi membimbing, mengajar dan melatih proses belajar mengajar. Mendidik berarti mengembangkan dan melestarikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih berarti mengembangkan keterampilan.

            Tugas guru dalam bidang kemanusiaan, mengembangkan fungsi guru di sekolah sebagai orang tua kedua. Ia harus mampu mengembangkan dirinya menjadi sosok manusia bagi anak, memberi contoh teladan dan anak sangat mempercayainya, menghormati dan menghargai guru. Guru mentransformasikan nilai-nilai kemanusiaan (homo ludens, homo puber, homo sapiens).

            Tugas guru dalam bidang kemasyarakatan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesia seutuhya yang berdasarkan Pancasila. Di sini nampak guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang memiliki peran penting. Bahkan keberadaan guru (pendidik) merupakan faktor penentu (conditiosine quanon) yang tak mungkin digantikan oleh komponen lain.

            Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin terciptanya dan terbinanya kesiapan dan keandalan orang seseorang sebagai manusia pembangunan. Dengan perkataan lain potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para guru di masa kini.

Peranan guru dalam era industri dan informasi berkembang lebih jauh tidak hanya memberi pengetahuan dan keterampilan tetapi menjadi seorang fasilitator pembelajaran. Guru tetap menjadi tokoh kunci dengan dua misi yang merupakan kesatuan saling melengkapi. Setiap guru dalam setiap episode belajar mengajar menyampaikan pesan:

  1. Membentuk pengetahuan, keterampilan dan sikap nilai yang secara khas berasal dari bidang belajar yang dibinanya.
  2. Memberikan urunan nyata di dalam upaya pencapaian tujuan utuh pendidikan yang telah ditetapkan. Ini terwujud sebagai dampak pengiring akumulasi pengalaman belajar sehingga merupakan lintas mata pelajaran, antara lain terdiri dari kesadaran diri sebagai makhluk Tuhan, cinta tanah air dan bangsa, kemampuan dna kebebasan bekerja, kemampuan dan kemauan untuk belajar sepanjang hayat (Joni, 1992).

2. Peran Guru

            Untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional di bidang pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, serta menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, diperlukan pendidikan yang berkualitas pula. Sedangkan untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak dapat dipisahkan peran tenaga pendidik dalam hal ini, yaitu guru. Guru sebagai tenaga pendidik, memiliki peran yang sangat penting dan strategis, dan karena itulah menurut Davies dan Ellison (1992), guru merupakan “the key person in the classroom”. Sebutan “key person” bagi tenaga pendidik, terutama guru, memang sangat beralasan, mengingat peran guru yang tidak dapat digantikan oleh apapun (Levine, 1992).

            Dalam rangka fungsi pendidikan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal mengantisipasi masa depan, guru berperan membekali peserta didik dengan kemampuan berfikir kritis reflektif. Selain itu tanggap dan mampu mengantisipasi perkembangan keadaan sekitarnya, termasuk perkembangan sains dan teknologi. Berfikir kritis reflektif pada dasarnya merupakan kemampuan merenungi berbagai permasalahan, menyerap, dan mencerna berbagai informasi dikaji diulang-ulang informasi itu dan dipantul-pantulkan dari bagian satu ke bagian lainnya sampai menemukan suatu makna (Prabowo, 1992). Menurut Titus (dalam Prabowo, 1992), metode berfikir kritis reflektif terdiri dari enam langkah, yaitu:

  1. Kesadaran tentang adanya masalah berfikir biasanya mulai bila ada suatu hambatan atau kesulitan.
  2. Pengumpulan data yang relevan dengan permasalahan.
  3. Pengorganisasian data, penyusunan, klasifikasi, dan analisis data.
  4. Memformalisasi hipotesis. Beberapa penjelasan penting dapat terjadi dalam proses analisis dan klasifikasi.
  5. Deduksi yang diturunkan dari hipotesis, dan
  6. Verifikasi.

Penanaman dan pengembangan cara berfikir kritis reflektif tersebut berkaitan erat dengan pembentukan kreativitas anak dalam mengantisipasi perkembangan lingkungan. Munandar (2002:43), kreativitas itu penting bagi anak, karena: (a) kreativitas merupakan aspek dasar agar seseorang lebih mampu menangani dan mengarahkan bagi dirinya sendiri, (b) kreativitas menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan masalah-masalah yang timbul di masa depan yang tidak dapat diramalkan, dan (c) kreativitas dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa peran guru adalah sebagai agen pembelajaran (learning agent), yaitu sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik (Depdiknas, 2005:68). Menurut Usman (2005:9-11), sebagai fasilitator/mediator, guru berperan menjadi perantara dalam hubungan antarmanusia (dalam hal ini antarsiswa). Untuk keperluan itu guru hendaknya mampu mengusahakan sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan dan proses belajar mengajar, baik berupa nara sumber, buku teks, majalah ataupun surat kabar. Selain itu guru harus terampil memperguna-kan pengetahuan tentang bagaimana orang berinteraksi dan berkomunikasi. Tujuannya agar guru dapat menciptakan secara maksimal kualitas lingkungan yang interaktif. Untuk memacu proses belajar siswa, guru hendaknya mampu mengelola kels sebagai lingkungan belajar serta merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi. Lingkungan yang baik, ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.

Sehubungan dengan ditetapkan di diberlakukannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) Tahun 2004 di semua jenjang dan satuan pendidikan (pendidikan dasar dan pendidikan menengah), maka keberhasilannya sangat tergantung pada peran guru dalam proses implementasi yang dilakukannya di sekolah.

Keberhasilan pelaksanaan KBK itu sangat tergantung pada guru, sebab guru merupakan ujung tombak dalam proses pembelajaran. Bagaimanapun sempurnanya sebuah kurikuluym tanpa didukung oleh kemampuan guru, maka kurikulum itu hanya sesuatu yang tertulis dan tidak memiliki makna. Oleh karena itulah, guru memiliki peran yang sangat penting dalam prose implementasi kurikulum (Sanjaya, 2005:13). Peran guru dalam implementasi KBK dapat ditinjau dari beberapa aspek, yaitu peran guru sebagai perencana, peran sebagai pengelola, dan peran guru sebagai evaluator (Sanjaya, 2005:13-14), sebagai berikut:

a. Peran Guru Sebagai Perencana Pembelajaran

            Keberhasilan dalam implementasi KBK dapat dipengaruhi oleh perencanaan pembelajaran yang disusun guru. Oleh sebab itu, kepiawaian guru dalam menyusun rencana pembelajaran (instructional design) dapat menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi.

            KBK adalah kurikulum yang memberikan peluang kepada guru untuk melaksanakan pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa serta kondisi daerah masing-masing. Oleh karena itu dalam proses penyusunan perencanaan, guru dituntut agar memahami kebutuhan dan kondisi daerah setempat, di samping memahami karakteristik siswa. Melalui pemahaman itu selanjutnya guru mendesain pembelajaran yang sesuai dengan kondisi lapangan dan kebutuhan.

b. Guru Sebagai Pengelola Pembelajaran

            Tujuan dari pengelolaan pembelajaran adalah terciptanya kondisi lingkungan belajar yang menyenangkan  bagi siswa, sehingga dalam proses pembelajaran siswa tidak merasa terpaksa apalagi tertekan. Oleh karena itulah, peran dan tanggung jawab guru sebagai pengelola pembelajaran (manager of learning) menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, baik iklim social maupun iklim psikologis. Iklim social yang baik ditunjukkan oleh terciptanya hubungan yang harmonis baik antara guru dan siswa, guru-guru atau antara guru dan pimpinan sekolah; sedang hubungan psikologis ditunjukkan oleh adanya  saling kepercayaan dan saling menghormati antarsemua unsur di sekolah. Melalui iklim yang demikian, memungkinkan siswa untuk berkembang secara optimal, terbuka dan demokratis.

c. Guru Sebagai Fasilitator

            Sebagai seorang fasilitator, tugas guru adalah membantu untuk mempermudah siswa belajar. Dengan demikian guru perlu memahami karakteristik siswa termasuk gaya belajar, kebutuhan kemampuan dasar yang dimiliki siswa. Sebagai seorang fasilitator guru harus menempatkan diri sebagai orang yang memberi pengarahan dan petunjuk agar siswa dapat belajar secara optimal. Dengan demikian yang menjadi sentral kegiatan pembelajaran adalah siswa bukan guru. Guru tidak berperan sebagai sumber belajar yang dianggap serba bisa dan serba tahu segala macam hal.

d. Peran Guru Sebagai Evaluator

            Guru sebagai seorang evaluator tidak kalah pentingnya dengan peran yang lain. Dilihat dari fungsinya, evaluasi bisa berfungsi sebagai formatif dan sumatif. Evaluasi formatif berfungsi untuk melihat berbagai kelemahan guru dalam mengajar. Artinya hasil dari evaluasi ini digunakan sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kinerja guru. Evaluasi sumatif digunakan sebagai bahan untuk menentukan keberhasilan siswa dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian peran guru sebagai seorang evaluator, menunjukkan ke dalam dua hal, yaitu peran untuk melihat keberhasilannya dalam mengajar dan peran untuk menentukan ketercapaian siswa dalam menguasai kompetensi sesuai dengan kurikulum.

            Untuk melaksanakan fungsi, tugas dan peranguru tersebut dengan baik dan berkualitas, maka guru harus profesional dan guru harus memiliki kualitas tinggi. Pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya di bidangnya (Tamyong, dalam Usman, 2005:15). Guru yang terdidik dan terlatih, menurut Usman (2005:15) adalah guru yang bukan hanya memperoleh pendidikan formal, tetapi juga harus menguasai berbagai strategi atau teknik di dalam kegiatan belajar mengajar serta menguasai landasan-landasan kependidikan.

            Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa peran guru sebagai tenaga profesional dalam bidang pendidikan sangatlah luas dan kompleks yang mencakup berbagai kegiatan yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing, dan melatih peserta didik (siswa), serta melaksanakan tugas-tugas lain yang berkaitan dengan tugas sekolah di tempatnya bekerja. Oleh sebab itu, guru dituntut memiliki seperangkat kemampuan (kompetensi) yang beraneka ragam.

3. Kompetensi Guru

            Pekerjaan guru merupakan pekerjaan profesional. Sebagai pekerjaan profesional, seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi tertentu yang tidak dimiliki oleh profesi lain. Kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan (McLeod, dalam Sanjaya, 2005:15). Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan yang dimaksud dengan “kompetensi” adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (Depdiknas, 2005:5). Menurut Sanjaya (2005:15), kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan perannya secara bertanggung jawab dan layak. Senada dengan pengertian di atas, menurut Usman (2005:14), kompetensi guru merupakan kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

            Dari gambaran pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan profesinya sebagai tenaga pendidik. Oleh sebab itu, guru sebagai tenaga pendidik memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya.

            Berkenaan dengan tugas keprofesionalan guru, maka kompetensi profesional guru menurut Usman (2005:17-20), adalah meliputi hal-hal berikut:

  1. Menguasai landasan kependidikan

1)      Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional

  • Mengkaji tujuan pendidikan nasional
  • Mengkaji tujuan pendidikan dasar dan menengah
  • Meneliti kaitan antara tujuan pendidikan dasar dan menengah dengan tujuan pendidikan nasional.
  • Mengkaji kegiatan-kegiatan pengajaran yang menunjang pencapaian tujuan pendidikan nasional.

2)      Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat

  • Mengkaji peranan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan
  • Mengkaji peristiwa-peristiwa yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan
  • Mengelola kegiatan sekolah yang mencerminkan sekolah sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan

3)      Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar

  • Mengkaji jenis perbuatan untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan dan sikap.
  • Mengkaji prinsip-prinsip belajar
  • Menerapkan prinsip-prinsip belajar dalam kegiatan belajar mengajar
  1. Menguasai bahan pengajaran

1)      Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah

  • Mengkaji kurikulum pendidikan dasar dan menengah
  • Menelaah buku teks pendidikan dasar dan menengah
  • Menelaah buku pedoman khusus bidang studi
  • Melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dinyatakan dalam buku teks dan buku pedoman khusus.

2)      Menguasai bahan pengayaan

  • Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan bahan bidang studi/mata pelajaran
  • Mengkaji bahan penunjang yang relevan dengan profesi guru
  1. Menyusun program pengajaran

1)      Menetapkan tujuan pembelajaran

  • Mengkaji ciri-ciri tujuan pembelajaran
  • Dapat merumuskan tujuan pembelajaran
  • Menetapkan tujuan pembelajaran untuk satu satuan pembelajaran/pokok bahasan

2)      Memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran

  • Dapat memilih bahan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  • Mengembangkan bahan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai

3)      Memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar

  • Mengkaji berbagai metode mengajar
  • Dapat memilih metode mengajar yang tepat
  • Merancang prosedur belajar mengajar yang tepat

4)      Memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai

  • Mengkaji berbagai media pengajaran
  • Memilih media pengajaran yang tepat
  • Membuat media pengajaran yang sederhana
  • Menggunakan media pengajaran

5)      Memilih dan memanfaatkan sumber belajar

  • Mengkaji berbagai jenis dan kegunaan sumber belajar
  • Memanfaatkan sumber belajar yang tepat
  1. Melaksanakan program pengajaran

1)      Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat

  • Mengkaji prinsip-prinsip pengelolaan kelas
  • Mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi suasana belajar mengajar
  • Menciptakan suasana belajar mengajar yang baik
  • Menangani masalah pengajaran dan pengelolaan

2)      Mengatur ruangan belajar

  • Mengkaji berbagai tata ruang belajar
  • Mengkaji kegunaan sarana dan prasarana kelas
  • Mengatur ruang belajar yang tepat

3)      Mengelola interaksi belajar mengajar

  • Mengkaji cara-cara mengamati kegiatan belajar mengajar
  • Dapat mengamati kegiatan belajar mengajar
  • Menguasai berbagai keterampilan dasar mengajar
  • Dapat menggunakan berbagai keterampilan dasar mengajar
  • Dapat mengatur murid dalam kegiatan belajar mengajar
  1. Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan

1)      Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran

  • Mengkaji konsep dasar penilaian
  • Mengkaji berbagai teknik penilaian
  • Menyusun alat penilaian
  • Mengkaji cara mengolah dan menafsirkan data untuk menetapkan taraf pencapaian murid
  • Dapat menyelenggarakan penilaian pencapaian murid

2)      Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan

  • Menyelenggarakan penilaian untuk perbaikan proses belajar mengajar
  • Dapat memanfaatkan hasil penilaian untuk perbikan proses belajar mengajar.

Demikian tentang tugas, peranan dan kompetensi guru yang merupakan landasan dalam mengabdikan profesinya. Guru yang profesional tidak hanya mengetahui, tetapi betul-betul melaksanakan apa-apa yang menjadi tugas dan peranannya.

D. Prinsip Profesionalitas Guru

            Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas (Depdiknas, 2005:9-10), sebagai berikut:

  1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealisme;
  2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlah mulia;
  3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas;
  4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
  5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan;
  6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja;
  7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat;
  8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; dan
  9. Memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Berdasar prinsip profesionalitas tersebut, guru perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik, kompetensi, pelatihan serta pengembangan profesi dalam bidangnya.

E. Pendidikan dan Pelatihan Guru

1. Konsep Pendidikan dan Pelatihan

            Menurut Munasef (1982:155), yang dimaksud pendidikan bagi pegawai negeri termasuk fungsional guru, adalah pendidikan yang dilakukan bagi pegawai negeri untuk meningkatkan kepribadian, pengetahuan, dan kemampuannya sesuai dengan tuntutan persyaratan jabatan dan jenis pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Selanjutnya, yang dimaksud dengan pelatihan pegawai negeri adalah bagian dari pendidikan yang dilakukan bagi pegawai negeri untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya sesuai dengan tuntutan persyaratan pekerjaannya sebagai pegawai negeri.

            Notoatmodjo (1992) memberikan pengertian tentang pendidikan dan pelatihan sebagai suatu upaya untuk pengembangan sumberdaya manusia, terutama untuk pengembangan aspek kemampuan intelektual dan kepribadian manusia. Penggunaan istilah pendidikan dan pelatihan dalam suatu instansi atau organisasi biasanya disatukan menjadi Diklat. Namun demikian, pada dasarnya kedua istilah tersebut memiliki perbedaan yang cukup berarti. Perbedaan tersebut secara teori dapat dikenal dari hal-hal sebagai berikut.

Tabel 2.1 Perbedaan Pendidikan dan Pelatihan (Notoatmodjo, 2003:28)

Aspek

Pendidikan

Pelatihan

  1. Pengembangan kemampuan
  2. Area kemampuan/ penekanan
  3. Jangka waktu pelaksanaan
  4. Materi yang diberikan
  5. Penekanan penggunaan metode belajar mengajar
  6. Penghargaan akhir proses

Menyeluruh (overall)

Kognitif, afektif, psikomotor

Panjang (long term)

Lebih umum

Konvensional

Gelar (degree)

Mengkhusus (specific)

Psikomotor

Pendek (short term)

Lebih khusus

Inkonvensional

Sertifikat (non-degree)

 

 

2. Metode Pendidikan dan Pelatihan

            Untuk mencapai hasil yang maksimal dalam melaksanakan pendidikan dan pelatihan diperlukan upaya menggunakan metode yang tepat dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan maupun dalam memprogramkan pelaksanaan pendidikan dan pelatihan. Menurut Notoatmodjo (2003:35-38), pada garis besarnya dibedakan adanya dua macam metode atau pendekatan yang digunakan dalam pendidikan dan pelatihan karyawan/pegawai, yaitu:

a) Metode di Luar Pekerjaan (Off th Job Site)

Pedidikan dan pelatihan dengan menggunakan metode ini berarti karyawan/pegawai sebagai peserta diklat keluar sementara dari kegiatan atau pekerjaannya, kemudian mengikuti pendidikan dan pelatihan dengan menggunakan teknik-teknik belajar mengajar seperti lazimnya. Pada umumnya metode ini mempunyai dua macam teknik, yaitu:

1) Teknik Presentasi Informasi

Yang dimaksud dengan teknik ini ialah menyajikan informasi yang tujuannya mengintroduksikan pengetahuan, sikap, dan keterampilan baru kepada para peserta. Harapannya akhir dari proses ini adalah agar pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperoleh dapat diadopsi peserta diklat di dalam pekerjaannya nanti.

2) Teknik Simulasi

Simulasi adalah suatu peniruan karakteristik-karakteristik atau perilaku tertentu dari dunia riil sedemikian rupa sehingga para peserta diklat dapat merealisasikan seperti keadaan sebenarnya. Dengan demikian, para peserta diklat apabila kembali ke tempat kerja semua akan mampu melakukan pekerjaan yang disimulasikan tersebut.

b) Metode di Dalam Pekerjaan (On the Job Site)

Pelatihan ini berbentuk penugasan pegawai-pegawai baru kepada supervisor-supervisor yang telah berpengalaman (senior). Hal ini berarti para pegawai yang sudah berpengalaman diminta untuk membimbing atau mengajarkan kepada para pegawai baru. Para pegawai senior yang bertugas untuk membimbing pegawai baru (sebagai trainer) diharapkan memperlihatkan suatu contoh pekerjaan yang baik dan memperlihatkan suatu pekerjaan yang jelas dan kongkrit, yang akan dikerjakan oleh pegawai baru tersebut segera setelah pelatihan berakhir. Cara ini mempunyai banyak keuntungan antara lain:

1)      Sangat ekonomis karena tidak perlu membiayai para trainer dan trainee dan instansi atau perusahaan tidak perlu menyediakan peralatan dan ruang khusus.

2)      Para trainee sekaligus berada dalam situasi kerja yang aktual dan kongkrit.

3)      Memberikan praktek aktif bagi para trainee terhadap pengetahuan yang dipelajari olehnya.

4)      Para trainee  belajar sambil berbuat dan dengan segera dapat mengetahui apakah yang dikerjakan itu benar atau salah.

Bentuk lain dari on the job site adalah metode rotasi pekerjaan. Metode ini umumnya dilakukan pegawai-pegawai yang sudah lama, kemudian akan dipindahkan tugasnya baik secara vertikal (dipromosikan) maupun secara horisontal (ke bagian atau tugas lain yang sederajat dengan pekerjaan sekarang). Metode rotasi pekerjaan dapat membantu para pegawai untuk mempertahankan tujuan-tujuan karier mereka sebelum menduduki suatu jabatan baru dan juga memperluas cakrawala pandang para pegawai.

Salah satu alternatif pengembangan dan pembinaan guru adalah melalui berbagai program latihan dengan harapan guru memiliki berbagai kompetensi. Beberapa alternatif dalam pembinaan guru dua di antaranya adalah pelatihan dan diskusi dalam kerja kelompok yang direalisasikan dalam bentuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) adalah forum atau wadah kegiatan guru mata pelajaran yang bersifat non struktural yang diseleggarakan pada jenjang SMA/SMK di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Tujuan  MGMP adalah untuk memecahkan masalah dan menyempurnakan pelaksanaan proses belajar mengajar yang meliputi berbagai hal, seperti menghilangkan perbedaan penguasaan materi pelajaran antara guru, antar wilayah, perbaikan metode penyajian, penggunaan media dan alat pelajaran, serta hal-hal lain yang secara langsung atau tidak langsung menunjang terlaksana-nya kegiatan proses pembelajaran (Depdiknas, 2000:1).

Oleh karena itu, melalui MGMP tersebut semua guru yang ada di lingkungan sekolah dapat bertukar informasi, merumuskan permasalahan yang dihadapi guru sewaktu mengajar, serta bagaimana mencari pemecahannya secara bersama-sama. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan dari MGMP ini, maka perlu dilakukan suatu perencanaan yang terarah dan terfokus dalam bentuk susunan program serta jadwal kegiatan yang jelas dan terpadu dengan kegiatan rutin sekolah, sehingga pelaksanaan kegiatan MGMP dapat terselenggara secara baik dan efektif.

Secara umum tugas dan tanggung jawab MGMP (Depdikbud, 1993), adalah sebagai berikut:

  1. memberikan dorongan/semangat pada guru-guru agar mengikuti kegiatan MGMP yang diadakan di sanggar (di sekolah);
  2. dalam menunjang usaha peningkatan dan pemerataan mutu pendidikan maka diperlukan peningkatan kemampuan dan kemahiran guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar;
  3. mengatasi permasalahan guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) dengan memberikan pelayanan konsultatif;
  4. memberikan tunjangan dalam pemenuhan kebutuhan guru yang berkaitan dengan belajar mengajar, khususnya yang menyangkut materi pembelajaran, metodologi, sistem evaluasi dan sarana penunjang;
  5. memberikan layanan informasi tentang segala kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum dan mata pelajaran, dan
  6. merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi dan melaporkan hasil kegiatan MGMP serta menetapkan tindak lanjut.

Berdasarkan buku petunjuk penyelenggaraan MGMP (Depdikbud, 1993), sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan oleh peserta MGMP diharapkan dapat mencari bentuk-bentuk kegiatan lain yang dapat menjadi sarana mencapai tujuan MGMP. Kegiatan MGMP meliputi:

  1. pendalaman materi dalam kegiatan mempelajari semua materi sesuai dengan GBPP dan identifikasi kesulitan;
  2. membuat perangkat pelajaran yang harus dimiliki oleh guru;
  3. peningkatan praktik kegiatan belajar mengajar, dan
  4. evaluasi pembelajaran.

Sedangkan pengaturan waktu kegiatan MGMP tidak dilaksanakan pada saat jam efektif belajar mengajar. Untuk itu perlu adanya pengaturan hari-hari kegiatan MGMP sejenis agar guru tidak meninggalkan tugas mengajarnya pada waktu mengikuti kegiatan MGMP (Depdikbud, 1993).

Jenis-jenis kegiatan MGMP sebagaimana dalam Pedoman Penyelenggaraan MGMP (Depdikbud 1997/1998):11) adalah sebagai berikut:

  1. Kegiatan pengembangan kemampuan dan keterampilan guru. Kegiatan ini bertujuan mengembangkan kemampuan dan keterampilan guru untuk meningkatkan keberhasilan kegiatan belajar mengajar dengan melakukan kegiatan-kegiatan, antara lain: penguasaan kurikulum, penyusunan Program Semester, penyusunan Program Satuan Pelajaran, termasuk penguasaan dan pengembangan metode, penggunaan media pelajaran, dan teknik evaluasi, dan penguasaan bahan/materi pelajaran.
  2. Kegiatan perluasan wawasan guru. Kegiatan ini antara lain: mengadakan ceramah/diskusi, mengadakan seminar/lokakarya, dan mengadakan program-program kompetisi/lomba untuk siswa dalam usaha meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  3. Kegiatan penunjang. Kegiatan-kegiatan yang termasuk penunjang, antara lain adalah mengadakan pelatihan, mengadakan program peninjauan pengamatan/widya wisata ke objek-objek yang relevan, dan memanfaatkan media cetak dan media elektronika.

Mengenai materi yang diberikan dalam pembinaan MGMP (Depdikbud, 1993), adalah:

  1. menyampaikan informasi tentang masalah-masalah baru;
  2. simulasi proses belajar mengajar (PBM) yang dilanjutkan dengan diskusi;
  3. praktik membuat persiapan mengajar dan latihan kerja siswa (LKS);
  4. diskusi tentang lingkungan sebagai sumber belajar;
  5. diskusi tentang buku sumber dan buku perpustakaan; dan
  6. diskusi tentang masalah-masalah yang ditemukan di lapangan.

D. Kinerja Profesional Guru

1. Hakikat dan Karakteristik Performansi Mengajar Guru

Ada tiga persyaratan guru dalam mengajar, dan salah satunya adalah performance competence (kompetensi performansi). Hal ini disebabkan karena guru merupakan penentu produktivitas sekolah dan kualitas kinerjanya (performansi) merupakan faktor utama yang mempengaruhi proses belajar mengajar (Harris, 1979). Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kompetensi performansi seorang guru dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat menciptakan prestasi belajar siswa sesuai dengan tujuan sekolah.

Performansi (unjuk kerja) diartikan sebagai kemampuan melaksanakan tugas sesuai dengan sikap, pengetahuan dan keterampilan, serta motivasinya (Rosenzweig, 1979). Pada hakikatnya performansi mengajar merupakan kemampuan guru dalam melaksanakan tugas (mengajar) sesuai dengan motivasinya, sehingga terjadi perubahan perilaku siswa sebagai hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Performansi mengajar pada dasarnya merupakan perilaku mengajar dalam realita (actual behavior) atas perilaku mengajar yang diharapkan (expected behavior) dari seorang guru dalam upaya mencapai tujuan pendidikan. Kompetensi mengajar dan performansi mengajar meruoakan perilaku mengajar. Kompetensi mengajar merupakan perilaku mengajar guru yang diharapkan untuk mencapai tujuan pendidikan. Bila dapat memenuhi harapan ini, maka disebut guru yang kompeten. Sedangkan untuk dapat menyatakan kompeten atau tidaknya seorang guru dapat diukur dari unjuk kerjanya (performansi mengajar) sebagai perilaku yang dapat dinilai (evaluated behavior). Performansi pada dasarnya terwujud dalam bentuk tindakan (action). Performansi mengajar guru yang diwujudkan dalam bentuk keterampilan dan sikap dalam mengajar, mempersyaratkan kompetensi pengetahuan (kompetensi dasar mengajar) sebagai aspek kognitif yang melandasinya. Sedangkan aspek sikap, menurut Kemp (1985), akan terbentuk atas panduan dari pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor).

Depdikbud (1991) mengungkapkan bahwa model penampilan guru secara rinci khususnya aspek kekaryaan meliputi bidang-bidang sebagai berikut: (a) penguasaan landasan kependidikan, (b) penguasaan bahan pembelajaran, (c) pengelolaan program belajar mengajar, (d) penggunaan alat pelajaran, (e) program bimbingan dan penyuluhan, (f) pemahaman metode penelitian, dan (g) pemahaman administrasi sekolah.

Sedangkan penampilan mengajar guru atau performansi mengajar guru dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) di kelas dapat dijabarkan secara rinci sebagai berikut: (a) mampu merumus-kan tujuan instruksional dan mengkaji ciri-ciri rumusan tujuan instruksional, (b) memahami dan menggunakan metode mengajar yang tepat, (c) mempu memilih dan menyusun progran instruksional yang tepat, mengetahui pemilihan materi dan prosedur mengajar yang tepat, serta mampu menggunakannya, (d) mampu melaksana-kan KBM yang efisien dan efektif meliputi peranan guru dalam proses belajar mengajar, menggunakan alat bantu/media pembela-jaran, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber pembelajaran, memantau proses belajar siswa dan menyesuaikan rencana dengan situasi belajar mengajar, (e) mampu merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial, meliputi analisis penyebab kesulitan belajar siswa, menyusun rencana pengajaran remedial dan melaksanakannya, (f) mempu mengelola interaksi belajar mengajar, yang meliputi: (1) mampu memotivasi siswa, (2) memahami dan melaksanakan berbagai bentuk pertanyaan secara tepat, (3) memahami dan melaksanakan berbagai mekanisme belajar mengajar serta faktor-faktor positif dan negatif, (4) mampu melaksanakan cara-cara berkomunikasi dengan siswa dengan efektif, (5) mampu merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial, (6) mampu mengelola interaksi belajar mengajar, (7) mampu menilai prestasi belajar siswa, (8) mampu mengatur tata ruang kelas yang efektif untuk proses belajar mengajar, (9) mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat, dan (10) mampu menciptakan keterlibatan siswa secara mental dan fisik dalam proses belajar mengajar.

Dalam kaitannya dengan performansi guru, diharapkan para guru memiliki peningkatan performansi yang dapat dilihat pada: (a) memiliki kemampuan profesionalisme yang memadai dalam penguasaan mata pelajaran yang akan diajarkan, kependidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, dan (b) memiliki kreativitas yang menyangkut kegiatan olahraga, kesenian, kepramukaan, dan kegiatan-kegiatan lain yang mendukung, seperti dikemukakan oleh Sudarmanto (2005:14) bahwa untuk mengetahui seberapa tinggi rendahnya kinerja (performansi) seseorang ditentukan oleh seberapa kompetensinya dalam melakukan pekerjaan.

Oleh karena itu dalam konteks penelitian ini, kinerja (performansi) mengajar guru indikatornya berdasarkan dimensi kompetensi yang telah ditetapkan oleh Depdikbud tersebut di atas. Secara operasional untuk mengetahui seberapa tinggi rendahnya kinerja seorang guru adalah dengan melakukan penilaian dari perolehan skor setiap masing-masing butir kompetensi kemudian dijumlahkan dan dicari reratanya (nilai rata-rata). Sehingga setiap guru akan diketahui seberapa pencapaian kinerjanya dalam pelaksanaan tugasnya. Skor kinerja ini dapat dijadikan dasar untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dan kontribusi pelatihan dari kegiatan MGMP yang telah diikuti guru terhadap peningkatan kinerja mengajar.

Melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) maka diharapkan performansi guru dapat ditingkatkan karena penguasaan terhadap mata pelajaran yang akan diajarkan dapat meningkatkan performansi mengajar guru.

2. Alat Penilaian Kemampuan Guru

Alat penilain kemampuan guru merupakan suatu alat untuk mengukur kualitas kemampuan guru. Alat penilaian kemampuan guru yang dipergunakan untuk menilai tingkat kemampuan guru yang esensial yang berlaku bagi setiap guru bidang studi apapun maka perlu memperhatikan kriteria sebagai berikut: (a) pengukuran hanya dibatasi pada kemampuan mengajar yang terpenting yang secara  umum harus dimiliki setiap guru dalam bidang studi apapun, (b) kemampuan mengajar yang terpenting diwujudkan dalam bentuk perilaku merencanakan, mengelola dan menilai kegiatan belajar mengajar, dan (c) pengukuran dilakukan melalui observasi.

Kemampuan esensial mengajar dalam instrumen APKG ditetapkan sebagai tolok ukur kualitas kemampuan mengajar guru. Setiap perilaku mengajar dalam kaitan merencanakan pengajaran, melaksanakan prosedur pengajaran dan mengadakan hubungan antar pribadi di kelas perlu diuji sesuai dengan tolok ukur kualitas esensial dalam butir-butir kemampuan esensial APKG. Dalam butir-butir kemampuan esensial yang terdapat dalam APKG merupakan konsep kemampuan mengajar yang menjadi acuan pengembangan kemampuan profesionalnya. P3G sebagai pencipta instrumen APKG mengemukakan bahwa sebagai produk inovasi pendidikan perlu pengembangan instrumen tersebut melalui penelitian-penelitian baik untuk pengembangan segi konseptul maupun penanganan sistem logistik yang menjamin kelancaran pengembangannya. Mengingat APKG dipergunakan untuk menilai kemampuan yang esensial, maka terlebih dahulu konsep-konsepnya harus diterima guru sebagai konsep kemampuan esensial mengajar yang harus dimiliki dan dimantapkan penguasaannya (Depdikbud, 1997).

3. Pengembangan Performansi Mengajar Guru

Dalam buku pedoman pelaksanaan pola pembaharuan sistem pendidikan tenaga kependidikan di Indonesia dikemukakan kemampuan guru dapat diklasifikasikan dalam tiga penggolongan: kompetensi pribadi, kompetensi profesional, dan kompetensi kemasyarakatan. Kemampuan profesional merupakan kemampuan yang langsung berkaitan dengan pelaksanaan program kegiatan belajar mengajar. Sedangkan perilaku dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar merupakan perwujudan antar faktor-faktor penting, yaitu: bahan yang diajarkan, teori dan wawasan pendidikan yang dimiliki guru, proses pengambilan keputusan, dan proses penyesuaian transaksional.

Sedangkan Gagne (1978) dalam kajiannya tentang kemampuan guru mengemukakan perlunya guru memiliki kemampuan yang menekankan perhatian pada aspek yang dianggap penting dalam mengajar: (a)  kemamouan memberikan kehangatan dan penerima-an kepada siswa yang berfungsi sebagai penguat aktivitas belajar, (b) kemampuan memahami organisasi kognitif siswa yakni pemahaman bidang studi yang dibina, (c) kemampuan untuk menciptakan ketertiban, (d) kemampuan untuk memberi peluang siswa aktif, dan (e) kemampuan memecahkan persoalan pengajaran secara khusus.

Bugelski (1964) mengemukakan tiga fungsi guru dalam mengajar:  menyampaikan pengajaran, memberi motivasi, dan memberi penguatan. Berdasarkan fungsi tersebut guru dituntut memiliki kemampuan berikut: (a) menyajikan bahan pengajaran sesuai dengan program yang ditentukan, dan (b) memberi penguatan kepada siswa sesuai dengan kualitas tugas yang dilaksanakan.

Perwujudan fungsi guru tersebut merupakan rumusan kemampuan guru yang cukup umum namun telah menampilkan sosok kemampuan profesional guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di kelas. Di mana tekanan kajian Bugelski (1964) terletak pada pengelolaan kelas yang bersifat logis yakni yang berkaitan dengan menyajikan bahan pengajaran sesuai dengan program yang ditentukan dan pengelolaan kelas yang bersifat strategis yakni yang berkaitan dengan pengaturan strategis cara memberi motivasi kepada siswa. Sedangkan kajian yang dikemukakan oleh Cronbach (1977) tentang kemampuan mengajar berdasarkan fungsinya yaitu sebagai pemimpin kelas dituntut untuk memiliki kemampuan sebagai berikut: (a) mengusahakan ketertiban kelas, menciptakan kondisi kelas sedemikian rupa sehingga siswa mau melakukan sesuatu yang bermanfaat, mengusahakan kesempatan untuk mencoba memperoleh hasil yang diharapkan, (b) membangkitkan minat belajar pada siswa, (c) mendorong siswa dan memberi perasaan terjamin keamanan diri, dan (d) membantu siswa memikul tanggung jawab untuk mengambil keputusan dan membantu siswa mengendalikan diri.

Kajian yang dikemukakan oleh Cronbach (1977) tersebut menekankan pada kegiatan pengelolaan kelas yang bersifat strategis yang berkaitan dengan strategi pengelolaan kelas, membangkitkan minat belajar, menjamin keamanan diri siswa, dan pembentukan tanggung jawab dalam pengambilan keputusan dan pengendalian diri.

Amidjaya (1979) menyatakan bahwa kualitas guru yang dibutuhkan dalam era pembangunan ialahmereka yang mampu dan siap berperan secara profesional dalam dua lingkungan besar yaitu sekolah dan masyarakat. Pendapat ini memberi arti bahwa guru yang profesional aalah guru yang mampu menunjukkan performansi mengajar yang tinggi dalam tugasnya, dan berinteraksi dengan warga sekolah dan anak didik, sesama guru, staf administrasi sekolah, dan masyarakat di luar sekolah. Di samping itu guru yang profesional juga diharapkan mampu berkomunikasi dengan orang tua anak didik, masyarakat sekitarnya, dan organisasi atau institusi terkait dengan lembaga pendidikan itu. Darmodihardjo (1982) menyatakan bahwa untuk dapat menghasilkan guru-guru yang performansinya bagus, maka guru-guru harus memiliki kemampuan dalam bahan pelajaran, profesi, penyesuaian diri, sikap-sikap nilai dan kepribadian.

Sedangkan menurut Hamalik (1991), ada tiga kompetensi yang harus dimiliki guru, yaitu: (a) kompetensi profesional, (b) kompetensi kepribadian, dan (c) kompetensi kemasyarakatan. Kemampuan profesional adalah guru yang bertanggung jawab, mampu melaksanakan perannya, mampu bekerja untuk mencapai tujuan pendidikan dan mampu melaksanakan perannya dalam mengajar di kelas.

Studi tentang aspek pendidikan dan latihan guru, telah banyak dilakukan di Amerika (Enos, 1976). Di Atlanta telah mengembangkan dan mengadakan tes terhadap model penilaian pelatihan untuk membantu guru-guru baru mengembangkan kompetensinya ke dalam sembilan belas performansi yang spesifik. Dengan demikian untuk mengetahui performansi guru di dalam melaksanakan performansinya adalah perlu. Bagi guru yang memiliki performansi mengajar yang kurang, dapat menghasilkan siswa yang kurang bermutu, maka perlu ditanggulangi dengan upaya pengembangan staf atau pembinaan profesi guru.

Dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan keterampilan guru dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar, pemerintah telah banyak melakukan upaya dengan jalan memfasilitasi MGMP, dan peningkatan pendidikan guru. Hal ini didasarkan padaprogram pengembangan pendidikan guru. Walaupun demikian masih banyak sorotan tentang rendahnya mutu guru. Sehingga dirasa perlu dilakukan upaya berkelanjutan (terus menerus) meningkatkan tingkat pendidikan para guru, diadakan kegiatan MGMP, serta dpat memberikan motivasi para guru guna mendorong meningkatkan performansi mengajarnya.

 

 

 

BAB III

 

METODE PENELITIAN

 

 

 

A. Rancangan Penelitian

 

Berdasarkan dari rumusan masalah dan tujuan penelitian ini, maka penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian deskriptif dan korelasional dengan menggunakan pendekatan survey. Penelitian survey adalah bagian dari penelitian deskriptif, di mana tujuan penelitian ini adalah untuk mencari informasi faktual yang mendetail yang mencandra gejala yang ada dan untuk mengidentifikasi masalah-masalah atau untuk mendapatkan justifikasi keadaan dan praktek-praktek yang sedang berlangsung pada sekelompok manusia (Suryabrata, 2005:76). Sesuai dengan pendapat tersebut, penelitian ini berusaha untuk mendeskripsikan atau mencandrakan fakta-fakta yang sedang berlangsung dan mencari hubungan (korelasi) berkenaan dengan tingkat pendidikan dan pelatihan dengan kinerja profesional guru SMA Negeri di Kota Blitar.

B. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002:108). Sedangkan yang dimaksud dengan subjek penelitian ini adalah menunjuk orang/individu atau kelompok yang dijadikan unit atau satuan (kasus) yang diteliti (Faisal, 2001:109).

Dari pendapat di atas, maka populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua guru SMA Negeri di Kota Blitar yang berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Adapun jumlah guru dimaksud adalah sebanyak 142 orang, yang meliputi SMA Negeri 1 sebanyak 59 orang, SMA Negeri 2 sebanyak 43 orang, dan SMA Negeri 3 sebanyak 40 orang (data hasil observasi pendahuluan).

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai wakil populasi bersangkutan (Faisal, 2001:57-58). Sedangkan Arikunto (2002:109) mengemukakan, sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

Berdasarkan definisi di atas, mengingat jumlah populasi penelitian ini adalah relatif banyak dan lokasi sekolah saling berjauhan serta keterbatasan waktu, tenaga dan dana bagi peneliti, maka dalam penelitian ini dilakukan pengambilan sampel. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling, yaitu pengambilan sampel berdasarkan kelompok bidang studi (IPA, IPS dan Bahasa) antara SMA Negeri yang satu dengan SMA Negeri yang lain. Sehingga sampel penelitian yang diambil dapat mewakili masing-masing SMA Negeri dan mencerminkan kelompok bidang studi IPA, IPS serta Bahasa. Pengambilan anggota sampel disesuaikan dengan jumlah guru bidang studi dalam tiap-tiap sekolah, yaitu 40% dari masing-masing SMA Negeri. Dengan demikian total sampel adalah 57 orang. Rincian anggota sampel dimaksud dapat disajikan pada Tabel 3.1 berikut.

Tabel 3.1 Populasi dan Sampel Penelitian

No.

Nama Sekolah

Jumlah (orang)

Keterangan

Populasi

Sampel

1.

2.

3.

SMA Negeri 1

SMA Negeri 2

SMA Negeri 3

59

43

40

24

17

16

Guru Bidang Studi IPA, IPS & Bahasa

Guru Bidang Studi IPA, IPS & Bahasa

Guru Bidang Studi IPA, IPS & Bahasa

            Total

142

57

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode angket. Dasar pertimbangan penggunaan metode ini untuk pengumpulan data, adalah karena faktor efisiensi dan efektivitas dalam penggunaannya. Seperti dinyatakan Umar (2004:131), bahwa metode atau teknik yang berbentuk kuesioner (angket) sangat efektif dalam pendekatan survey dan lebih reliabel jika pertanyaan yang diajukan terarah dengan baik dan efektif.

Kuesioner (angket) merupakan kumpulan pertanyaan/ pernyataan yang diajukan kepada responden secara tertulis, dan responden memberikan jawabannya dengan memberikan tanda cek (V) pada alternatif kategori jawaban yang dianggap sesuai/tepat dalam kolom yang tersedia pada angket. Penggunaan angket (kuesioner) ini adalah untuk memperoleh/mengumpulkan data-data yang diharapkan, yaitu: (1) informasi tentang tingkat pendidikan guru, (2) informasi tentang tingkat pelatihan yang dialami guru, dan (3) informasi tentang kinerja profesional guru.

Oleh karena itu data yang diperoleh/dikumpulkan dari angket (kuesioner) tersebut adalah merupakan data primer (data utama). Sedangkan sebagai data sekunder (data pelengkap) seperti data jumlah guru SMA Negeri tiap-tiap sekolah dan lain-lain yang relevan. Data sekunder tersebut diperoleh/dikumpulkan dengan menggunakan metode/teknik analisis dokumentasi, seperti menggunakan buku statistik, laporan tahunan sekolah, laporan evaluasi kerja para guru, dan berbagai sumber tertulis lainnya yang relevan dan tersedia di lokasi penelitian. Adapun kisi-kisi pengembangan instrumen angket dimaksud dapat disajikan dalam Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Pengembangan Instrumen Angket

Variabel

Sub variabel

Indikator

Jumlah Item

No. Item

Tingkat Pendidikan

Pendidikan formal yang dimiliki:

  1. Pendidikan Dasar

  1. Pendidikan Menengah/Kejuruan
  2. Pendidikan Tinggi

  • Lulus SD
  • Lulus SLTP (SMP)
  • Lulus SLTA (SMA/SMK)

  • Lulus Diploma I
  • Lulus Diploma II
  • Lulus Diploma III
  • Lulus Sarjana Muda
  • Lulus Diploma IV/S1
  • Lulus S2
  • Lulus S3

2

1

7

1,2

3

4,5,6,7,8,9,10

Tingkat Pelatihan

Pengalaman pelatihan

  1. Jenis kegiatan (ragam kegiatan)

  1. Tingkat pelatihan (level pelatihan)

  1. Melakukan pendalaman/mempelajari materi pelajaran bidang studi sesuai dengan kurikulum?
  2. Mendiskusikan materi pelajaran bidang studi dengan guru lain?
  3. Mengidentifikasi kesulitan materi pelajaran bidang studi?
  4. Mendiskusikan kesulitan materi pelajaran bidang studi tersebut dengan guru lain?
  5. Membuat rincian pembelajaran untuk minggu efektif?
  6. Mendiskusikan rincian pembelajaran minggu efektif dengan guru lain?
  7. Membuat analisis materi pelajaran?
  8. Mendiskusikan analisis materi pelajaran dengan guru lain?
  9. Membuat program semester?
  10. Mendiskusikan program semester dengan guru lain (bidang studi sejenis maupun bukan sejenis)?
  11. Membuat program satuan pelajaran/rencana pembelajaran?
  12. Mendiskusikan program satuan pelajaran/rencana pembelajaran dengan guru lain?
  13. Membuat lembar kerja siswa?

  1. Mendiskusikan lembar kerja siswa tersebut dengan guru lain?
  2. Mengadakan latihan praktik (simulasi) mengajar antar sesama guru?
  3. Mengikuti kegiatan latihan mengajar antar sesama guru (peer teaching)?
  4. Mengikuti latihan mengajar yang disampaikan oleh para ahli/pakar?
  5. Mengunjungi kegiatan belajar mengajar guru lain (kunjungan kelas)?
  6. Membuat perencanaan dan instrumen penilaian/evaluasi hasil belajar siswa?
  7. Mendiskusikan perencanaan dan instrumen penilaian/ evaluasi hasil belajar siswa tersebut dengan guru lain?

 

  1. Tingkat lokal (intern sekolah)
  2. Tingkat kota/kabipaten (antar SMA Negeri/SMK)

20

3

11,12,13,14,15,

16,17,18,19,20,

21,22,23,24,25,

26,27,28,29,30

31,32,33

Kinerja Profesional Guru

Kinerja (performansi guru)

  1. Mampu merumuskan tujuan instruksional dan mengkaji ciri-ciri rumusan tujuan instruksional (tujuan pembelajaran)
  2. Memahami dan menggunakan metode mengajar yang tepat
  3. Mampu memilih dan menyusun program instruksional (program pembelajaran) yang tepat
  4. Mampu memilih materi pembelajaran yang tepat
  5. Mampu melaksanakan program instruksional (program pembelajaran) yang telah direncanakan secara efisien dan efektif
  6. Mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar yang efisien dan efektif
  7. Mampu merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
  8. Mampu mengelola interaksi belajar mengajar
  9. Mampu memotivasi siswa untuk belajar
  10. Mampu mengajukan berbagai bentuk pertanyaan secara tepat kepada siswa selama berlangsungnya kegiatan belajar mengajar
  11. Mampu melaksanakan berbagai mekanisme/prosedur belajar mengajar secara tepat
  12. Mampu melaksanakan cara-cara berkomunikasi dengan siswa secara efektif
  13. Mampu mengatur tata ruang kelas yang efektif untuk proses belajar mengajar
  14. Mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat
  15. Mampu menciptakan keterlibatan siswa secara mental dan fisik dalam proses belajar mengajar
  16. Mampu menilai prestasi belajar siswa

16

34,35,36,37,38

39,40,41,42,43

44,45,46,47,48,49

4.5 Analisis Data

Mengacu pada rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dengan memanfaatkan persentase dan data penelitian disajikan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Ditinjau dari arti katanya, statistik deskriptif merupakan statistik yang bertugas untuk “mendeskripsikan” atau “memaparkan” gejala penelitian. Statistik deskriptif sifatnya sangat sederhana dalam arti tidak menghitung dan tidak pula menggeneralisasikan hasil penelitian (Arikunto, 2005:277).

Mengingat jenis data yang dikumpulkan dari angket (kuesioner) dalam penelitian ini adalah termasuk jenis data diskrit atau data berupa kategori. Data ini hanya dikelompokkan secara terpisah menjadi dua atau beberapa kelompok sesuai dengan tujuan penelitian yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Penyajian data dilakukan dengan menggunakan tabel sehingga memudahkan dalam melakukan analisis dan interpretasi terhadap data hasil penelitian, kemudian dapat mengambil kesimpulan tentang hasil penelitian tersebut.

Sedangkan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pendidikan dan pelatihan dengan kinerja profesionali guru, maka teknik analisis data yang dipergunakan adalah analisis regresi dengan dua variabel (ubahan) prediktor, rumus persamaannya adalah:

Y = a1 x1 + a2 x2 + K     (Hadi, 1994:21)

Keterangan:

Y         =  kriterium (ubahan/variabel yang diramalkan)

X         =  prediktor (ubahan/variabel yang digunakan untuk

                meramalkan

a          =  bilangan koefisien prediktor

K         =  bilangan konstan

Untuk menemukan persamaan garis regresi tersebut harga-harga koefisien prediktor dan bilangan konstannya dapat dicari dari data hasil penelitian. Sedangkan untuk mencari koefisien korelasi antara kriterium y dengan prediktor xa, dan prediktor x2 dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

    (Hadi, 1994:25)

Keterangan:

       Ry (1,2)    =  koefisien korelasi antara y dengan x1 dan x2

    a1    =  koefisien prediktor x1

    a2    =  koefisien prediktor x2

             å x1 y     =  jumlah produk antara x1 dengan y

             å x2 y     =  jumlah produk antara x2 dengan y

             å y2        =  jumlah kuadrat kriterium y

Dari hasil analisis data di atas, kemudian diinterpretasikan dan diambil kesimpulan secara naratif sesuai dengan tujuan penelitian.

Lampiran 1

DAFTAR NAMA GURU MATA PELAJARAN/BIDANG STUDI

PADA SMA NEGERI DI LINGKUNGAN KANTOR DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KOTA BLITAR TAHUN 2006

 

No. Nama Jenis Kelamin (L/P) *) Bidang Studi/

Mata Pelajaran

Asal Sekolah
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

13.

14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

21.

22.

23.

24.

25.

26.

27.

28.

29.

30.

31.

32.

33.

34.

35.

36.

37.

38.

39.

40

41.

42.

43.

44.

45.

46.

47.

48.

49.

50

51.

52.

53.

54.

55.

56.

57.

Keterangan:

*)   Jenis Kelamin:

L    =  laki-laki

P    =  perempuan

Lampiran 2

Perihal  : Angket Penelitian

Malang,  6 November 2006

Kepada

Yth. Bapak/Ibu Guru Bidang Studi

Pada SMA Negeri di Lingkungan Kantor Dinas

Pendidikan dan Kebudayaan Kota Blitar

di

       Blitar

Dengan Hormat

            Dalam rangka menyelesaikan tugas akhir studi kami pada Program Sarjana/S1 di Universitas Negeri Malang, yakni menyusun karya ilmiah berupa skripsi dengan kajian mengenai “Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dan Pelatihan dengan Kinerja Profesional Guru SMA Negeri di Kota Blitar”. Sehubungan hal ini, kami dengan hormat mengharap kesediaan Bapak/Ibu meluangkan waktu sejenak untuk berkenan mengisi angket/kuesioner yang kami kirimkan terlampir ini.

            Angket yang kami kirimkan ini tidak bermaksud menilai Bapak/Ibu dan tidak ada implikasinya terhadap penilaian jabatan. Angket ini semata-mata untuk memperoleh data yang akurat dan objektif sebagaimana yang diharapkan. Oleh karena itu kami mohon dengan hormat Bapak/Ibu dapat memberikan keterangan/mengisi angket ini sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Adapun penjelasan tentang petunjuk teknis pengisian angket telah tertuang dalam angket dimaksud.

            Demikian permohonan kami, atas perhatian dan kerjasama yang baik ini, kami menyampaikan terima kasih.

                                                                                                       Hormat kami,

                                                                                                            Peneliti,

                                                                                                ARIE MEY DHIANA

                                                                                                NIM 102131416278

ANGKET PENELITIAN

 

“HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DENGAN KINERJA PROFESIONAL

GURU SMA NEGERI DI KOTA BLITAR”

IDENTITAS RESPONDEN

  1. Nama                                 :  ………………………………………………………..
  2. Masa kerja                         :  ………………………………………………  tahun
  3. Pendidikan terakhir :  ………………………………………………………..
  4. Mengajar bidang studi         :  ………………………………………………………..
  5. Tugas lain di sekolah           :  ………………………………………………………..

(selain mengajar)                    ………………………………………………………..

                                             ………………………………………………………..

a. Petunjuk Teknis:

Berilah tanda cek (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan keadaan yang dialami Bapak/Ibu mengenai tingkat pendidikan formal tertinggi/ terakhir yang dimiliki dan asal pendidikan tersebut.

No. Tingkat/Jenjang Pendidikan Formal Bidang Studi Kelulusan Asal Pendidikan  
Kpdk

Non *) Kpdk

Lulus Tidak

Lulus

Dalam Negeri (Indonesia) Luar

Negeri

               
1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Lulus Diploma I

Lulus Diploma II

Lulus Diploma III

Lulus Sarjana Muda

Lulus Diploma IV/S1

Lulus S2

Lulus S3

Pendidikan Tambahan

Keterangan:

Kpdk               : Kependidikan

Non Kpdk       : Non Kependidikan

b. Petunjuk Teknis:

Berilah tanda cek (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan keadaan yang dialami Bapak/Ibu berkaitan dalam kegiatan pelatihan guru/MGMP dengan ketentuan:

SS    =  Sangat Sering, artinya hampir selalu/mutlak melakukan.

S      =  Sering, artinya cenderung lebih sering melakukan daripada tidak

            melakukan

J       =  Jarang, artinya cenderung lebih sering tidak melakukan daripada

            melakukan

SJ    =  Sangat Jarang, artinya hampir tidak pernah melakukan

             T     =  Tidak, artinya tidak pernah melakukan/mutlak tidak pernah

                         melakukan

Pertanyaan/Pernyataan Alternatif Jawaban
SS S J SJ T

Selama 2 tahun terakhir apakah Bapak/Ibu dalam kegiatan pelatihan sering mempelajari dan melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Melakukan pendalaman/mempelajari materi pelajaran bidang studi sesuai dengan kurikulum?
  2. Mendiskusikan materi pelajaran bidang studi dengan guru lain?
  3. Mengidentifikasi kesulitan materi pelajaran bidang studi?
  4. Mendiskusikan kesulitan materi pelajaran bidang studi tersebut dengan guru lain?
  5. Membuat rincian pembelajaran untuk minggu efektif?
  6. Mendiskusikan rincian pembelajaran minggu efektif dengan guru lain?
  7. Membuat analisis materi pelajaran?
  8. Mendiskusikan analisis materi pelajaran dengan guru lain?
  9. Membuat program semester?
  10. Mendiskusikan program semester dengan guru lain (bidang studi sejenis maupun bukan sejenis)?
  11. Membuat program satuan pelajaran/rencana pembelajaran?
  12. Mendiskusikan program satuan pelajaran/rencana pembelajaran dengan guru lain?
  13. Membuat lembar kerja siswa?
  14. Mendiskusikan lembar kerja siswa tersebut dengan guru lain?
  15. Mengadakan latihan praktik (simulasi) mengajar antar sesama guru?
  16. Mengikuti kegiatan latihan mengajar antar sesama guru (peer teaching)?
  17. Mengikuti latihan mengajar yang disampaikan oleh para ahli/pakar?
  18. Mengunjungi kegiatan belajar mengajar guru lain (kunjungan kelas)?
  19. Membuat perencanaan dan instrumen penilaian/evaluasi hasil belajar siswa?
  20. Mendiskusikan perencanaan dan instrumen penilaian/ evaluasi hasil belajar siswa tersebut dengan guru lain?
  21. Mengikuti pelatihan guru/MGMP yang diselenggarakan oleh sekolah sekolah tempat mengajar (intern sekolah)
  22.  Mengikuti pelatihan guru/MGMP antar guru se-kota Blitar
  23. Mengikuti pelatihan guru/MGMP antar guru se Propinsi Jatim

c. Petunjuk Teknis:

Berilah tanda cek (√) pada kolom yang tersedia sesuai dengan keadaan yang dialami Bapak/Ibu berkenaan dengan kinerja sesuai kompetensi tugas sebagai guru setelah mengikuti kegiatan pelatihan guru/MGMP dengan ketentuan:

SM  =  Sangat Mampu, artinya hampir selalu mampu/mutlak mampu

 melakukan.

M     =  Mampu, artinya cenderung lebih mampu melakukan daripada

 tidak mampu melakukan

CM  =  Cukup Mampu, artinya cenderung mampu melakukan daripada

             mampu melakukan

KM  =  Kurang Mampu, artinya hampir tidak mampu melakukan

TM  =  Tidak Mampu, artinya tidak mampu melakukan/mutlak tidak

            mampu melakukan

Pertanyaan/Pernyataan Alternatif Jawaban
SM M CM KM TM
  1. Mampu melaksanakan tujuan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional
  2. Mampu melaksanakan fungsi sekolah dalam masyarakat
  3. Mampu melaksanakan prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar
  4. Mampu melaksanakan bahan pengajaran sesuai dengan kurikulum sekolah (KBK)
  5. Mampu melaksanakan bahan pengajaran yang relevan dengan bahan bidang studi/mata pelajaran
  6. Mampu menetapkan tujuan pembelajaran
  7. Mampu memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai
  8. Mampu memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar yang tepat
  9. Mampu memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai dengan bahan bidang studi/mata pelajaran
  10. Mampu memilih dan memanfaatkan sumber balajar yang tepat
  11. Mampu menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat
  12. Mampu mengatur  ruangan belajar yang tepat
  13. Mampu mengelola interaksi belajar mengajar
  14. Mampu melaksanakan penilaian prestasi siswa/murid untuk kepentingan pengajaran
  15. Mampu melaksanakan penilaian proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan

 

~~ TERIMA KASIH ~~

 

 

Pengunjung datang dari kata kunci:

A. Karakterstik Pembelajaran Menurut Padangan Konstruktivisme

PENGEMBANGAN METODE PEMBELAJARAN

BIDANG STUDI GEOGRAFI MODEL PROBLEM SOLVING

BERDASARKAN PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

 

 

 

 

INSTRUMEN PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN

PEMECAHAN MASALAH GEOGRAFI

(IP3MG)

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGEMBANG

ANITA HANDAYANI

NIM 100351410144

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN

ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI

DESEMBER 2004

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Karakterstik Pembelajaran Menurut Padangan Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan pandangan alternatif yang muncul sebagai dampak dari revolusi ilmiah yang teradi dalam beberapa dasawarsa yang terjadi akhir-akhir ini ( Kuhn dalam Pannen dkk. 2001:1 ) pendekatan konstruktivisme menjadi landasan terhadap berbagai seruan dan kecenderungan yang muncul dalam dunia pembelajaran. Seperti perluya siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran, perlunya siswa mengembangkan kemampuan belajar mandiri, perlunya siswa memiliki kemampuan untuk mengembangkan kemampuan sendiri, serta perlunya pengajar berperan menjadi fasilitator, mediator dan manajer dari proses pembelajaran.

Konstruktivisme merupakan salah satu aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri (Von Glaserteld dalam Battencourt, 1989 dan Matthews, 1994 dalam Pannen, dkk, 2001: 3)

Pengetahuan merujuk pada pengalaman seseorang akan dunia, tetapi bukan dunia itu sendiri. Tanpa pengalaman seseorang tidak dapat membentuk suatu pengetahuan, dalam hal ini pengetahuan tidak hanya diartikan sebagai pengalaman fisik, tetapi juga pengalaman kognitif dan mental.

Pengetahuan dibentuk oleh struktur penerimaan konsep seseorang sewaktu mengadakan interaksi dengan lingkungannya (Von Glasfeld,1996 dalam Setyo Pannon, P.dkk, 2001:3). Piaget (dalam Anderson,1996 dalam Setyosari,1998) berkeyakinan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang atau benda-benda atau obyek-obyek yang ada disekitarnya. Ketika berinteraksi siswa membentuk pemahaman bagaimana keduanya, yaitu dunia atau lingkungan dan orang itu sendiri.

Abstraksi seseorang terhadap suatu hal membentuk struktur konsep dan menjadi pengetahuan seseorang akan hal tersebut. Misalnya, abstraksi seseorang akan ciri-ciri harimau dibandingkan dengan kucing akan menjadi pengetahuan orang tersebut tentang harimau dan kucing. Abstraksi tersebut menjadi konsep yang dapat digunakan dalam menganalisis hewan-hewan lain yang dijumpainya dan dapat membedakan antara harimau dan kucing.

Von Glasfeld (dalam Battencourt,1989 dalam Panen.P. dkk: 2001) memandang bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan, ditransformasikan, dan dikonstruksikan sendiri oleh masing-masing siswa. Tiap siswa harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Sejalan dengan bertambahnya usia dan pengalaman belajar seseorang. Dalam proses itu keaktifan seseorang yang ingin tahu sangat berperanan dalam perkembangan pengetahuannya.

Menurut Von Glasfeld, 1989 dalam Suparno (2002: 20), dalam proses konstruksi diperlukan beberapa kemampuan  sebagai berikut: (1) Kemampuan mengingat dan mengambil keputusan, (2) Kemampuan membandingkan, mengambil keputusan (justifikasi) mengenal persamaan dan perbedaan, dan (3) Kemampuan untuk lebih menyukai pengalaman yang satu dari pada pengalaman yang lain. Kemampuan mengingat dan mengungkapkan kembali pengalaman sangat penting karena pengetahuan dibentuk berdasarkan interaksi dengan pengalaman-pengalaman tersebut. Kemampuan membandingkan sangat penting untuk dapat menarik sifat yang lebih umum dari pengalaman-pengalaman khusus serta melihat kesamaan dan perbedaannya untuk dapat membuat klasifikasi dan membangun suatu pengetahuan. Karena terkadang seseorang lebih menyukai pengalaman tertentu daripada yang lain, maka munculah soal nilai dari pengetahuan yang dibentuk.

Dalam pembelajaran konstruktivis menurut Suparno (2002:16) menyatakan bahwa:

Peran guru atau pendidik dalam aliran konstruktivisme ini adalah sebagai fasilitator dan indikator yang tugasnya memotivasi dan membantu siswa untuk mau belajar sendiri dan merumuskan pengetahuannya. Selain itu guru juga berkewajiban untuk mengevaluasi gagasan-gagasan siswa itu. Sesuai dengan gagasan para ahli atau tidak.

 

Hal ini bahwa model pembelajaran ini guru hanya berperan sebagai fasilitator dan mediator dalam proses belajar mengajar. Tanggung jawab seorang guru adalah menyediakan dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin untuk belajar secara aktif dimana peran siswa bisa menciptakan, membangun, mendiskusikan/ membandingkan, bekerjasama, dan melakukan eksplorasi eksperimentasi (Setyosari, Herianto, Effendi, Sukadi,1996). Untuk mencapai hal tersebut maka siswa harus didorong dan distimulasi untuk belajar bagi dirinya sendiri. Dengan demikian tugasnya guru adalah disamping sebagai pemberi informasi, ia juga bertindak sebagai pemberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi serta menjamin bahwa siswa menerima tanggung jawab bagi belajarnya sendiri melalui pengembangan rasa dan antusias.

Apabila hal ini diabaikan, maka ada kecenderungan pola pengajaran yang dilakukan tidak lagi berorientasi pada bagaimana siswa belajar dan berfikir tetapi lebih cenderung bagaimana guru mengajar didepan kelas.

Dalam mempraktekan pendekatan model belajar konstruktivistik ini, guru perlu menawarkan berbagai aktvitas belajar didalam kelas selama proses belajar berlangsung. Tugas guru hanyalah menyalami dan mengobservasi, menilai, dan menunjukkan hal-hal yang perlu dilakukan siswa.

Salah satu prinsip penting dalam teori belajar konstruktivistik, adalah tersedianya kelas yang memiliki suasana sosiomoral sosiomoral athmosphere (De Vries dan Zan, 1994 dalam Setyosari, 1998). Sosiomoral ini mengandung arti bahwa seluruh interaksi diantara para siswa dan guru akan berpengaruh terhadap pengalaman dan pengembangan sosial dan moral anak. Piaget (dalam Von Cleaf, 1991 dalam Setyosari, 1998) menyatakan bahwa perkembangan moral dari pihak lain kearah kemandirian (independent moral being).

Setelah guru memahami siswa sedang memikirkan sesuatu subyek atau topik tertentu, selanjutnya hal yang paling penting dan esensial dalam kelas yang menggunakan model belajar konstruktivistik adalah bagaimana kecakapan dan ketrampilan guru dalam merancang berbagai aktifitas yang telah mereka pikirkan juga untuk mengembangkan daya respon dan penalaran mereka terhadap masalah-masalah yang menjadi persoalan pokok dalam materi. Disamping itu, dalam model belajar yang konstruktivistik selalu dikembangkan pola pengajaran multi arah dengan menekankan pada interaksi antara seluruh jaringan interpersonal yang ada didalam kelas, dimana dalam hal ini guru memberikan masalah-masalah yang mendorong para siswa untuk mengembangkan iklim kerjasama dalam menganalisa suatu masalah.

Dari uraian diatas jelas bahwa pendekatan konstruktivisme, memiliki kelebihan atau keunggulan dibandingkan dengan pendekatan yang lain. Yaitu, (1) Menciptakan lingkungan belajar yang aktif sehingga siswa memiliki sikap dan persepsi positif terhadap proses pembelajaran, (2) Melatih siswa untuk mengintegrasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimiliki siswa, (3) Merupakan model pembelajaran yang demokratis  dan dialogis serta tidak menjadikan guru diktator, (4) Strategi pembelajaran bersifat student centered learning , fokus utama berorientasi pada siswa dan proses belajar siswa sementara guru berperan sebagai fasilitator dan atau bersama-sama siswa terlibat dalam proses belajar. Proses kontruksi pengetahuan, dan (5) Menggalakkan siswa untuk memiliki kebiasaan mental yang produktif, untuk menjadi pemikir yang mandiri dan kreatif.

Disisi lain pendekatan konstruktivisme juga memiliki kelemahan diantaranya adalah pendekatan konstruktivis memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan pendekatan pembelajaran yang lain, membutuhkan sarana/prasarana dan media penunjang pembelajaran serta menuntut adanya ketrampilan dan kecakapan lebih dari guru dalam mengelola kelas yang dikembangkan dengan pendekatan model pembelajaran konstruktivisme.

B.  Problem Solving

  1. 1.      Metode pemecahan masalah (problem solving)

Metode problem solving adalah cara penyajian bahan pelajaran yang dengan menjadikan masalah sebagai titik tolak pembahasan untuk dianalisis dan disintesis dalam usaha mencari pemecahan/jawaban oleh siswa. Metode pemecahan masalah sering disebut dengan istilah problem solving method, reflective thinking method atau scientific method (Sudirman dkk, 1992 dalam Ingulu,2001: 52).

Problem solving dapat dianggap sebagai metode pembelajaran dimana siswa berlatih memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut dapat datang dari guru, terkait dengan fenomena kehidupan sehari-hari yang dijumpai siswa.

Dalam pemecahan masalah prosesnya terutama terletak dalam diri murid, variabel (luar) guru hanya merupakan instruksi verbal yang membantu atau membimbing murid untuk memecahkan masalah. Memecahkan masalah dapat dipandang sebagai suatu proses, dimana murid menemukan kombinasi aturan-aturan yang telah dipelajarinya terlebih dahulu yang digunakan untuk memecahkan masalah baru.

Menurut Fross dan Maslow (1973) problem solving memacu fungsi-fungsi otak. Anak mengembangkan daya pikir secara kreatif untuk mengenali problem dan mencari alternatif pemecahannya.

Taylor (1994) menambahkan bahwa problem solving mengembangkan kemampuan anak dalam mengambil keputusan. Pada saat alternatif pemecahan masalah ditemukan, anak harus memiliki alternatif terbaik. Ia harus membuat keputusan alternatif mana yang akan dipilih, pada saat itu anak berlatih untuk mengatasi konflik antara “What we want” dengan “What we have” untuk membentuk kondisi “What we cando”.

Dalam metode problem solving ada dua kondisi belajar yang harus dipenuhi yaitu, (1) Kondisi dalam diri murid merupakan kemampuannya untuk mengingat kembali aturan-aturan yang telah dipelajari sebelumnya yang berkenaan dengan pemecahan masalah itu, (2) Kondisi dalam situasi belajar, kontinyuitas diperlukan agar dapat menggunakan aturan-aturan secara berturut-turut. Instruksi verbal diperlukan untuk mendorong murid agar mengingat kembali aturan-aturan yang diperlukan. Perubahan waktu yang diperlukan untuk memecahkan masalah bergantung pada: (a) Banyaknya aturan-aturan yang dikuasai, (b) Kecepatan untuk mengingat aturan-aturan itu, (c) Kecepatan atau kelancaran murid memikirkan hipotesis, (d) Ketajaman murid dalammengembangkan konsep-konsep, (e) Memandang masalah tersebut sebagai suatu hal dalam kategori yang lebih umum dan dengan demikian membuktikan kebenaran jawabannya. Hasil belajar yang diperoleh melalui pemecahan masalah ini sukar dilupakan dan dapat dimanfaatkan pada berbagai situasi lainnya yang termasuk dalam ketegori tertentu.

Ada empat jenis pengetahuan yang dikembangkan dalam diri siswa melalui problem solving (Copley,1994). Keempat pengetahuan tersebut adalah (1) Declarative knowledge, (2) Prosedural knowledge, (3) Schematic knowledge, dan (4) Metacognitive knowledge (Slamet dkk,2002).

Declarative knowledge adalah pengetahuan tentang fakta termitologi  atau prinsip. Siswa mengetahui berbagai hal yang tidak ia ketahui sebelumnya. Prosedural knowledge adalah pengetahuan tentang prosedur atau cara. Misalnya cara mengidentifikasi faktor-faktor perbedaan suhu udara antara daerah satu dengan daerah yang lain, cara menggolongkan persebaran vegetasi alam berdasarkan iklim dan cara menentukan ketinggian tempat dikaitkan dengan tipe iklim suatu daerah menurut Junghun.

Apabila siswa telah memecahkan masalah, maka siswa akan memiliki scheme (skema) tentang cara yang ditempuh. Sehingga siswa memiliki schematic knowledge. Misalnya penentuan iklim menurut Junghun didasarkan pada topografi suatu tempat berpengaruh langsung terhadap perbedaan temperatur/suhu udara dan jenis persebaran vegetasi yang ada diwilayah tersebut. Hal ini berarti bahwa fenomena dinamika unsur cuaca dan iklim berdasarkan kriteria tipe iklim menurut Junghun akan berbeda dengan penentuan iklim menurut ahli lainnya.

Oleh karena wilayah dengan tipe iklim Junghun mempunyai tingkat kerentanan yang tinggi dan lebih beragam terhadap timbulnya dinamika cuaca dan iklim seperti kebakaran hutan, bencana longsor, bencana akibat angin dan sebagainya. Dengan kata lain siswa memiliki scheme tentang bagaimana mengantisipasi timbulnya perubahan fenomena alam dan kehidupan akibat dinamika cuaca dan iklim yang semakin tidak menentu dan akibat adanya pemanasan global.

Tingkatan tertinggi dari problem solving ialah siswa mengevaluasi cara yang telah dilakukan dalam memecahkan persoalan. Siswa memikirkan kembali cara ia berfikir dan cara memecahkan masalah. Dengan memikirkan kembali apa yang telah dilakukannya, siswa dapat mengetahui kelebihan dan kekurangannya yang selanjutnya siswa dapat mengembangkan pemecahan masalah yang sama secara lebih efektife dan efisien. Proses tersebut disebut metacognisi dan hasilnya adalah metacognitive knowledge.

  1. 2.      Strategi Belajar Pemecahan Masalah

Strategi belajar mengajar penyelesaian masalah adalah bagian adalah bagian dari strategi belajar mengajar. Instruksi strategi belajar mengajar penyelesaian masalah memberi tekanan pada terselesaikannya suatu masalah secara menalar.

Pentingnya strategi belajar mengajar ini oleh karena belajar pada prinsipnya adalah suatu proses interaksi antara manusia dan lingkungannya. Proses ini dapat juga disebut sebagai proses internalisasi oleh karena didalam interaksi tersebut manusia aktif memahami dan menghayati makna dari lingkungannya. Proses ini berlangsung secara bertahap, mulai dari menerima stimulus dari lingkungan sampai pada memberi respons yang tepat terhadapnya.

Dalam pemecahan masalah belajar sering memerlukan instruksi verbal yang membimbing kearah penemuan jawabannya. Petunjuk yang digunakan  dapat diberikan murid sendiri kepada dirinya. Kemampuan memberi petunjuk kepada diri sendiri merupakan hasil belajar. Kemampuan ini disebut strategi pemecahan masalah. Strategi merupakan bagain penting dalam memecahkan masalah, biasanya strategi dipelajari sendiri oleh individu dan biasanya tidak termasuk sebagai bagian dari tujuan pelajaran. Dalam konteksnya, terdapat berbagai jenis strategi. Misalnya strategi mengamati, strategi mengingat, strategi membentuk hipotesis dan sebagainya yang diperlukan dalam pemecahan masalah.

Mengajarkan strategi harus didukung oleh pengetahuan dan pengalaman yang memadai dalam pemecahan masalah. Sehingga, gaya berfikir dalam menghadapi masalah terbentuk sendiri oleh para siswa. Untuk mencapai tujuan, yaitu bagaimana supaya siswa dapat memilih strategi yang tepat dalam memecahkan suatu persoalan, penentuan penggunaan langkah-langkah atau aturan-aturan untuk memecahkan masalah sangat berpengaruh terhadap terbentuknya skema ketrampilan berfikir siswa dalam mencari cara-cara pemecahan masalah sampai akhirnya siswa berhasil menemukan jawabannya sendiri.

  1. 3.      Kekuatan dan Kelemahan Problem Solving

Sebagaimana metode pembelajaran lainnya, problem solving memiliki kekuatan dan kelemahan. Kekuatan dan kelemahan inilah menyebabkan problem solving bukan satu-satunya jawaban atas masalah-masalah pengajaran yang timbul khususnya dalam pengajaran dan pembelajaran bidang studi geografi dan bidang studi lainnya serta atas masalah-masalah yang dihadapi pendidik.

1) Kekuatan Problem Solving

  1. Fokus pada kebermaknaan, bukan fakta (deep versus surface learning).        Dalam pembelajaran tradisional, siswa diharuskan mengingat bentuk sekali informasi dan kemudian mengeluarkan ingatannya dalam ujian. Dengan banyaknya informasi yang harus diingat tidak menjamin dapat dipertahankan oleh siswa setelah proses pembelajaran usai. Dengan demikian mungkin hanya sedikit informasi yang mampu dipertahankan oleh siswa setelah lulus. Problem solving tidak semata-mata menyajikan informasi untuk diingat siswa. Jika problem solving menyajikan informasi maka informasi tersebut harus digunakan untuk pemecahan masalah, sehingga terjadi proses-proses kebermaknaan terhadap informasi.
  2. Meningkatkan kemampuan siswa untuk berinisiatif.

Siswa diharuskan berpartisipasi aktif dalam mencari informasi untuk mengidentifikasi masalah dan memecahkan masalah, sehingga penerapan problem solving method membiasakan siswa untuk berinisiatif dalam prosesnya.

  1. Pengembangan keterampilan dan pengetahuan (akan keterampilan tersebut).

Problem solving memberikan warna yang lebih, contoh nyata penerapan dan manfaat yang jelas dari materi pelajaran  (fakta, konsep, prinsip, prosedur). Tingginya tingkat ketrampilan dan pengetahuan siswa dalam memecahkan masalah terwujud karena tingkat kompleksitas permasalahan yang semakin tinggi. Semakin nyata permasalahan, semakin tinggi tingkat transferrability dari ketrampilan dan pengetahuan siswa kedalam kehidupan sehari-hari.

  1. Pengembangan keterampilan interpersonal dan dinamika kelompok.

Dalam penerapannya problem solving berorientasi pada kemampuan bidang ilmu dan ketrampilan interaksi sosial. Ketrampilan ini sangat diperlukan siswa dalam proses pembelajaran maupun dalam kehidupan sehari-hari

  1. Pengembangan sikap “self motivated”.

Problem solving memberikan kebebasan kepada siswa untuk bereksplorasi bersama siswa lain dalam bimbingan guru. Dengan situasi belajar seperti ini siswa akan dengan sendirinya untuk termotivasi belajar terus.

  1. Merangsang pengembangan kemampuan berfikir siswa secara kreatif dan menyeluruh.

Karena dalam proses belajarnya siswa banyak melakukan proses mental dengan menyoroti permasalahan dari berbagai segi dalam rangka mencari pemecahannya.

  1. Tumbuhnya hubungan siswa-fasilitator.

Dalam pembelajaran problem solving, atmosfer akademika dan suasana belajar akan terasa lebih aktif, dinamis, dan berkualitas karena disini guru berfungsi sebagai pembimbing dan tidak sekedar sebagai penyaji informasi.

  1. Jenjang pencapaian pembelajaran dapat ditingkatkan.

Proses pembelajaran menggunakan problem solving dapat menghasilkan pencapaian siswa dalam penguasaan materi yang sama luas dan sama dalamnya dengan pembelajaran tradisional. Disamping itu, kerjasama ketrampilan dan kebermaknaan yang dapat dicapai oleh siswa merupakan nilai tambah penerapan metode problem solving.

2)      Kelemahan Problem Solving

  1. Pencapaian akademik dari individu siswa.

Karena problem solving berfokus pada satu masalah yang spesifik, seringkali problem solving tidak memiliki ruang lingkup keilmuan yang memadai. Jika ruang lingkup bidang ilmu yang dipentingkan daripada ketrampilan belajar dan berfikir, maka problem solving masih diragukan peranannya.

  1. Waktu yang diperlukan untuk implementasi.

Waktu yang diberikan oleh siswa maupun guru dalam mengimplementasikan problem solving method cenderung lebih banyak dibandingkan dalam pembelajaran tradisional, terutama saat awal siswa terlibat dalam problem solving. Sebagai suatu proses pembelajaran yang berbeda yang kebanyakan belum mereka alami.

 

  1. Perubahan peran siswa dalam proses.

Pembelajaran problem solving menuntut siswa untuk berpartisipasi aktif dan mandiri, berbeda dengan asumsi pembelajaran sebelumnya yang berasumsi bahwa mereka hanya menerima pasif dari informasi yang disampaikan guru. Perubahan ini seringkali menjadi kendala bagi siswa pemula dan juga bagi guru/dosen yang terlalu berharap pada siswa.

  1. Perubahan peran guru dalam proses.

Kebiasaan penggunaan metode ceramah yang selama ini diterapkan guru dalam mengajar, seringkali hal ini mengakibatkan guru mengalami situasi yang membingungkan dan tidak nyaman ketika harus memulai proses pembelajarannya dengan menggunakan metode problem solving. Dalam problem solving dominasi ceramah dalam proses pembelajaran tidak dapat dilakukan oleh guru, karena peran guru bukan sebagai penyaji informasi dan otoritas formal, tetapi sebagai pembimbing dan fasilitator.

  1. Perumus masalah yang baik.

Perumusan masalah yang baik merupakan faktor yang paling esensial dalam problem solving,  padahal merupakan hal yang tidak mudah dilakukan baik bagi guru maupun bagi siswa. Jika permasalahan tidak bersifat holistik tetapi juga berfokus mikro (mendalam), maka akan ada banyak hal yang terlewatkan oleh siswa sehingga pengetahuan siswa menjadi  parsial atau sempit.

  1. Kesahihan sistem pengukuran dan penilaian hasil belajar

Berbeda dengan pembelajaran tradisional, sistem pengukuran dan penilaian hasil belajar yang digunakan dalam problem solving berupa alternative assemene.

Sebagaimana metode pembelajaran lain, problem solving merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan dengan segala keunggulan dan kekurangan yang dimilikinya. Meskipun demikian, problem solving bukan merupakan obat mujarab bagi siswa dalam menyelesaikan permasalahan dalam pembelajaran. Problem solving juga bukan pengganti metode pembelajaran tradisional maupun metode pembelajaran lainnya. Dalam penggunaan metode problem solving, tetap akan menggunakan sistem yang ada sejauh itu membantu siswa lebih aktif mengembangkan pengetahuan mereka. kadang dalam situasi tertentu perlu menggunakan sistem pembelajaran yang lama. Setelah dimodifikasi dengan prinsip-prinsip baru yang menekankan siswa aktif membentuk pengetahuan mereka. Misalnya, dari pada terus berceramah yang kadang membuat siswa bosan dan mengantuk, lebih baik diberi waktu bagi siswa untuk mengekspresikan gagasan, merumuskan kesimpulan dan berdiskusi, karena pengeluaran energi kognitif yang memungkinkan siswa merekatkan pengetahuan baru pada struktur kognitifnya jarang melebihi 10 sampai 12 menit. Namun pada kelas berpusat pada siswa, energi kognitif terus dikeluarkan untuk sebagian waktu dikelas (Wilson, dalam Lord, 1998 dalam Suparno,1997:5).

Kehadiran metode problem solving memberikan pilihan atau alternatif lain yang dapat dimanfaatkan guru, dengan harapan perbaikan kualitas pembelajaran dapat terwujud. Adalah kreatifias guru dalam memilih dan menentukan kapan pemakaian mtode problem solving diperlukan serta kapan metode pembelajaran lain lebih bermanfaat, yang akan menjadi kunci dari keberhasilan proses pembelajaran.

 

C.  Konsepsi Pembelajaran Geografi Model Problem Solving dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

 

1. Tinjauan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Mendesaknya permintaan terhadap pemenuhan kebutuhan lulusan pendidikan yang mempunyai kapabilitas, profesionalisme, dan daya saing yang tinggi, menjadi suatu masalah dan pemikiran yang serius bagi pemerintah, institusi-institusi pendidikan, serta para ahli dan pakar pendidikan maupun berbagai pihak yang bergerak dan bertanggung jawab dalam masalah dan bidang pengelolaan pendidikan nasional, baik di tingkat daerah maupun pusat. Sebagai konsekuensi dari itu, dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era globalisasi yang penuh tantangan dan ketidakpastian diperlukan pendidikan yang dirancang berdasarkan kondisi dan kebutuhan nyata di lapangan.

Untuk keperluan tersebut pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional memprogramkan kurikulum 2004 (sesuai dengan PP Nomor 25 Tahun 2000), yang lebih populer dengan istilah kurikulum berbasis kompetensi (KBK), sebagai pengganti dari kurikulum 1994 sekaligus sebagai acuan dan pedoman bagi pelaksana pendidikan untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan, khususnya pada jalur pendidikan sekokah. Intinya misi yang diusung oleh KBK adalah konsep pendidikan yang menekankan pada kemampuan yang harus dimiliki oleh lulusan pada suatu jenjang pendidikan. Kompetensi suatu jenjang pendidikan, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, mencakup komponen pengetahuan, keterampilan, kecakapan, kemandirian, kreativitas, kesehatan, akhlak, ketaqwaan, dan kewarganegaraan.

Menurut Wilson (2001) paradigma pendidikan berbasis kompetensi mencakup kurikulum, pedagogi, dan penilaian yang menekankan pada standar atau hasil. Hal ini mengartikan bahwa dalam pembelajaran berbasis komptenesi sistem kerja program pembelajaran yang berisi tentang hasil belajar atau kompetensi yang dicapai oleh siswa, sistem penyampaian, dan indikator pencapaian hasil belajar dirumuskan sejak perencanan pendidika dimulai (McAshan, 1989:19).

Untuk menuju suatu proses pembelajaran yang efektif dan efisien, perumusan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip relevansi dan konsistensi antara kompetensi dengan materi yang dipelajari, waktu yang tersedia, dan kegiatan, serta lingkungan belajar yang digunakan (McAshan, 1989:20).

Implementasi penerapan prinsip-prinsip di atas yaitu dengan memilih dan mengembangkan suatu strategi dan metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan potensi siswa dan lingkungan masing-masing. Berdasarkan alasan tersebut, penerapan strategi dan metode prolem solving sebagai bagian dari pembelajaran kontekstual mempunyai tingkat relevansi yang berbanding lurus dengan indikator pencapaian hasil belajar dalam pembelajaran.

Sebagai salah satu metode alterntif, problem solving mengupayakan konsistensi pembelajran yang bersifat motivasional dengn memaksimalkan kadar CBSA pada belajar siswa sehingga secara efektif dan efisien titik tekan pencapaian kompetensi yang terdapat dalam KBK, mencakup pengetahuan, keteram[ilan dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan erfikit dan bertindak, dapat dicapai (Puskur, 2002).

Dalam pembelajaran berbasis kompetensi perlu adanya penentuan standar minimum kompetensi yang harus dikuasai siswa. Sesuai pendapat tersebut, komponen materi pokok pembelajaran berbasis kompetensi meliputi: (1)  kompetensi yang akan dicapai; (2) strategi penyampaian untuk mencapai kompetensi; (3) sistem evaaluasi atau penilaian untuk menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi.

Dari uraian sebelumnya, jelas terlihat bahwa strategi/metode pembelajaran yang digunakan mempunyai posisi strategis dalam menentukan ke mana arah konsep pembelajaran akan diawa, sehingga secara jelas dan menyeluruh pengembangan strategi/metode pembelajaran bersifat fungsional dan relevan dengan kompetensi dan sistem penilaian.

Untuk menentukan definisi belajar dapat dilakukan dari berbagai segi tergantung dari teori mana  yang dipakai. Sesungguhnya belajar merupakan masalah yang dialami setiap orang  dan akan ada sepanjang sejarah manusia. Masalah yang dimaksudkan berupa dibutuhkan proses berfikirnya untuk belajar dan membawa perubahan tingkah laku setelah belajar. Dengan demikian belajar adalah suatu proses yang berlangsung didalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya baik tingkah laku dalam berfikir, bersikap dan berbuat.

Banyak ahli memberi pengertian tentang belajar. Menurut Nasuhan (dalam Sutaji, 2002: 22)  bahwa “Menurut pendapat yang tradisional belajar itu hanya menambahn dan mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan”. Pendapat ini sangat sempit dan mengarah pada pelajaran saja, padahal belajar mengarah pada perubahan individu setelah mengalami aktifitas. Lain lagi pembelajaran pendapat Hubbart (dalam Sutaji, 2002: 22) bahwa “Belajar adalah memperhatikan sesuatu agar bisa mengetahui lebih banyak lagi apa yang diperhatikan”. Sementara Sardiman (dalam Sutaji, 2002: 22) menyimpulkan bahwa “Belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan dengan serangkaian kegiatan. Misalnya, dengan membaca, mengamati, mendengarkan, dan meniru”. Oleh karena itu perencanaan maupun pelaksanaan belajar membutuhkan perkembangan strategi, media, dan jenis evaluasi yang akan dilakukan dalam pembelajaran, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.

2. Pengintegrasian Karakteristik Pembelajaran Bidang Studi Geografi dalam Pembelajaran Berbasis Kompetensi

1) Hakikat Pembelajaran Geografi

Dari asal katanya, geografi berasal dari kata geo yang berarti umi, dan grapoin yang berarti lukisan atau tulisan. Menurut pengertian tersebut, geografi berarti tulisan tentang bumi. Yang diartikan bumi pada pengertian geografi tidak hanya berkenaan dengan fisik alamiah bumi saja, melainkan juga meliputi segala gejala dan prosesnya, baik gejala dan proses alamnya, maupun gejala dan proses kehidupannya.

Selanjutnya Karl Ritter (dalam Sumaatmadja, 1988) menyatakan bahwa “geography to study the earth as the duelling-place of man”, mengkaji bumi sebagai tempat tinggal manusia Pada pengertian bumi sebagai tempat tinggal manusia, tercakup di dalamnya segala kegiatan manusia berkenaan dengan organisasi, struktur dan pola yang dilakukan manusia mengenai tempat tinggalnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sedangkan pada pengertian “the duelling-place of man” itu, penentuan bagian dari bumi tidak hanya terbatas pada bagian permukaan bumi yang benar-benar ditempati manusia, melainkan termasuk pula wilayah-wilayah yang tidak dihuni manusia, sepanjang wilayah tersebut penting artinya bagi kehidupan manusia. Jadi wilayah studi geografi meliputi segala gejala yang terdapat di permukaan bumi, baik alam organiknya, maupun alam anorganiknya yang ada kepentingannya dengan kehidupan manusia.

Dalam studi geografi, gejala-gejala yang berkenaan dengan alam organik dan anorganik tadi dianalisis penyebarannya, perkembangannya, interelasi, dan interaksinya. Analisa interelasi dan interaksinya dikaji dalam ruang (spatial relationship), dikaji interelasi antara faktor alam dengan faktor alam, antara faktor manusia dengan faktor manusia, dan antara faktor alam dengan faktor manusia pada ruang tertentu, dalam hal ini wilayah tertentu di permukaan bumi.

Oleh karena itu, geografi sebagai suatu bidang studi atau sebagai bidang ilmu pengetahuan, tidak memiliki sifat dan kedudukan yang dikotomi antara ilmu pengetahuan murni dengan yang terapan, antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan sosial. Berdasarkan wilayah studinya yang luas, geografi dapat dikatakan sebagai idang ilmu pengetahuan perpadun dari berbagai bidang ilmu pengetahuan (murni, terapan, eksak, non-eksak, alam, sosial). Segala sifat bidang ilmu pengetahuan tadi dapat dikatakan dimiliki oleh geeografi.

Interelasi dan integrasi keruangan gejala di permukaan bumi dari satu wilayah ke wilayah lainnya, selalu menunjukkan perbedaan. Ciri umum yang merupakan hasil interelasi, interaksi dan integrasi unsur-unsur wilayah yang bersangkutan, merupakan ojek studi geografi yang komprehensif. Analisa ini merupakan analisa karakteristik geografi yang dikenal sebagai studi regional (regional study)

Hakikatnya, geografi sebagai ilmu pengetahuan, selalu melihat keseluruhan gejala dalam ruang, dengan memperhatikan secara mendalam tiap aspek yang menjadi komponen keseluruhan tadi. Geografi seagai satu kesatuan studi (unified study), melihat satu kesatuan komponen alamiah dengan komponen insaniah pada ruang tertentu di permukaan bumi, dengaan mengkaji faktor alam dan faktor manusia yang membentuk integrasi kruangan di wilayah yang bersangkutan. Gejala interelasi-interaksi-integrasi keruangan menjadi hakikat kerangka kerja utama pada geografi dan sstudi geografi.

2) Karakteristik Bidang Studi dan Mata Pelajaran Geografi

Setiap bidang studi mempunyai karakteristik yang khas yang membedakannya dengan bidang studi yang lain. Seperti telah dikemukakan di atas, studi dan analisa geografi meliputi analisa gejala manusia dengan gejala alam, dan meliputi pula analisa penyebarannya-interelasinya-interaksinya dala  ruang.

Melihat analisa gejala yang dipelajarinya, geografi dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan “what-where-why-how” tentang apa yang terjadi di permukaan bumi. Untuk menjawab pertanyaan where, geografi dapat menunjukkan ruang atau tempat terdapatnya atau terjadinya gejala alam dan manusia. Untuk menjawab pertanyaan why, geografi dapat menunjukkan relasi-interelasi-interaksi-integrasi gejala-gejala tadi sebagai faktor yang tidak terlepas satu sama lain. Untuk menjawab pertanyaan how, geografi dapat menunjukkan kualitas dan kuantitas gejala dan interelasi/interaksi gejala-gejala tadi pada ruang yang bersangkutan. Bahkan untuk mengungkapkan waktu terjadinya atau waktu berlangsungnya, geografi dapat menjawab pertanyaan when dalam mengungkapkan dimensi waktunya. Dengan demikian dari ruang lingkup studi dan analisa geografi yang cukup luas dan mendasar, tercermin sifat dan karakteristik geografi sebagai stau bidang ilmu pengetahuan dan sebagai suatu bidang studi yang berbeda dengan bidang ilmu pengetahuan dan bidang studi lainnya. Apabila geografi diibaratkan sebagai pohon ilmu, maka sebagai akar-akarnya adalah atmosfer, lithosfer, hidrosfer, dan biosfer, sedangkan cabang-cabangnya adalah geografi fisik dan geeografi manusia. Selain itu ada cabang pendukung yaitu geografi teknik. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan, dengan teknik identifikasi, inventarisasi, analisis, sintesis, klasifikasi dan evaluasi.

Adapun karaktersitik mata pelajaran geografi adalah sebagai berikut:

  1. Geografi terutama merupakan kajian tentang fenomena alam, dan kaitannya dengan manusia di permukaan bumi.
  2. Geografi mempelajari fenomena geosfer, yaitu lithosfer, hidrosfer, atmosfer, biosfer dan antroposfer.
  3. Pendekatan yang digunakan dalam geografi adalah pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan, maupun analisis kompleks wilayah.
  4. Tema-tema esensial dalam geografi dipilij dan bersumber serta merupakan perpaduan dari cabang-cabang ilmu alam dan ilmu sosial atau humaniora. Cabang-cabang ilmu alam seperti geologi, geomorfologi, hidrologi, pedologi, oseanografi, meteorologi, klimatologi, dan astronomi. Cabang-cabang ilmu sosial seperti antropologi, sosiologi, demografi, maupun ekonomi. Tema-tema esensial tersebut terkait dengan peristiwa alam dan sosial sehari-hari seperti encana gempa bumi, bencana gunung berapi, banjir, tanah longsor, badai, angin topan, tsunami, dan kekeringan. Tema-tema sosial seperti masalah kependudukan, kemiskinan, ketenagakerjaan, kerusuhan dan sebagainya.
  5. Dalam teknik penyajiannya menggunakan cara identifikasi, inventarisasi, analisis, sintesis, klasifikasi, dan evaluasi dengan bantuan peta, teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis.

3) Konsep Pembelajaran Geografi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Sebagai kurikulum baru, KBK menggariskan adanya penguasaan kompetensi di setiap jenjang pendidikan untuk peserta didik setelah melalui proses belajarnya. Hal ini penting agar tercipta lulusan yang benar-benar kompeten (memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang dapat direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak.

Menurut Mulyasa (2002:39) kurikulum berbasis kompetensi diartikan sebagai suatu konsep kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi) tugas-tugas dengan standar performansi tertentu, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat kompetensi tertentu.

Berdasarkan definisi di atas, kegiatan/proses bagaimana membelajarkan siswa dalam memperoleh penguasaan atau kemampuan tertentu, yang sudah ditetapkan terlebih dahulu. Dalam hal ini penguasaan dalam belajar geografi, bukan hanya penguasaan konsep, penalaran, dan keterampilan teknis (penguasaan ilmu), tetapi juga pembinaan watak, sikap, dan perilaku terhadap dan dalam geografi. Yang secara singkat disebut sebagai kematangan profesional dalam geografi.

Selanjutnya menurut Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas (2002) mendefinisikan kurikulum berbasis kompetensi sebagai seperangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai oleh siswa, penilaian kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah. Sesuai dengan perspektif tersebut, aktualisasinya dalam pembelajaran geografi terlihat pada perumusan standar kompetensi mata pelajaran geografi dan pengembangan silabus dan sistem penilaian.

Konsep kurikulum berbasis kompetensi mensyaratkan dirumuskannya secara jelas kompetensi yang harus dimiliki atau ditampilkan siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Dengan tolok ukur pencapaian kompetensi maka dalam kegiatan pembelajaran siswa akan terhindar dari mempelajari materi yang tidak perlu yaitu materi yang tidak menunjang tercapainya penguasaan kompetensi.

3. Standar Kompetensi Mata Pelajaran Geografi

1) Pengertian Standar Kompetensi Mata Pelajaran

Menurut Center for Civics Education (1997:2), standar kompetensi dapat didefinisikan sebagai “pernyataan tentang pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai siswa serta tingkat penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata pelajaran”. Berdasarkan definisi tersebut, standar kompetensi mencakup dua hal, yaitu standar isi (content standards) dan standar penampilan (performance standards). Stanar kompetensi yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus dikuasai siswa dalam mempelajari mata pelajaran tertentu seperti PPKn, matematika, fisika, biologi, ahasa Indonesia, dan lain sebagainya. Standar kompetensi yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaan siswa terhadap standar isi.

Dengan demikian standar kompetensi merupakan kerangkan yang menjelaskan dasar pengembangan program pembelajaran yang terstruktur dan juga merupakan fokus dan penilaian terhadap skor atau peringkat kinerja yang berkaitan dengan kategori pencapaian seperti lulus atau memiliki keahlian.

Untuk mata pelajaran geografi SMU/MA terdapat 5 standar kompetensi sebagai berikut:

  1. Menganalisis gejala alam fisik dan perkembangan bentuk muka bumi serta pelestariannya.
  2. Mengevaluasi gejala sosial di muka bumi, interelasinya, dan pengaruhnya terhadap kehidupan.
  3. Menganalisis gejala sosial di muka bumi, interaksinya, dan pengaruhnya terhadap kehidupan dan perkembangan wilayah.
  4. Menganalisis lokasi industri dan perkembangan wilayah serta menginformasikannya dengan menggunakan konsep wilayah dan grafikasi.
  5. Menggunakan konsep wilayah dan grafikasi dalam memahami lokasi, pola, penyebaran, dan hubungan antar objek.

Di bawah ini secara lebih rinci akan disajikan berbagai kompetensi dasar, indikator dan materi pokok mata pelajaran geografi pada SMU/MA.

Tael Kompetensi Dasar, Indikator dan Materi Pokok Mata Pelajaran Geografi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi

Kelas 2X

Standar kompetensi 1: menganalisis gejala alam fisik dan perkembangan entuk muka

bumi serta pelestariannya.

 

Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok
1.1  Menyimpulkan hakikat geografi
  • Menentukan ruang lingkup geografi
  • Mendeskripsikan ojek studi geografi
  • Mengidentifikasi prinsip-prinsip geografi
Prinsip, ruang lingkup dan objek geografi
1.2  Menafsirkan pola dan kenampakan alam dan budaya pada berbagai peta dan media citra
  • Membuat peta berdasarkan hasil pengukuran jarak dan arah dengan menggunakan alat bantu meteran dan kompas
  • Melakukan klasifikasi data, tabulasi dan membuat grafik
  • Membuat peta tematik dengan menggunakan simbol (titik, garis, dan luasan)
  • Membedakan peta dengan media citra (foto udara dan citra satelit)
  • Menafsirkan pola dan ciri kenampakan alam dari hasil pemetaan dan interpretasi citra
Peta tematik dan citra penginde-raan jauh
1.3  Menafsirkan sejarah pembentukan muka bumi dan perkembangannya
  • Mendeskripsikan proses terjadinya bumi
  • Menganalisis sejarah perkembangan muka bumi (pangea, gonduana)
  • Mendeskripsikan karakteristik pelapisan bumi
  • Menganalisis teori lempeng tektonik dan kaitannya dengan persebaran gunung api dan gempa bumi
Proses terjadinya bumi

 

Pencermatan mengenai tuntutan kompetensi yang dinginkan oleh kurikulum berbasis kompetensi untuk mata pelajaran geografi, maka siswa akan belajar mengembangkan pemahaman tentang organisasi spasial, masyarakat, tempat-tempat dan kelingkungan pada muka bumi, siswa memahami fakta, konsep-konsep yang terkait dengan kondisi terseut dan menarik suatu generalisasi yakni pemberlakuan konsep-konsep yang bersifat umum, serta bertujuan untuk mencoba untuk menerapkannya kembali pada situasi dan konteks tertentu. Dengan demikian sebenarnya tidak cukup bilamana siswa sekedar memiliki kemampuan memahami sustansi mata pelajaran. Siswa dituntut berkemampuan lebih dari sekedar memahami sustansi, namun juga pemahaman terhadap konteks empirik, melakukan generalisasi dan penerapannya untuk hal-hal tertentu (Depdiknas, 2003:5).

4.   Dasar Alasan Pemilihan Kompetensi Dasar Sebagai Contoh Pengembangan Pembelajaran Model Prolem Solving

 

Dari sekian tampilan kompetensi dasar, indikator dan materi pokok mata pelajaran geografi yang terdapat pada jenjang pendidikan SMU/MA di atas, tidak semua kompetensi dasar yang ada dapat secara efektif dikembangkan dengan penerapan metode problem solving. Adapun kompetensi dasar yang dipilih sebagai contoh pengembangan model pembelajaran geografi metode problem solving yaitu salah satu butir kompetensi yang terdapat pada kelas X

Dasar alasan pemilihan kompetensi dasar tersebut sebagai contoh pengembangan pembelajaran geografi model problem solving diilhami dan dimotivasi oleh berkembang pesatnya pembelajaran pemecahan masalah matematika di Indonesia. Matematika yang dikenal sebagai ilmu pengetahuan abstrak, konsep-konsep awalnya kebanyakan berasal dari atau dirangsang munculnya oleh situasi atau peristiwa-peristiwa nyata dalam kehidupan sehari-hari yang berupa pengabstrakan beragai situasi nyata. Konsep-konsep selanjutnya dikembangkan dari konsep semua atau sifat dan perilaku konsep semula sebagai hasil kajian yang dilakukan, dan juga mempunyai interpretasi dan relevansi dalam dunia nyata. Di samping itu, banyak juga konsep-konsep matematika yang disusun semata-mata sebagai konsep abstrak dan kemudian dikembangkan tanpa sama sekali menyinggung interpretasinya dalam dunia nyata. Sekalipun demikian, menarik untuk diketahui, bahwa hasil pengembangan yang diperoleh mempunyai penerapan yang berperan besar sekali dalam penyelesaian atau pembahasan berbagai situasi nyata. Dengan perkataan lain, terdapat kaitan erat antara pengembangan konsep matematika dengan situasi nyata.

Hal inilah yang memberikan spirit moral sebagai dasar untuk berusaha mengembangkan aspek-aspek keilmuan/konsep geografi dengan menekankan tetap, erfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata ataupun simulasi) kepada siswa. Oleh karena itu pemilihan kompetensi dasar yang ada pada butir 1-6 kelas X sebagai salah satu contoh pengembangan pembelajaran model problem solving dengan mendasarkan pada asumsi bahwa indikator-indikator yang terdapat pada kompetensi dasar butir 1-6 memuat permasalahan-permasalahan yang dapat dijadikan acuan konkret bagi siswa dalam mengembangkan kerangka berfikir geografi yang mempunyai interpretasi dalam dunia nyata serta mempunyai nilai aplikatif/penerapan dalam proses penyelesaian atau pembahasan berbagai gejala-gejala problematik dalam dunia nyata. Selain itu indikator tersebut juga memuat permasalahan yang dapat dijadikan sarana untuk memfasilitasi terjadinya proses bernalar dan berfikir kritis serta secara efektif berfungsi sebagai stimulus dalam aktivitas belajar siswa. Dalam hal ini tidak semua indikator yang terdapat pada kompetensi dasar butir 1-6 cocok/efektif dikembangkan dengan metode problem solving. Penerapan problem solving hanya mengambil indikator nomor 3, 4, dan 5 sedangkan untuk indikator 1 dan 2 penerapannya menggunakan model pembelajaran konvensional. Tentu saja hal ini didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan bahwa content/isi materi yang termuat pada indikator kurang berfokus pada penyajian permasalahan yang menjadi ciri dan karakteristik model pembelajaran problem solving sehingga dalam proses pembelajarannya tidak menggunakan tahapan-tahapan yang biasanya muncul dalam problem solving.

Selain alasan di atas, unsur utama yang melandasi pemilihan kompetensi dasar butir 1-6 sebagai contoh pengembangan, karena butir tersebut mengandung struktur permasalahan yang mempunyai tingkat relevansi, kebermaknaan bagi siswa, mempunyai interpretasi dengan permasalahan nyata, dan berhubungan langsung dengan pengalamannya. Di samping itu permasalahan dapat diarahkan menjadi lebih kompleks atau simulasi sehingga ruang lingkup permasalahan yang muncul mampu menantang aplikasi keterampilan yang sudah dimiliki siswa ke arah terbentuknya pengembangan keterampilan bernalar dan berfikir tingkat tinggi (higher order thinking skills) atau keterampilan meta kognitif.

Adapun alasan penetapan kelas X sebagai kelas uji coba pengembangan, didasarkan pada alasan bahwa penerapan silabus dan sistem penilaian KK baru diimplementasikan hanya pada jenjang kelas X SMU/MA. Sedangkan pada kelas XI dan XII baik program IPA maupun IPS masih menggunakan sistem kurikulum 1994 dengan berorientasi pada proses (process oriented) dan curriculum target oriented. Berbeda dengan KBK yang berorientasi pada output (outpus oriented)/kompetensi siswa. Selain itu dalam hal ini, guru masih membuat AMP, PSP, dan RP dalam merencanakan dan mempersiapkan pengajaran dan masih menerapkan sistem penilaian berbasis konteks yang lebih banyak menekankan pada aspek kognitif yang dilakukan secara konvensional dan berbasis pada pokok bahasan/sub pokok bahasan. Dengan demikian dari segi pendekatan, pelaksanaan (proses) maupun penilaian kelas XI dan XII kurang ideal untuk dijadikan contoh model pengembangan pembelajaran geografi dengan metode problem solving.

5. Implementasi Geografi dalam Pengajaran di Sekolah

Dalam kurikulum 1975 dan kurikulum 1984, dengan adanya pengelompokkan mata pelajaran (IPA, IPS, Bahasa), maka geografi dimasukkan dalam kelompok IPS. Akibatnya geografi tidak diajarkan secara “utuh” lagi seperti geografi fisik/alam yang lebih dikenal dengan IPBA masuk dalam IPA. Untuk geografi sosial dan regional (negar-negara dengan kondisi fisik maupun sosialnya),  serta beberapa bagian dari geografi fisik/alam seperti: tanah, keadaan peraiaran (sungai, danau, laut), iklim dan unsur abstrak masuk dalam kelompok IPS. Walaupun demikian pembahasan geografi antara fisik dan manusia selalu terkait.

Adapun penjabaran materi pengajaran geografi disekolah meliputi aspek hakikat, nilai dan perannya. Hakikat geografi dirumuskan demikian: geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan (ekologis) dan kewilayahan (regional) dalam konteks keruangan (spatial).

Dalam mengajarkan geografi kepada para siswanya di SMA, guru diharapkan mampu menguasai makna dari 10 konsep esensial geografi sebagai ciri khas pengajaran geografi. Sepuluh konsep esensial itu meliputi konsep-konsep : lokasi, jarak, keterjangkauan, pola, morfologi, aglomerasi, nilai kegunaan, interaksi dan interdepedensi, diferensiasi areal (struktur/distribusi keruangan) akhirnya proses.

Keruangan (keterkaitan keruangan) (Semlok, pengajaran geografi 1989), adapun keterangan untuk masing-masing konsep tersebut adalah sebagai berikut:

(a)    konsep wilayah: suatu wilayah merupakan satu kesatuan terpadu antara daratan, perairan dan udara yang ada diatasnya.

(b)   konsep sumberdaya: potensi sumberdaya alam dan insani berbeda antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain.

(c)    konsep hubungan: karakteristik suatu wilayah dipengaruhi oleh ketergantungan sumberdaya.

(d)   konsep saling ketergantungan: perbedaan karakteristik wilayah menurut adanya kerjasama antara wilayah.

(e)    konsep jagad raya: ditinjau dari susunan jagad raya, bumi sebagai hunian hanya merupakan komponen yang amat kecil.

(f)     konsep kelestarian lingkungan hidup: keselarasan lingkungan hidup dipengaruhi hubungan antar sumberdaya.

a)  Kegiatan Indoor (indoor study)

Nilai edukatif dari pengajaran geografi berkaitan dengan karakter guru dan metode  yang dipakai dalam pengajaran dan pembelajaran. Mengajar adalah cara mengorganisasi dan mengatur lingkungan dan hubungannya dengan anak didik, sehingga terjadi suatu proses belajar. Dengan demikian, mengajar merupakan suatu kegiatan yang kompleks, dimana guru mengintegrasikan semua ketrampilan yang dimiliki, termasuk didalamnya yaitu ketrampilan membuat bagaimana agar pelajaran (geografi) menarik untuk dipelajari dan dapat memotivasi anak didik dalam mempelajari dengan baik.

Prinsip dasar mengajar yang baik adalah bahwa proses belajar mengajar harus berorientasi pada siswa, karena itu seorang guru geografi dalam meningkatkan mutu keprofesionalannya, hendaknya melengkapi dan megembangkan keterampilan/teknik dalam mengajarnya.

Khusus untuk pengajaran didalam kelas, kadar keaktifan peserta didik dalam proses belajar mengajar dapat diamati melalui tujuh indikator dari Inckeachi sebagai berikut:

a)      Tingkat partisipasi siswa dalam menentuakan tujuan kegiatan belajar mengajar.

b)      Pemberian tekanan pada afektif

c)      Tingkat partisipasi siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

d)      Penerimaan guru terhadap perbuatan atau kontribusi siswa yang kurang relevan.

e)      Derajat kohesivitas kelas sebagai kelompok.

f)        Peluang yang ada bagi siswa untuk turut ambil bagian dalam kehidupan sekolah.

g)      Jumlah waktu yang digunakan dalam menangani masalah pribadi siswa.

b)  Kegiatan Outdoor (outdoor study)

Melihat objek yang dikaji dalam geografi demikian luasnya meliputi keadaan alam dan sosial, maka dalam mengkaji/mempelajari tidak hanya cukup dalam kelas (indoor) saja. Tetapi memerlukan pengamatan diluar kelas (outdoor). Untuk mencocokkan teori-teori yang didapat dengan realitas yang ada dilapangan/diluar kelas. Hal ini penmting untuk dilakukan karena seperti apa yang dikemukaan oleh Hettner, geograf  Jerman dari abad ke 19 yang berpendapat bahwa suatu realitas geografi, misalnya didalam geografi suatu wilayah, pada umumnya mengandung tiga dimensi. (1) relasi antara hal-hal yang sejenis, (2) perkembangan didalam waktu, dan (3) susunan dan persebaran didalam ruang. Makna dari masing-masing dimensi itu adalah, (1) fungsi wilayah (ekonomis, sosial, kultural, politik) sebagai produk interaksi unsur alam dengan unsur sosial dari wilayah tersebut. (2) proses wilayah, yakni perkembangan sejarahnya apa yang ada dimasa kini merupakan produk belakan dari masa lampau yang berlangsung dengan berbagai perubahan. (3) struktur wilayah, yakni tersebarnya unsur-unsur alam dan sosial diwilayah yang bersangkutan, misalnya sumber daya alam dan penduduknya.

Studi lapangan tidak harus berkunjung/observasi ke tempat yang jauh atau ketempat-tempat wisata seperti yang selama ini dilakukan oleh sekolah-sekolah dengan mengamati faktor/aspek geografi baik fisik maupun sosial yang relevan dengan materi pelajaran.Dalam hal ini kesiapan dan ketrampilan guru dalam menjelaskan obyek serta memilih alternatif/teknik mengajar yang secara efektif mampu memotivasi dan menstimulus ketrampilan berfikir proses, kritis, analitis dari peserta didik. Kegiatan outdoor studi juga dapat diimplisitkan pada kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan lapangan seperti kegiatan ekstrakurikuler. Dengan demikian jauh akan lebih menarik serta memotivasi anak didik unuk mempelajari, sehingga dengan demikian akan mengoptimalkan peran siswa dalam proses dan pemerolehan hasil belajarnya.

Dalam implementasinya di lapangan, pengajaran geografi disekolah-sekolah mendapat banyak kritik dari berbagai kalangan. Penilaian mereka didasarkan bahwa pengajaran geografi selama ini oleh para siswa dirasakan sangat membosankan dan kering. Kondisi ini diperoleh dengan tidak diebtanaskannya pelajaran geografi. Dari segi konsepsi dan pelaksaan dilapangan, sampai sekarang masih ada hal-hal yang kurang pas pada mata pelajaran IPS-geografi. Disamping itu, dari segi pengembangan materi dan pengajaran IPS menghadapi berbagai kendala. IPS itu merupakan himpunan ilmu-ilmu yang termasuk dalam ilmu sosial yang diseleksi, disederhanakan, dan diintegrasikan untuk kepentingan pendidikan. Kalau seperti ini rasionalnya, maka konsepsi pengajaran IPS-geografi menjadi kabur.

Oleh karena itu, peran guru sangat vital walaupun bukan satu-satunya dalam menciptakan situasi yang memaksimalkan kegiatan belajar peserta didik. Fungsi belajar pada peserta didik sangat menentukan keberhasilan pendidikan. Guru harus memandang anak didik bukan sebagai obyek, tetapi sebagai subyek yang aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian, untuk menciptakan suasana belajar yang bermutu maka belajar harus dimaknai sebagai aktifitas siswa dimana semua potensi siswa dikerahkan. Kegiatan ini tidak terbatas hanya pada kegiatan mental intelektual, tetapi juga melibatkan kemampuan-kemampuan yang bersifat emosional bahkan tidak jarang melibatkan fisik.

Melengkapi agar pengajaran geografi mampu menghadapi perkembangan masa datang yang serba kompleks, maka mata pelajaran IPS-geografi disekolah perlu diarahkan pada masalah-masalah sosial kemanusiaan yang lebih mendalam dan komprehensif. Untuk SLTA pengajaran geografi harus diberikan secara terpadu dan diajarkan oleh seorang guru geografi dengan latar belakang disiplin ilmu geografi.

D. Pedoman Pembelajaran Geografi Model Problem solving

Pada bagian ini secara berturut-turut akan dibahas mengenai pedoman pelaksanaan, pedoman evaluasi, dan skenario pembelajaran geografi dengan menggunakan metode problem solving.

1. Pedoman Pelaksanaan Pembelajaran Model Problem solving

Untuk menuju suatu proses pembelajaran yang efektif dan efisien, hendaknya guru dalam merumuskan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa didasarkan atas prinsip relevansi dan konsistensi antara kompetensi dengan materi yang dipelajari, waktu yang tersedia, dan kegiatan serta lingkungan belajar yang digunakan (McAshan, 1989:20).

Implementasi penerapan prinsip-prinsip di atas yaitu dengan memilih dan mengembangkan suatu metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan potensi siswa dan lingkungan masing-masing. Pendekatan atau metode pembelajaran problem solving merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme yang sangat mementingkan siswa dan erorientasi pada proses belajar siswa (student-centered learning).

Dengan mengintegrasikan pembelajaran bidang ilmu dan keterampilan memecahkan masalah, memanfaatkan situasi yang kolaoratif dan menekankan pada proses “belaajar untuk belajar” dengan memberikan tanggung jawab maksimal kepada siswa untuk menentukan proses belajarnya (Wilson & Cole, 1996).

Untuk tujuan itulah maka pedoman pelaksanaan pembelajaran model problem solving ini disusun sebagai alternatif solusi dan acuan bagi para guru geografi dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efiesien.

Pedoman pelaksanaan ini meliputi tiga tahapan yaitu: (1) tahap persiapa atau perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, meliputi kegiatan pembuka, inti, dan penutup, dan (3) tahap evaluasi.

a. Tahap Persiapan (pratindakan)

1)      Agar hasil belajar para siswa memuaskan guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas yang hendak dicapai oleh siswa. Sifat dari pada tujuan adalah (1) mampu menstimulus/merangsang agar siswa berusaha lebih baik memupuk inisiatif, kreatif, dan mandiri, (2) membawa kegiatan-kegiatan sekolah pada hal-hal yang menarik motivasi siswa untuk belajar, (3) memperkaya pengalaman dan keterampilan pemecahan masalah siswa yang dapat dilakukan dengan menyajikan presentasi verbal, atau pengalaman nyata, atau bisa dirancang sendiri oleh guru, (4) memperkuat hasil belajar siswa dengan menyelenggarakan latihan-latihan pemecahan masalah yang diintegrasikan penggunaannya dengan masalah-masalah nyata di lapangan, (5) mempunyai nilai praktis dan analisis kekuatan lapangan, (6) tingkat kesulitan masalah disesuaikan dengan taraf kemampuan intelektual dan tingkat emosional serta kondisi mental siswa.

2)       Guru menyusun masalah yang akan diidentifikasi oleh siswa.

Permasalahan yang disusun hendaknya dikembangkan erdasarkan konsep dan prinsip-prinsip bidang ilmu yang ingin disajikan, mempunyai tingkat relevansi dan kebermaknaan bagi siswa. Sedapat mungkin permasalahan nyata, dan berhubungan langsung dengan pengalamannya. Di samping itu secara efektif ruang lingkup permasalahan yang ada berkompeten dalam menantang aplikasi keterampilan yang sudah dimiliki siswa. Sehingga pada taraf lebih lanjut pengembangan keterampilan tersebut dapat diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang mempunyai tingkat kerumitan permasalahan yang lebih tinggi (kompleksitas) yaitu sejauh mana siswa dapat menganalisis permasalahan nyata, dan rumit atau simulasi ke dalam suatu bentuk yang lebih sederhana.

3)      Memperispkan berbagai alat/ahan yang diperlukan, bahan-bahan ini dapat diambil dari kliping atau peristiwa-peristiwa di sekitar siswa.

4)      Mempersiapkan waktu dan lokasi. Untuk mendukung kegiatan belajar mengajar yang kondusif waktu yang dipilih sebaiknya pagi hari, karena pada saat ini kondisi fisik dan mental siswa masih segar, sehingga proses belajar mengajar lebih optimal. Adapun pemilihan lokasi bisa bersifat indoor (dalam kelas) maupun outdoor (luar kelas) disesuaikan dengan sifat dan jenis masalah apakah memerlukan penelitian/investigasi langsung di lapangan atau tidak, serta memperhitungkan nilai efektifitas dan efisiensinya. Dalam hal ini kegiatan pembelajaran di dalam kelas dengan membagi kegiatan dalam beberapa kali pertemuan.

5)      Mempertimbangkan jumlah siswa dengan alat/bahan yang ada serta menetapkan apakah proses belajar pemecahan dilaksanakan secara kolaboratif atau individu. Jika dilaksanakan secara kolaboratif maka siswa dikelompokkan ke dalam kelompok kecil (beranggotakan 4-5 anak).

6)      Merancang tempat didik siswa

Apabila proses belajar pemecahan dilaksanakan secara kolaboratif/berkelompok, penyusunan tempat didik secara efektif dan efisien harus memungkinkan adanya interaksi aktif dan bersifat multiarah.

7)      Guru memerikan penjelasan mengenai apa yang harus diperhatikan dan tahapan-tahapan yang harus dilakukan siswa.

8)      Perhatikan masalah ketepatan waktu, disiplin, tata tertib dan keseriusan siswa.

b. Tahap Pelaksanaan

1)  Kegiatan Pembuka

(a) Guru melakukan usaha untuk membangkitkan motivasi siswa

Motivasi dapat dibangkitkan dengan membangkitkan emosi siswa ke dalam suasana pelajaran yang akan dipelajari. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan why ukan how, sehingga untuk setiap tahapan dalam pemecahan masalah, keterampilan siswa tidak semata-mata keterampilan how, tetapi kemampuan menjelaskan permasalahan dan agaimana permasalahan dapat terjadi. Di samping itu dapat juga dilakukan dengan mengangkat hal-hal/bahan yang bersifat conflict issue atau kontroversial. Bahan tersebut dapat diangkat dari peristiwa-peristiwa konkret yang bersumber dari berita, atau disusun sendiri oleh guru berdasarkan pengalaman sehari-hari yang dialami siswa. Dalam hal pokok bahasan hidrosfer ini, ilustrasi yang diangkat misalnya tentang “penyusunan kondisi dan kualitas fisik dari sumber air/perairan yang ada di lingkungan perkotaan”, dan sebagainya.

(b) Guru mengadakan kegiatan eksplorasi atau penggalian terutama terhadap pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan dipelajarinya. Kegiatan eksplorasi ini dapat dilakukan untuk menemukan gejala-gejala permasalahan dengan menjajaki sejauh mana pemahaman awal siswa terhadap konsep materi yang akan dipelajari sehingga diperoleh aspek-aspek permasalahan yang akan dirumuskan.

2) Kegiatan Inti

Pada tahap ini guru merangsang siswa untuk menggunakan tingkatan berfikir tingkat tingginya untuk memecahkan permasalahan yang digali sendiri oleh siswa dengan bantuan dan arahan dari guru. Misalnya dapat dilakukan dengan menyajikan gambaran yang bersifat umum sehingga tidak terlalu asing bagi siswa atau dengan melontarkan fakta/fenomena yang berkaitan dengan topik hidrosfer yaitu bahwa potensi air di permukaan bumi jumlahnya tidak merata di setiap wilayah. Dari fenomena tersebut siswa diminta untuk menelaah masalah dan menemukan hipotesis jawabannya. Guru diharapkan lebih berinteraksi pada jenjang metakognitif, jenjang konstruksi pengetahuan. Untuk membantu pengembangan kemampuan bernalar siswa, guru dapat bertanya kepada siswa: “Mengapa hal tersebut isa terjadi?”, “Apa implikasi yang Anda perkirakan?” dan lain-lain.

Pada tahap selanjutnya yaitu tahap belajar mandiri dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut:

(a)    Guru menghadapkan siswa pada informasi primer, yang bersumber dari peristiwa nyata, dan berhubungan langsung dengan pengalamannya.

(b)  Di bawah pengamatan guru, sumber informasi yang diperoleh tersebut diidentifikasi, dikumpulkan, dievaluasi, dan dimanfaatkan oleh siswa sendiri

(c)  Guru diharapkan lebih berinteraksi pada jenjang metakognitif, jenjang konstruksi pengetahuan. Untuk membantu/menantang pengembangan kemampuan bernalar siswa, guru selalu bertanya kepada siswa: “Apakah Anda tahu yang dimaksud?”, “Apa implikasi yang Anda perkirakan?”, dan lain-lain

(d)  Di bawah arahan guru, siswa mempelajari kembali langkah-langkah yang ditempuh, mulai dari tahap perumusan masalah, mendiagnosis masalah yaitu mengadakan analisis terhadap adanya faktor pendukung dan faktor penghambat ke arah tujuan yang diinginkan, sampai merumuskan laporan akhir.

Hasil kegiatan siswa tersebut kemudian dibahas bersama oleh seluruh siswa di bawah arahan guru, sampai akhirnya siswa memahami konsep materi yang dipelajari dengan benar.

Hal terpenting yang harus diperhatikan dalam kegiatan ini adalah bagaimana guru dapat mengoptimalkan kegiatan belajar yang terarah pada tujuan yang bermakna dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan semua kemampuannya baik kemampuan akademis, ataupun spiritualnya, tanpa terlalu dikungkung dan diintrodusir oleh guru.

 

3) Kegiatan Penutup

Pada kegiatan ini guru dapat melakukan dua hal yakni melakukan pemantapan dan sekaligus melakukan penilaian. Untuk kegiatan pemantapan guru perlu mencari kegiatan tindak lanjut dari kegiatan inti yang telah dilakukan tadi, seperti misalnya mencarikan tugas pekerjaan rumah, atau suatu tugas proyek pengamatan (praktikum) di lapangan. Sebagai contoh yaitu “Mengapa di daerah A terjadi banjir sedangkan di daerah B terjadi bencana kekeringan?”

Atau siswa diberi tugas kelompok untuk mengamati berbagai aktivitas masyarakat dan fenomena nyata yang ada di sekitar tempat tinggal siswa, yang berdampak terhadap menurunnya kondisi kualitas air.

Adapun kegiatan penilaian, yang dipentingkan adalah siswa dapat memberikan penilaian terhadap acara pelajaran yang telah dialaminya, serta guru dapat memberikan penghargaan sebagai bentuk penguatan (reinforcement) terhadap penampilan seluruh siswa di kelas selama proses pembelajaran. Dalam langkah akhir ini penilaian tidak terlalu difokuskan kepada hasil belajar namun lebih ditekankan pada penilaian prosesnya. Untuk itu, pemberian kesempatan kepada siswa untuk menilai sendiri penampilan kelasnya merupakan bentuk penghargaan baginya dan sekaligus sebagai sarana latihan bertindak objektif

2. Pedoman Evaluasi (Assessment) Pembelajaran Model Problem solving

            Sejalan dengan pentingnya pedoman pelaksanaan dalam kegiatan belajar mengajar/pembelajaran geografi model problem solving penilaian dalam mata pelajaran geografi tidak hanya dilakukan sesaat akan tetapi harus dilakukan secara berkala dan berkesinambungan. Untuk itu guru harus melakukan evaluasi terhadap hasil tes dan menetapkan standar keberhasilan. Sebagai contoh, jika semua siswa sudah menguasai suatu kompetensi dasar, maka pelajaran dapat dilanjutkan dengan materi berikutnya, dengan catatan guru memberikan perbaikan (remedial) kepada siswa yang belum mencapai ketuntasan, dan pengayaan bagi yang sudah.

Evaluasi terhadap hasil elajar bertujuan untuk mengetahui ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar. Hasil evaluasi tersebut dapat diketahui kompetensi dasar, materi atau indikator yang belum mencapai ketuntasan. Dengan mengevaluasi hasil belajar, guru akan mendapatkan manfaat yang besar untuk melakukan program perbaikan yang tepat. Di samping itu penilaian bukan hanya menafsir sesuatu secara parsial, melainkan harus menafsir sesuatu secara menyeluruh yang meliputi proses dan hasil pertumbuhan dan perkembangan wawasan pemecahan masalah yang direfleksikan dalam bentuk penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan tang dicapai siswa

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sebagai pedoman oleh guru dalam melakukan kegiatan penilaian (assessment) adalah sebagai berikut:

(1)   Penentuan hari dan alokasi waktu pelaksanaan kegiatan. Panjang instrumen ditentukan oleh waktu yang tersedia. Prinsip yan perlu diperhatikan adalah tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi aik di dalam maupun di luar kelas, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari.

(2)   Bahan, alat (instrumen penilaian) yang disesuaikan dengan bentuk instrumen dan penskorannya. Dalam hal ini bentuk instrumen yang digunakan untuk penilaian proses adalah mengamati/observasi selama pembelajaran erlangsung, sedangkan untuk penilaian hasil menggunakan bentuk instrumen yaitu tes dan non tes. Untuk instrumen tes berbentuk (1) uraian bebas. Bentuk instrumen ini dapat dipakai untuk mengujur kompetensi siswa dalam semua ranah kognitif. Kaidah penulisan instrumen bentuk uraian adalah (a) gunakan kata-kata seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah, dan buktikan; (b) hindari penggunaan pertanyaan seperti siapa, apa, dan bila; (c) gunakan bahasa yang aku; (d) hindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda; (e) buat petunjuk mengerjakan soal; (f) buat kunci jawaban; dan (g) buat pedoman penskoran. Untuk memudahkan penskoran, dibuat rambu-rambu jawaban yang akan dijadikan acuan. (2) tes performans (unjuk kerja). Performans (unjuk kerja) digunakan untuk kompetensi yang berhubungan dengan praktik. Performans dalam mata pelajaran geografi misalnya berupa praktik membuat peta kontur dengan metode Isohyet atau poligon Thiessen. Adapun untuk bentuk instrumen non tes dan penskorannya menggunakan pedoman pengamatan sikap. Langkah pembuatan instrumen sikap adalah sebagai berikut: (a) pilih ranah afektif yang akan dinilai; (b) tentukan indikator sikap; (c) pilih tipe skala yang digunakan misalnya skala Likent dengan empat skala seperti dari sangat senang sampai tidak senang, dari selalu sampai tidak pernah dan seagainya; (d) perbaikan instrumen; (e) siapkan inventori laporan diri; (f) telaah instrumen; (g) buat hasil analisis inventori skala minat; dan (h) tentukan skor inventori.

  1. Pra penilaian lanjutan meliputi: persiapan soal, merancang tempat duduk siswa (posisi duduk siswa dirancang dengan mempertimbangkan jumlah siswa dan aspek kontrolisasi guru dalam menjaga tetap kondusifnya suasana selama proses penilaian berlangsung)
  2. Pada saat kegiatan evaluasi berlangsung meliputi hal-hal apa saja yang dilakukan guru pada saat kegiatan evaluasi berlangsung seperti: menjaga tata tertib kelas, memperhatikan dsiplin dan keseriusan siswa, menegur/mencatat siswa yang berbuat curang, memperhatikan ketepatan waktu pengerjaan soal dengan waktu jam pelajaran yang tersedia, mengumpulkan hasil pekerjaan siswa.
  3. Setelah kegiatan evaluasi erakhir, langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan/fungsi diadakannya evaluasi. Evaluasi yang baik adalah evaluasi yang dapat dijadikan standar acuan untuk melanjutkan bagaimana roses dan hasil belajar siswa.

Pemanfaatan evaluasi proses adalah untuk mengukur keterliatan emosional dan intelektual siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran serta keterampilan siswa dalam memproses perolehan pengetahuan/mengambil keputusan. Sedangkan evaluasi hasil digunakan untuk mengukur kedalaman pemahaman ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar.

Jadi secara keseluruhan penilaian dikatakan memiliki efektifitas apabila secara fungsional dapat dijadikan acuan/pedoman untuk: (1) mengetahui tingkat kompetensi siswa, (2) mengukur pertumbuhan dan perkembangan siswa, (3) mendiagnosis kesulitan belajar siswa, (4) mengetahui hasil pembelajaran, (5) mengetahui pencapaian kurikulum, (6) mendorong siswa belajar, dan (7) mendorong guru agar mengajar dengan lebih baik.

 

 

3. Skenario Pembelajaran Model Problem solving

Dalam penyusunan skenario pembelajaran ini, tidak semua indikator yang termuat dalam kompetensi dasar butir 1-6 pokok bahasan hidrosfer cocok dikembangkan dengan metode problem solving, seperti yang telah dibahas pada bab II sub 2.1 terdahulu, hanya tiga indikator yang dapat dikembangkan denga metode ini, yaitu pada materi pokok DAS (daerah aliran sungai), potensi air permukaan dan air tanah, serta penyebab dampak dan usaha mengurangi resiko banjir. Sedangkan dua indikator lainnya untuk materi pokok siklus hidrologi dan jenis perairan dikembangkan  dengan metode konvensional dengan menggunakan pendekatan tradisional.

Dalam skenario pembelajaran ini ditampilkan contoh model pembelajaran yang menggunakan metode konvensional dan yang menggunakan metode problem solving. Maksud dari penyajian dua contoh model pembelajaran tersebut sebagai standar acuan/pedoman bagi para guru dalam memilih dan mengamil keputusan serta dalam mengembangkan metode/pendekatan pembelajaran apa yang digunakan, disesuaikan dengan unsur lain seperti sumber belajar, kemampuan yang dimiliki guru dan siswa, media pendidikan, materi pelajaran, organisasi kelas, waktu yang tersedia, dan kondisi kelas dan lingkungannya merupakan unsur-unsur yang juga mendukung efektifnya dan suksesnya penerapan dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar.

Dengan demikian dalam proses pembelajaran nantinya dapat berlangsung suatu aktivitas interaksi, intelektual dan emosional yang mengarah pada terbentuknya keterampilan berfikir dan keterampilan bertindak bagi peserta didik. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan disajikan perbandingan contoh skenario pembelajaran model konvensional yang menggunakan metode pendekatan tradisional dengan model pembelajaran metode problem solving.

 

SKENARIO PEMBELAJARANG  MODEL PROBLEM SOLVING

Skenario Pembelajaran I

A. Identitas

Mata Pelajaran         : Geografi

Kelas                       :  x

Kompetensi Dasar  :  1.6 memprediksi dinamika perubahan hidrosfer dan

dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Indikator                 :  -   Mengidentifikasi unsur-unsur yang dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui tingkat kerusakan lahan pada DAS/DPS

-   Mengidentifikasi faktor fisik dan nonfisik yang menjadi penyebab banjir dan timbulnya kerusakan lahan (DAS)

-   Menguraikan dampak paca banjir dan usaha-usaha intensif untuk mengurangi resiko banjir

B. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan

Ke

Kegiatan

Isi Kegiatan

Penjelasan Isi Kegiatan

1 (2 j.p.) Pembuka -  Motivasi
  • Guru berusaha membangkitkan suasana yang dapat menghimpun konsentrasi siswa dengan mengangkat hal-hal yang berhubungan dekat dengan pengalaman sehari-hari serta menggambarkan kondisi nyata di lapangan/lingkungan sekitar siswa, yakni ‘’guru menanyakan “bagaimana kenampakan/kondisi fisik (morfologi) daerah yang dialiri oleh sungai”
     
  • Guru bertanya kepada siswa secara individual untuk menjajaki sejauh mana pemahaman yang dibangun oleh siswa tentang konsep DAS, yang diperoleh dari kondisi dan pengalaman nyatanya di lapangan
  Inti/pokok -  Identifikasi masalah/Inkuiri
  • Guru menempelkan di papan tulis gambar DAS dengan berbagai bentuk alirannya, kemudian secara klasikal guru meminta siswa mengamati gambar tersebut secara seksama
     
  • Guru mengemukakan masalah yang dapat menumbuhkan perkembangan kelas yang mengarah kepada kegiatan pembelajaran yang hendak dicapai. Masalah yang dilontarkan yakni “Dari ketiga gambar DAS tersebut, analisislah potensi kerusakan lahan dan resiko terjadinya banjir serta faktor-faktor penyebab timbulnya kerusakan lahan (DAS)
    -  Perumusan masalah
  • Guru meminta siswa (secara klasikal) untuk merumuskan masalahnya dalam satu kalimat sederhana (brain storming)
     
  • Guru menampung setiap pendapat siswa dengan menulisnya di papan tulis tanpa mempersoalkan tapat atau tidaknya, benar atau salahnya pendapat tersebut.
     
  • Setiap pendapat ditinjau kembali dengan meminta penjelasan dari siswa yang bersangkutan. Dengan demikian dapat dicoret beberapa rumusan yang kurang relevan.
     
  • Di bawah bimbingan guru, siswa memilih rumusan yang lebih tepat, atau dirumuskan dan dinyatakan kembali (rephrase, restate) perumusan-perumusan yang kurang tepat, sampai akhirnya diperoleh beberapa (4 rumusan) yang paling tepat yang dapat dipakai dalam diskusi kelompok.
    - Learning community
  • Guru menulis di papan tulis empat rumusan masalah yang berhasil dirumuskan sehingga memberikan peluang kepada siswa untuk berbagi dan terlibat dalam dialog/interaksi dengan teman-temannya
    -  Organisasi pemben-tukan kelompok
  • Guru mengorganisasikan pembentukan kelompok diskusi menjadi 8 kelompok (setiap kelompok beranggotakan 5-6 siswa). Penentuan anggota kelompok berdasarkan pada deretan bangku/posisi tempat duduk siswa
  • Gambar pembagian kelompok

 

1       2      3       4

 


              5       6      7       8

 

    -  Distribusi tugas kelompok
  • Guru mendistribusikan tugas belajar yang berhubungan dengan hasil perumusan masalah. Setiap kelompok mendapatkan jenis/bentuk masalah yang akan menjadi bahan/topik diskusi. Adapun pembagian tugas/masalah untuk masing-masing kelompok sebagai berikut:

-       Masalah kelompok 1 dan 5: analisislah bagaimana kecepatan aliran air dapat mempengaruhi timbulnya kerusakan lahan pada DAS/DPS)

-       Masalah kelompok 2 dan 6: analisislah bagaimana ketimpangan siklus air di dalam DAS/DPS dapat menimbulkan masalah-masalah hidrologi

-       Masalah kelompok 3 dan 7: analisislah karakteristik aliran sungai dari ketiga bentuk DPS (bulat, lonjong, dan memanjang) ditinjau dari bentuk fisik (morfologi) dan struktur geologinya, serta tentukan mana yang paling berpotensi menimbulkan banjir, mengapa?

-       Masalah kelompok 4 dan 8: identifikasilah faktor-faktor penyebab (fisik maupun nonfisik), dampak banjir, dan usaha-usaha intensif yang dapat dilakukan untuk mengurangi resiko banjir

    -  Batasan/ prosedural penugasan
  • Guru menjelaskan rincian kegiatan/ prosedur yang harus ditempuh setiap kelompok dalam menyusun hasil karya/laporannya. Dalam hal ini siswa di dalam kelompok diminta menyusun struktur organisasi kelompok (siapa saja yang bertugas sebagai notulen, ketua kelompok, dan lain-lain), bentuk laporan yang disusun memuat hal-hal seperti ruang lingkup masalah, sebab akibat dan alternatif penyelesaian.
    -  Diskusi kelompok dalam rangka menelaah masalah dan merumuskan hipotesis
  • Dengan menggunakan daya berfikir kritis, analitis dan kreatifnya, di bawah panduan guru setiap kelompok berdiskusi untuk mengembangkan hipotesis dan membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisis informasi/data yang diperoleh dari berbagai sumber dalam rangka merumuskan kesimpulan (alternatif-alternatif penyelesaian masalah)
    -  Menentukan dan menerapkan strategi
  • Setelah berbagai alternatif ditentukan, maka setiap kelompok memilih alternatif mana yang akan dipakai. Penyelesaian masalah dalam tahap ini memiliki dua aspek, yaitu:

-       Pengambilan keputusan (decision making), yaitu proses untuk menentukan suatu pilihan dari berbagai alternatif yang ada

-       Menerapkan keputusan (decision implementation), yaitu proses untuk menentukan tindakan yang diperlukan/diperhatikan dalam melaksanakan keputusan seperti (penilaian tentang realistisnya strategi yang dipilih, perkiraan keberhasilan dan ketidakberhasilan untuk setiap alternatif yang akan dilakukan, perkiraan hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan dan bagaimana menanganinya, tindakan-tindakan yang berhubungan dengan penerapan strategi).

    -   Monitoring/  pengamatan tahapan pelaksanaan diskusi
  • Guru mengamati partisipasi/keaktifan setiap anak dalam kerja diskusi kelompoknya
  • Guru mengamati/memantau siswa mana yang menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang cukup kritis, selektif dengan berfikir konvergennya dalam penyusunan laporan hasil diskusi (terutama pada tahap penerapan keputusan)
    Progress report
  • Setelah setiap kelompok selesai menyusun laporannya guru menanyakan tingkat kemajuan terselesainya penyusunan laporan
  Penutup -  Refleksi
  • Guru menunjuk beberapa orang siswa (3 siswa) untuk mengungkapkan tingkat pemahaman terhadap masalah yang dipelajari, manfaat yang diperoleh, serta perasaan selama mengikuti kegiatan pembelajaran
    -  Tindak lanjut
  • Guru menyuruh siswa untuk mempersiapkan diri dalam presentasi hasil laporan diskusi kelompok yang akan diadakan pada pertemuan berikutnya
2 (2 j.p.) Pembuka -  Persiapan pelaksanaan diskusi kelompok
  • Guru mengatur secara detail pelaksanaan diskusi yaitu menyangkut pengaturan tempat duduk, ketepatan alokasi waktu (untuk setiap penampilan/presentasi diberi kesempatan 20 menit), menentukan siapa yang berperan sebagai moderator (pada diskusi ini yang berperan sebagai moderator adalah guru sendiri).
     
  • Menentukan fungsi dan posisi untuk masing-masing kelompok (apakah sebagai kelompok penyaji atau kelompok pembanding) dengan penentuan sebagai berikut:

-       Sesi pertama presentasi kelompok I sebagai penyaji dan kelompok 5 sebagai pembanding

-       Sesi kedua presentasi kelompok 2 sebagai penyaji, dan kelompok 6 sebagai pembanding

-       Sesi ketiga presentasi kelompok 7 sebagai penyaji, dan kelompok 3 sebagai pembanding.

-  Dan untuk sesi terakhir kelompok 8 berperan sebagai penyaji dan kelompok 4 sebagai pembanding

    -  Penyajian hasil laporan dalam presentasi kelompok
  • Kelompok yang tampil mempresentasikan laporannya di depan kelas dengan runtutan yang logis
    -  Tanya jawab kelas
  • Guru memimpin acara pada sesi/kegiatan tanya jawab yang dilakukan pada akhir presentasi laporan yaitu dengan memberikan kesempatan kepada siswa/kelompok lain untuk melontarkan pertanyaan atau tanggapan (dibatasi hanya 2 pertanyaan atau tanggapan), kemudian menyerahkan kembali kepada kelompok yang maju untuk melakukan umpan balik/merespon pertanyaan atau tanggapan yang dilontarkan sebagai bentuk pembuktian hipotesis
    Reinfor-cement
  • Pada akhir acara presentasi kelompok, guru memberikan penguatan terhadap penampilan dan masing-masing kelompok serta terhadap jalannya kegiatan diskusi/pembelajaran secara keseluruhan
    -  Pembahasan hasil diskusi kelas
  • Setelah semua peserta kelompok tampil, di bawah bimbingan guru siswa membahas hasil diskusi kelas secara keseluruhan sampai melahirkan pemahaman bersama dan interpretasi yang tepat dengan menghasilkan kesimpulan dan kesatuan pandangan sesuai dengan konsep yang benar.
  Penutup -  Tindak lanjut
  • Untuk memantapkan konsep yang telah dipelajari siswa, guru memberikan tugas berupa pekerjaan rumah

 

C. Media dan Sumber Pembelajaran

  1. Alat dan bahan
  • Gambar DAS dengan berbagai bentuk alirannya
  • Penggaris, pensil, kertas
  1. Sumber
  • Buku geografi untuk kelas I SMU tahun 2003 penerbit PT Intan Pariwara
  • Buku geografi untuk kelas I SMU. Penerbit PT Grafindo Media Pratama
  • Berbagai artikel serta informasi yang mendukung

D. Penilaian (Assessment)

 

  1. Penilaian proses

Bentuk       :  observasi

Instrumen   :  skala sikap

 

 

 

 

 

 

  1. Penilaian hasil

Performansi (unjuk kerja)

 

No.     Aktivitas

Siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama

Anggota

Kelompok

Cara melakukan identifikasi masalah Cara mengumpulkan data/informasi Ketepatan cara analisis data dengan rumusan permasalahan Kecakatan mengambil keputusan dan kesimpulan Memilih cara/alternatif pemecahan masalah Kecakapan menilai pilihan dengan memperhitungkan akibat yang akan terjadi pada setiap pilihan Mendemonstrasikan ujicoba sesuai dengan analisis dan sintesis permasalahan Melaksanakan langkah-langkah pembelajaran (diskusi kelompok) dalam urutan yang logis/sesuai prosedur Memantapkan secara optimal waktu pembelajaran/diskusi yang telah dialokasikan Menggunakan bahasa yang baik, benar dan efektif dalam presentasi kelompok Ketepatan dalam merespon komentar/pernyataan dengan argumentasi yang logis Partisipasi/kerjasama dalam setiap proses diskusi Nilai rata-rata
1.                            
2.                            
3.                            

 

Tes dilaksanakan bersamaan dengan ujian kompetensi dasar (KD).

Soal:

1)       Jelaskan bagaimanakah dari ketiga bentuk DPS (bulat, lonjong, dan memanjang) yang mempunyai potensi paling besar timbulnya kerusakan lahan?

2)       Jelaskan bagaimana kondisi fisik (morfologi) serta struktur geologi suaru wilayah mempengaruhi pola aliran sungai?

3)       Sebutkan 4 faktor penyebab banjir serta usaha-usaha untuk mengurangi resiko banjir (minimal 4)!

4)       Jelaskan persyaratan sungai untuk dapat dijadikan prasarana transportasi!

 

 

 

 

Nama Siswa:

Aspek yang dinilai

Indikator

Skala Penilaian

1

2

3

4

5

Motivasi siswa dalam proses pembelajaran -       Memusatkan perhatian pada permasalahan yang menjadi bahan diskusi

-       Menunjukkan semangat/minat yang tinggi dalam setiap kegiatan pembelajaran

-       Mengemukakan suatu masalah yang bersifat nyata atau simulasi

-       Mengungkapkan berbagai rumusan masalah yang sesuai dengan cakupan masalah yang akan dibahas

-       Selama proses pembelajaran siswa tidak mengerjakan tugas lain

-       Selama melaksanakan diskusi tidak bermain-main dan mengganggu teman

-       Keaktifan siswa dalam mengikuti diskusi kelompok untuk memecahkan persoalan yang dihadapi

-       Mengungkapkan pendapat dan mengajukan pertanyaan dalam diskusi kelas

Keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan kemampuan siswa untuk belajar (diskusi dan presentasi kelompok) -       Mengembangkan sikap/interaksi dengan anggota kelompok yang lain

-       Mengungkapkan ide/inisiatif yang relevan dengan aspek permasalahan

-       Menggunakan kemampuan berfikir tingkat tinggi (kritis, analitis) untuk memecahkan persoalan dan mencari alternatif penyelesaian

-       Mengembangkan sikap mandiri dan partisipatif

 

 

 

 

Skenario Pembelajaran II

A. Identitas

Mata Pelajaran         : Geografi

Kelas                       :  x

Kompetensi Dasar  :  1.6 memprediksi dinamika perubahan hidrosfer dan

dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Indikator                 :  -  Mengidentifikasi faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam usaha pengambilan air tanah berdasarkan kemampuan debit alami air tanah.

B. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan

Ke

Kegiatan

Isi Kegiatan

Penjelasan Isi Kegiatan

2 (2 j.p.) Pembuka -  Orientasi
  • Guru menyajikan kepada siswa situasi masalah yang bersifat autentik dan bermakna (dapat mengembangkan pengalaman belajar siswa) yang dapat memberikan kemudahan kepada mereka untuk melakukan penyelidikan/inkuiri, yakni “Bagaimana usaha pemompaan/sumur pompa dapat mempengaruhi terjadinya kerusakan lingkungan air tanah?”
  Inti/pokok -  Pembentukan kelompok eksperimen
  • Guru mengorganisasikan pembentukan kelompok eksperimen, karena ini merupakan kegiatan lapangan yang membutuhkan banyak waktu, tenaga dan menggunakan berbagai alat/bahan maka agar kegiatan dapat berjalan secara efektif dan efisien siswa dibentuk menjadi 8 kelompok, dengan masing-masing kelompok beranggotakan 10-11 siswa.
    -  Prosedural kegiatan kelompok
  • Guru menjelaskan penentuan kriteria wilayah yang akan menjadi lokasi pengukuran debit air tanah yaitu daerah Pujon, Batu. Lokasi ini dipilih karena mempunyai ketinggian yang memadai, topografi/sudut kemiringan yang besar. Selanjutnya guru memberikan pengarahan prosedur/langkah kerja yang akan dilakukan oleh kelompok dalam melaksanakan kegiatan eksperimen lapangan (langkah kerja lapangan (LKL). Prosedur lapangan seperti yang terlampir pada lembar kegiatan)
  • Karena kegiatan ini merupakan kegiatan eksperimen lapangan, penyusunan struktur organisasi kelompok untuk masing-masing kelompok tidak bersifat kaku (untuk kegiatan yang membutuhkan kecakapan/skill yang tinggi serta memakan waktu/tenaga yang banyak maka dilakukan oleh semua anggota kelompok seperti pada kegiatan pembuatan peta kontur tanah, uji pompa air tanah, dan mengeplot data hasil pemompaan. Sedangkan untuk kegiatan eksperimen yang lebih sederhana/mudah seperti pengukuran kedalaman air, menghitung rata-rata panjang dua garis kontur maupun kegiatan lainnya sesuai rincian kegiatan lapangan yang terlampir pada LKL, dilakukan dengan menentukan siapa dan berapa anak yang akan terlibat dalam kegiatan tersebut.
  • Cara kelompok menyusun hasil laporan eksperimen yaitu sebagai berikut:

-       Membuat langkah-langkah rincian kegiatan dalam pengukuran debit air tanah.

-       Menganalisis dan mendefinisikan masalah yang muncul.

-       Mengembangkan hipotesis

-       Mengumpulkan dan menganalisis data-data yang diperoleh dalam kegiatan eksperimen

-       Merumuskan kesimpulan (alternatif-alternatif penyelesaian masalah).

  Penutup -  Refleksi
  • Guru meminta kepada siswa untuk menuliskan di kertas yang telah disediakan tentang apa saja yang telah dipelajari, apa yang masih perlu dipelajari, bagaimana perasaan siswa selama melakukan kegiatan, serta harapan siswa terhadap kegiatan yang telah dilakukan (jawaban disertai dengan alasan).

 

C. Media dan Sumber Pembelajaran

1. Alat dan sarana

Sumur percobaan, AWLR (Automnatic Water Level Recorder), pompa air sumur, meteran, kertas grafik, semilog, kalkulator, arloji, buku cetakan, alat tulis

2. Sumber

  • Sugeng Utaya. Petunjuk Praktikum Hidrologi Terapan. Tahun 2001. Penerbit: Jurusan Geografi UM
  • Buku geografi untuk kelas I SMU tahun 2003 penerbit PT Intan Pariwara
  • Berbagai artikel serta informasi yang mendukung

D. Assessment/Penilaian

1. Penilaian Proses

 

Bentuk        :  observasi

 

Instrumen    :  skala sikap

 

No

Aktivitas

Siswa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Nama

Ang

gota

Klp

Cara menyiapkan perlengkapan Cara melakukan pengukuran kedalaman air tanah di sekitar lokasi pengukuran Cara mengeplot lokasi pengukuran kedalaman air tanah pada peta Cara membuat garis kontur air tanah dengan metode logical countouring Cara menentukan arah aliran air tanah Cara menghitung luas antara dua garis kontur Cara menghitung rata-rata panjang dua garis kontur Cara melakukan uji pompa air tanah Cara mengukur kecepatan pengembalian secara periodik, sampai air di dalam sumur kembali seperti semula Cara mengeplot data hasil pemompaan ke dalam kertas grafik semilog untuk memperoleh nilai 5 Cara menghitung nilai gradien hidraulik (I) Cara menghitung luas wilayah pengukuran debit air tanah Cara menghitung debit air tanah dengan cara memasukkan data-data yang diperoleh Melaksanakan lamgkah-langkah eksperimen dalam urutan yang logis/sesuai prosedur Menghasilkan analisis, sintesis dan hipotesis sesuai dengan konsep yang benar Keaktifan dan kerjasama dalam kelompok Nilai rata-rata
1.                                    
2.                                    
3.                                    

 

2. Penilaian Hasil

Penilaian berupa tes yang dilaksanakan pada ulangan umum akhir semester.

Soal:

1)      Gambarkan dan jelaskan proses terjadinya air tanah artesi serta manfaatkan (minimal 2)!

2)      Sebutkan 3 faktor yang mempengaruhi tingkat infiltrasi dan perkolasi air ke dalam tanah!

3)      Gambarkan dan jelaskan bagaimana proses munculnya mata air panas (warm/hot water)!

 

PROGRAM SATUAN PELAJARAN

 

Mata Pelajaran :  Geografi
Bahan Kajian :  Hidrosfer
Satuan Pendidikan :  SMU
Kelas/Semester :  ½
Waktu :  2 x pertemuan
    (3 jam pelajaran)

  1. Tujuan Pembelajaran Umum (TPU)

Siswa dapat memahami dinamika perubahan hidrosfer dan dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi.

  1. Tujuan Pembelajaran Khusus (TPK)

Pertemuan I : 1 jam pelajaran

  1. Setelah diberikan informasi, siswa dapat mengidentifikasikan unsur-unsur utama yang mempengaruhi proses terjadinya siklus hidrologi.
  2. Setelah diskusi dan informasi tentang unsur-unsur utama proses terjadinya siklus hidrologi, siswa dapat menentukan peristiwa-peristiwa yang mengiringi proses terjadinya hujan.
  3. Siswa dapat membuat gambar tiga jenis siklus hidrologi (pendek, sedang, panjang) disertai penjelasan tentang ketiga jenis siklus hidrologi tersebut.

Pertemuan II : 2 jam pelajaran

  1. Setelah dibentuk informasi, siswa dapat menjelaskan berbagai jenis perairan dan manfaatnya dalam kehidupan
  2. Setelah diskusi dan informasi tentang berbagai jenis perairan melalui gambar, siswa dapat menemutunjukkan (identifikasi) proses terbentuknya air tanah dangkal (air tanah treatik) dan air tanah dalam.
  3. Siswa membuat berbagai gambar pola aliran sungai disertai penjelasan tentang daerah ditemukannya pola aliran tersebut.
  4. Materi Pelajaran

Pertemuan I:

  • Unsur-unsur utama siklus hidrologi
  • Macam-macam siklus hidrologi
  • Peristiwa-peristiwa pada saat terjadinya hujan

Pertemuan II :

  • Jenis-jenis perairan dan manfaatnya dalam kehidupan
  • Proses terbentuknya air tanah treatik dan air tanah dalam
  • Macam-macam pola aliran sungai dan manfaat sungai bagi kehidupan
  1. Kegiatan Belajar Mengajar

Pendekatan : keterampilan proses dan pendekatan konsep

Metode      : ceramah, diskusi, praktek

Langkah-langkah:

No.

TPK

Pertemuan

ke

Kegiatan

Tugas

Kelompok

Individu

1 I

(1 j.p.)

  1. Pembukaan

– Motivasi dan apersepsi

  1. Inti

- Ceramah

Unsur-unsur utama siklus

hidrologi

- Diskusi : Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada proses terbentuknya hujan

- Membuat gambar tiga jenis siklus hidrologi beserta alasan proses terjadinya ketiga siklus hidrologi terseut

  1. Penutup

-   Kesimpulan dan evaluasi

-   Pemberian tugas rumah

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

2 2

(2 j.p.)

  1. Pembukaan

- Pengulangan dan apersepsi

  1. Inti

-   Diskusi : jenis-jenis perairan dan manfaatnya dalam kehidupan

-   Diskusi : melalui gambar siswa menemutunjukkan (identifikasi) pproses terbentuknya air tanah

-   Memuat gambar berbagai pola aliran sungai disertai penjelasan daerah ditemukannya pola aliran tersebut

  1. Penutup

- Ulasan dan evaluasi

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

 

  1. Alat dan Sumber Pembelajaran
    1. Alat/Sarana

-         Kertas manila

-         Gambar siklus hidrologi dan pola aliran sungai

-         Alat tulis

  1. Sumber

-         GBPP

-         Perangkat PKG

-         Buku paket dan buku pelajaran geografi yang sesuai

 

  1. Penilaian
    1. Prosedur :

-         Penilaian proses belajar : lisan/PR

-         Penilaian hasil belajar : tes tertulis

  1. Alat Penilaian :

-         Tugas terstruktur

-         Pertanyaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SKENARIO PEMBELAJARAN MODEL PROBLEM SOLVING

Skenario Pembelajaran I

A. Identitas

Mata Pelajaran         : Geografi

Kelas                       :  x

Kompetensi Dasar  :  1.6 memprediksi dinamika perubahan hidrosfer dan

dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Indikator                  :  -  Menemutunjukkan perbedaan berbagai pola aliran

DAS/DPS

-  Mengetahui bagaimana kecepatan aliran air sungai

mempengaruhi kerusakan/erosi DAS

1 (2 x 45 menit)

B. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan

Ke

Kegiatan

Isi Kegiatan

Penjelasan Isi Kegiatan

1 (2 j.p.) Pembuka -  Motivasi
  • Memulai dengan mengangkat hal-hal yang berhubungan dengan fenomena nyata di lapangan berkaitan dengan kondisi dan manfaat sungai baik melalui berita TV/radio meupun kondisi nyata di lingkungan sekitar siswa, misalnya guru menanyakan bagaimana kondisi dan kualitas perairan/sumber air di lingkungan siswa
    -  Apersepsi (eksplorasi)
  • Guru bertanya kepada siswa secara individual untuk menjajaki sejauh mana pemahaman yang diketahui siswa tentang konsep DAS, misalnya menyangkut hal-hal yang merupakan faktor penyebab timbulnya kerusakan fisik DAS dan dampak sosial yang ditimbulkannya. Pertanyaan yang dilemparkan diharapkan menimbulkan konflik kognitif bagi siswa.
  Inti/pokok -  Inkuiri/ kons-truktivisme
  • Guru memperlihatkan gambar DAS dengan berbagai pola alirannya, kemudian meminta siswa mengamati gambar secara seksama, untuk seterusnya siswa diminta untuk mengidentifikasi  dan merumuskan sendiri konsep, serta mengkomunikasikannya secara lisan.
     
  • Guru meminta siswa menganalisis dan mengidentifikasi gambar DAS tersebut untuk kemudian siswa menemutunjukkan pola liran mana yang memiliki potensi paling besar dan resiko timbulnya kerusakan
    -  Tanya jawab dalam rangka identifikasi masalah menyang-kut DAS
  • Dari informasi yang diperoleh siswa gutu melontarkan berbagai feinomena yang mengandung permasalahan yang dapat merangsang daya tarik siswa untuk memecahkannya. Siswa dipandu guru menggunakan daya berfikir kritis, analitis, dan kreatifnya, untuk berusaha menemukan dan merumuskan masalah untuk dipecahkan
    -  Pemberian tugas
  • Guru membagikan tugas yang telah disediakan sebelumnya kepada setiap kelompok yang telah ditentukan
    -  Membentuk kelompok diskusi dalam rangka mencari dan mengumpulkan data guna menemukan pemecahan masalah
  • Siswa secara berkelompok (4-6 siswa) berdiskusi untuk menggali, mengolah dan menganalisis informasi/data yang diperoleh (baik dari literatur, maupun berdasarkan pengamatan/kondisi nyata di lapangan) dalam rangka merumuskan alternatif pemecahan masalah yang dianggap tepat untuk kemudian berusaha menemukan hipotesis dari permasalahan yang telah teridentifikasi.
    -  Diskusi kelas untuk presentasi kelompok
  • Setiap kelompok menyusun laporan hasil diskusinya untuk kemudian dipresentasikan dan dipertahankan dalam diskusi kelas

 

    -  Komentar/ pertanyaan teman sejawat
  • Dengan panduan guru, masing-masing kelompok dieri kesempatan untuk mengomentari hasil laporan/ jawaan serta mengajukan beberapa pertanyaan kepada kelompok yang tampil
    -  Diskusi kelas membahas hasil presentasi kelompok
  • Di bawah bimbingan guru siswa membahas hasil diskusi kelas sampai melahirkan pemahaman bersama dan interpretasi yang tepat dengan menghasilkan kesepakatan pandangan sesuai konsep yang benar
  Penutup -  Penilaian proses dan penilaian produk
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja dari masing-masing kelompok
  • Siswa bersama guru berusaha melakukan penilaian terhadap kegiatan pembelajaran yang telah diselesaikan (kemanfaatan, keaktifan, keseriusan, kebermaknaan)
    -  Tindak lanjut
  • Pada pertemuan berikutnya guru memberikan tugas aplikatif untuk memantapkan konsep yang telah dipelajari siswa yaitu dengan memberikan tugas kelompok berupa LKS untuk melakukan praktek/percobaan di rumah tentang mengapa air permukaan (danau) bisa kering. Untuk kemudian disusun dalam bentuk laporan hasil pengamatan

 

C. Media dan Sumber Pembelajaran

 

  1. Alat/Sarana

Pensil, gelas kertas, sedotan, tanah liat, karton tebal (30 cm), stoples isi 4 liter, air

  1. Sumber

Buku paket dan buku pelajaran geografi yangs sesuai

D. Assessment/Penilaian

1. Penilaian proses dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung

 

No.

Kemandirian Siswa

0

1

1.

2.

 

3.

 

 

4.

5.

Kehadiran siswa dalam setiap pertemuan

Keaktifan siswa dalam melakukan percobaan dan pengamatan

Keaktifan siswa dalam mengikuti diskusi kelompok untuk menyelesaikan atau memecahkan persoalan yang dihadapi dalam pengamatan

Kemampuan siswa dalam menyelesaikan LKS

Kemampuan mendemonstrasikan setiap tahap percobaan

   

 

 

No.

Motivasi Siswa

0

1

1.

2.

 

3.

 

4.

5.

Persiapan sebelum

Selama proses pembelajaran siswa tidak mengerjakan tugas lain

Selama melaksanakan pengamatan/percobaan tidak bermain-main dan mengganggu temannya

Mengisi LKS dengan tepat

Mengutarakan pendapatan atau mengajukan pertanyaan

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LEMBAR KEGIATAN SISWA

 

Mata Pelajaran :  Geografi
Kelas :  x
Semester :  II
Kompetensi Dasar :  1.6 Hidrosfer
Indikator :  Mengetahui bagaimana kecepatan aliran air sungai mempengaruhi kerusakan/erosi DAS

 

Petunjuk

Buka dan bacalah buku paketmu halaman 25-30 kemudian kerjakan tugas di bawah ini!

Tugas:

Melakukan percobaan/demonstrasi

Tujuannya untuk memperlihatkan bagaimana kecepatan aliran air mempengaruhi erosi.

Alat dan bahan: pensil, gelas kertas, sedotan, tanah liat, karton tebal kira-kira 30 cm persegi, stoples besar (4 liter) diisi air.

Langkah kerja:

Catatan: kegiatan ini harus dilakukan di luar kelas!

  1. Gunakan pensil guna membuat lubang untuk sedotan di sisi bawah dekat alas gelas kertas.
  2. Potonglah sedotan menjadi dua bagian yang sama, lalu masukkan salah satu ke dalam lubang pada gelas kertas.
  3. Gunakan tanah liat untuk menutup rapat seputar lubang
  4. Letakkan karton tebal pada tanah dan tinggikan salah satu sisinya kurang lebih 5 cm dengan meletakkan tanah di bawahnya.
  5. Tutupi karton dengan selapis tanah, jangan tebal-tebal
  6. Taruhlah gelas di sisi karton yang ditinggikan, dengan sedotan mengarah ke bawah.
  7. Tutuplah ujung sedotan dengan jarimu, ketika kamu menuangkan air ke dalam gelas.
  8. Lepaskan jarimu dari ujung sedotan, dan perhatikan gerakan air
  9. Bersihkan karton, lalu lapisi lagi dengan tanah
  10. Tingkat sisi karton setinggi 15 cm
  11. Tempatkan gelas di puncak bidang miring
  12. Tutuplah sedotan dengan jarimu, ketika engkau mengisi gelas dengan air
  13. Lepaskan sedotan dan perhatikan gerakan air.
  14. Persiapkan hasil kerja kalian untuk didiskusikan di depan kelas, yang memuat hal-hal sebagai berikut:
    1. Hasil dari percobaan
    2. Analisis setiap perlakuan percobaan terhadap kondisi/aspek yang diamati
    3. Aspek-aspek permasalahan yang timbul
    4. Hipotesis/kesimpulan beserta alasannya
    5. Sertakan nama anggota kelompok pada lembar laporan

Skenario Pembelajaran II

A. Identitas

Mata Pelajaran         : Geografi

Kelas                       :  x

Kompetensi Dasar  :  1.6 memprediksi dinamika perubahan hidrosfer dan

dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Indikator                  :  -  Proses terbentuknya air permukaan dan air tanah, potensi

dan pencemarannya

B. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan

Ke

Kegiatan

Isi Kegiatan

Penjelasan Isi Kegiatan

2 (2 j.p.) Pembuka Apersepsi (tanya jawab)
  • Guru menanyakan kepada siswa secara individu mengenai aspek-aspek permasalahan apa saja yang ditermukan berkaitan dengan tugas/proyek yang diberikan
  • Dengan panduan guru, siswa mempelajari peristiwa/fenomena yang berfokus pada penyajian suatu permasalahan (nyata ataupun simulasi), untuk kemudian siswa mendiskusikan hal-hal penting dan membutuhkan langkah/solusi penyelesaian masalah
  • Guru memperlihatkan gambar pencemaran air permukaan/air tanah, kemudian meminta siswa untuk memberikan pendapat tentang kondisi tersebut.
  Inti/pokok -  Inkuiri/ konstruktivisme
  • Guru menampung setiap jawaban/ pendapat siswa dengan menulisnya di papan tulis tanpa mempersoal-kan tepat atau tidaknya, benar atau salah pendapat tersebut.
  • Setiap pendapat ditinjau kembali dengan meminta penjelasan dari siswa yang bersangkutan. Dengan demikian dapata dicoret beberapa rumusan yang kurang relevan.
  • Di bawah bimbingan guru siswa memilih rumusan yang lebih tepat atau merumuskan kembali perumusan-perumusan yang kurang tepat. Misalnya tentang tingkat pencemaran air tanah dan air permukaan serta faktor penyebab dan akibat yang ditimbulkan.
    -  Diskusi kelompok untuk menelaah masalah yang timbul
  • Siswa secara berkelompok (4-6 siswa) berdiskusi dengan menggunakan pengetahuan, informasi/data yang diperoleh untuk menganalisis sebab akibat masalah dari berbagai sudut. Untuk menghasilkan suatu hipotesis yang berisi ruang lingkup, sebab akibat dan alternatif penyelesaian.
    -  Presentasi kelompok
  • Setiap kelompok mempresentasikan kecakapannya di depan kelas sebagai bentuk, pembuktian hipotesis yang diperoleh.
    -  Penilaian teman sejawat
  • Dengan panduan guru, masing-masing kelompok diberi kesempatan untuk menilai ketepatan hipotesis yang dilakukan oleh kelompok yang maju
    -  Menentukan pilihan penyelesaian masalah
  • Hasil akhir dari keseluruhan diskusi kelompok yaitu secara klasikal. Siswa di bawah bimbingan guru membuat alternatif penyelesaian masalah.
    -  Penilaian proses dan produk
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja dan masing-masing kelompok
  Penutup Refleksi
  • Guru bersama-sama dengan siswa mengadakan refleksi terhadap proses dan hasil belajar

 

C. Media dan Sumber Pembelajaran

  1. Alat/sarana: gambar pencemaran air permukaan dan air tanah
  2. Sumber: buku paket dan buku geografi lain yang relevan

 

 

D. Assessment/Penilaian

1. Penilaian proses

Bentuk      : observasi

Instrumen : skala sikap

 

No.           Aktivitas

Siswa

 

 

 

 

 

Nama

Siswa

Kesungguhan Inisiatif Keaktifan dalam kelompok Kerjasama dalam kelompok Ketepatan analisa permasalahan Penguasaan konsep pada saat presentasi Kesesuaian analisis dengan alternatif/solusi pemecahan Kelancaran mempresentasikan laporan ………………….. Nilai rata-rata (kualitatif/huruf)
1.                      
2.                      
3.                      

 

Skor untuk masing-masing indikator di atas dapat berupa angka-angka. Akan tetapi, pada tahap akhir, skor-skor tersebut dirata-ratakan dan dikonversikan ke dalam kualitatif. Skala penilaian dibuat dengan rentangan dari 1 s.d 5. Penafsiran angka-angka tersebut adalah sebagai berikut: 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik, dan 5 = sangat baik.

2. Penilaian hasil (tes performansi)

Nama siswa : ………………………………………………………………………………….

Aspek yang dinilai

Deskripsi

Ya/tidak

Ketapatan menyebutkan dan menjelaskan Misalnya:

1)        Apakah siswa dapat menyebutkan jenis-jenis air permukaan dan air tanah?

2)        Apakah siswa dapat menjelaskan proses terbentuknya air tanah dan air permukaan dengan benar?

3)        Apakah siswa dapat menyebutkan penyebab, dampak dan usaha mengurangi terjadinya pencemaran air tanah

 
Kelancaran dan keberanian 4)        Apakah siswa lencar dalam mengemukakan jawabannya?

5)        Apakah siswa berani mengemukakan jawaban/menjelaskannya

 

 

Kriteria penilaian

1 = (sangat kurang), jika tidak ada jawaban ya

2 = (kurang), jika ada satu jawaban ya

3 = (cukup), jika ada dua jawaban ya

4 = (baik), jika ada tiga jawaban ya

5 = (sangat baik), jika ada empat atau lima jawaban ya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skenario Pembelajaran III

A. Identitas

Mata Pelajaran         : Geografi

Kelas                       :  x

Kompetensi Dasar  :  1.6 memprediksi dinamika perubahan hidrosfer dan

dampaknya terhadap kehidupan di muka bumi

Indikator                  :  -  Penyebab dan dampak terjadinya banjir

-  Usaha-usaha untuk mengurangi resiko banjir

 

B. Kegiatan Pembelajaran

3 (1 j.p.) Pembuka Motivasi
  • Memulai dengan mengangkat hal-hal yang dapat merangsang dan membangkitkan morif-motif yang positif dari siswa dalam proses belajar mengajar. Misalnya guru menanyakan mengapa di daerah Malang terjadi bencana banjir, padahal topografi daerah Malang lebih tinggi daerah sekitarnya
  Inti/pokok - Inkuiri/ kons-

truktivisme

  • Guru memutar video/film tentang daerah-daerah yang terkena bencana banjir, serta akibat yang timbul pada pasca bencana. Dalam hal ini siswa diminta memperhatikan dengan seksama fenomena/peristiwa yang terjadi, kemudian siswa berusaha mengidentifikasikan dan mendefinisikan gejala-gejala dan aspek-aspek permasalahan yang tampak sehingga diperoleh perumusan masalah secara eksplisit
    -  Diagnosis    masalah dan pemben-tukan kelompok
  • Setelah berhasil merumuskan masalah, langkah berikutnya adalah guru membagi siswa dalam kelompok (4-5 anak). Setiap kelompok mendiskusikan sebab-sebab timbulnya masalah, melakukan analisis kekuatan lapangan (AKL) terhadap dua faktor munculnya suatu masalah yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat
    -   Prosedur analisis kekuatan lapangan
  • Di bawah bimbingan guru siswa melakukan analisis terhadap kedua faktor tersebut, yaitu dengan mengidentifikasi kedua macam faktor tersebut, selanjutnya menyusun faktor-faktor itu secara berurutan menurut kuat pengaruhnya terhadap peristiwa yang aktual. Dengan begitu dapat ditentukan usaha atau kemungkinan-kemungkinan tindakan yang direncanakan dan dapat dilaksanakan untuk menanggulangi atau menghilangkan pengaruh-pengaruh dan kekyatan faktor penghambat yang ada
    -   Merumuskan alternatif-alternatif
  • Selama diskusi berjalan tugas guru adalah mengamati seberapa jauh kelompok menggunakan pertimbangan-pertimbangan yang cukup kritis, selektif, dengan berfikir konvergen dalam tahap penyelesaian masalah yang meliputi aspek pengambilan keputusan (decision making), yaitu suatu proses untuk menentukan suatu pilihan dari berbagai alternatif yang ada, maupun pada aspek penerapan keputusan (decision makin), yaitu suatu proses untuk menentukan tindakan yang diperlukan dalam melaksanakan keputusan
    - Presentasi   hasil diskusi

 

  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompoknya, kemudian dari jawaban/pendapat tersebut, guru meminta siswa lain untuk merespok balik dan mengadakan perbandingan dengan pendapat/jawabannya sendiri
    -  Evaluasi keberhasilan strategi
  • Bersama guru, siswa mengadakan evaluasi/penilaian terhadap indikasi yang ditunjukkan/ dihasilkan oleh penerapan suatu strategi yaitu masalah apa yang sudah diselesaikan? Seberapa jauh penyelesaiannya? Masalah apa yang masih belum terselesaikan? Dan masalah baru apa yang muncul sebagai akibat penyelesaian ini?
  Penutup Umpan balik/ refleksi
  • Guru bersama-sama dengan siswa mengadakan refleksi tentang pencapaian proses dan hasil belajar siswa yang diharapkan dalam memecahkan suatu masalah atas dasar kriteria yang ditentukan, yaitu keaslian, kreativitas, dan kebaruan strategi yang digunakan.

 

C. Media dan Sumber Pembelajaran

  1. Alat dan sarana:  VCD/film tentang kondisi daerah-daerah yang terkena bencana banjir
  2. Sumber:

-         Informasi dari media cetak dan media elektronik

-         Buku paket dan buku pelajaran geografi yang relevan

D. Assessment/Penilaian

1. Penilaian proses

Bentuk      : observasi

Instrumen : skala sikap

 

No.           Aktivitas

Siswa

 

 

 

 

 

Nama

Siswa

Kesungguhan Inisiatif Keaktifan dalam kelompok Kerjasama dalam kelompok Ketepatan mendefinisikan/  merumuskan masalah Ketepaan mengidentifikasikan mengadakan analisis kekuatan lapangan (AKL) Penyusunan alternatif prmrcahan masalah Kesesuaian analisis dengan solusi penyelesaian Kelancaran mempresentasikan laporan Nilai rata-rata (kualitatif/huruf)
1.                      
2.                      
3.                      

 

2. Penilaian hasil (tes performansi)

Bentuk instrumen tes dan penskorannya

Uraian bebas

Contoh soal: Mengapa kota Jakarta sering dilanda banjir? Jawaban boleh bermacam-macam, namun pada pokoknya memuat hal-hal berikut:

Kriteria jawaban (memuat 4 jawaban yang dianggap benar)

Skor

Merupakan daerah bekas rawa-rawa

Daerah dataran rendah

Saluran airnya tidak lancar

Warganya membuang sampah sembarangan

Tidak memiliki daerah resapan

Skor maksimum

4

 

PEDOMAN PELAKSANAAN

PEMBELAJARAN MODEL PROBLEM SOLVING

 

Untuk menuju suatu proses pembelajaran yang efektif dan efisien, hendaknya guru dalam merumuskan kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa didasarkan atas prisnip relevansi dan konsistensi antara kompetensi dengan materi yang dipelajari, waktu yang tersedia dan kegiatan serta lingkungan belajar yang digunakan (McAshan, 1989:20).

Implementasi penerapan prinsip-prinsip di atas yaitu dengan memilih dan mengembangkan suatu metode pembelajaran yang sesuai dengan kondisi dan potensi siswa dan lingkungan masing-masing. Pendekatan atau metode pembelajaran problem solving merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berlandaskan pada paradigma konstruktivisme yang sangat mementingkan siswa dan berorientasi pada proses belajar siswa (standart-centered learning). Dengan mengintegrasikan pembelajaran bidang ilmu dan keterampilan memecahkan masalah, memanfaatkan sutuasi yang kolaboratif dan menekankan pada proses “belajar untuk belajar” dengan memberikan tanggung jawab maksimal kepada siswa untuk menentukan proses belajarnya (Wilson & Cole, 1996).

Untuk tujuan itulah maka pedoman pelaksanaan pembelajaran model problem solving ini disusun sebagai alternatif solusi dan acuan bagi para guru geografi dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien.

Pedoman pelaksanaan ini meliputi tiga tahapan yaitu (1) tahap persiapan atau perencanaan, (2) tahap pelaksanaan, meliputi kegiatan pembuka, inti, dan penutup, dan (3) tahap evaluasi.

1. Tahap persiapan (pratindakan)

  1. Agar hasil belajar para siswa memuaskan, guru perlu merumuskan tujuan pembelajaran secara jelas yang hendak dicapai oleh siswa.

Sifat dari pada tujuan adalah (1) mampu menstimulus/merangsang agar siswa berusaha lebih baik memupuk inisiatif, kreatif, dan manriri, (2) membawa kegiatan-kegiatan sekolah pada hal-hal yang menarik motivasi siswa untuk belajar, (3) memperkaya pengalaman dan keterampilan pemecahan masalah siswa, yang dapat dilakukan dengan menyajikan presentasi verbal, atau pengalaman nyata, atau bisa dirancang sendiri oleh guru, (4) memperkuat hasil belajar siswa dengan menyelenggarakan latihan-latihan pemecahan masalah yang diintegrasikan penggunaannya dengan masalah-masalah nyata di lapangan, (5) mempunyai nilai praktis dan analitis kekuatan lapangan, (6) tingkat kesulitan masalah disesuaikan dengan taraf kemampuan intelektual dan tingkat emosional serta kondisi mental siswa.

  1. Guru mengemukakan peristiwa-peristiwa bermasalah yang akan diidentifikasi oleh siswa

Permasalahan yang disusun hendaknya dikembangkan berdasarkan konsep dan prinsip

 

PEDOMAN PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF

 

Dalam pembelajaran atau proses belajar mengajar di kelas, guru memegang peranan penting. Gurupun menyadari pentingnya pendekatan pembelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Pendekatan atau metode pembelajaran kolaboratif merupakan salah satu solusi alternatif yang terbaik saat ini. Kepercayaan guru terhadap cara belajar kolaboratif dalam menerapkan belajar kolaboratif sangat berpengaruh terhadap kesadaran dan kesediaan siswa untuk mencoba cara belajar kolaboratif (Panen, 2001:68).    Dengan demikian belajar kolaboratif akan berjalan dengan baik sesuai tujuan yang diinginkan. Namun guru perlu memiliki kepercayaan yang penuh bahawa cara belajar kolaboratif sangat bermanfaat bagi proses pembelajaran di kelas. Untuk itu, guru perlu berlatih untuk menerapkan belajar kolaboratif sebagai salah satu strategi pembelajaran. Tahap-tahap model pembelajaran kolaboratif adalah sebagai berikut.

1. Tahap Persiapan/Perencanaan

  1. Guru merumuskan tujuan pembelajaran

Ada dua tujuan pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, yaitu tujuan akademik (academic objectives) dan tujuan keterampilan berkerjasama (collaborative objectives). Tujuan akademik dirumuskan sesuai dengan taraf perkembangan siswa dan analisis keterampilan memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang lain dan mengelola konflik.

  1. Guru menentukan masalah/konflik yang akan dibahas bersama kelompok

Guru menyajikan permasalahan yang terjadi sehari-hari dan berkaitan dengan materi pelajaran. Tujuannya siswa akan memahami peristiwa yang terjadi berkaitan dengan konsep pelajaran.

  1. Guru menentukan jumlah

Jumlah anggota dalam tiap kelompok 3 – 5 orang siswa. Pemilihan secara acak/heterogen, karena karakteristik belajar kolaboratif tidak memandang perbedaan kemampuan. Setiap siswa harus belajar aktif dan mandiri untuk mencapai tujuan.

  1. Guru merancang tempat duduk siswa

Setiap siswa saling duduk berhadapan dalam satu kelompok. Tempat duduk siswa hendaknya disusun agar tiap kelompok dapat saling bertatap muka atau adanya kontak mata antara guru dengan seluruh siswa.

 

PEDOMAN EVALUASI (ASSESSMENT)

PEMBELAJARAN MODEL PROBLEM SOLVING

 

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sebagai pedoman oleh guru dalam melakukan kegiatan penilaian (assessment) adalah sebagai berikut:

1)      Penentuan hari dan alokasi waktu pelaksanaan kegiatan. Panjang instrumen ditentukan oleh waktu yang tersedia, prinsip yang perlu diperhatikan adlaah tingkat kesukaran materi, cakupan materi, frekuensi penggunaan materi baik di dalam maupun di luar kelas, serta tingkat pentingnya materi yang dipelajari.

2)      Bahan/alat (intrument penilaian) yang disesuaikan dengan bentuk instrumen dan penskorannya. Dalam hal ini bentuk instrumen yang digunakan untuk penilaian proses adalah mengamati/observasi selama pembelajaran berlangsung, sedangkan untuk penilaian hasil menggunakan dua bentuk instrumen yaitu tes dan nontes. Untuk instrumen tes berbentuk (1) uraian bebas. Bentuk instrumen ini dapat dipakai untuk mengukur kompetensi siswa dalam semua ranah kognitif. Kaidah penulisan instrumen bentuk uraian adalah (a) gunakan kata-kata seperti mengapa, uraikan, jelaskan, bandingkan, tafsirkan, hitunglah, dan buktikan, (b) hindari penggunaan pertanyaan seperti siapa, apa, dan nila, (c) gunakan bahasa yang baku, (d) hindari penggunaan kata-kata yang dapat ditafsirkan ganda, (e) buat petunjuk mengerjakan soal, (f) buat kunci jawaban, dan (g) buat pedoman penskoran. Untuk memudahkan penskoran, dibuat rambu-rambu jawaban yang akan dijadikan acuan; (2) tes performans (unjuk kerja). Performans (unjuk kerja) digunakan untuk kompetensi yang berhubungan dengan praktik. Performans dalam mata pelajaran geografi misalnya berupa praktik membuat peta kontur dengan metode Isohyet atau Poligon Thiessen

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sebagai pedoman bagi guru dalam melakukan kegiatan penilaian (assessment) adalah sebagai berikut:

  1. Pra penilaian meliputi: persiapan soal, merancang tempat duduk siswa dan aspek kontrolisasi guru dalam menjaga tetap kondusifnya suasana selama proses penilaian berlangsung.
  2. Pada saat kegiatan berlangsung meliputi hal-hal apa saja yang dilakukan guru pada saat kegiatan evaluasi berlangsung seperti: menjaga tata tertib kelas, memperhatikan disiplin dan keseriusan siswa, menegur/mencatat siswa yang berbuat curang, memperhatikan ketepatan waktu pengerjaan soal dengan waktu jam pelajaran yang tersedia, mengumpulkan hasil pekerjaan siswa.
  3. Setelah kegiatan evaluasi berakhir, langkah selanjutnya adalah menentukan tujuan/fungsi diadakannya evaluasi. Evaluasi yang baik adalah evaluasi yang dapat dijadikan standar acvuan untuk mengukur bagaimana proses dan hasil belajar siswa.

Pemantapan evaluasi proses adalah untuk mengukur keterlibatan emosional dan intelektual siswa dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran serta keterampilan siswa dalam memproses perolehan pengetahuan/mengambil keputusan. Sedangkan evaluasi hasil digunakan untuk mengukur kedalaman pemahaman ketuntasan siswa dalam menguasai kompetensi dasar.

Jadi secara keseluruhan penilaian dapat dikatakan memiliki efektifitas apabila secara fungsional dapat dijadikan acuan/pedoman untuk: (1) mengetahui tingkat kompetensi siswa, (2) mengukur pertumbuhan dan perkembangan siswa, (3) mendiagnosis kesulitan belajar siswa, (4) mengetahui hasil pembelajaran, (5) mengetahui pencapaian kurikulum, (6) mendorong siswa belajar, dan (7) mendorong guru agar mengajar dengan lebih baik.

 

 

LEMBAR KERJA LAPANGAN

 

PENGUKURAN DEBIT AIR TANAH

 

1. Landasan Teori

Seperti halnya air permukaan tanah, pada dasarnya air di dalam tanah itu tidak diam. Akan tetapi air tanah bergerak dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Air tanah bergerak sangat pelan karena air harus bergerak melalui rongga-rongga antar butir tanah yang dilaluinya. Gerakan air tanah ini sebagai akibat adanya gaya grabitasi bumi. Umumnya gerakan air tanah ini mengikuti kemiringan atau topografi wilayah  setempat.

Oleh karena itu air dalam tanah itu bergerak, maka gerakan air tanah ini sebenarnya memiliki debit tertentu. Debit air tanah secara wajar sebagai akibat gaya gravitasi bumi dan faktor hambatan pori tanah tersebut, sebenarnya merupakan debit air tanah secara alami.

Dipandang dari aspek kelesatarian lingkungan, pengambilan air tanah berdasarkan kemampuan debut alami air tanah tanpa disertai usaha pemompaan, merupakan langkah yang dianjurkan. Berdasarkan asumsi di atas, dilakukan kegiatan eksperimen lapangan untuk mengetahui besarnya debit air tanah dengan melakukan uji poma (pumping test) terhadap air tanah melalui sumur penduduk.

Adapun salah satu metode untuk mengukur debit air tanah adalah uji pompa dengan metode Theiss Recovery. Adapun rumus yang digunakan dalam metode ini adalah sebagai berikut.

 

 

 

Keterangan:

 

Q   =  debit air tanah (m3/hari)

T    =  koefisien transmobilitas (m2/hari)

I    =  gradion hidraulik

Ci   =  interval kontur (meter)

q   =  debit pemompaan

AS  =  perbedaan pemulihan air tanah dalam 1 siklus logaritme (meter)

A  =  luas antara dua garis kontur

L   =  panjang rata-rata dua garis kontur air tanah (m)

Yi    =  3,14

 

 

2. Alat dan Bahan

            Alat dan bahan yang diperlukan untuk melakukan pengukuran debit air tanah ini terdiri dari:

1)      sumur percobaan

2)      AWLR (Automatic Water Level Recorder)

3)      pompa air sumur

4)      meteran

5)      kertas grafik semilog

6)      kalkulator

7)      arloji

8)      buku catatan

9)      alat tulis

 

3. Sumber

1)      Buku petunjuk praktikum hidrologi terapan oleh Sugeng Utaya

2)      Buku geografi yang relavan

3)      Berbagai artikel dan informasi yang mendukung

 

4. Cara Kerja

Adapun langkah-langlah yang harus dikerjakan dalam melakukan pengukuran debit air tanah sebagai berikut:

1)      Pembuatan peta aliran air tanah

2)      Melakukan uji pompa (pumping test) dengan metode Theiss Recovery terhadap air tanah melalui sumur penduduk

3)      Menggunakan rumus yang ada untuk menghitung debit air pada pompa

4)      Setelah melakukan pengukuran dan pembuatan peta kontur, kemudian memasukkan data-data yang diperoleh untuk mengetahui besarnya debit air di lokasi pengukuran

5)      Siswa mengadakan analisis dan identifikasi permasalahan untuk memperoleh beberapa rumusan masalah berkaitan dengan ruang lingkup, sebab-akibat dan alternatif penyelesaian yang akan disusun dalam laporan hasil kerja eksperimen lapangan. Rumusan masalah yang berhasil dirumuskan yakni:

a)       Bagaimana kaitan antara bentuk relief/topografi dengan besarnya potensi air tanah?

b)       Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap timbulnya kerusakan lingkungan air tanah akibat pengambilan air tanah dengan pemompaansumur pompa?

c)       Bagaimana mengetahui/mengidentifikasi besarnya debit air tanah alami dengan usaha pemantapan sumber air tersebut?

d)       Aspek fisik maupun nonfisik yang menjadi faktor timbulnya kerusakan/pencemaran air tanah

e)       Usaha intensif untuk mengurangi resiko kerusakan/pencemaran air tanah

 

 

 

 

Pengunjung datang dari kata kunci:

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM PEMBELAJARAN PPKn POKOK BAHASAN “KEYAKINAN” UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS SISWA KELAS III SD NEGERI SUMBERSARI I KOTA MALANG

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM

PEMBELAJARAN PPKn POKOK BAHASAN “KEYAKINAN”

UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS

SISWA KELAS III SD NEGERI SUMBERSARI I KOTA MALANG

 

 

 

 

SKRIPSI

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

Artiningsih

NIM 6031514121611

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRA SEKOLAH

PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JUNI 2006

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR DALAM

PEMBELAJARAN PPKn POKOK BAHASAN “KEYAKINAN”

UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITAS

SISWA KELAS III SD NEGERI SUMBERSARI I KOTA MALANG

 

 

 

 

SKRIPSI

 

Diajukan Kepada

Universitas Negeri Malang

untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan

dalam Menyelesaikan Program Sarjana

Pendidikan Guru Sekolah Dasar

 

 

 

 

 

 

 

Oleh

Artiningsih

NIM 6031514121611

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

JURUSAN KEPENDIDIKAN SEKOLAH DASAR DAN PRA SEKOLAH

PROGRAM S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

JUNI 2006

ABSTRAK

 

 

 

Artiningsih. 2006. Penggunaan Media Gambar Dalam Pembelajaran PPKn Untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar Siswa Tentang Pokok Bahasan Keyakinan Pada Siswa Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malag. Skripsi, Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah. Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. H. Sutarno, M.Pd,         (II) Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd

 

Kata Kunci: media, gambar berseri, pendidikan moral

 

Berdasarkan hasil pengamatan awal diketahui bahwa pembelajaran PPKn kelas III di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang belum terlaksana secara optimal. Kenyataan ini tampak dari suasana aktivitas aktivitas belajar siswa. Siswa tampak kurang menaruh perhatian terhadap materi/bahan pelajaran yang disampaikan guru. Guru dalam menyampaikan materi/bahan pelajaran hanya menggunakan metode ceramah (secara verbal) tanpa menggunakan alat bantu mengajar (media pembelajaran). Proses belajar siswa terfokus pada penjelasan guru sehingga siswa belajar hanya bersifat hafalan. Siswa tampak kurang aktif dan kreatif dalam melakukan aktivitas belajar. Kondisi ini akhirnya berdampak terhadap rendahnya hasil belajar siswa dalam penguasaan materi/bahan pelajaran yang sedang dipelajari. Sehubungan hal itu, untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PPKn, maka salah satu alternatif untuk memotivasi siswa dalam belajar ke arah yang lebih baik adalah dengan menerapkan penggunaan media gambar berseri dalam proses belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang sebelum diterapkannya penggunaan media gambar; (2) hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang setelah diterapkannya penggunaan media gambar; dan (3) ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang.

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang tanggal 9 Januari sampai 27 Maret 2006. Rancangan penelitian yang dipergunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart dengan dua siklus tindakan, masing-masing siklus terdiri atas 4 (empat) tahap kegiatan, yaitu: (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi tindakan. Subjek penelitian meliputi guru dan siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Jumlah siswa adalah sebanyak 21 siswa terdiri dari 9 siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Fokus penelitian adalah pembelajaran PPKn dalam pokok bahasan “Keyakinan” mengenai pengetahuan sikap menghargai orang lain dengan menerapkan penggunaan media gambar. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan adalah lembar tes soal dan lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis deskriptif.

Berdasarkan temuan penelitian diperoleh kesimpulan bahwa (1) hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn sebelum diterapkannya penggunaan media gambar dapat diketahui, yaitu terdapat 8 siswa (38,10%) sudah mengetahui atau mengenal dengan baik mengenai sikap menghargai orang lain dalam materi/bahan pelajaran yang dipelajari. Sedangkan 13 siswa (61,90%) belum mengetahui atau mengenal dengan baik mengenai sikap tersebut; (2) hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn setelah diterapkannya penggunaan media gambar pada akhir pelaksanaan tindakan siklus II dapat diketahui, yaitu terungkap sebanyak 17 siswa (80,95%) sudah mengetahui atau mengenal dengan baik mengenai sikap menghargai orang lain dalam materi/bahan pelajaran yang dipelajari. Sedangkan sebagian kecil siswa yaitu 4 siswa (19,05%) ternyata belum mengetahui atau mengenal dengan baik mengenai sikap tersebut. Mereka ini mengalami hambatan dalam menerima maupun melakukan aktivitas belajar dengan baik tidak seperti siswa lainnya, disebabkan karena di antaranya, yaitu: 2 siswa (9,52%) menderita autis dan 2 siswa (9,52%) mengalami gangguan dalam perkembangan pada diri siswa tersebut; (3) aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar pada akhir tindakan siklus II bahwa kenyataannya ada peningkatan ke arah yang lebih baik dari pada sebelum menggunakan media gambar. Hal ini dibuktikan dari motivasi dan kreativitas siswa dalam belajar dengan menggunakan Lembar Kerja Siswa (LKS) dan lembar gambar berseri berkenaan dengan materi/bahan pelajaran yang sedang dipelajari. Selama berlangsungnya proses belajar dalam PPKn terungkap bahwa terdapat sebagian besar siswa (80,95%) menunjukkan aktivitas belajar dengan baik. Sebagian kecil (19,05%) menunjukkan aktivitas belajar belum baik atau belum maksimal.

Bertolak dari kesimpulan temuan penelitian, dikemukakan beberapa saran: (1) bagi guru, agar penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn di Sekolah Dasar dapat lebih ditingkatkan secara maksimal dan efektif, sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa ke arah yang lebih baik, (2) bagi kepala sekolah, upaya pemberian supervisi dan bimbingan kepada guru berkaitan dengan penerapan penggunaan media pembelajaran dalam pelajaran PPKn maupun mata  pelajaran lainnya di Sekolah Dasar, sehingga dapat memotivasi guru dalam upaya meningkatkan aktivitas belajar sehingga hasil belajar siswa semakin baik, dan              (3) bagi peneliti lain, perlu upaya penelitian lanjut berkaitan dengan pembelajaran PPKn di Sekolah Dasar melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ke arah yang lebih baik sehingga dapat melengkapi hasil kajian yang telah ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

 

            Segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan anugerah dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Penggunaan Media Gambar dalam Pembelajaran PPKn untuk Meningkatkan Aktivitas Belajar tentang Pokok Bahasan Keyakinan pada Siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan.

Skripsi ini diselesaikan karena adanya bantuan, kerjasama dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

  1. Dr. Kusmintardjo, M.Pd, selaku Dekan FIP Universitas Negeri Malang, yang telah memberikan bantuan kemudahan dalam rangka penulisan skripsi.
  2. Kepala Dinas Pendidikan Kota Malang, yang telah memberikan tugas kepada penulis untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
  3. Drs. H.Ahmad Samawi, M.Hum, selaku Ketua Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah FIP Universitas Negeri Malang yang telah memberikan saran pada penulis untuk kesempurnaan skripsi ini.
  4. Drs. H. Sutarno, M.pd, selaku pembimbing I yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
  5. Dr. Sa’dun Akbar, M.Pd, selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
  6. Bapak dan Ibu serta staf pengajar pada Jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Prasekolah (KSDP) Fakultas Ilmu Pendidikan.
  7. Bapak Wage Munawar, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SD Negeri Sumbersari I Kota Malang yang telah memberikan ijin serta fasilitas dalam menyelesaikan penelitian ini.
  8. Rekan-rekan satu angkatan yang telah memberikan dorongan moril maupun materiil dalam penyusunan skripsi ini.
  9. Suami serta anak-anak tercinta yang ikut membantu dalam menyusun skripsi ini.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas segala budi baik mereka. Segala uoaya telah penulis lakukan dalam penyusunan skripsi ini. Namun penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangannya. Maka untuk itu, penulis senantiasa menerima saran dan kritik maupun masukan yang bersifat membangun.

 

 

Malang, April 2006

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

 

 

Halaman

ABSTRAK  …………………………………………………………………………………………

KATA PENGANTAR  …………………………………………………………………………

DAFTAR ISI  ……………………………………………………………………………………..

DAFTAR TABEL  ………………………………………………………………………………

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………………………..

DAFTAR LAMPIRAN  ……………………………………………………………………….

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah  ……………………………………………………………
  2. Rumusan Masalah  …………………………………………………………………….
  3. Tujuan Penelitian  ……………………………………………………………………..
  4. Manfaat Penelitian  ……………………………………………………………………
  5. Ruang Lingkup Penelitian  ………………………………………………………….
  6. Definisi Operasional  …………………………………………………………………

 

BAB II KAJIAN PUSTAKA

  1. Tinjauan tentang Media Pembelajaran  …………………………………………
  2. Media Gambar  …………………………………………………………………………
  3. Prinsip-prinsip Penggunaan Media Pembelajaran  …………………………
  4. Tinjauan tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan  (PPKn) di Sekolah Dasar  …………………………………………………………..
  5. Tinjauan tentang Sikap  ……………………………………………………………..

 

BAB III. METODE PENELITIAN

  1. Rancangan Penelitian  ………………………………………………………………..
  2. Latar dan Subjek Penelitian  ……………………………………………………….
  3. Fokus  Penelitian  ……………………………………………………………………..
  4. Desain Tindakan  ………………………………………………………………………
  5. Rencana Jadwal Pelaksanaan Tindakan  ……………………………………….
  6. Teknik Pengumpulan Data  ………………………………………………………..
  7. Indikator Keberhasilan Tindakan  ……………………………………………….
  8. Analisis Data  …………………………………………………………………………..

 

BAB IV. HASIL PENELITIAN

  1. Tindakan Siklus I  ……………………………………………………………………..
  1. Perencanaan Tindakan  …………………………………………………………
  2. Pelaksanaan Tindakan  …………………………………………………………
  3. Observasi  …………………………………………………………………………..
  4. Refleksi Tindakan  ……………………………………………………………….
  5. Perencanaan Tindakan  …………………………………………………………
  6. Pelaksanaan Tindakan  …………………………………………………………
  7. Observasi  …………………………………………………………………………..
  8. Refleksi Tindakan  ……………………………………………………………….
    1. Aspek Pelaksanaan Proses Tindakan Pembelajaran  …………………
    2. Aspek Hasil Belajar Siswa  ……………………………………………………
  1. Tindakan Siklus II  …………………………………………………………………….
  1. Evaluasi Pelaksanaan Tindakan  ………………………………………………….

 

BAB V. PEMBAHASAN

  1. Hasil Belajar Siswa Sebelum Dilakukan Tindakan  ………………………
  2. Hasil Belajar Siswa Setelah Dilakukan Tindakan  …………………………
  3. Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa  …………………………………………..
  4. Kemampuan Proses Pembelajaran  ………………………………………………

 

BAB VI. PENUTUP

  1. Kesimpulan  …………………………………………………………………………….
  2. Saran-saran  ……………………………………………………………………………..

 

DAFTAR RUJUKAN  ………………………………………………………………………….

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN  ………………………………………………

LAMPIRAN  ……………………………………………………………………………………….

RIWAYAT HIDUP  ……………………………………………………………………………..

i

iii

v

vii

viii

ix

1

6

7

8

9

10

11

13

16

 

19

33

36

39

40

41

47

47

50

50

54

54

58

64

68

73

73

74

7

83

88

89

90

93

95

104

106

109

111

112

115

116

148

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel                                                                                                                Halaman

 

3.1   Rencana Jadwal Tindakan  …………………………………………………………….

3.2   Kisi-kisi Instrumen Penelitian  ……………………………………………………….

3.3   Standar Bobot Skor Hasil Tes  ……………………………………………………….

3.4   Kriteria Tingkat Penguasaan (Daya Serap) Siswa  …………………………….

3.5   Skala Penilaian Hasil Pengamatan (Observasi)  ………………………………..

3.6   Standar Kemampuan dalam Klasifikasi Persentase  …………………………..

4.1   Daftar Nilai Hasil Pre Test Siswa Pada Pra Tindakan Siklus I  …………..

4.2   Daftar Nilai Hasil Post Test Siswa Pada Tindakan Siklus I (Pasca Tindakan)  ……………………………………………………………………………………

4.3   Hasil Penilaian Proses Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang Melalui Observasi Pada Tindakan Siklus I  ..

4.4   Hasil Penilaian Proses Kegiatan Belajar Siswa Melalui Observasi  dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang Pada Tindakan Siklus I  ……………………………………………………..

4.5   Perbandingan Nilai Siswa Hasil Pre Test (Tes Awal Pra Tindakan) Dengan Nilai Post Test (Tes Formatif Pasca Tindakan) dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang pada Tindakan Siklus I  …………………………………………………………………

4.6   Daftar Nilai Hasil Post Test Siswa Pada Tindakan Siklus II (Pasca Tindakan)  ……………………………………………………………………………………

4.7   Hasil Penilaian Proses Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang Melalui Observasi Pada Tindakan Siklus II .

4.8   Hasil Penilaian Proses Kegiatan Belajar Siswa Melalui Observasi   dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang Pada Tindakan Siklus II  …………………………………………………….

4.9   Perbandingan Antara Nilai Siswa Hasil Pre Test (Tes Awal Pra Tindak-an) dengan Nilai Post Test (Tes Formatif Pasca Tindakan Siklus I dan Siklus II) dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang Pada Tindakan Siklus II  …………………………………………….

4.10 Keberhasilan Tindakan dari Aspek Pelaksanaan Proses Tindakan Berdasarkan Pencapaian Persentase ………………………………………………..

4.11 Keberhasilan Tindakan dari Aspek Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Pencapaian Nilai Hasil Tes (Pre Test dan Post Test)  ………………………..

5.1   Distribusi Frekuensi Taraf Penguasaan Siswa Terhadap Materi Pelajaran PPKn Berdasarkan Hasil Pre Test (Tes Awal Pra Tindakan) Pada Tindakan Siklus ……………………………………………………………………I

5.2   Distribusi Frekuensi Taraf Penguasaan Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Hasil Pre Test (Pra Tindakan) dan Hasil Post Test (Tindakan Siklus I dan Siklus II) Dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang  ……………………………………………

5.3   Perbandingan Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Pre Test (Tes Awal Pra Tindakan) Dengan Nilai Hasil Post Test (Tes Formatif Pasca Tindakan Siklus I & Siklus II) Dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang  ……………………………………………………………

47

49

51

52

53

53

60

63

64

66

69

76

79

81

83

89

90

94

95

99

DAFTAR GAMBAR

 

 

 

Gambar                                                                                                            Halaman

 

3.1 Alur Pelaksanaan Tindakan dalam PTK  ……………………………………………

 

38

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

 

 

Lampiran                                                                                                          Halaman

 

  1. Daftar Nama Siswa Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang  …..
  2. Rencana Pembelajaran  …………………………………………………………………..
  3. Media Gambar Pembelajaran PPKn  ………………………………………………..
  4. Lembar Kerja Siswa (LKS)  ……………………………………………………………
  5. Lembar Soal Pre Test  …………………………………………………………………….
  6. Lembar Soal Post Test  …………………………………………………………………..
  7. Lembar Observasi Penilaian Proses Pembelajaran yang Dilakukan     Guru  ……………………………………………………………………………………………
  8. Lembar Observasi Penilaian Proses Kegiatan Belajar Siswa  ………………

9.   Daftar Nilai Hasil Tes Formatif (Post Test) Siswa Kelas III SD Negeri Sumbersari III Kota Malang Dalam Pembelajaran PPKn Sebelum Diterapkan Penggunaan Media Gambar Berdasarkan Hasil Observasi …

10. Daftar Analisis Hasil Pre Test/Post Test  …………………………………………..

11. Daftar Nilai Siswa Hasil Pre Test/Post Test  ……………………………………..

12. Daftar Nilai Proses Belajar Siswa Hasil Observasi  ……………………………

 

 

116

117

121

124

135

137

139

142

144

145

146

147

 

 

 

 

 

 

 

BAB  I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Sekolah Dasar (SD) merupakan mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melesterikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. Nilai luhur dan moral tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku kehidupan sehari-hari siswa, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa (Depdikbud, 1993:3).

Di samping itu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) juga dimaksudkan membekali siswa dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antar warga negara dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.

Berdasar pengertian dan tujuan di atas, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) di Sekolah Dasar memiliki arti penting bagi siswa dalam upaya membekali dan mengembangkan nilai sikap dan moral yang sesuai dengan nilai-nilai moral yang dianut dan berlaku dalam kehidupan masyarakat atau bangsa Indonesia. Nilai sikap dan moral merupakan kualitas atau sesuatu yang berguna bagi siswa sebagai dasar penentu tingkah laku dalam melakukan suatu kegiatan (aktivitas) dalam hubungannya dengan sesama siswa dan lingkungannya. Dengan membekali dan mengembangkan nilai sikap dan moral tersebut, siswa akan mampu membedakan antara perbuatan yang baik dan buruk, tingkah laku yang wajib dilakukan dan tingkah laku yang tidak boleh dilakukan, serta dapat membedakan antara sesuatu yang berguna dan tidak berguna. Oleh karena itu materi bahan pelajaran PPKn yang diajarkan di Sekolah Dasar lebih menekankan pada masalah nilai dan moral. Nilai dan moral dimaksud merupakan pola keyakinan yang terdapat dalam sistem keyakinan yang dianut oleh masyarakat atau bangsa Indonesia tentang hal baik yang harus dilakukan dan hal buruk yang harus dihindari. Nilai-nilai dan moral ini dalam kehidupan masyarakat Indonesia sangat banyak jumlahnya, sehingga sekolah hanya berusaha membantu siswa untuk mengenali, memilih dan menetapkan nilai-nilai tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai landasan/pedoman bagi siswa dalam berperilaku secara konsisten dan menjadi kebiasaan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Untuk membekali dan mengembangkan nilai sikap dan moral pada diri siswa di sekolah terutama di Sekolah Dasar tentu tidak dapat dipisahkan dari kemampuan guru sebagai pengajar dan sekaligus sebagai pendidik, yaitu bagaimana upaya guru membekali dan mengembangkan nilai sikap dan moral tersebut pada diri siswa yang pada gilirannya akan mengarahkan pada perkembangan sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan tujuan kurikulum.

Menurut Rochmadi (2002:88), bahwa pembelajaran pendidikan moral menghendaki adanya suasana hati, emosi, pikiran dan kemauan atau keseluruhan diri (individualitas) serta minat anak didik harus terpanggil/termotivasi serta terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung di kelas. Kondisi ini menuntut guru untuk secara sengaja dan konstruktif menyiapkan, merencanakan dan memikirkan segala sesuatunya baik itu stimulus maupun media yang akan dipergunakan sebagai perangsang keterlibatan anak didik dalam proses pembelajaran secara total.

Namun pada kenyataannya, berdasarkan hasil pengamatan saat berlangsungnya kegiatan proses pembelajaran PPKn kelas III di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang, siswa tampak kurang menaruh minat terhadap materi/bahan pelajaran yang disampaikan guru. Akibatnya aktivitas proses belajar siswa menjadi berkurang. Kondisi ini akhirnya berdampak terhadap rendahnya kemampuan dasar siswa berkenaan dengan materi/bahan pelajaran yang sedang dipelajari, yaitu pemahaman siswa tentang nilai-nilai moral dan sikap perilaku yang baik dan yang tidak baik, seperti sikap menghargai orang lain, sikap tolong menolong, gotong royong dan nilai-nilai moral/sikap lainnya.

Indikasi rendahnya kemampuan dasar siswa dalam menyerap materi/bahan pelajaran PPKn yang diajarkan tersebut terungkap dari evaluasi yang dilakukan guru terhadap hasil tes formatif siswa. Berdasarkan hasil tes formatif menunjukkan bahwa persentase rata-rata kelas dari 21 siswa adalah sebesar 55,5% atau dengan rata-rata nilai 5,5. Berarti prestasi hasil belajar siswa kelas III di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang adalah termasuk dalam kategori rendah atau masih di bawah standar nilai minimum 70% atau nilai 7 (lihat Lampiran 9).

Selama ini penyampaian materi/bahan pelajaran PPKn oleh guru dalam kegiatan proses belajar mengajar kelas III di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang lebih terfokus pada penggunaan metode ceramah atau penyampaian materi/bahan pelajaran secara verbal dan tanya jawab. Penggunaan media pembelajaran (alat bantu mengajar) dalam penyampaian materi/bahan pelajaran belum pernah dilakukan.

Pembelajaran PPKn di Sekolah Dasar (SD) pada dasarnya menekankan pada pembentukan sikap dan perilaku yang didasari nilai-nilai keyakinan yang dianut masing-masing siswa dan nilai-nilai moral Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut diharapkan mempengaruhi pola pikir dan sikap yang mengiringi perkembangan perilaku siswa, seperti sikap menghargai, tenggang rasa, jujur, rela berkorban dan perilaku baik yang berlaku dalam kehidupan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Menurut Raka Joni, (dalam Rudi, 1987:2) bahwa penggunaan metode ceramah kurang cocok untuk pembentukan sikap. Di sisi lain, Rudi (1987:2) menegaskan bahwa selama ini metode mengajar konvensional untuk bidang studi Pendidikan Moral Pancasila (PMP) menempatkan metode ceramah pada posisi yang dominan, baik untuk pengembangan sikap maupun untuk pengembangan pengetahuan dan keterampilan siswa, perlu mendapat tanggapan dan perbaikan sebagai metode mengajar yang digunakan untuk pengembangan sikap positif siswa.

Menurut al Hakim (1984/1985:13), kegiatan belajar mengajar Pendidikan Moral Pancasila (PMP) di kelas merupakan suatu proses komunikasi antara guru dengan siswa atau bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Pengalaman menunjukkan bahwa dalam komunikasi ini sering terjadi penyimpangan-penyimpangan sehingga komunikasi tersebut tidak efektif dan efisien yang antara lain disebabkan oleh adanya kecenderungan verbalisme, ketidakpastian siswa, kurangnya minat dan gariah belajar dan sebagainya.

Salah satu usaha untuk mengatasi keadaan di atas, menurut Al Hakim (1984/1985:13), ialah dengan menggunakan media di dalam proses belajar mengajar tersebut. Hal ini mengingat bahwa fungsi media dalam proses itu kecuali sebagai penyaji stimulis (informasi sikap dan lain-lain) juga untuk meningkatkan keserasian dalam penerimaan informasi. Dalam hal-hal tertentu media juga berfungsi untuk mengatur langkah-langkah kemajuan belajar siswa serta untuk memberikan umpan balik. Seperti penggunaan media gambar dapat membantu siswa untuk mencapai hasil yang optimal dalam belajar. Media gambar yang mirip dengan kondisi yang sebenarnya, memudahkan bagi siswa dalam menerima materi pelajaran dan makin mudah diingat mengenai apa yang dipelajari. Oleh karena itu, untuk mencapai hasil yang optimal dalam belajar siswa, maka penggunaan media gambar dalam pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) supaya materi yang disajikan dalam media gambar diusahakan mirip dengan kejadian-kejadian yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat.

Dari segi lain, guru, materi dan media adalah tiga komponen pengajaran yang sama-sama menentukan, maka peranan media dalam pengajaran untuk membantu dalam pencapaian tujuan belajar. Dengan demikian, maka media berperan membantu dan memberi kemudahan, baik kepada guru maupun siswa untuk mencapai tujuan belajar mengajar (Al Hakim, 1984/1985:15).

Sehubungan dengan permasalahan rendahnya prestasi belajar siswa kelas III dalam menyerap materi/bahan pelajaran PPKn di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang tersebut, maka perlu ada upaya perbaikan dan penyempurnaan yang kondusif terhadap model pendekatan pembelajaran yang selama ini dipergunakan guru.

Melalui diskusi terbatas antara penulis dengan guru kelas III pada sekolah bersangkutan menghasilkan suatu kesepakatan yaitu perlu upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan mengoptimalkan aktivitas belajar pada mata pelajaran PPKn kelas III di SD Negeri Sumbersari III Kota Malang. Hal ini dilakukan untuk memenuhi pencapaian keberhasilan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Mengingat tujuan pembelajaran PPKn di Sekolah Dasar (SD) menekankan pada pengenalan dan pengembangan nilai perilaku dan moral yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, maka perlu dikembangkan pengalaman belajar yang kondusif terhadap siswa melalui penggunaan media gambar (secara visual) tentang nilai sikap dan moral sesuai dengan keyakinan yang dianut masyarakat di lingkungannya.

Dengan penggunaan media gambar dalam proses belajar mengajar PPKn tersebut diharapkan setiap peserta didik (siswa) dapat mengembangkan potensinya secara optimal, sehingga akan lebih cepat dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat jika telah menyelesaikan suatu program pendidikan.

Berkenaan dengan itu, maka penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan menggunakan rancangan tindakan kelas secara kolaborasi dengan guru PPKn kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Adapun judul penelitian dimaksud adalah: “Penggunaan Media Gambar Dalam Pembelajaran PPKn Pokok Bahasan “Keyakinan” Untuk Meningkatkan Aktivitas Siswa Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang”.

B. Rumusan Masalah

            Berdasar latar belakang  masalah di atas, maka rumusan masalah penelitian tindakan ini adalah:

  1. Bagaimanakah kemampuan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang sebelum diterapkannya penggunaan media gambar?
  2. Bagaimanakah kemampuan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang setelah diterapkannya penggunaan media gambar?
  3. Apakah terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang?
  4. Bagaimanakah proses pembelajaran PPKn dalam upaya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang?

C. Tujuan Penelitian

Berkenaan dengan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mendeskripsikan kemampuan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang sebelum diterapkannya penggunaan media gambar.
  2. Untuk mendeskripsikan kemampuan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang setelah diterapkannya penggunaan media gambar.
  3. Untuk mendeskripsikan ada tidaknya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang.
  4. Untuk mendeskripsikan proses pembelajaran PPKn dalam upaya peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, yaitu:

  1. Bagi Guru, diharapkan dapat mendorong dan memotivasi para guru agar lebih kreatif dalam melaksanakan pembelajaran dengan berbagai kemampuan dan keterampilan yang dimilikinya dengan sebaik mungkin untuk menerapkan atau menggunakan berbagai cara pendekatan, sehingga dapat menarik perhatian dan menambah minat siswa dalam proses belajar serta meningkatkan kemampuan siswa terhadap materi pelajaran yang diajarkan.
  2. Bagi Kepala Sekolah, diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam upaya memberikan supervisi dan bimbingan kepada para guru berkaitan dengan pelaksanaan proses belajar mengajar, sehingga dapat mendorong dan memotivasi para guru dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
  3. Bagi Kantor Dinas Pendidikan Kota Malang, diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan masukan dalam upaya pembinaan dan peningkatan kualitas para guru serta peningkatan fasilitas sarana prasarana kegiatan belajar mengajar khususnya di Sekolah Dasar (SD), sehingga dapat meningkatkan kualitas penyelenggaraan proses pendidikan dan kualitas hasil belajar siswa di sekolah.
  4. Bagi peneliti lain, diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan kajian dalam melakukan penelitian lanjut, sehingga dengan demikian dapat menyempurnakan dan mengembangkan hasil penelitian yang telah ada khususnya berkaitan dengan pembelajaran PPKn kelas III di Sekolah Dasar (SD) ke arah yang lebih baik dalam upaya peningkatan kemampuan sikap siswa menghargai orang lain.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, maka peneliti membatasi permasalahan atau menetapkan ruang lingkup penelitian ini, sebagai berikut:

  1. Subjek sasaran dalam penelitian tindakan adalah siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang.
  2. Materi atau bahan ajar PPKn kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang adalah pokok bahasan “keyakinan” yang diambil dari Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) PPKn Kelas III SD Kurikulum tahun 1994.
  3. Media pembelajaran PPKn kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang adalah difokuskan pada penerapan penggunaan media gambar dalam bentuk lembar kertas.
  4. Pelaksanaan tindakan dirancang secara bersiklus dengan menggunakan model rancangan yang diadaptasi dari Kemmis dan McTaggart, yaitu tiap siklus meliputi kegiatan: (a) rencana tindakan, (b) pelaksanaan tindakan, (c) observasi (pengamatan), dan (d) refleksi (evaluasi). Tentunya diharapkan melalui tindakan dengan bersiklus tersebut dapat memberi dampak terhadap peningkatan terhadap kemampuan sikap menghargai orang lain dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Setelah dilakukan tindakan dengan beberapa siklus ternyata hasil refleksi menunjukkan dampak tindakan mencapai hasil yang diharapkan, maka pelaksanaan tindakan dihentikan.

F. Definisi Operasional

Untuk menghindari salah penafsiran atau pengertian terhadap istilah-istilah yang berkaitan dengan penelitian ini, maka perlu dikemukakan definisi operasional, sebagai berikut:

  1. Pembelajaran adalah proses interaksi antara siswa (peserta didik) dengan guru (pendidik), sumber belajar dan media belajar dalam kegiatan belajar mengajar suatu pokok bahasan mata pelajaran.
  2. PPKn adalah mata pelajaran pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang diberikan pada siswa kelas III di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang, dengan tujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuan dasar siswa mengenai nilai-nilai dan sikap perilaku berdasarkan keyakinan dan pandangan hidup (falsafah hidup) bangsa Indonesia.
  3. Media gambar adalah suatu alat bantu atau alat peraga berupa gambar dalam bentuk lembar kertas yang dipergunakan dalam pembelajaran PPKn kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang.
  4. Peningkatan adalah suatu proses upaya untuk meningkatkan kemampuan tertentu dalam pembelajaran PPKn kelas III Sekolah Dasar (SD), yaitu kemampuan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar, dan kemampuan prestasi hasil belajar siswa.
  5. Prestasi hasil belajar siswa adalah taraf kemajuan atau pencapaian hasil belajar siswa mengenai materi pokok bahasan yang diajarkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Materi pokok bahasan dimaksud yaitu mengenai “keyakinan” pada mata pelajaran PPKn kelas III Sekolah Dasar (SD).

 

 

 

 

 

 

BAB  III

METODE PENELITIAN

 

A. Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian diperlukan sebagai pedoman kegiatan melakukan penelitian. Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian Tindakan Kelas merupakan jenis penelitian bersifat reflektif yang bertujuan untuk meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara profesional (Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999:4).

Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model kolaborasi yang mengutamakan kerja sama antara kepala sekolah, guru dan peneliti. PTK ini merupakan upaya untuk mengkaji apa yang terjadi dan telah dihasilkan atau belum tuntas pada langkah upaya sebelumnya. Hasil refleksi digunakan untuk mengambil langkah lebih lanjut dalam upaya mencapai tujuan penelitian. Dengan kata lain refleksi merupakan pengkajian terhadap keberhasilan atau kegagalan terhadap pencapaian tujuan sementara (Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999:19).

Dari pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan suatu pendekatan atau model penelitian lebih bertujuan untuk memperbaiki kualitas kinerja guru dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan peningkatan prestasi hasil belajar siswa di sekolah. Sasaran penelitian ini terfokus pada berbagai permasalahan dalam pembelajaran yan menjadi keprihatinan bagi guru maupun sekolah. Untuk mengungkap dan upaya pemecahan permasalahan dalam pembelajaran tersebut diperlukan suatu pendekatan melalui penelitian yang berbasis kelas. Dengan demikian diharapkan para guru dapat memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran mereka dengan cara melakukan kolaborasi atau melibatkan pihak lain. Untuk keperluan itu, para guru perlu mengadakan hubungan formal maupun informal dengan pihak terkait lainnya untuk melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.

Berdasar pemikiran tersebut dan sesuai dengan rumusan masalah penelitian ini, maka perlu dilaksanakan suatu penelitian dengan menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian tindakan yang dikembangkan oleh Kemmis dan McTaggart

Model rancangan penelitian tindakan yang diadaptasi dari Kemmis dan McTaggart (dalam Sukarnyana, 2002:30-32) dimaksud meliputi 2 (dua) siklus (alur) pelaksanaan tindakan. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahap kegiatan yaitu, yaitu (1) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi (dalam Sukarnyana, 2002:29-32) sebagaimana pada Gambar 3.1 berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rencana

Tindakan

 

Refleksi

 

 

Observasi                Pelaksanaan

tindakan

 

 

Rencana

Tindakan

Refleksi

 

 

Observasi            Pelaksanaan

tindakan

 

 

 

Gambar 3.1 Alur Pelaksanaan Tindakan dalam PTK

                                      (Kemmis dan McTaggart, dalam Sukarnyana, 2002:30)

            Penjelasan Gambar 3.1 tersebut (dalam Sukarnyana, 2002:30-32) sebagai berikut:

1. Perencanaan Tindakan

Sebelum melaksanakan tindakan, terlebih dahulu peneliti harus merencanakan secara seksama jenis tindakan yang akan dilakukan dan menetapkan langkah-langkah atau tindakan yang akan dilakukan.

2. Pelaksanaan Tindakan

Setelah rencana disusun secara matang, barulah tindakan itu dilakukan. Pelaksanaan tindakan pada dasarnya dilakukan secara kolaborasi (bersama) antara guru kelas yang bersangkutan dengan peneliti. Tindakan dilaksanakan sejalan dengan laju perkembangan pelaksanaan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar di kelas.

3. Observasi

Bersamaan dengan dilaksanakannya tindakan, peneliti mengamati proses pelaksanaan tindakan itu sendiri dan akibat yang ditimbulkannya. Data atau informasi yang dikumpulkan melalui observasi adalah data atau informasi tentang proses berupa perubahan kinerja pembelajaran, selain data tentang hasil belajar siswa.

4. Refleksi

Berdasarkan data hasil observasi (pengamatan) dan data hasil belajar siswa tersebut, peneliti bersama guru (secara kolaborasi) kemudian melakukan refleksi (perenungan) atas tindakan yang telah dilakukan.

Pada dasarnya refleksi (perenungan) merupakan kegiatan atau analisis-sintesis, interpretasi, dan eksplanasi (penjelasan) terhadap semua informasi yang diperoleh dari pelaksanaan tindakan. Jika hasil refleksi menunjukkan perlunya dilakukan perbaikan atas tindakan yang dilakukan, maka rencana tindakan perlu disempurnakan lagi agar tindakan yang dilaksanakan berikutnya tidak sekedar mengulang apa yang telah diperbuat sebelumnya. Demikian seterusnya sampai masalah yang diteliti dapat dipecahkan secara optimal.

B. Latar dan Subyek Penelitian

1. Kehadiran Peneliti

Dalam penelitian ini peneliti datang ke SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Peneliti mengadakan pertemuan dengan Kepala Sekolah untuk menyampaikan tujuan dan maksud dari penelitian ini. Setelah mendapat ijin dan penjelasan dari Kepala Sekolah bersangkutan, selanjutnya peneliti melakukan koordinasi dengan guru kelas III untuk membicarakan lebih lanjut tentang rencana langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan, seperti: mengidentifikasikan masalah yang dialami guru dalam pembelajaran PPKn, menganalisis masalah, merumuskan desain tindakan, dan merumuskan rencana jadwal pelaksanaan tindakan.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di SD Negeri Sumbersari I, Jalan Bendungan Sigura-gura, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang.

3. Subjek Penelitian

Subjek penelitian adalah sasaran yang ditetapkan sebagai sumber data penelitian. Adapun subjek penelitian dimaksud yaitu seorang guru dan siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Jumlah siswa tersebut adalah sebanyak 21 orang siswa yang terdiri dari 9 orang siswa laki-laki dan 12 orang siswa perempuan (lihat Lampiran 1).

C. Fokus Penelitian

Fokus perhatian dalam penelitian ini adalah:

  1. Pelaksanaan penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada pokok bahasan “keyakinan” kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang.
  2. Keberhasilan penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada pokok bahasan “keyakinan” kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa mengenai pengetahuan dan kemampuan dasar tentang nilai-nilai moral dan sikap.

D. Desain Tindakan

Pelaksanaan tindakan didesain dengan menggunakan pendekatan bersiklus diadaptasi dari model Kemmis dan McTaggart sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, yaitu meliputi: (a) perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi, dan (4) refleksi.

1. Perencanaan Tindakan

Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti secara kolaborasi dengan guru kelas III yang bersangkutan melakukan pembahasan tentang rencana langkah-langkah tindakan yang akan dilakukan. Dalam perencanaan tindakan, ada tiga langkah yang dilakukan, yakni: (a) mengidentifikasi masalah, (b) menganalisis masalah, dan (c) merumuskan rencana tindakan.

a. Mengidentifikasi Masalah

Masalah yang diidentifikasi berkenaan dengan pembelajaran PPKn kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang adalah faktor penyebab kecenderungan siswa kurang menaruh perhatian dan minat terhadap kegiatan pembelajaran yang disampaikan oleh guru di kelas.

Berdasarkan hasil pembicaraan peneliti dengan guru yang bersangkutan, ternyata faktor utama penyebab kurangnya perhatian dan minat siswa pada saat guru menyampaikan materi/bahan pelajaran tersebut dilakukan secara verbal (lisan melalui metode ceramah) tanpa diimbangi penggunaan media pembelajaran (alat bantu pembelajaran). Sehingga tidak ada interaksi yang optimal antara siswa dengan guru dalam kegiatan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar hanya terfokus pada guru, sedangkan aktivitas belajar siswa menunjukkan sangat kurang atau rendah.

Kondisi tersebut pada akhirnya berdampak terhadap kemampuan hasil belajar siswa. Hal ini terungkap dari data-data nilai siswa hasil tes formatif yang dilakukan guru pada semester sebelumnya, di mana nilai daya serap rata-rata kelas menunjukkan sebesar 55,5% atau dengan rata-rata nilai 5,5. Berarti prestasi hasil belajar siswa termasuk dalam kategori rendah atau masih di bawah standar nilai minimum 70% atau nilai 7 yang ditetapkan. Oleh sebab itu, diperlukan suatu upaya tindakan untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa tersebut.

b. Menganalisis Masalah

Bertolak dari hasil identifikasi masalah di atas, maka peneliti bersama guru yang bersangkutan, kemudian melakukan analisis terhadap masalah tersebut untuk menetapkan upaya pemecahannya melalui suatu tindakan yang terarah dan terencana.

Adapun upaya pemecahan untuk meningkatkan kemampuan hasil belajar siswa kelas III di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang terhadap mata pelajaran PPKn adalah dengan cara meningkatkan kualitas proses pembelajaran PPKn melalui penggunaan media gambar secara optimal.

Penggunaan media gambar tersebut merupakan alat bantu bagi guru untuk menarik perhatian siswa dan mengefektifkan proses belajar mengajar, sehingga memudahkan bagi siswa dalam menerima dan memahami materi/bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru. Selain itu melalui penggunaan media gambar dapat membangkitkan minat siswa terhadap segala materi/bahan pelajaran yang diberikan, dan membantu mereka untuk lebih aktif dan kreatif mengembangkan kemampuan dalam proses belajar baik aspek pengetahuan (kognitif), nilai dan sikap (afektif) maupun aspek keterampilan (psikomotorik).

c. Merumuskan Rencana Tindakan

Berdasarkan analisis masalah tersebut, kemudian peneliti bersama dengan guru yang bersangkutan merumuskan dan mempersiapkan rencana tindakan, sebagai berikut:

(1)    Merumuskan dan mempersiapkan rencana pembelajaran (Lampiran 2).

(2)    Mengembangkan dan mempersiapkan media gambar yang diperlukan dalam kegiatan proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi/bahan pelajaran yang diberikan dan karakteristik psikologis siswa (Lampiran 3).

(3)    Mengembangkan dan mempersiapkan “Lembar Kerja Siswa” (LKS) yang diperlukan bagi siswa sebagai bahan dan sarana belajar (Lampiran 4).

(4)    Merumuskan dan mempersiapkan instrumen penilaian sebagai bahan evaluasi, seperti: lembar soal pre test (tes awal pra-tindakan), lembar soal post test (tes akhir pembelajaran/tes formatif), dan lembar observasi untuk penilaian terhadap proses pembelajaran yang dilakukan guru, maupun penilaian terhadap kegiatan belajar siswa (lihat Lampiran 5, 6, 7, dan Lampiran 8).

(5)    Menetapkan dan mempersiapkan standar/kriteria penilaian tentang pencapaian keberhasilan tindakan yang meliputi: (a) standar/kriteria penilaian terhadap proses pelaksanaan/pembelajaran, dan (b) standar/kriteria penilaian terhadap kemajuan hasil belajar siswa.

(6)    Menyusun dan mempersiapkan rencana jadwal pelaksanaan tindakan.

2. Pelaksanaan Tindakan

Tahap ini merupakan pelaksanaan dari rencana tindakan yang telah ditetapkan. Tindakan yang dilaksanakan adalah rencana tindakan yang dirancang untuk tindakan bersiklus. Artinya, ada kemungkinan tindakan yang akan dilaksanakan lebih dari satu siklus.

Tiap siklus dalam tindakan dilaksanakan untuk satu kali tatap muka yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu (a) kegiatan awal, (b) kegiatan inti, dan (c) kegiatan akhir. Penjelasan dimaksud sebagai berikut:

a. Kegiatan Awal

Kegiatan ini merupakan kegiatan sebelum diberikan/dilakukan tindakan (pra tindakan) yang meliputi:

(1) melakukan presensi kehadiran siswa

(2) melakukan “pre test” kepada siswa dengan menggunakan lembar tes dalam bentuk tertulis.

(3) membuka pelajaran

(4) menyampaikan topik/tema pokok bahasan yang akan dipelajari

(5) menjelaskan secara singkat tentang tujuan pembelajaran (tujuan khusus yang hendak dicapai)

(6) menyampaikan apersepsi secara singkat

b. Kegiatan Inti

Kegiatan inti merupakan inti pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran PPKn dengan topik/tema pokok bahasan yang telah ditetapkan. Kegiatan inti dimaksud meliputi:

(1) menjelaskan secara singkat pokok-pokok materi pelajaran sesuai dengan topik/ tema dengan menggunakan media gambar

(2) memberi tugas kepada siswa untuk latihan mengerjakan soal-soal dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) dengan menggunakan media gambar

(3) proses aktivitas belajar siswa

(4) memberikan bimbingan belajar kepada siswa

(5) melakukan tanya jawab antara guru dengan siswa maupun antar siswa

3. Kegiatan Akhir

(1) menyampaikan secara singkat kesimpulan bahan pelajaran yang diberikan

(2) melakukan “post test” kepada siswa dengan menggunakan lembar tes dalam bentuk tes tertulis (tes formatif)

(3) memberikan tindak lanjut kepada siswa

(4) menutup pelajaran (mengakhiri pembelajaran)

3. Observasi (pengamatan)

Observasi merupakan rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan tindakan, dengan tujuan untuk melakukan penilaian terhadap proses pelaksanaan pembelajaran PPKn yang dilakukan guru, dan penilaian terhadap proses kegiatan belajar siswa.

Penilaian tersebut dilakukan secara kolaborasi (kerja sama) antara peneliti dengan guru yang bersangkutan melalui pengamatan secara langsung selama proses belajar berlangsung. Instrumen pengumpulan data yang dipergunakan untuk kegiatan penilaian tersebut adalah dalam bentuk lembar observasi (pengamatan) yang telah dipersiapkan.

Secara teknis penilaian melalui pengamatan terhadap proses pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh peneliti, sedangkan penilaian terhadap proses legiatan belajar siswa dilakukan oleh guru yang bersangkutan. Dengan demikian hasil penilaian tersebut akan lebih objektif dan komprehensif tentang data kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan data kegiatan belajar siswa yang dapat dikumpulkan mulai awal sampai dengan akhir tindakan (akhir pembelajaran).

Hasil penilaian yang dikumpulkan dari observasi (pengamatan) tersebut sebagai bahan evaluasi bersama antara peneliti dengan guru yang bersangkutan pada tahap refleksi.

4. Refleksi

Refleksi merupakan tahap akhir dari tindakan yang direncanakan, dengan tujuan melakukan evaluasi (penilaian) secara keseluruhan tentang pencapaian keberhasilan tindakan.

Instrumen yang dipergunakan sebagai bahan untuk melakukan evaluasi pada tahap refleksi ini adalah data-data yang dikumpulkan dari hasil tes soal yang dikerjakan siswa (hasil pre test dan hasil post test) dan data-data yang dikumpulkan dari hasil penilaian melalui observasi (pengamatan).

Kegiatan refleksi ini dilakukan secara kolaborasi antara peneliti dengan guru yang bersangkutan. Hasil evaluasi tersebut selanjutnya sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan tindak lanjut berikutnya.

 

 

E. Rencana Jadwal Pelaksanaan Tindakan

Penelitian tindakan ini dilaksanakan dari bulan Januari sampai dengan Maret 2006 yang dirumuskan dalam bentuk rencana jadwal pelaksanaan tindakan. Adapun rencana jadwal pelaksanaan tindakan dimaksud dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut ini.

Tabel 3.1 Rencana/Jadwal Tindakan (Tahun 2006) *)

 

No

Waktu Pelaksanaan

Jenis Kegiatan

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

1.

Persiapan:                
a. Pembuatan proposal                
b. Pengurusan ijin                
c. Observasi pendahuluan                
d. Menyusun rencana tindakan                

e. Menyiapkan alat-alat keperluan tindakan

               

2.

Pelaksanaan Tindakan:                

3.

Pembuatan laporan hasil penelitian dan konsultasi dengan pembimbing

               

4.

Perbaikan (revisi) laporan hasil penelitian

               

5.

Penggandaan laporan hasil penelitian dan presentasi dalam ujian

               

*) Bersifat tentatif dan disesuaikan sebagaimana mestinya

 

F. Teknik Pengumpulan Data

1. Data Penelitian

            Berdasarkan rumusan masalah atau sesuai dengan fokus perhatian dalam penelitian ini, maka data-data yang akan dikumpulkan adalah data-data yang terdiri dari:

  1. Data hasil belajar siswa yang meliputi: (1) hasil belajar sebelum diberikannya tindakan (pra tindakan), dan (2) hasil belajar setelah diberikannya tindakan atau dampak dari hasil tindakan (pasca tindakan).
  2. Data penilaian proses pelaksanaan tindakan melalui pengamatan (observasi) yang meliputi: (1) proses pelaksanaan pembelajaran PPKn yang dilaksanakan guru, dan (2) proses kegiatan belajar siswa.

2. Teknik Pengumpulan Data

Sesuai dengan data penelitian tersebut, maka teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah tes dan observasi. Teknik tes adalah suatu cara untuk mengetahui penguasaan pengetahuan dan kemampuan dasar siswa tentang nilai-nilai moral dan sikap pada mata pelajaran PPKn kelas III, sebelum dan sesudah diberikannya tindakan dalam kegiatan proses belajar mengajar di SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Sedangkan teknik observasi atau pengamatan dipergunakan dengan tujuan adalah untuk mengumpulkan data hasil penilaian tentang proses pelaksanaan tindakan yaitu proses pelaksanaan pembelajaran PPKn yang dilaksanakan guru dan proses kegiatan belajar siswa.

3. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Untuk memudahkan dan kelancaran pelaksanaan pengumpulan data penelitian, maka dalam hal ini peneliti perlu membuat kisi-kisi instrumen penelitian yang menunjukkan kaitan antara data penelitian atau data yang akan dikumpulkan, sumber data, teknik pengumpulan data yang dipergunakan, dan instrumen yang disusun.

Adapun kisi-kisi instrumen penelitian dimaksud dapat disajikan dalam Tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penelitian

Data Penelitian

Sumber Data

Teknik Pengumpulan Data

Instrumen

Jumlah Butir Soal

No. Butir Soal

1. Data hasil belajar siswa:

1.1  Sebelum tindakan (pra tindakan)

1.2  Sesudah tindakan (pasca tindakan)

Siswa

Siswa

Tes soal

Tes soal

Lembar soal pre test

Lembar soal post test

10

10

1,2,3,4,5

6,7,8,9,10

1,2,3,4,5

6,7,8,9,10

2. Data penilaian proses pelaksanaan tindakan:

2.1  Proses pelaksanaan pembela-jaran PPKn

2.2  Proses kegiatan belajar siswa

Guru

Siswa

Observasi

Observasi

Format observasi

Format observasi

20

10

1,2,3,4,5

6,7,8,9,10

11,12,13,14,15

16,17,18,19,20

1,2,3,4,5

6,7,8,9,10

            Berdasarkan kisi-kisi instrumen penelitian di atas, kemudian peneliti bersama dengan guru yang bersangkutan (secara kolaborasi) menyusun/ mengembangkan instrumen penelitian yang diperlukan. Dalam hal ini tidak dilakukan uji tes soal, karena soal-soal ini diambil/bersumber dari buku PPKn jilid 3 untuk SD kelas 3 yang diterbitkan oleh Erlangga Jakarta. Dengan demikian tentunya mengenai validitas dan reliabilitas soal-soal tersebut, menurut pendapat kepala sekolah dan guru mengenai hal tersebut tidak perlu diragukan. Adapun hasil pengembangan instrumen penelitian dimaksud untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam lampiran penelitian ini.

G. Indikator Keberhasilan Tindakan

Untuk mengetahui keberhasilan tindakan dalam penelitian ini, perlu ditetapkan kriteria  keberhasilan sebagai tolok ukurnya. Adapun yang menjadi indikator keberhasilan tindakan dalam pembelajaran PPKn kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang adalah adanya peningkatan prestasi belajar siswa dengan mengacu pada tujuan pembelajaran yang indikatornya menunjukkan yaitu apabila daya serap atau tingkat penguasaan seorang siswa secara perorangan (individual) mencapai minimal 70%. Sedangkan secara klasikal (kelompok), pelaksanaan tindakan dianggap berhasil, apabila persentase rata-rata kelas daya serap mencapai 70% dari jumlah siswa yang mencapai daya serap minimal 70% (Nurhakiki, 1999/2000:21).

Berdasarkan indikator keberhasilan tindakan tersebut sebagai acuan atau tolok ukur bagi peneliti bersama dengan guru bersangkutan dalam melakukan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan yang dilakukan. Indikator keberhasilan tindakan ini memberi petunjuk kepada peneliti maupun guru tentang keberhasilan dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar yang direncanakan.

H. Analisis Data

Analisis data adalah proses menyeleksi, menyederhanakan, memfokuskan, mengabstraksikan, mengorganisasikan data secara sistematis dan rasional untuk menampilkan bahan-bahan yang dapat digunakan untuk menyusun jawaban terhadap tujuan PTK (Tim Pelatih Proyek PGSM, 1999:43).

Berkenaan dengan penelitian ini, analisis data dilakukan melalui tiga tahap yaitu reduksi data, paparan data dan penyimpulan. Reduksi data adalah proses penyederhanaan yang dilakukan melalui seleksi, pemfokusan, dan pengabstraksian data mentah menjadi informasi yang bermakna. Selanjutnya melakukan paparan data yaitu merupakan proses penampilan data secara lebih sederhana dalam bentuk matriks (tabel) untuk memudahkan bagi peneliti dalam melakukan interpretasi secara naratif. Sedangkan penyimpulan merupakan proses pengambilan intisari dari sajian data yang telah dipaparkan tersebut dalam bentuk pernyataan kalimat dengan formula yang singkat dan padat tetapi mengandung pengertian luas tentang gambaran hasil pelaksanaan tindakan yang telah dilakukan.

Analisis data dalam penelitian ini disesuaikan dengan data-data yang dikumpulkan, yaitu (1) data hasil belajar siswa, dan (2) data penilaian proses pelaksanaan tindakan (proses belajar mengajar).

1. Data Hasil Belajar Siswa (Hasil Tes)

Data hasil belajar siswa yang dikumpulkan dari tes awal (pre test) dan tes akhir (post test), dianalisis untuk mengetahui tingkat penguasaan (daya serap) siswa terhadap materi/bahan pembelajaran PPKn kelas III sebelum dan sesudah diberikan tindakan oleh guru. Pemberian nilai terhadap hasil tes tersebut (pre test dan post test) adalah berdasarkan standar bobot skor yang ditetapkan. Adapun standar bobot skor dimaksud disajikan pada Tabel 3.3 berikut.

Tabel 3.3 Standar Bobot Skor Hasil Tes

Bobot Skor

Interpretasi

Nilai

1

0

Jawaban benar

Jawaban salah

1

0

            Setelah dilakukan pemberian nilai terhadap hasil tes tersebut, dilanjutkan dengan melakukan analisis data untuk mengetahui tingkat penguasaan (daya serap) siswa dengan menggunakan teknik analisis persentase (%) dengan rumus, sebagai berikut:

, atau

(Pribadi & Katrin, 2004:6.13)

(Arikunto, 2001:236).

            Hasil penghitungan tersebut, kemudian diinterpretasikan dengan menggunakan kriteria tingkat penguasaan yang dicapai dengan standar skala nilai      5 – 1 yang diadaptasi dari standar yang dirumuskan oleh Nurhakiki (1999/2000:21) seperti pada Tabel 3.4 berikut.

Tabel 3.4 Kriteria Tingkat Penguasaan (Daya Serap) Siswa

Taraf Penguasaan Kemampuan

(dalam %)

Kualitas

Nilai Huruf

Nilai Angka

85  – 100

70  -   84

55  -   69

40  -   54

       < 39

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

A

B

C

D

E

5

4

3

2

1

2. Data Penilaian Hasil Pengamatan (Observasi)

            Data penilaian ini merupakan hasil penilaian melalui pengamatan (observasi) selama berlangsungnya pelaksanaan tindakan terhadap proses pembelajaran PPKn yang dilakukan guru, dan proses kegiatan belajar siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang. Hasil penilaian melalui pengamatan (observasi) tersebut adalah dalam bentuk rentangan kategori yang bermakna nilai sesuai dengan kriteria yang dibuat peneliti bersama dengan guru bersangkutan. Dengan kata lain, penilaian terhadap proses pembelajaran PPKn dan proses kegiatan belajar siswa dilakukan dengan menggunakan skala penilaian (rating scale) yaitu skala nilai 5 – 1. artinya, kategori terhadap indikator yang diamati diberi nilai dengan rentangan mulai dari yang tertinggi sampai yang terendah. Adapun bentuk skala penilaian dimaksud disajikan pada Tabel 3.5 berikut.

Tabel 3.5 Skala Penilaian Hasil Pengamatan (Observasi)

Skala Nilai (5-1)

Kategori

Nilai Huruf

5

4

3

2

1

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

A

B

C

D

E

            Data yang diperoleh dari hasil penilaian melalui pengamatan (observasi) tersebut, kemudian dijumlahkan dan dianalisis dengan menggunakan teknik persentase. Adapun rumus teknik persentase dimaksud, yaitu:

            (Arikunto, 2001:236)

            Untuk mempermudah penafsiran terhadap hasil analisis persentase, digunakan standar taraf kemampuan dalam klasifikasi persentase yang dirumuskan oleh Nurhakiki (1999/2000:21) seperti pada Tabel 3.6 berikut:

Tabel 3.6 Standar Kemampuan dalam Klasifikasi Persentase

Taraf Kemampuan

(dalam %)

Kualitas/Kategori

Nilai Huruf

85  – 100

70  -   84

55  -   69

40  -   54

       < 39

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

A

B

C

D

E

BAB  V

PEMBAHASAN

 

            Bagian ini merupakan pembahasan dari hasil penelitian yang telah dipaparkan dalam bab IV dengan menekankan pada tujuan penelitian. Pembahasan ini didasarkan pada landasan logika realitas empiris dan teori maupun didasarkan pada penelitian lain yang relevan.

A. Hasil Belajar Siswa Sebelum Dilakukan Tindakan

Hasil belajar siswa dimaksud adalah kemampuan siswa dalam penguasaan dan pemahaman mengenai materi pokok bahasan yang akan diajarkan (sebelum tindakan/pra tindakan), yaitu “Keyakinan”. Materi pokok bahasan ini berkaitan dengan nilai dan sikap menghargai orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Dari data hasil pre test (tes awal pra tindakan) yang telah dipaparkan sebelumnya memberi gambaran tentang taraf kesiapan siswa kelas III SD negeri Sumbersari I Kota Malang untuk mengikuti proses pembelajaran PPKn sebelum diterapkannya penggunaan media gambar. Pre test merupakan suatu penilaian yang dilakukan guru sebelum dimulainya pengajaran, untuk mengetahui sejauhmana anak (siswa) memiliki persepsi tentang materi pelajaran yang akan diberikan (Sutomo, 1984:11). Sehubungan hal tersebut berdasarkan hasil pre test yang dilakukan guru pada tindakan siklus I dapat diketahui sejauhmana pengetahuan atau pengalaman yang dimiliki siswa berkenaan dengan materi pelajaran yang akan diberikan. Hal ini dapat diungkap dari distribusi frekuensi pencapaian persentase taraf penguasaan siswa berdasarkan nilai hasil pre test sebagaimana dideskripsikan pada Tabel 5.1 berikut.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Taraf Penguasaan Siswa Terhadap Materi Pelajaran PPKn Berdasarkan Hasil Pre Test (Tes Awal Pra Tindakan) Pada Tindakan Siklus I

 

Taraf Penguasaan (dalam %)

Jumlah

Interpretasi Nilai

Frekuensi (f)

Persentase (%)

85 – 100

70 – 84

55 – 69

40 – 54

0 – 39

-

8

8

5

-

-

38,10

38,10

23,80

-

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

Jumlah

21

100

 

 

Dari data di atas dapat dikemukakan bahwa dari 21 siswa ternyata terdapat 8 siswa (38,10%) berada pada taraf penguasaan (daya serap) antara 70 – 84%. Berikutnya terdapat 8 siswa (38,10%) berada pada taraf penguasaan (daya serap) antara 55 – 69%. Sedangkan jumlah siswa yang berada pada taraf penguasaan (daya serap) antara 40 – 54% adalah sebanyak 5 siswa (23,80%).

Hasil pre test pada pra tindakan di atas dapat diketahui bahwa sebagian siswa (38,10%) sudah mengetahui atau mengenal tentang sikap menghargai orang lain dengan baik. Sedangkan sebagian siswa lainnya (61,90%) belum mengetahui atau mengenal dengan baik tentang sikap menghargai orang lain.

Dilihat dari rata-rata taraf penguasaan kelas berdasar hasil pre test (tes awal pra tindakan) secara persentase adalah 62,38%. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan penguasaan (daya serap) siswa sebelum dilakukan tindakan berkenaan dengan materi pelajaran PPKn adalah tergolong pada kategori “Cukup”.

Dari hasil pre test tersebut, maka guru dapat menentukan strategi pembelajaran dan langkah-langkah kegiatan proses belajar mengajar secara tepat sebelum dilakukan tindakan dengan diterapkannya penggunaan media gambar.

 

B. Hasil Belajar Siswa Setelah Dilakukan Tindakan

Mengenai hasil belajar siswa setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II dalam pembelajaran PPKn pada materi pokok bahasan “Keyakinan” dengan penerapan penggunaan media gambar dapat diungkap dari hasil post test (tes akhir pembelajaran/pasca tindakan) dengan membandingkan hasil pre test (tes awal pra tindakan). Hasil post test tersebut didasarkan pada persentase taraf penguasaan siswa sebagaimana deskripsi data pada Tabel 5.2 berikut.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Taraf Penguasaan Hasil Belajar Siswa Berdasarkan Hasil Pre Test (Pra Tindakan) dan Hasil Post Test (Tindakan Siklus I dan Siklus II) Dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang

Taraf Penguasaan (dalam %)

Pre Test Pra Tindakan

Post Test

Tindakan Siklus I

Post Test

Tindakan Siklus II

Interpre-tasi

Nilai

Frekuensi

(f)

Persentase

(%)

Frekuensi

(f)

Persentase

(%)

Frekuensi

(f)

Persentase

(%)

85  – 100

70  –   84

55  –   69

40  –   54

  0  –   39

-

8

8

5

-

-

38,10

38,10

23,80

-

-

11

7

3

-

-

52,38

33,33

14,29

-

5

12

4

-

-

23,81

57,14

19,05

Sangat Baik

Baik

Cukup

Kurang

Sangat Kurang

Jumlah

21

100

21

100

21

100

            Dari data di atas dapat diketahui taraf penguasaan hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn dengan membandingkan hasil post test setelah dilakukan tindakan pada siklus I dan siklus II (tes formatif pasca tindakan) dengan hasil pre test (tes awal pra tindakan), sebagai berikut:

1. Tindakan Siklus I

Setelah dilakukan tindakan pembelajaran dengan diterapkannya penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada siklus I, dari hasil post test  menunjukkan bahwa ada peningkatan taraf penguasaan hasil belajar siswa. Hal ini dapat diketahui dengan membandingkan hasil pre test sebelumnya.

Pada tindakan siklus I dari hasil post test menunjukkan bahwa, jumlah siswa yang mencapai batas minimal taraf penguasaan yang ditetapkan yaitu sebanyak 11 siswa (52,38%) dengan taraf penguasaan antara 70 – 84%. Sedangkan dari hasil pre test (tes awal pra tindakan) adalah sebanyak 8 siswa (38,10%). Berikutnya jumlah siswa yang menunjukkan belum mencapai batas minimal taraf penguasaan yang ditetapkan, dari hasil post test pada tindakan siklus I adalah sebanyak 10 siswa (47,62%) terdiri dari 7 siswa (33,33%) dengan taraf penguasaan antara 55 – 69% dan 3 siswa (14,29%) dengan taraf penguasaan antara 40 – 54%. Sedangkan dari hasil pre test, jumlah siswa yang menunjukkan taraf penguasaan terhadap materi pelajaran di bawah batas minimal yang ditetapkan adalah sebanyak 13 siswa (61,90%) terdiri dari 8 siswa (38,10%) dengan taraf penguasaan antara 55 – 69% dan 5 siswa (23,80%) dengan taraf penguasaan antara 40 – 54%.

Kenyataan hasil pre test (tes awal pra tindakan) dan hasil post test pada tindakan siklus I di atas menunjukkan bahwa ada peningkatan hasil belajar siswa terhadap penguasaan materi pelajaran PPKn, yaitu pada tindakan siklus I terdapat 11 siswa (52,38%) sudah mengetahui dengan baik tentang sikap menghargai orang lain, berarti meningkat dari sebelumnya, yaitu dari 8 siswa (38,10%) meningkat menjadi 11 siswa (52,38%). Pada tindakan siklus I ternyata masih terdapat 10 siswa (47,62%) belum mengetahui dengan baik tentang sikap menghargai orang lain.

Dilihat dari rata-rata kelas taraf penguasaan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran PPKn pada tindakan siklus I secara persentase mengalami peningkatan dari sebelumnya (hasil pre test) sebesar 3,81%, yaitu dari 62,38% meningkat menjadi 66,19%. Rata-rata kelas taraf penguasaan hasil belajar siswa pada tindakan siklus I tersebut adalah tergolong pada kategori “Cukup”. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan tindakan siklus I belum mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran yang diharapkan. Indikasi hal ini dibuktikan dengan rata-rata kelas taraf penguasaan hasil belajar siswa pada tindakan siklus I adalah 66,19% berada pada kategori “Cukup”. Berarti taraf penguasaan rata-rata kelas terhadap materi pelajaran yang diberikan guru dengan diterapkan penggunaan media gambar adalah belum mencapai batas minimal taraf penguasaan hasil belajar siswa yang ditetapkan yaitu 70% (kategori “Baik”).

2. Tindakan Siklus II

Dari data pada Tabel 5.2 di atas menggambarkan bahwa taraf penguasaan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran PPKn setelah diterapkan penggunaan media gambar dan perbaikan dalam strategi pembelajaran yang dilakukan guru pada tindakan siklus II ternyata mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar yang dicapai pada siklus I.

Indikasi hal tersebut terungkap dari hasil post test pada tindakan siklus II di mana tampak meningkatnya frekuensi jumlah siswa yang mencapai batas minimal taraf penguasaan hasil belajar yang ditetapkan, yaitu sebanyak 17 siswa (80,95%) terdiri dari 5 siswa (23,81%) tergolong pada kategori “Sangat Baik” dengan taraf penguasaan antara 85 – 100% dan 12 siswa (57,14%) tergolong pada kategori “Baik” dengan taraf penguasaan 70 – 84%. Sedangkan pada tindakan siklus I jumlah siswa yang mencapai batas minimal taraf penguasaan hasil belajar yang ditetapkan adalah sebanyak 11 siswa (52,38%) tergolong pada kategori “Baik” dengan taraf penguasaan antara 70 – 84%. Pada tindakan siklus I tidak ada seorangpun siswa yang mencapai taraf penguasaan pada kategori “Sangat Baik”. Dibandingkan dengan hasil pre test (tes awal pra tindakan) bahwa jumlah siswa yang mencapai batas minimal taraf penguasaan hasil belajar adalah sebanyak 8 siswa (38,10%) tergolong pada kategori “Baik” dengan taraf penguasaan antara   70 – 84%.

Bahkan pada tindakan siklus II terjadi penurunan yang belum mencapai batas minimal taraf penguasaan hasil belajar yang ditetapkan yaitu sebanyak 4 siswa (19,05%) tergolong pada kategori “Cukup” dengan taraf penguasaan antara 55 – 69%. Sedangkan pada tindakan siklus I adalah sebanyak 10 siswa (47,62%) terdiri dari 7 siswa (33,33%) tergolong pada kategori “Cukup” dengan taraf penguasaan antara 55 – 69%, dan 3 siswa (14,29%) tergolong pada kategori “Kurang” dengan taraf penguasaan antara 40 – 54%. Pada pre test (tes awal pra tindakan) jumlah siswa yang menunjukkan taraf penguasaan hasil belajar di bawah batas minimal yang ditetapkan tersebut adalah sebanyak 13 siswa (61,90%) terdiri dari 8 siswa (38,10%) tergolong pada kategori “Cukup” dengan taraf penguasaan antara 55 – 69%, dan 5 siswa (23,80%) tergolong pada kategori “Kurang” dengan taraf penguasaan antara 40 – 54%.

Dilihat dari persentase rata-rata kelas taraf penguasaan hasil belajar siswa terhadap materi pelajaran PPKn pada tindakan siklus II dengan membandingkan hasil post test pada tindakan siklus I bahwa terjadi peningkatan 9,52%, yaitu dari 66,19% pada kategori “Cukup”  meningkat menjadi 75,71% pada kategori “Baik”. Sedangkan jika dibandingkan dari hasil pre test (tes awal pra tindakan) bahwa rata-rata kelas taraf penguasaan hasil belajar siswa pada tindakan siklus II mengalami peningkatan 13,33%, yaitu dari 62,38% pada kategori “Cukup” meningkat menjadi 75,71% pada kategori “Baik”.

Berdasarkan hasil penilaian dari post test (tes formatif pasca tindakan) siklus I dan siklus II tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa proses pembelajaran PPKn dengan diterapkan penggunaan media gambar mampu meningkatkan persentase rata-rata kelas taraf penguasaan hasil belajar siswa ke arah yang lebih baik yaitu dari kategori “Cukup” meningkat menjadi kategori “Baik”.

Hasil penilaian tersebut dapat dibuktikan dari kenyataan perubahan pencapaian nilai dan taraf penguasaan daya serap hasil belajar masing-masing individu siswa berdasarkan peringkat nilai dan daya serap yang dicapai dari hasil pre test (tes awal pra tindakan) dan hasil post test (tes formatif pasca tindakan) siklus I serta siklus II. Sehubungan hal itu, maka perlu dilakukan perbandingna  antara peringkat nilai hasil pre test dengan nilai hasil post test pada tindakan siklus I dan siklus II, lebih lanjut mengenai hal ini dapat dideskripsikan pada Tabel 5.3 berikut.

Tabel 5.3 Perbandingan Distribusi Frekuensi Nilai Hasil Pre Test (Tes Awal Pra Tindakan) Dengan Nilai Hasil Post Test (Tes Formatif Pasca Tindakan Siklus I & Siklus II) Dalam Pembelajaran PPKn Kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang

 

Nilai (Skala 1 – 10)

Daya Serap (%)

Pra Tindakan *)

Tindakan

Siklus I **)

Tindakan

Siklus II **)

Frek. (f)

Pers. (%)

Frek. (f)

Pers. (%)

Frek. (f)

Pers. (%)

10

9

8

7

6

5

4

3

2

1

100

90

80

70

60

50

40

30

20

10

-

-

4

4

8

3

2

-

-

-

-

-

19,05

19,05

38,10

14,29

9,51

-

-

-

-

-

5

6

7

3

-

-

-

-

-

-

23,81

28,57

33,33

14,29

-

-

-

-

-

5

6

6

4

-

-

-

-

-

-

23,81

28,57

28,57

19,05

Jumlah

21

100

21

100

21

100

Keterangan:

*) Hasil pre test (tes awal pra tindakan)

**) Hasil post test (tes formatif pasca tindakan)

Memperhatikan data pada Tabel 5.3 di atas dapat diungkap bahwa setelah diterapkan penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn ternyata memberikan dampak (implikasi) terhadap meningkatnya kemampuan hasil belajar siswa. Hal ini dapat diketahui dari membandingkan hasil pre test (tes awal pra tindakan dengan hasil post test (tes formatif pasca tindakan) yang dilaksanakan pada tindakan siklus I dan siklus II.

Dari hasil pre test (tes awal pra tindakan) diperoleh hasil yaitu dari 21 siswa terdapat 4 siswa (19,05%) yang memperoleh nilai 8 dengan taraf penguasaan daya serap 80%. Berarti siswa ini sebelum diberikan tindakan telah memiliki pengetahuan yang tergolong pada kategori “Baik” berkenaan dengan materi pelajaran PPKn yang akan diberikan guru. Berikutnya terdapat 4 siswa (19,05%) memperoleh nilai 7 dengan taraf penguasaan daya serap 70% tergolong pada kategori “Baik”. Adapun jumlah siswa yang menunjukkan pada kategori “Cukup” adalah sebanyak 8 siswa (38,10%) memperoleh nilai 6 dengan taraf penguasaan daya serap 60%. Sedangkan jumlah siswa yang tergolong pada kategori “Kurang” adalah sebanyak 5 siswa (23,80%) yaitu 3 siswa (14,29%) memperoleh nilai 5 dengan taraf penguasaan daya serap 50%, dan 2 siswa (9,51%) memperoleh nilai 4 dengan taraf penguasaan daya serap 40%.

Dengan demikian dari hasil pre test (tes awal pra tindakan) dapat diketahui bahwa sebagian siswa (28,10%) sudah mengetahui atau mengenal tentang sikap menghargai orang lain dengan baik. Sedangkan sebagian siswa lainnya (61,90%) belum mengetahui atau mengenal dengan baik tentang sikap menghargai orang lain,

Setelah dilakukan tindakan pembelajaran dalam pelajaran PPKn pada siklus I dengan diterapkan penggunaan media gambar dari hasil post test (tes formatif pasca tindakan) ternyata terungkap bahwa telah terjadi perubahan pencapaian nilai dan kemampuan taraf penguasaan daya serap siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan guru. Hal ini dibuktikan dari penilaian hasil post test pada tindakan siklus I, yaitu dari 21 siswa ternyata jumlah siswa yang memperoleh nilai 8 dengan taraf penguasaan daya serap 80% tergolong pada kategori “Baik” adalah sebanyak 5 siswa (23,81%). Berarti ada peningkatan dari hasil pre test (tes awal pra tindakan) sebelumnya yaitu dari sebanyak 4 siswa (19,05%) meningkat menjadi 5 siswa (23,81%). Berikutnya terdapat 6 siswa (28,57%) memperoleh nilai 7 dengan taraf penguasaan daya serap 70% tergolong pada kategori “Baik”. Hal ini menunjukkan ada peningkatan dari hasil pre test, yaitu dari sebanyak 4 siswa (19,05%) meningkat menjadi 6 siswa (28,57%). Sedangkan jumlah siswa yang memperoleh nilai nilai 6 dengan taraf penguasaan 60% tergolong pada kategori “Cukup” pada tindakan siklus I ada penurunan atau semakin berkurang dari hasil pre test sebelumnya, yaitu dari 8 siswa (38,10%) berkurang menjadi 7 siswa (33,33%). Begitu juga jumlah siswa yang tergolong pada kategori “Kurang” dari hasil pre test yaitu terdiri dari 3 siswa (14,29%) memperoleh nilai 5 dengan taraf penguasaan daya serap 50% dan 2 siswa (9,51%) memperoleh nilai 4 dengan taraf penguasaan daya serap 40%, ternyata setelah dilakukan tindakan pembelajaran pada siklus I semakin berkurang, yakni terdapat 3 siswa (14,29%) memperoleh nilai 5 dengan taraf penguasaan daya serap 50%.

Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa pada tindakan siklus I jumlah siswa yang memenuhi kriteria batas minimal 70% taraf penguasaan daya serap yang diharapkan adalah sebanyak 11 siswa (52,38%) dengan taraf penguasaan daya serap 70% ke atas. Berarti pada tindakan siklus I dari hasil post test terdapat 11 siswa (52,38%) sudah mengetahui dengan baik tentang sikap menghargai orang lain dalam pembelajaran PPKn. Sedangkan siswa lainnya yaitu 10 siswa (47,62%) belum mengetahui dengan baik tentang sikap menghargai orang lain dalam pembelajaran PPKn.

Dilihat dari hasil post test bahwa nilai rata-rata hasil belajar siswa pada tindakan siklus I ternyata mengalami peningkatan dari nilai rata-rata hasil pre test, yaitu dari nilai 6 dengan taraf penguasaan daya serap 62,38% meningkat menjadi nilai 7 dengan taraf penguasaan daya serap 66,19%.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn mengenai pokok bahasan “Keyakinan” pada tindakan siklus I adalah memberikan dampak (implikasi) terhadap perubahan pencapaian nilai dan kemampuan penguasaan (daya serap) bagi siswa.

Pada tindakan siklus II pencapaian nilai dan kemampuan penguasaan (daya serap) siswa terhadap materi pelajaran PPKn mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dibanding dari hasil penilaian post test pada tindakan sebelumnya (siklus I). Setelah dilakukan perbaikan strategi pembelajaran oleh guru dalam pembelajaran PPKn dengan diterapkan penggunaan media gambar pada tindakan siklus II dari hasil post test terungkap bahwa dari 21 siswa ternyata terdapat 5 siswa (23,81%) memperoleh nilai 9 dengan taraf penguasaan daya serap 90% tergolong pada kategori “Sangat Baik”. Sedangkan pada tindakan siklus I tidak ada seorangpun siswa yang memperoleh nilai 9. Berikutnya pada tindakan siklus II terdapat 6 siswa (28,57%) memperoleh nilai 8 dengan taraf penguasaan daya serap 80% tergolong pada kategori “Baik”. Berarti menunjukkan ada peningkatan dari sebelumnya, yaitu dari 5 siswa (23,81%) meningkat menjadi 6 siswa (28,57%). Jumlah siswa yang memperoleh nilai 7 dengan taraf penguasaan daya serap 70% tergolong pada kategori “Baik” pada tindakan siklus II terdapat sebanyak 6 siswa (28,57%). Sedangkan sebelumnya (pada siklus I) terdapat 6 siswa (28,57%). Berarti menunjukkan bahwa jumlah siswa yang memperoleh nilai 7 pada tindakan siklus II tidak mengalami perubahan atau dapat dikatakan kondisinya sama dengan hasil pada tindakan siklus I. Selanjutnya jumlah siswa yang memperoleh nilai 6 dengan taraf penguasaan daya serap 60% tergolong pada kategori “Cukup” pada tindakan siklus II terdapat sebanyak 4 siswa (19,05%). Sedangkan sebelumnya (siklus I) terdapat 7 siswa (33,33%) memperoleh nilai 6 dengan taraf penguasaan daya serap 60% tergolong pada kategori “Cukup”, dan bahkan terdapat 3 siswa (14,29%) memperoleh nilai 5 dengan taraf penguasaan daya serap 50% tergolong pada kategori “Kurang”. Berarti menunjukkan bahwa jumlah siswa yang tergolong pada kategori “Cukup” dari siklus I semakin berkurang jumlahnya pada tindakan siklus II. Selain itu pada tindakan siklus II sudah tidak ada siswa yang memperoleh nilai 5.

Berdasarkan kenyataan tersebut menunjukkan bahwa penggunaan media gambar dengan disertai perbaikan strategi pembelajaran yang dilakukan guru dalam pembelajaran PPKn mengenai pokok bahasan “Keyakinan” pada tindakan siklus II adalah memberikan dampak (implikasi) terdapat perubahan pencapaian nilai dan kemampuan penguasaan (daya serap) bagi siswa ke arah yang lebih baik.

Secara keseluruhan dari hasil post test dalam dua siklus tindakan (siklus I dan siklus II) dapat diketahui bahwa dari 12 siswa ternyata sebagian besar siswa (80,95%) sudah mengetahui atau mengenal dengan baik tentang sikap menghargai orang lain dalam pembelajaran PPKn dengan penggunaan media gambar. Sedangkan sebagian kecil siswa (19,05%) ternyata belum mengetahui atau mengenal dengan baik tentang sikap menghargai orang lain dalam pembelajaran PPKn. Hal ini disebabkan, karena di antara siswa tersebut, yaitu 2 siswa (9,52%) mengalami gangguan perkembangan sehingga berakibat tidak dapat berkomuni-kasi dan tidak dapat mengekspresikan perasaan dan keinginannya dengan baik (menderita autis). Berikutnya 2 siswa (9,52%) mengalami persoalan khusus untuk maju dalam ukuran yang normal, sehingga siswa ini mengalami kesukaran untuk mempelajari suatu konsep dasar dan kecakapan tertentu dalam aktivitas belajar.

C. Peningkatan Aktivitas Belajar Siswa

Berdasarkan hasil penelitian di atas dapat diketahui bahwa penerapan penggunaan media gambar dalam proses pembelajaran PPKn mengenai pokok bahasan “Keyakinan” tentang sikap menghargai orang lain melalui pelaksanaan dua siklus tindakan (siklus I dan siklus II), kenyataannya dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Hal ini terungkap dari pencapaian nilai dan kemampuan penguasaan (daya serap) siswa terhadap materi pelajaran PPKn yang diberikan oleh guru, sebelum dan setelah diterapkan penggunaan media gambar sebagaimana telah dikemukakan di atas.

Pada kenyataannya kemampuan hasil belajar siswa berdasarkan pencapaian nilai rata-rata kelas dari hasil penilaian pre test (tes awal pra tindakan) dan hasil penilaian post test (tes formatif pasca tindakan) pada siklus I dan siklus II menunjukkan ada peningkatan ke arah yang lebih baik. Hal ini dapat diketahui dari hasil post test pada tindakan siklus I, yaitu nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa adalah 7 dengan taraf penguasaan daya serap 66,19%. Sedangkan sebelumnya (hasil pre test) bahwa nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa adalah 6 dengan taraf penguasaan daya serap 62,38%. Berarti aktivitas belajar siswa berdasarkan pencapaian taraf penguasaan daya serap pada tindakan siklus I secara persentase mengalami peningkatan sebesar 3,81%, yaitu dari 62,38% meningkat menjadi 66,19% tergolong pada kategori “Cukup”. Selanjutnya pada tindakan siklus II di mana nilai rata-rata kelas yang dicapai adalah 7,5 dengan taraf penguasaan daya serap sebesar 75,71% tergolong ada kategori “Baik”. Berarti aktivitas hasil belajar siswa berdasarkan pencapaian taraf penguasaan daya serap pada tindakan siklus II secara persentase mengalami peningkatan sebesar 9,52% dari sebelumnya (siklus I), yaitu dari 66,19% tergolong pada kategori “Cukup” meningkat menjadi 75,71% tergolong pada kategori “Baik”.

Secara keseluruhan dari pelaksanaan tindakan dengan dua siklus tersebut (siklus I dan siklus II) menunjukkan ada peningkatan terhadap aktivitas hasil belajar siswa dari sebelumnya (pra tindakan) sebesar 13,33%, yaitu dari 62,38% (hasil pre test pra tindakan) meningkat menjadi 75,71% (hasil post test pasca tindakan).

Dari uraian di atas mengindikasikan bahwa dengan menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran PPKn melalui pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II pada kenyataannya dapat meningkatkan aktivitas hasil belajar siswa mengenai materi pokok bahasan yang diberikan. Hal ini membuktikan bahwa dengan menggunakan media gambar dalam proses pembelajaran PPKn selain memudahkan dan membantu bagi guru dalam kelancaran pelaksanaan kegiatan proses belajar mengajar, juga memudahkan dan membantu bagi siswa dalam penguasaan dan pemahaman terhadap materi/bahan pelajaran yang sedang dipelajari.

D. Kemampuan Proses Pembelajaran

Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran PPKn tidak hanya menekankan pada peningkatan kemampuan hasil belajar siswa dari hasil tes, melainkan juga menekankan pada sejauhmana kemampuan guru dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar sebagai upaya mengoptimalisasikan proses kegiatan belajar siswa. Dengan mengoptimalisasikan proses kegiatan belajar siswa diharapkan dapat mengembangkan atau meningkatkan efektivitas belajar, minat belajar, dan sikap siswa yang positif terhaap materi/bahan pelajaran yang sedang dipelajarinya.

Untuk memperoleh gambaran sampai sejauhmana kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar mengenai materi pokok bahasan yang diajarkan, dan kemampuan siswa dalam proses kegiatan belajarnya dapat dilihat dari hasil penelitian.

1. Kemampuan Guru dalam Proses Pembelajaran

Berdasarkan data dari hasil penelitian melalui observasi (pengamatan) selama berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar pada pelaksanaan tindakan siklus I dan siklus II, bahwa pada kenyataannya kemampuan guru dalam proses pembelajaran tersebut mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini terungkap dari hasil penilaian observasi berdasarkan pencapaian persentase kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran PPKn pada tindakan siklus I dan siklus II, yaitu dari 62% meningkat menjadi 73%. Berarti menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar mengenai materi pokok bahasan yang disampaikan kepada siswa pada kenyataannya mengalami peningkatan dari kategori “Cukup” menjadi kategori “Baik”.

Pada dasarnya kegiatan proses pembelajaran PPKn yang dilakukan guru pada tindakan siklus I dan siklus II adalah berdasarkan struktur program yang telah ditetapkan dalam rencana pembelajaran. Pelaksanaan proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar dilaksanakan dalam 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan kegiatan akhir. Pada tindakan siklus I di mana upaya guru untuk mengoptimalkan penggunaan media gambar dalam kegiatan proses belajar mengajar berkaitan mengenai materi pokok bahasan yang disampaikan ternyata hasilnya belum maksimal sesuai dengan yang diharapkan, yaitu pada taraf “Cukup”. Setelah dilakukan perbaikan dan penyempurnaan berkaitan dengan strategi pembelajaran dalam rencana pembelajaran pada pelaksanaan tindakan siklus II, ternyata kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik sesuai dengan yang diharapkan.

2. Kemampuan Proses Kegiatan Belajar Siswa

Kemampuan dan keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar pada tindakan siklus I dan siklus II akan memberikan dampak atau implikasi terhadap kemampuan siswa dalam proses kegiatan belajarnya. Hal ini dibuktikan dari hasil penelitian, bahwa tindakan pembelajaran yang dilakukan guru pada siklus I dan siklus II ternyata memberikan implikasi terhadap kemampuan proses kegiatan belajar siswa dalam pembelajaran PPKn dengan menggunakan media gambar yaitu dari penilaian kategori “Cukup” menjadi kategori “Baik”.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan menggunakan media gambar dan penerapan strategi pembelajaran yang tepat oleh guru dapat meningkatkan kemampuan sikap dan keterampilan siswa dalam proses kegiatan belajar sesuai dengan yang diharapkan. Indikasi meningkatnya kemampuan sikap dan keterampilan siswa dalam proses kegiatan belajar tersebut dapat dilihat dari gejala-gejala yang tampak selama berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar, yaitu (1) perhatian dan minat belajar, (2) kemampuan menggunakan media gambar dalam proses belajar, (3) interaksi antar siswa dalam proses belajar, (4) kebersamaan antar siswa dalam proses belajar, (5) kreativitas siswa dalam proses belajar, (6) daya kritis siswa terhadap bahan pelajaran yang sedang dipelajari, (7) kemampuan mengemukakan pendapat terhadap bahan pelajaran yang sedang dipelajari, (8) kemampuan berkomunikasi dalam menyampaikan pendapat antara siswa, (9) kemampuan menghargai pendapat orang lain, dan (10)  kemampuan menyimpulkan bahan pelajaran yang dipelajari.

 

 

BAB  VI

PENUTUP

 

            Bertolak dari hasil penelitian dan pembahasan, maka peneliti dapat menarik kesimpulan dan saran-saran sebagai berikut:

A. Kesimpulan

Sesuai dengan rumusan masalah, maka temuan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang sebelum diterapkannya penggunaan media gambar yaitu pada tindakan siklus I berdasarkan penilaian hasil pre test (tes awal pra tindakan) bahwa nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa adalah 6 dengan taraf penguasaaan (daya serap) terhadap materi pelajaran sebesar 62,38% tergolong pada kategori “Cukup”.
  2. Hasil belajar siswa dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang setelah diterapkannya penggunaan media gambar, yaitu pada tindakan siklus I kemampuan hasil belajar siswa berdasarkan hasil penilaian post test (tes formatif pasca tindakan) bahwa pencapaian nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa adalah 7 dengan taraf penguasaan (daya serap) terhadap materi pelajaran sebesar 66,19% tergolong pada kategori “Cukup”. Selanjutnya pada tindakan siklus II kemampuan hasil belajar siswa berdasarkan hasil penilaian post test (tes formatif pasca tindakan) bahwa pencapaian nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa adalah 7,5 dengan taraf penguasaan (daya serap) terhadap materi pelajaran sebesar 75,71% tergolong pada kategori “Baik”.
  3. Terdapat peningkatan aktivitas belajar siswa dengan menggunakan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang yaitu: pada tindakan siklus I dapat diketahui dari peningkatan nilai rata-rata kelas hasil belajar siswa dari hasil belajar sebelumnya (hasil pre test) secara persentase sebesar 3,81% yaitu dari 62,38% meningkat menjadi 66,19% tergolong pada kategori “Cukup”. Selanjutnya pada tindakan siklus II berdasarkan pencapaian persentase rata-rata kelas terdapat peningkatan kemampuan hasil belajar siswa sebesar 9,51% dari hasil tindakan sebelumnya (siklus I), yaitu dari 66,19% tergolong pada kategori “Cukup” meningkat menjadi 75,71% tergolong pada kategori “Baik”.

Pada kenyataannya dari pelaksanaan tindakan dengan dua siklus (siklus I dan siklus II) berdasarkan pencapaian persentase rata-rata kelas terdapat peningkatan aktivitas hasil belajar siswa sebesar 13,33% dari hasil pre test (tes awal pra tindakan), yaitu dari 62,38% tergolong pada kategori “Cukup” meningkat menjadi 75,71% tergolong pada kategori “Baik”.

  1. Proses pembelajaran PPKn dalam upaya peningkatan aktivitas hasil belajar siswa dengan menggunakan media gambar pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang, yaitu kemampuan guru dalam proses pembelajaran pada tindakan siklus I dan siklus II mengalami peningkatan yang signifikan dari kategori “Cukup” menjadi “Baik”. Sedangkan kemampuan siswa dalam proses kegiatan belajar mengalami peningkatan yaitu dari kategori “Cukup” meningkat menjadi kategori “Baik”.

B. Saran-saran

Berdasarkan temuan penelitian pada kesimpulan, maka dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Bagi Guru, dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan diterapkannya penggunaan media gambar dalam pembelajaran PPKn pada pokok bahasan pelajaran yang berkaitan dengan nilai dan sikap pada siswa kelas III SD Negeri Sumbersari I Kota Malang, ternyata pada kenyataannya dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam proses kegiatan belajar dan hasil belajarnya. Dengan demikian diharapkan dapat lebih ditingkatkan secara maksimal dan efektif, sehingga dapat meningkatkan pretasi belajar siswa pada proses belajar mengajar berikutnya.
  2. Bagi Kepala Sekolah, berdasarkan hasil kegiatan proses belajar mengajar dalam pembelajaran PPKn yang dilakukan guru dan siswa tersebut dapatnya lebih ditingkatkan dengan upaya memberikan supervisi dan bimbingan kepada guru berkaitan dengan penerapan penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan proses belajar mengajar. Sehingga dapat memotivasi guru dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.
  3. Bagi Peneliti lain, dari hasil penelitian ini diharapkan ada penelitian lanjut sebagai upaya meningkatkan pelaksanaan sistem pembelajaran di Sekolah Dasar (SD) yang lebih baik dan efektif, khususnya berkaitan dengan pembelajaran PPKn. Sehingga dengan adanya penelitian lanjut dengan penerapan model rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang lebih sempurna, diharapkan dapat melengkapi hasil kajian mengenai pembelajaran PPKn di Sekolah Dasar (SD) yang telah ada.

 

 

Pengunjung datang dari kata kunci:

KONTRIBUSI TINGKAT PENDIDIKAN DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KINERJA PROFESIONALISME DOSEN JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

KONTRIBUSI TINGKAT PENDIDIKAN DAN MOTIVASI KERJA

TERHADAP KINERJA PROFESIONALISME

DOSEN JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MALANG

SKRIPSI

Oleh:

AULIA WARDANI

NIM  103421465508

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS EKONOMI

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AKUNTANSI

SEPTEMBER 2006

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Perubahan yang serba cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan, ilmu dan teknologi, serta bermacam-macam kebutuhan dari berbagai sektor sangat berpengaruh terhadap kehidupan dunia pendidikan terutama pendidikan tinggi.

Kritik terhadap dunia pendidikan tinggi semakin lama semakin banyak dan tajam. Kritik tersebut bervariasi mulai dari lulusan yang dirasakan tidak siap pakai hingga menurunnya kualitas lulusan perguruan tinggi.

Munculnya kritik terhadap perguruan tinggi antara lain karena perguruan tinggi tidak dapat memenuhi tuntutan tujuan program perguruan tinggi tersebut. Tuntutan mengenai lulusan yang berkualitas ini semakin tinggi jika dikaitkan dengan tantangan globalisasi pada tahun-tahun mendatang (Seniati & Silalahi, 2001:18).

Dengan adanya tuntutan untuk menghasilkan lulusan perguruan tinggi yang berkualitas, peran seorang dosen semakin berat. Sebagai tenaga pendidikan pada perguruan tinggi yang tugas utamanya adalah mengajar, maka seorang dosen tidak hanya harus mengetahui tuntutan tersebut, tetapi juga harus mampu memenuhinya.

Hendaknya para dosen selalu berusaha untuk melakukan introspeksi diri, mengubah sikap dan perilakunya, melihat kekurangan dan kelemahan-kelemahannya, berusaha secara terus menerus melakukan improvisasi diri dengan menyesuaikan pada tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi serta arah kebijakan pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah terutama di bidang pendidikan tinggi.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 19 (Silaban, 2003:11) disebutkan bahwa pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Selanjutnya dalam pasal 20 undang-undang tersebut juga disebutkan bahwa perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam rangka mengemban kewajiban atau misi penyelenggaraan pendidikan tinggi tersebut, dosen memiliki peranan yang sangat penting. Pramono (1990:18), tenaga pengajar atau dosen mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam meningkatkan mutu kelulusan. Sementara ini kondisi menunjukkan bahwa beban kerja/mengajar dosen terlalu besar sehingga mereka kurang bisa mencurahkan perhatian secara penuh pada profesinya. Hal ini sebagai akibat adanya kerja sambilan di luar kegiatan mengajar di tempat lain dalam upaya untuk memperoleh penghasilan tambahan. Kondisi tersebut terjadi secara umum baik di perguruan tinggi negeri maupun di perguruan tinggi swasta. Selain itu, nampaknya profesi dosen belum merupakan pilihan utama, menjadi dosen hanya karena bisa memperoleh pekerjaan lain, sehingga kondisi ini kurang menunjang motivasi kerja mereka.

Berdasarkan pengamatan Seniati dan Silalahi (2001:19) bahwa selama ini, cukup banyak dosen yang tidak mempersiapkan kuliah dengan baik serta hubungannya dengan mahasiswa hanya terbatas pada ruang kuliah. Dengan demikian mahasiswa juga tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya lebih mendalam tentang kuliah yang diajarkan karena dosen tidak siap atau dosen sulit ditemui. Di lain pihak, penataran pra jabatan yang seharusnya menjadi masa persiapan bagi calon pengajar agar dapat memberikan pengajaran dengan baik kadang baru diperoleh setelah dosen menjadi staf pengajar selama beberapa tahun. Selain itu menurut Melayu (2000:19), tidak jarang terjadi, bahwa motivasi kerja dosen tidak atau kurang membentuk perilaku belajar mahasiswa ke arah kemampuan mahasiswa untuk menunjukkan hasil belajar yang optimal. Keadaan tersebut terjadi karena ada faktor-faktor eksternal yang berpotensi membentuk motivasi kerja dosen.

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan global dan dikaitkan dengan kondisi perekonomian dan social masyarakat yang tidak menguntungkan, tentu membawa dampak kepada kelangsungan pendidikan tinggi di tanah air. Seperti munculnya berbagai masalah yang dihadapi mulai dari masih terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan tinggi hingga tidak sesuainya para lulusan dengan kebutuhan, munculnya mahasiswa “drop out” karena ketidakmam-puan orang tua dalam membiayai pendidikannya, dan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang tidak dapat memasuki lapangan kerja. Selain itu, kuantitas dan kualitas tenaga dosen dirasa masih belum dapat memenuhi tuntutan dalam mengemban misinya agar lulusan dapat mengisi kebutuhan pembangunan sesuai dengan kondisi dan potensi daerah (Kasih dan Suganda, 1999:ix).

Wahjoetomo (1991:11), di antara semua faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan tinggi, maka dosen merupakan faktor yang paling dominan. Dalam banyak hal dosen akan sangat mewarnai wujud dari keluaran (lulusan). Dosen mau tidak mau akan menjadi objek imitasi bukan semata-mata memberi kuliah atau mentransfer ilmu, tetapi juga harus mampu memberikan motivasi, menumbuhkan sikap inovatif dan kreatif kepada mahasiswa, mendidik mahasiswa agar berjiwa mandiri. Oleh karena itu mutu pendidikan tinggi sangat dipengaruhi oleh kemampuan para dosen di dalam melakukan tugas dan fungsinya.

Kondisi faktual menunjukkan bahwa kebanyakan dosen bukanlah tenaga yang dipersiapkan secara formal untuk menjadi pendidik, kecuali para dosen pada pendidikan tinggi keguruan. Oleh sebab itu, pada umumnya para dosen muda kurang memahami hakikat fungsinya sebagai pendidik. Faktor ini perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pembinaan karier para dosen (Wahjoetomo, 1991:12). Selain itu juga dikemukakan rendahya motivasi mereka untuk melakukan penelitian. Hal ini disebabkan mereka tidak menguasai metodologi penelitian, di samping keterbatasan dana. Karena tidak pernah atau sangat kurang melakukan penelitian, maka dalam memberikan kuliah para dosen tidak mampu mengintrodusir hal-hal baru yang berkaitan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akbatnya kuliah menjadi monoton dan steril. Dibandingkan dengan profesi yang lain, profesi sebagai dosen tidak memberikan penghasilan yang memadai. Oleh sebab itu banyak dosen berusaha mencari penghasilan tambahan dengan cara bekerja rangkap. Akibatnya konsentrasinya menjadi terpecah dan perhatiannya terhadap tugas pokok menurun. Dpaat dimengerti bahwa kondisi yang demikian pasti akan sangat mempengaruhi mutu pendidikan (Wahjoetomo, 1991:12-13).

Ranuwihardjo (dalam Kompas, 1985:16) mengemukakan bahwa eningkatan mutu pendidikan tinggi merupakan keharusan mutlak, karena tahap pembangunan memerlukan pula peningkatan profesionalisme. Upaya peningkatan mutu ini, jelas bermula dari peningkatan para pengelola pedidikan tinggi dan tenaga pengajarnya. Tidak berlebihan apabila upaya peningkatan mutu dosen menempati posisi yang sangat strategis dalam pengembangan universitas/institut di Indonesia.

Pemerintah Indonesia secara terarah telah memberikan reaksi terhadap tuntutan yang semakin tinggi terhadap kualitas tenaga pendidik (guru/dosen) dan kualitas lembaga penyelenggara pendidikan di semua jenjang pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.

Reaksi itu diimplementasikan dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam undang-undang ini disebutkan bahwa dosen adalah sebutan lain dari istilah pendidik, yaitu tenaga kependidikan yang berkualifikasi sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (Silaban, 2003:3). Dalam pasal 39 undang-undang tersebut disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban (Silaban, 2003:23), yaitu: (a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Begitu juga dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa dosen mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat (Depdiknas, 2005:2). Dalam undang-undang ini disebutkan, dosen adalah pendidikan profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Depdiknas, 2005:4).

Penugasan tenaga kependidikan dalam hal ini dosen pada suatu lembaga pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat dilakukan oleh pimpinan lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan dan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurut Makagiansar (1975:17-18), hakikat tugas staf pengajar pada suatu lembaga perguruan tinggi, adalah bahwa seorang staf pengajar harus menunjang misi pendidikan tinggi yang dibebankan kepadanya. Di mana salah satu asas pendidikan tinggi adalah Tridharma-nya, maka tugas-tugas seorang staf pengajar pada dasarnya meliputi tiga bidang utama: mendidik dan mengajar, melakukan penelitian dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, kinerja staf pengajar untuk mencapai sesuatu harus diukur dengan pelaksanaan ketiga fungsi utama tersebut.

Pada akhir-akhir ini ditengarai bahwa banyak dosen bekerja paruh waktu di sektor swasta, atau mengajar di berbagai perguruan tinggi, sehingga waktu utama mengajarnya berkurang, atau kualitas persiapan mengajarnya kurang. Partisipasi dosen dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak dapat diperoleh secara maksimal, karena mereka membagi tenaganya dengan berbagai jenis kegiatan. Padahal partisipasi ini sangat penting dalam hubungannya dengan komitmen mereka untuk memajukan lembaganya (Sutjipto, dalam Tilaar, 2002:202). Lebih lanjut Sutjipto mengemukakan bahwa dosen banyak yang tidak berprestasi, lebih-lebih di perguruan tinggi negeri, karena sistem penggajian pegawai negeri tidak secara jelas membedakan antara pegawai yang berprestasi dan tidak. Dalam banyak hal dosen yang tidak berprestasi tetapi serius mengurus kenaikan pangkatnya dapat naik pangkat lebih cepat.

Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta dengan adanya tuntutan masyarakat terhadap perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, peran seorang dosen semakin berat. Sebagai tenaga pendidik pada perguruan tinggi yang diangkat dengan tugas utama mengajar maka seorang dosen tidak hanya harus mengetahui tuntutan tersebut, tetapi juga harus mampu memenuhinya. Adalah tugas seorang dosen untuk memberikan pengetahuan teoritis yang kuat kepada mahasiswanya, termasuk memberikan pengarahan dan pengalaman langsung mengenai penerapan pengetahuan teoritis pada kegiatan nyata sehari-hari.

Ditinjau dari sudut profesi, seorang dosen adalah seorang pekerja profesional. Menurut Raelin (dalam Seniati & Silalahi, 2001:19), pekerja profesional adalah hanya bila menguasai pengetahuan dan memiliki keterampilan yang sesuai dengan profesinya. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki pekerja profesional yaitu: (1) memiliki pengetahuan khusus yang diperoleh dari pendidikan tinggi; (2) memiliki otonomi yaitu kebebasan untuk menentukan keputusan berdasarkan wewenang atau kompetensi yang dimiliki; (3) memiliki komitmen yang tinggi dan berminat untuk terus mengembangkan profesi; (4) mengidentifikasikan diri dengan kelompok profesional di mana mereka menjadi anggota organisasi profesi tersebut, secara formal maupun informal; (5) dalam menjalankan tugas berpegang pada etika profesi yang telah disosialisasikan; serta (6) memiliki tanggung jawab untuk menjalankan dan mempertahankan standar-standar profesi yang berlaku.

Memperhatian permasalahan dosen tersebut, peneliti merasa tertarik dan terdorong untuk melakukan kajian melalui penelitian dengan judul: “Kontribusi Tingkat Pendidikan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Profesionalisme Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang”.

B. Pembatasan Masalah

Memperhatikan permasalahan mengenai dosen sangat luas dan kompleks serta mengingat keterbatasan yang ada pada peneliti, agar permasalahan substansi penelitian ini tidak menyimpang maka masalah yang diteliti difokuskan atau dibatasi pada:

  1. Tingkat pendidikan formal yang terakhir dimiliki dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Motivasi kerja yang dimiliki dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
  3. Kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: (a) pendidikan dan pengajaran, (b) penelitian, dan (c) pengabdian kepada masyarakat.
  4. Ada tidaknya kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah, maka rumusan masalah penelitian ini sebagai berikut:

  1. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  2. Bagaimana gambaran motivasi kerja dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  3. Bagaimana gambaran kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  4. Apakah ada kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?

D. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:

  1. Tingkat pendidikan dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Motivasi kerja dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  3. Kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  4. Ada atau tidaknya kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

E. Asumsi Penelitian

 

Penelitian ini dilaksanakan dengan asumsi yaitu ada dugaan tingkat pendidikan dan motivasi kerja dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

F. Manfaat Penelitian

 

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut:

  1. Bagi para Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, sebagai bahan evaluasi diri dalam upaya meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas-tugas sesuai dengan lingkup pekerjaan dan kompetensinya ke arah yang lebih baik serta profesional.
  2. Bagi pimpinan lembaga, terutama Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dapat sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia khususnya bagi para dosen.
  3. Bagi pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) adalah sebagai rekomendasi dan bahan kajian dalam rangka pembinaan dan pengembangan maupun dalam promosi karier Pegawai Negeri Sipil (PNS) khususnya bagi para dosen.
  4. Bagi peneliti lanjut, sebagai bahan rujukan (referensi) dalam rangka melakukan kajian lebih lanjut  dengan cakupan yang lebih luas dan mendalam.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

A. Kajian Teori

Berikut ini diuraikan beberapa kajian teori yang mendasari permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu: (1) hakikat pendidikan bagi seseorang, (2) motivasi kerja, (3) profesionalisme dosen, dan (4) kinerja (performansi) dosen.

1. Hakikat Pendidikan

Deklarasi dunia menyangkut pendidikan untuk semua orang mengatakan bahwa,

“Semua orang … baik anak-anak, remaja, orang dewasa … harus dapat memanfaatkan peluang mendapatkan pendidikan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kebutuhan-kebutuhan belajar tersebut adalah termasuk sarana-sarana belajar terpenting (seperti keterwacanaan, ekspresi lisan, kemampuan berhitung, dan memecahkan persoalan) dan muatan belajar tingkat dasar (seperti pengetahuan, keterampilan, tata nilai dan sikap perilaku) yang diperlukan manusia agar dapat mempertahankan eksistensinya di dunia, mengembangkan kapasitas diri mereka sepenuhnya, agar dapat hidup dan bekerja dengan penuh martabat, agar dapat berperan serta secara aktif dalam pembangunan, meningkatkan taraf hidup mereka, dan dapat membuat keputusan intelektual dan melanjutkan studi mereka ke tingkat lanjut” (Ordonez, 1996:1).

 

Postman dan Weingartner (1973:16) mengatakan bahwa pendidikan adalah “proses yang panjang untuk belajar bagaimana bernegosiasi dengan dunia”. Dari pengertian ini, menunjukkan bahwa pendidikan itu berlangsung seumur hidup yakni sejak anak sebelum memasuki sekolah, pada saat sekolah dan setelah menyelesaikan sekolahnya sampai akhir hayat. Hal ini seiring dengan yang dikemukakan oleh Harris, dkk (1979) bahwa proses belajar bukan hanya dilakukan di sekolah saja, tetapi dapat juga dilakukan secara informal.

Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat (1) dikatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara (Silaban & Germanus, 2003:3). Untuk itu penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur. Jalur-jalur tersebut adalah:

  1. Jalur pendidikan sekolah, merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan, yang mempunyai 7 jenis pendidikan, yakni: pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional, serta mempunyai tiga jenjang, yakni: pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
  2. Jalur pendidikan luar sekolah, merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan, termasuk pendidikan keluarga, kursus-kursus serta pelatihan-pelatihan.

Upaya yang dilakukan oleh pemerintah seperti tertuang dalam Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional tersebut menunjukkan betapa pentingnya perhatian pada peningkatan kualitas manusia Indonesia melalui pendidikan baik  pendidikan yang dilakukan di sekolah maupun pendidikan di luar jalur sekolah. Senada dengan hal tersebut, Driyarkara (1990) mengatakan bahwa pendidikan adalah memanusiakan manusia muda. Dictionary of Education yang dikutip Depdikbus (1985) menyatakan bahwa pendidikan adalah (1) proses di mana seseorang mengembangkan kemampuan, sikap dan bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat di mana dia hidup, (2) proses social di mana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dapat memperoleh perkembangan kemampuan social dan kemampuan individu yang optimal.

Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat dikemukakan bahwa pendidikan mengandung tujuan mengembangkan kemampuan seseorang agar mampu meningkatkan kualitas kehidupannya sebagai warga negara dan warga masyarakat.

Pendidikan formal adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dan anggota masyarakat berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Kartono (1991) bahwa “secara resmi dan legal, pendidikan formal merupakan porsi negara atau fungsi negara, sebab dalam penyelenggaraan sistem pendidikan, negara mempunyai kekuasaan resmi dan sarana yang diperlukan untuk mengarahkan pelaksanaan pendidikan”. Lebih lanjut Stoddard (1957:15) mengatakan bahwa “pendidikan dapat dijadikan sebagai alat untuk merealisasikan tujuan negara dan menghidupkan negara yang bersangkutan”. Jadi pendidikan merupakan modal dasar untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan negara. Dengan demikian sistem pendidikan nasional ditetapkan secara baik dan dilaksanakan sebagaimana mestinya agar dapat mencapai cita-cita dan tujuan nasional.

Salah satu kebijakan pendidikan nasional yang merupakan tujuan pendidikan nasional adalah “mengembangkan kualitas sumberdaya manusia sedini mungkin secara terarah, terpadu, dan menyeluruh melalui berbagai upaya proaktif dan kreatif oleh seluruh komponen bangsa agar generasi muda dapat berkembang secara optimal disertai dengan hak dukungan dan lindungan sesuai dengan potensinya” (GBHN, 1999).

Dengan demikian, melalui pendidikan diupyakan agar dapat meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sehingga diharapkan dapat memberikan andil yang dperlukan dalam menggali dan mengembangkan potensi-potensi yang ada dalam diri manusia dan dapat bermanfaat bagi peningkatan kualitas hidup manusia itu sendiri.

Menurut Haryadi (2005:iii) bahwa tingkat pendidikan seseorang dapat diketahui dari ijazah yang dimiliki dan atau gelar akademik yang disandangnya. Semakin tinggi pendidikan seseorang akan semakin tinggi kemampuan, keterampilan, dan wawasannya untuk merespon peluang-peluang yang ada. Oleh karena itu, adalah wajar bila kesempatan mendapatkan pekerjaan, meningkatkan karier, menduduki posisi strategis, atau tampil di berbagai forum menjadi dominasi orang yang berpendidikan. Hal ini kemudian membentuk pandangan dalam masyarakat bahwa posisi social seseorang banyak ditentukan oleh pendidikan yang dimiliki.

Berdasarkan uraian dan pendapat para ahli di atas, peneliti melakukan pendekatan untuk mengetahui tingkat pendidikan formal dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang adalah berdasarkan tingkat pendidikan terakhir yang dimiliki, karena hal ini dirasakan memberikan kontribusi terhadap kinerja profesionalisme dosen dalam melaksanakan tugas-tugasnya di perguruan tinggi.

2. Motivasi Kerja

a. Pengertian Motivasi

Motivasi kerja tidak dapat dipisahkan dari “motivasi” pada umumnya. Menurut Widjaya (1996), yang dimaksud dengan motivasi adalah kekuatan, dorongan baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Motivasi adalah sesuatu yang menyebabkan orang menyalurkan, menunjang perilaku orang (Stoner, 1986). Selanjutnya, motivasi sebagai suatu dorongan untuk melakukan suatu tindakan. lain halnya dengan Buford dan Bedean (1988), “motivation is predisposition to behave in a purpose manner to achieve specific, unmet needs.” Secara terjemanah bebas, motivasi merupakan penyebab seseorang berperilaku dalam mencapai tujuan tertentu untuk mencapai kebutuhan/keinginan yang belum tercapai.

Motivasi atau disebut juga sebagai “dorongan”, dibedakan ke dalam 2 (dua) jenis, yaitu dorongan yang berasal dari dalam diri manusia disebut pula dengan motivasi intrinsik. Sedang dorongan yang berasal dari luar manusia disebut motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik timbul dikarenakan dorongan kebutuhan yang harus dipenuhi, keinginan untuk mengetahui sesuatu. Motivasi ekstrinsik, muncul karena pengaruh dorongan dari luar untuk melakukan suatu pekerjaan. Motivasi kerja meruoakan suatu dorongan untuk melakukan suatu pekerjaan, dan motivasi ini erat hubungannya dengan kinerja. Motivasi kerja tinggi akan menyebabkan orang melakukan pekerjaan dengan penuh semangat karena dalam melakukan pekerjaan dilaksanakan dengan perasaan senang hati, dorongan yang kuat untuk melakukannya (Gorton, 1976).

b. Pengertian Motivasi Kerja

Pengertian motivasi di atas bersifat umum, artinya pada semua orang/manusia sebagai pribadi individu. sedang kata “motivasi kerja” adalah motivasi yang terjadi situasi dan lingkungan kerja yang terdapat pada suatu organisasi/lembaga. As’ad (1999) mengatakan, motivasi kerja adalah suatu yang menimbulkan semangat kerja. Istilah kata “sesuatu” tersebut berarti sebagai sebuah tenaga pendorong, atau suatu yang dapat menggerakkan seseorang, sehingga semangat kerja dapat meningkat. Menurut Indrakusuma (1988) motivasi kerja menyangkut sikap/perasaan seseorang terhadap pekerjaan. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap atau perasaan-perasaan seseorang terhadap pekerjaan ada yang bersifat positif, ada pula yang bersifat negatif. Perasaan positif, seperti: merasa senang, puas bekerja, cnta pekerjaan. Perasaan negatif pada pekerjaan seperti: merasa bosan, benci pada pekerjaan, tertekan. Dengan perkataan lain, jika orang bekerja merasa senang, cinta terhadap pekerjaannya, maka orang tersebut tentu akan bekerja dengan bersungguh-sungguh, sehingga semangatnya (kerjanya) akan meningkat. Namun sebaliknya, jika seseorang benci, antiati dan bosan pada pekerjaan yang digelutinya, maka ia akan malas bekerja sehingga semangat kerjanya relatif rendah.

 

 

c. Teori-teori Motivasi kerja

Dalam teori motivasi kerja di sini pada hakikatnya banyak para ahli yang mengupas kaitannya dengan motivasi kerja, di mana antara pendapat atau dengan yang lain terdapat perbedaan, tetapi ada pula pandangan-pandangan yang mempunyai kesamaan. Namun secara umum teori-teori motivasi kerja seperti di atas dapat dikemukakan tiga teori yakni:

1) Motivasi kerja menurut teori Harapan

Teori motivasi kerja menurut teori Harapan atau dalam bahasa asing disebut dengan expetance theory beranggapan bahwa pendorong utama pada diri orang bekerja lebih giat adalah harapan yang disertai dengan keyakinan diri bahwa usahanya akan berhasil. Sesuai teori ini, terdapat 3 (tiga) faktor yang menyebabkan seseorang menjadi menurun motivasinya atau meninggi yaitu (a) harapan, (b) valensi, dan (c) peralatan.

Harapan dan keyakinan ini sangat bersifat subjektif, artinya, jika seseorang telah meyakini suatu pekerjaan bahwa ia akan berhasil, maka orang tersebut akan bekerja dengan lebih bersemangat/bergairah.

Sedang valensi merupakan tingkat keterkaitan/keterlibatan unsur batiniah seseorang terhadap sesuatu pekerjaan atau suatu usaha. Sebagai contoh kongkrit adalah: jika seorang manajer mempunyai perhatian luar biasa terhadap usaha atau pekerjaannya sehingga berambisi untuk meningkatkan keterampilan para bawahan atau para staf, maka manajer tersebut memiliki valensi yang tinggi terhadap peningkatan kerja/keterampilan pegawainya.

Peralatan dimaksud di sini adalah keyakinan penuh adanya kemampuan dan keterampilan yang harus dimiliki setiap pegawai, sehingga dapat mendukung tercapainya tujuan.

Dalam hubungannya dengan lingkungan kerja, menurut McCormick (1985) mengemukakan bahwa “work motivation is defined conditions which influence the arousal, direction and maintenance of behaviors relevant in work settings”. Motivasi kerja didefinisikan sebagai kondisi yang berpengaruh membangkitkan, mengarahkan dan memelihara perilaku yang berhubungan dengan lingkungan kerja, sebagaimana digambarkan berikut.

 

 

 

 

Drive                                Incentive                               Goal

 

 

 

 

 

 

 

 

Unsatisfied                                                                       Satisfied

Need                                                                          Need

 

 

 

Gambar 2.1 Motivasi Sebagai Pembangkit Dorongan (McCormick, 1985)

 

2) Motivasi kerja menurut pandangan Tradisional

Tokoh yang mengembangkan teori ini, Douglass McGregor, terkenal dengan sebutan teori X dan Y. Pandangan teori Tradisional beranggapan bahwa karyawan mempunyai sifat-sifat yang dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) dorongan, yaitu: pada hakikatnya karyawan itu malas, tidak suka bekerja, bila mungkin menghindari pekerjaan, tidak tertarik akan rasa tanggung jawab, lebih suka diperintah. Pandangan ini sering disebut dengan teori X. Pada teori lain beranggapan sebaliknya dan lazim disebut dengan teori Y, yaitu bahwa pada hakikatnya karyawan itu rajin, dapat dipercaya dan penuh tanggung jawab dan memiliki dedikasi yang tinggi.

Untuk memberi jawaban pemecahan terhadap anggapan teori X, agar karyawan mempunyai motivasi kerja, maka perlu diawasi, perlu pengarahan dan perlu dipaksa. Tetapi kebutuhan-kebutuhan pokok boleh ditinggalkan. Sebaliknya pemecahan pada teori Y, setiap karyawan diperlukan motivasi, diberikan semangat kerja, diberi kelonggaran-kelonggaran dan kepercayaan dalam bekerja (dalam Thoha, 1983). Beberapa penjelasan di atas, bila dilihat pada kenyataan di lapangan sebenarnya anggapan kedua teori X dan Y tersebut, sedikit banyak ada benarnya. Dalam pengertian, bahwa kenyataannya ada karyawan yang malas, ada yang rajin, ada yang motivasi kerjanya tinggi dan lain sebagainya. Apakah hal itu disadari atau tidak, realitasnya tergantung pada setiap orang yang pernah dan telah mengenyam kehidupan pekerjaan atau dunia kerja.

3) Motivasi kerja menurut teori Dua Faktor

Teori yang dikembangkan oleh Frederick Hersberg ini beranggapan dalam diri manusia ada beberapa faktor yang mempengaruhi gairah kerja manusia, yang disebut dengan teori dua faktor, yaitu: “(1) motivational factors which can lead to job satisfaction, and (2) maintenance factors which: (a)  must be sufficiantly present in order for motivational factors to come into play and when,(b) not suffiantly present can block motivation and can lead to job dissatisfaction”. Pada kelompok ke satu dalam faktor ini merupakan faktor-faktor pendorong, yakni faktor-faktor yang seandainya terpenuhi kebutuhannya dapat menimbulkan kepuasan kerja. sedangkan faktor kedua faktor-faktor penyehat dan penyelamat; yaitu faktor-faktor yang apabila dipenuhi kebutuhannya tetapi tidak menimbulkan kepuasan, sehingga tidak akan menimbulkan semangat/gairah kerja (Owen, 1981).

3. Profesionalisme Dosen

Istilah “profesional” (profesional) aslinya adalah kata sifat dari kata “profession” (profesi atau pekerjaan) yang berarti sangat mampu melakukan pekerjaan. Sebagai kata benda profesional kurang lebih berarti orang yang melaksanakan sebuah profesi dengan menggunakan profesiensi sebagai mata pencaharian (McLeod, dalam M. Syah, 2001:230).

Suatu jenis tugas, pekerjaan atau jabatan yang memerlukan standar kualifikasi keahlian dan tingkah laku tertentu. Jabatan seperti dokter, guru, hakim, pembela, notaris dan peneliti adalah beberapa contoh pekerjaan profesional (Komaruddin, 1994:712). Sahertian (1992:13) mengemukakan bahwa pada umumnya orang memberi arti sempit terhadap pengertian profesional. Profesional sering diartikan sebagai suatu kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh seseorang. Misalnya dikatakan seorang guru yang profesional bila guru itu memiliki kualitas mengajar yang tinggi. Padahal profesional memiliki makna yang lebih luas, yaitu ahli, bertanggung jawab dan berkesejawatan. Purbangkoro (1995:6) mengemukakan, profesional berasal dari kata-kata profesi (terjemahan profession) yang berarti: (1) kedudukan atau jabatan yang memerlukan keahlian khusus, (2) lembaga dari tempat orang-orang yang mempunyai keahlian sama. Menurut Nimran (dalam Purbangkoro, 1995:6-7), profesi itu berkenaan dengan jabatan, kedudukan, atau pekerjaan seseorang yang membutuhkan pelatihan keterampilan khusus di bidang seni atau ilmu dan menjadi semacam lembaga/institusi dari orang-orang yang memiliki keahlian khusus. Dengan pengertian ini, maka dokter, akuntan, dosen, administrator, advokat, sekretaris, mekanik adalah contoh profesi dari masyarakat. Sedangkan profesionalisme adalah suatu status, metode karakteristik atau standar tertentu untuk menghasilkan dan/atau ukuran bagi suatu kualitas suatu karya produk dan karya yang dihasilkan oleh seorang yang profesional di dalam menjalankan tugas di bidangnya. Profesonalisme berkenaan dengan sikap yang dimiliki, dan perilaku yang ditampilkan oleh seorang profesional di dalam menjalankan profesinya. Jadi istilah profesionalisme dosen dalam penelitian ini adalah suatu standar kompetensi yang menjadi keahlian dosen yang sekaligus merupakan tanggung jawab pengabdiannya kepada perguruan tinggi tempatnya bekerja, masyarakat dan negara.

a. Pengertian dan Syarat-syarat Profesi

Profesi (profession) pada hekekatnya adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka (to profess = menyatakan). Menyatakan bahwa seseorang itu akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan, karena orang itu merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu (Sahertian, 1992:13).

Eric Hoyle (dalam Sahertian, 1992:13), menyatakan ciri suatu profesi sebagai berikut: (1) suatu profesi menampakan ciri dalam bentuk layanan sosial; (2) suatu profesi diperoleh atas dasar sejumlah pengetahuan yang sistematis; (3) suatu profesi membutuhkan jangka waktu panjang untuk pendidikan dan latihan: (4) suatu profesi memiliki ciri bahwa seseorang itu punya otonomi yang tinggi; (5) suatu profesi memiliki kode etik; dan (6) suatu profesi umumnya ada pertumbuhan dalam jabatan.

Jika ditinjau dari sudut profesi seorang dosen adalah seorang pekerja profesional. Menurut Raclin (dalam Seniati & Silalahi, 2001:19), pekerja profesional adalah hanya bila menguasai pengetahuan dan memiliki keterampilan yang sesuai dengan profesinya. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki pekerja profesional, yaitu: (1) memiliki pengetahuan khusus yang diperoleh dari pendidikan formal minimal pendidikan tinggi; (2) memiliki otonomi yaitu kebebasan untuk menentukan keputusan berdasarkan wewenang kompetensi yang dimiliki; (3) memiliki komitmen yang tinggi dan berminat untuk terus mengembangkan profesi; (4) mengidentifikasikan diri dengan kelompok profesional di mana mereka menjadi anggota organisasi profesi tersebut, secara formal maupun disosialisasikan; serta (6) memiliki tanggung jawab untuk menjalankan dan mempertahankan standar-standar profesi yang berlaku.

The National Education Association (NEA) (dalam Adi, 2003:34), menyebutkan delapan kriteria bagi suatu profesi, yakni: (1) kegiatan-kegiatan profesi pada dasarnya bersifat intelek, (2) profesi didasarkan atas sejumlah pengetahuan yang dikhususkan, (3) profesi mempersyaratkan persiapan profesi yang cukup lama, (4) profesi menuntut pertumbuhan jabatan yang kontinyu, (5) profesi memberikan suatu karier hidup dan kanggotaan yang tetap, (6) profesi menetapkan standarnya sendiri bagi tingkah laku anggotanya, (7) profesi melayani kebutuhan para anggotanya akan kesejahteraan dan pertumbuhan profesionalnya, (8) profesi memiliki solidaritas kelompok profesi.

Dari berbagai pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa profesi adalah suatu pekerjaan atau jabatan yang memerlukan kriteria atau syarat-syarat tertentu yang ditetapkan oleh lembaga/institusi tempat seseorang menerima untuk menjabat pekerjaan itu.

b. Mengajar sebagai Suatu Profesi

Dosen adalah istilah yang dipakai untuk guru atau pendidik yang bertugas di perguruan tinggi (Sihombing, 1993:38). Poerbakawatja dan Harahap (1981:83), mengemukakan dosen adalah pengajar di perguruan tinggi. Ada dosen tetap dan dosen tidak tetap, atau dosen biasa dan dosen luar biasa. Dosen luar biasa adalah mereka yang di samping mengajar mempunyai suatu tugas pokok. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, dosen adalah tenaga pengajar pada perguruan tinggi (Depdiknas, 2001:275). Dosen adalah tenaga pengajar atau tenaga fungsional akademik pada perguruan tinggi dengan berbagai bidang keahlian, jenjang pendidikan, dan jabatan akademik atau fungsional (Universitas Negeri Malang, 2002:6-7). Sedangkan dalam Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada pasal 1 ayat (2) disebutkan, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkn, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyaralat (Depdiknas, 2005:4).

Dengan demikian, jadi dalam proses penyelenggaraan pendidikan di perguruan tinggi, dosen dapat dipandang sebagai guru atau tenaga pengajar, dan/atau tenaga fungsional akademik. Dosen dianalogikan dengan guru, hanya profil kompetensinya yang berbeda. Profil kompetensi dosen dan/atau guru mengacu pada pelbagai aspek kompetensi yang dimiliki seorang tenaga profesional pendidikan.

Muncul pandangan apakah mengajar itu suatu profesi? Untuk menjawab ini, ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa mengajar itu suatu profesi. Secara ringkas pandangan dimaksudkan sebagai diuraikan berikut ini.

Sidney Dorros (dalam Adi, 2003:37), mengatakan secara tegas, mengajar merupakan profesi. Ia menyarankan beberapa langkah yang harus ditempuh untuk meningkatkan peranan profesi guru: (1) penentuan tujuan pendidikan secara bersama, (2) adopsi, ketaatan, dan pelaksanaan kode etik, (3) penelitian dan akumulasi prosedur-prosedur profesional, (4) pendidikan di dalam prosedur-prosedur profesional, (5) akreditasi sekolah-sekolah profesional, (6) rekrutmen, seleksi, dan orientasi bagi calon untuk anggota profesi, (7) sertifikat bagi orang yang mau masuk profesi, (8) memelihara kesejahteraan ekonomi, (9) memelihara suasana kerja yang menyenangkan, (10) memelihara efektivitas organisasi profesi.

Di samping itu, terdapat kondisi-kondisi dan karakteristik-karakteristik, yang kiranya dapat membantu jabatan guru sebagai satu profesi. Kondisi-kondisi itu ialah: (1) kebanyakan guru bekerja untuk memberikan pelayanan kepada manusia daripada untuk kepentingan pribadinya, (2) menjadi guru dipersyaratkan oleh peraturan tertentu seperti persyaratan ijazah, persyaratan masuk dalam profesi guru, dan syarat-syarat itu masih dipertahankan, (3) mengajar memerlukan keterampilan dan pengertian yang unik, (4) guru memiliki terbitan-terbitan khusus untuk membantu pengembangan dari waktu ke waktu, (5) guru mengikuti kegiatan-kegiatan lain dalam rangka pengembangan profesinya, misalnya kuliah, kursus, seminar, workshop, dan lain-lain, (6) menjadi guru merupakan suatu karier untuk hidup, (7) guru mempunyai kode etik, yang ditetapkan oleh organisasi profesinya, di samping tunduk kepada peraturan perundangan yang berlaku dalam suatu negara (Rickey, dalam Adi, 2003:37).

Haskew dan McLendon (dalam Adi, 2003:37), dengan tegas menyatakan: mengajar adalah suatu profesi. Untuk menilai suatu profesi dikemukakan beberapa kriteria sebagai berikut: (1) memerlukan persiapan yang bersifat teknis dan intelektual, (2) mempunyai pendidikan khusus, (3) memperoleh pengakuan dan kepercayaan dari masyarakat, (4) mempunyai rasa solidaritas pada anggotanya, (5) menetapkan suatu standar dan kode etik untuk mengatur tingkah laku, (6) terdapat suatu kecenderungan yang kuat untuk meningkatkan kemampuan anggotanya, (7) memiliki integritas dan kebebasan profesi, (8) menciptakan kondisi kerja yang menyenangkan bagi anggotanya, (9) menjaga hubungan kerja sama yang baik dengan klien, (10) menjaga jarak dengan pemerintah tanpa mengabaikan hubungan kerja sama yang baik. Setiap jabatan atau kedudukan memiliki satu atau beberapa karakteristik tersebut di atas. Berdasarkan kenyataan, kita menjumpai bahwa jabatan guru telah mengembangkan beberapa karakteristik seperti yang disebutkan di atas dan terus-menerus mengadakan usaha perbaikan ke arah yang lebih sempurna.

Syah (2001:1985), juga dengan tegas menyatakan bahwa mengajar merupakan profesi. Oleh karenya, guru merupakan sosok pribadi manusia yang sengaja dibangun untuk menjadi tenaga profesional yang memiliki profesi (berpengetahuan dan berkemampuan tinggi) dalam dunia pendidikan yang berkompeten untuk melakukan tugas mengajar.

Dari uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat kecenderungan yang kuat untuk mengatakan bahwa mengajar itu merupakan suatu profesi tersendiri di dalam masyarakat dan sudah sejak lama diakui oleh masyarakat. Orang yang tugasnya mengajar pada umumnya disebut dengan istilah “guru”. Sedangkan di perguruan tinggi disebut “dosen”. Jabatan guru sebagai suatu profesi menuntut keahlian dan keterampilan khusus di bidang pendidikan dan pengajaran, karena sifat keahliannya itu berbeda dengan keahlian dalam jabatan lainnya.

c. Tugas dan Tanggung Jawab Profesional Dosen

Ketentuan mengenai tugas-tugas pokok staf pengajar atau dosen di perguruan tinggi diatur dalam Keputusan menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 38/KEP/MK.WASPAN/ 8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya, dan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 61409/MPK/KP/99 dan Nomor 181 Tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Tugas-tugas pokok dan tanggung jawab dosen (Universitas Negeri Malang, 2000:102-104) dimaksud diuraikan berikut ini.

1) Pendidikan, meliputi:

a)          Mengikuti pendidikan sekolah dan memperoleh gelar/sebutan

b)          Mengikuti pendidikan sekolah dan memperoleh gelar/sebutan tambahan yang setingkat atau lebih tinggi di luar bidang ilmunya

c)          Mengikuti pendidikan dan pelatihan fungsional dosen dan memperoleh Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) termasuk yang berbentuk kegiatan magang dosen yunior.

2) Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi:

a)       Melaksanakan pendidikan dan pengajaran, meliputi:

(1)       Melaksanakan perkuliahan/tutorial dan menguji serta menyelenggarakan kegiatan pendidikan di laboratorium, praktik keguruan, praktik bengkel/studio/kebun percobaan/teknologi pembelajaran

(2)       Membimbing seminar mahasiswa

(3)       Membimbing kuliah kerja nyata (KKN), praktik kerja nyata (PKN), praktik kerja lapangan (PKL)

(4)       Membimbing tugas akhir penelitian mahasiswa termasuk membimbing pembuatan laporan hasil penelitian tugas akhir

(5)       Penguji pada ujian akhir

(6)       Membina kegiatan mahasiswa di bidang akademik dan kemahasiswaan

(7)       Mengembangkan program perkuliahan

(8)       Mengembangkan bahan pengajaran

(9)       Menyampaikan orasi ilmiah

(10)   Membina kegiatan mahasiswa di bidang akademik dan kemahasiswaan

(11)   Membimbing dosen yang lebih rendah jabatannya

(12)   Melaksanakan kegiatan detasering dan pencangkokan dosen

b)      Melaksanakan penelitian dan pengembangan serta menghasilkan karya ilmiah, karya teknologi, karya seni monumental/seni pertunjukan dan karya sastra, meliputi:

(1)           menghasilkan karya penelitian

(2)           Menerjemahkan/menyadur buku ilmiah

(3)           Mengedit/menyunting karya ilmiah

(4)           Membuat rancangan dan karya teknologi

(5)           Membuat rancangan dan karya seni

c)       Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, meliputi:

(1)           Menduduki jabatan pimpinan dalam lembaga pemerintahan/pejabat negara sehingga harus dibebaskan dari jabatan organiknya

(2)           Melaksnakan pengembangan hasil pendidikan dan penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat

(3)           Memberi latihan/penyuluhan/penataran pada masyarakat

(4)           Memberi pelayanan kepada masyarakat atau kegiatan lain yang menunjang pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan

(5)           Membuat/menulis karya pengabdian kepada masyarakat

3) Unsur penunjang adalah kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas pokok dosen, meliputi:

a)      Menjadi anggota dalam suatu panitia/badan pada perguruan tinggi

b)      Menjadi anggota/panitia badan pada lembaga pemerintah

c)      Menjadi anggota organisasi profesi

d)      Mewakili perguruan tinggi/lembaga pemerintah duduk dalam panitia antar lembaga

e)      Menjadi anggota delegasi nasional ke pertemuan internasional

f)        Berperan serta aktif dalam pertemuan ilmiah

g)      Mendapat tanda jasa/penghargaan

h)      Menulis buku pelajaran SLTA ke bawah

i)        Mempunyai prestasi di bidang olahraga/kesenian/sosial.

Dosen adalah seseorang yang berdasarkan pendidikan dan keahliannya diangkat oleh penyelenggara perguruan tinggi dengan tugas utama mengajar pada perguruan tinggi yang bersangkutan (IKIP Malang, 1998:51). Pembinaan dan pengembangan karier tenaga kependidikan (dosen) meliputi kenaikan pangkat dan jabatan berdasarkan prestasi kerja dan peningkatan disiplin ketentuan oleh penyelenggara perguruan tinggi yang bersangkutan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tenaga kependidikan (dosen) berkewajiban untuk berusaha mengembangkan kemampuan profesionalnya sesuai dengan perkembangan tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan bangsa. Perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tinggi bertanggung jawab atas pelaksanaan program-program pendidikan tenaga kependidikan (dosen) dalam bidang ilmu pengetahuan yang merupakan ruang lingkup tugasnya (IKIP Malang 1998:71-72).

Dalam keseluruhan proses pendidikan di perguruan tinggi, pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak tergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran tersebut adalah dosen. Dalam proses pembelajaran, tugas dosen adalah sebagai perencana, pelaksana, dan sebagai penilai keberhasilan belajar mahasiswa. Semua tugas tersebut dilaksanakan dalam upaya untuk membantu membelajarkan mahasiswa untuk mendapatkan pengetahuan, kemahiran dan keterampilan, serta nilai dan sikap tertentu. Agar mahasiswa mempunyai nilai dan sikap yang diharapkan, dalam arti sesuai dengan standar yang berlaku umum di masyarakat, dosen harus pula melaksanakan tugasnya berdasarkan standar moral dan etika tertentu (Wibowo, 2001:1). Dosen harus berperan sebagai pengajar sekaligus sebagai pendidik, dan melaksanakan pembelajaran untuk mengubah cara mahasiswa memandang dirinya sendiri dan makhluk insani lain, sistem-sistem sosial dan struktur masyarakat ke arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Moral dalam pembelajaran akan dapat diwujudkan oleh dosen yang memiliki kompetensi. Kompetensi adalah keseluruhan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang dalam kaitannya dengan suatu tugas tertentu. Kompetensi dosen ialah pengetahuan, sikap dan keterampilan yang harus ada pada seseorang agar dapat menunjukkan tingkah lakunya sebagai dosen. Kompetensi dosen meliputi kompetensi personal, kompetensi profesional, kompetensi sosial, kompetensi intelektual, dan kompetensi spiritual (Wibowo, 2001:18).

Hatta (1983:3), menyatakan: tanggung jawab seorang akademis bersifat intelektual dan moral. Ini terbawa oleh tabiat ilmu itu sendiri, yang ujungnya mencari kebenaran dan membela kebenaran. Sejalan dengan ini pula, Suriasumantri (Depdikbud UT, 1985:92) lebih merinci tanggung jawab profesional seorang ilmuwan termasuk dosen yakni: (1) kebenaran, (2) kejujuran, (3) tanpa kepentingan langsung, (4) menyandarkan kepada kekuatan argumentasi, (5) rasional, (6) objektif, (7) kritis, (8) terbuka, (9) pragmatis, (10) netral dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas.

Kesimpulan yang dapat dibuat adalah bahwa kedua hal tersebut di atas, sifat intelektual dan moral, merupakan dasar utama bagi setiap ilmuwan, termasuk dosen di perguruan tinggi dalam menjalankan tugas-tugasnya, terutama mengemban misi Tri Dharma Perguruan Tingi. Di atas kedua dasar itulah letak keseluruhan tanggung jawab, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok, baik atas nama sendiri maupun atas nama lembaga yang mewakilinya.

Secara lebih khusus tentang tanggung jawab para dosen di perguruan tinggi, dikemukakan oleh Brown dan Thronton (dalam Adi, 2003:45), sebagai berikut: (1) tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, (2) tanggung jawab terhadap pengembangan bidang ilmunya, (3) tanggung jawab terhadap koleganya, (4) tanggung jawab terhadap administrasi, (5) tanggung jawab dalam hubungan dengan haknya, yakni: (a) waktu untuk mengajar, (b) kebebasan mengajar atau kebebasan mimbar, (c) perlindungan dalam mengajar, (d) penghargaan terhadap mengajar, (6) tanggung jawab terhadap anak didiknya. Selanjutnya pada kesempatan lain, Brown dan Thronton (dalam Adi, 2003:45), menulis bahwa tugas-tugas dan tanggung jawab dosen adalah: (1) merancang tujuan-tujuan dan kegiatan pengajaran, (2) kegiatan tatap muka, meliputi diskusi kelompok dan melayani mahasiswa secara individu, (3) menyiapkan kelas/pengajaran: membaca, membuat catatan, meneliti buku-buku sumber, dan sebagainya, (4) menyiapkan ujian-ujian: memberi penilaian dan melaporkan hasil ujian, (5) menghadiri konferensi, rapat dewan dosen, dan sebagainya, (6) tanggung jawab kepada departemen/jurusan, universitas/institut dan kepada profesi, (7) penelitian, (8) mengembangkan kebiasaan mengunjungi perpustakaan dan menghadiri seminar, workshop, dan sebagainya (9) mengadakan kunjungan ke universitas/institut lain, mengadakan field strips, mengunjungi pertemuan-pertemuan atau rapat-rapat di universitas/institut lain, dan (10) menghadiri diskusi ilmiah.

d. Pertumbuhan Profesional

Setiap guru (dosen) dituntut untuk menyadari dan mengetahui tugasnya dengan jelas. Untuk menunaikan tugasnya diperlukan sejumlah pengetahuan tentang jabatan guru, untuk mempersiapkan calon guru dengan sebaik-baiknya bagi tugas di kelas, maka pendidikan “pre-service” harus bersifat “up to date” setelah itu dalam “in-service education/training” perlu adanya penyegaran dan peningkatan jabatan mengajar guru. Guru selalu dihadapkan dengan segala macam problema dalam menjalankan tugasnya sehari-hari. Problema yang dihadapi itu antara lain, bagaimana membantu pertumbuhan jabatan guru. Guru-guru memerlukan pengetahuan dalam menganalisis situasi belajar-mengajar, menerapkan prinsip-prinsip psikologi modern dalam pengajaran, pengetahuan dasar penelitian, pengetahuan tentang cara-cara bekerjasama. Singkatnya mereka dituntut untuk tumbuh dalam jabatannya (Sahertian, 1981:12).

Pendidikan dan latihan dalam rangka pertumbuhan jabatan atau profesi ini lazimnya disebut “in-service education” atau “pendidikan dalam jabatan”. Sering disebut juga staff development atau pengembangan staf.

Perbedaan dan hubungan antara staff development dengan in-service education dijelaskan oleh Sergiovanni dan Starrant (1983:327), sebagai berikut:

“What is the difference between a staff development orientation and in-service education education orientation? Conceptually, staff development is not something the school does to the teacher but something the teacher does for himself or herself. While staff development is basically growth-oriented, in-service education typically assumes a deficiency in the teacher and presurpposes a set of appropriate ideas, skills, and methods, that need developing. By focussing on these ideas, skills, and method, in-service education work to reduce the teacher’s range of alternantives-indeed, to bring about conformity. Staff development does not assume a deficiency in the teacher, but rather assumes a need for at work to grow and develop on the job. Rather than reduce the range of alternatives, staff development works to increase this range”.

 

Ini berarti, bahwa pengembangan staff adalah upaya pengembangan diri oleh guru atau dosen, sedangkan “in-service education” lebih menekankan usaha sekolah atau lembaga untuk memperbaiki dan meningkatkan cara-cara berpikir, keterampilan-keterampilan dan metode-metode yang perlu dikembangkan untuk perbaikan pengajaran yang pada gilirannya nanti meningkatkan mutu pendidikan, serta pada waktu yang sama juga meningkatkan kemampuan profesional seorang guru atau dosen. Perbedaan ini adalah perbedaan secara konseptual, sedangkan dalam praktek keduanya digabungkan. Dalam upaya pengembangan staff suatu organisasi atau lembaga, tidak boleh mengabaikan salah satu dari keduanya, karenya keduanya saling mengisi dan saling melengkapi satu sama lain.

Program “in-service education” perlu diadakan, karena perubahan kebudayaan membawa implikasi terhadap perubahan kurikulum, terus meningkatnya jumlah anak yang masuk sekolah, jumlah staff pengajar yang makin bertambah, pengetahuan proses belajar-mengajar yang semakin maju. Semua ini menuntut guru atau dosen untuk selalu mengikuti perubahan dan perkembangan serta kemajuan ilmu dan teknologi dengan usaha peningkatan diri, disamping usaha-usaha dilakukan oleh organisasi atau lembaga kearah peningkatan mutu kerja agar mencapai hasil yang optimal. Tentunya semua ini ditunjukkan kepada peningkatan mutu pendidikan.

Uraian-uraian di atas memberikan gambaran kepada kita betapa pentingnya seseorang perlu bertumbuh dalam jabatannya. Hal ini penting, agar ia dapat melaksanakan tugasnya dengan baik, yang pada gilirannya nanti mutu pendidikan dapat ditingkatkan.

Demikian secara singkat telah ditinjau hakikat, latar belakang, tujuan, metode, dan teknik serta sasaran program in-service education yang didasarkan pada tugas dan tanggung jawab para dosen di perguruan tinggi. Disadari bahwa program, in-service education yang telah tepat adalah program yang didasarkan atas hasil-hasil evaluasi pelaksanaan tugas-tugas yang diemban oleh para dosen perguruan tinggi selama ini.

 

4. Kinerja/Prestasi Kerja

Dalam buku-buku/literatur yang membahas tentang manajemen sumberdaya manusia, sebenarnya tidak banyak yang secara spesifik mengupas istilah “prestasi kerja”. Meskipun demikian tetap ditemukan beberapa konsep, definisi/batasan tentang “prestasi kerja”. Beberapa ahli/pakar dalam bidang manajemen sumberdaya manusia mengemukakan pengertian “prestasi kerja” sebagai berikut.

Agus (1996) mengemukakan bahwa “prestasi kerja” adalah sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang dihasilkan atau diberikan oleh seseorang atau sekelompok orang. Selanjutnya, dikemukakan prestasi kerja dipengaruhi oleh faktor motivasi dan faktor kemampuan yang dimilikinya. Oleh karena itu, prestasi kerja antara pegawai yang satu mungkin berbeda dari prestasi kerja pegawai yang lainnya.

Menurut Handoko (1999), prestasi kerja (dalam bahasa asing disebut performance) adalah pelaksanaan kerja karyawan. Sedangkan Fattah (1996), berpendapat prestasi adalah ungkapan kemajuan yang didasari oleh pengetahuan, sikap dan keterampilan. Pidarta (1988), berpendapat bahwa prestasi kerja adalah hasil pekerjaan yang dipandang sejauhmana hasil pekerjaannya itu sudah sesuai dengan kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya, dan apakah sudah sesuai dengan alokasi waktu yang diberikan. Senada dengan pendapat Pidarta, Londo (2000) berpendapat prestasi kerja adalah tindakan-tindakan/pelaksanaan tugas yang diselesaikan seorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1979 dan Surat Edaran Badan Administrasi Kepegawaian Negara RI Nomor 02 Tahun 1980 tentang Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan Pegawai Sipil (1980:57), disebut bahwa yang dimaksud dengan prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai seseorang (dalam hal ini oleh PNS) di dalam melaksanakan tugas yang dibebankan padanya. Di dalam peraturan itu dijelaskan bahwa pada umumnya, prestasi seorang pegawai negeri sipil antara lain dipengaruhi oleh kecakapan, keterampilan, pengalaman dan kesungguhan yang bersangkutan. Dengan demikian prestasi kerja pegawai bisa dinilai atau diukur berdasarkan kecakapan, atau kemampuan, keterampilan, dan pengalaman serta kesungguhan yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Hal ini oleh Harun (2003) dipertegas lagi bahwa prestasi kerja seseorang dilihat dari dimensi kuantitatif, mencakup berbagai potensi yang terkandung pada setiap manusia, antara lain berupa pikiran atau ide, sikap, pengetahuan dan keterampilan.

Hal tersebut akan dapat berpengaruh terhadap kapasitas kemampuan manusia untuk melaksanakan pekerjaan yang produktif. Sedangkan menurut Martoyo (1988) menyatakan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan prestasi kerja di antaranya: (1)  kecakapan kerja, (2) kualitas kerja, (3) pengembangan, (4) tanggung jawab, (5) ide/ prakarsa, (6) ketabahan, (7) kejujuran, (8) tingkat kehadiran, (9) kerjasama, dan (10) tingkah laku. Selanjutnya, penjelasan lengkap kesepuluh faktor tersebut sebagai berikut:

Kecakapan kerja adalah hal-hal yang berkaitan dengan teknik-teknik yang diperlukan dalam melakukan suatu pekerjaan agar dapat berjalan lancar di dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam hal ini, yang dijadikan tolok ukur adalah kemandirian dari orang yang bersangkutan di dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Kualitas kerja adalah mutu dari pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan. Untuk itu, tolok ukur yang digunakan adalah tingkat kesalahan yang terjadi dalam melaksanakan pekerjaan dan perbaikan yang diberikan. Selanjutnya, pengertian pengembangan adalah seberapa besar potensi dan minat pegawai berkembang dalam kariernya. Pengukuran untuk itu dapat dilihat dari besarnya kemauan untuk berkembang dan lamanya waktu yang diperlukan.

Tanggung jawab adalah sikap ketaatan terhadap pekerjaan/ ketuntasan di dalam melaksanakan pekerjaan yang diembankan kepadanya.

Prakarsa adalah kemampuan terhadap sesuatu yang bersifat positif dan bermanfaat untuk perbaikan dan peningkatan produktivitas. Hal ini dilihat dari gagasan atau ide-ide, langkah-langkah atau cara yang baru dan cemerlang.

Ketabahan adalah sikap mental dalam menghadapi masalah-masalah serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.

Kejujuran adalah sikap yang menempatkan kebenaran dalam posisi yang sebenarnya. Misalnya mengerjakan pekerjaan dengan ketulusan hati dan kemampuan untuk tidak menyalahgunakan wewenang yang diberikan.

Tingkat kehadiran adalah sikap untuk taat, menghargai, memanfaatkan waktu kerja yang ditentukan dengan sebaik-baiknya di dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan. Hal ini dapat dilihat dari indikasi masuk dan pulang kerja dengan tepat waktu serta kelengkapan di dalam mengisi presensi/daftar kehadiran.

Kerjasama adalah kemampuan untuk bekerja bersama-sama dengan orang lain dalam menyelesaikan suatu tugas. Kongkritnya dapat dilihat dari pelaksanaan pekerjaan yang memerlukan keterlibatan pihak lain.

Sedangkan tingkah laku adalah sikap seseorang di dalam pelaksanaan tugas pekerjaan seperti kedisiplinan, ketertiban, sopan, luwes, tegas, mentaati kode etik kerja serta semua tingkah laku yang berkaitan dengan tatakrama yang ditetapkan.

Berdasarkan uraian di atas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud “prestasi kerja” adalah hasil kerja yang dicapai seseorang di dalam melaksanakan tugas pekerjaan dan kebijakan lembaga/institusi yang diembankan kepadanya, baik yang mencakup pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Oleh karena itu, setiap pegawai pada semua tingkatan, baik pada lingkungan pemerintah, perusahaan maupun lembaga lainnya, harus dapat menunjukkan prestasi kerja  sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam lingkungannya. Ini dapat diwujudkan melalui proses yang bersifat individual, yaitu kemauan diri setiap pegawai untuk mempelajari, memahami, dan melaksanakan tugas atau pekerjaan yang diembankan kepadanya.

Prestasi kerja adalah hasil kerja secara “kualitas” dan “kuantitas” yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya (Mangkunegara, 2000). Prestasi kerja atau yang dalam istilah lain disebut performansi merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan hadiah (reward), menentukan besarnya gaji serta untuk menentukan kemampuan-kemampuan (kapabilitas) seorang pegawai satu dengan pegawai lain. Walaupun dalam realitas di lapangan ketiga hal di atas bagi institusi pemerintah belum sepenuhnya dapat diterapkan, namun tetap perlu untuk dicantumkan.

a.  Menilai Prestasi Kerja

Penilaian prestasi kerja pegawai merupakan bagian terpenting dari seluruh proses kekaryaan pegawai yang bersangkutan. Artinya, bahwa penilaian prestasi pegawai mempunyai nilai arti bagi pegawai yang bersangkutan dan bagi organisasi/lembaga. Bagi pegawai, penilaian itu memiliki peran sebagai umpan balik tentang berbagai hal, seperti: kemampuan, kelebihan, kekurangan maupun potensi, yang pada akhirnya akan bermanfaat untuk menentukan tujuan, jalur/pengembangan karier. Sedang bagi organisasi, hasil penilaian prestasi kerja para pegawai sangat penting untuk pengambilan keputusan dalam berbagai hal seperti: rekrutmen pegawai baru, pendidikan dan pelatihan pegawai, identifikasi kebutuhan pegawai, seleksi, penempatan, promosi pegawai serta sistem upah karyawan.

Sebenarnya banyak ahli manajemen yang memberi batasan tentang penilaian pegawai. Di antaranya, menurut Bernandin & Russell (dalam Gomes, 2003) memberi batasan penilaian performansi (prestasi kerja) “ … a way of measuring the contributions of individuals to their organizations” (penilaian performansi adalah suatu cara mengukur kontribusi-kontribusi dari individu anggota organisasi pada organisasinya). Secara umum tujuan penilaian prestasi kerja (performansi) bisa dibedakan menjadi dua macam: a) untuk memberi hadiah atas prestasi kerja sebelumnya, dan b) untuk memberi motivasi guna peningkatan prestasi kerja pada masa yang akan datang. Pengukuran prestasi merupakan suatu alat manajemen yang digunakan untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas (Whittaker, 2000).

Pengukuran kinerja juga dipergunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan sasaran (goals and objectives). Bellows (dalam Manullang, 1994) merumuskan sebagai berikut: “Penilaian pegawai adalah sebuah penilaian periodik secara sistematis akan peranan daripada seseorang terhadap organisasi, yang biasanya dilakukan oleh seorang supervisor atau seorang lainnya dalam situasi memperhatikan cara pelaksanaan pekerjaannya”. Simons dan Whittaker (dalam Yulianto, 2000) juga berpendapat senada bahwa pengukuran prestasi meruoakan suatu bentuk metode guna menilai kemajuan yang telah dicapai dibanding dengan tujuan yang ditetapkan.

Pengukuran prestasi tidak dimaksudkan sebagai mekanisme untuk memberikan penghargaan atas hukuman (rewards and punishment) akan tetapi berperan sebagai alat komunikasi dan alat manajemen untuk memperbaiki kinerja organisasi. Leon (dalam Mangkunegara, 2000) mengemukakan “performance appraisal is the process and employer use to determine whether an employee is performing in the job as intended” (penilaian prestasi kerja adalah suatu proses yang digunakan oleh majikan untuk menentukan apakah seorang pegawai melakukan pekerjaan sesuai dengan yang dimaksudkan).

Senada dengan pendapat ahli di atas, Sugiyono (2004), menyatakan bahwa berdasarkan teori dan hasil konsultasi ahli, indikator prestasi kerja pegawai meliputi 2 faktor, yaitu kualitas hasil kerja dan kecepatan kerja. Ada pula yang memberi batasan lain tetapi memiliki kesamaan, sebagaimana oleh Handoko (1999), “Penilaian prestasi kerja (performance appraisal) adalah proses melalui mana organisasi-organisasi menilai/mengevaluasi prestasi kerja karyawan”. Sedikit berlainan, tapi menyerupai, Tiffin (dalam Bambang, 1999) memberi batasan sebagai berikut: “Penilaian prestasi karyawan adalah sebuah penilaian sistematis daripada seorang karyawan oleh atasannya atau beberapa orang ahli yang faham akan pelaksanaan pekerjaan karyawan tersebut”.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa penilaian prestasi kerja adalah suatu proses penilaian prestasi pegawai yang dilakukan pimpinan perusahaan secara sistematis berdasar pekerjaan yang ditugaskan kepadanya, baik kualitas maupun kuantitas hasil kerjanya.

Dalam penelitian ini, kriteria yang digunakan untuk menilai kinerja dosen adalah berdasarkan Keputusan menteri Negara Koordinator Bidang Pengawasan Pembangunan dan Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 38/KEP/MK.WASPAN/ 8/1999 tentang Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya, dan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 61409/MPK/KP/99 dan Nomor 181 Tahun 1999 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Dosen dan Angka Kreditnya. Unsur kegiatan yang dinilai dalam penilaian pelaksanaan tugas pokok dosen berkenaan dengan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi (Universitas Negeri Malang, 2000:103-104) terdiri dari (1) unsur utama, dan (2) unsur penunjang. Unsur utama Tridharma Perguruan Tinggi, meliputi: melaksanakan pendidikan dan pengajaran, melaksanakan penelitian dan pengembangan serta menghasilkan karya ilmiah, karya teknologi, karya seni monumentasi/seni pertunjukan dan karya sastra, dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, serta unsur penunjang, meliputi kegiatan yang mendukung pelaksanaan tugas pokok dosen.

b.  Manfaat Penilaian Prestasi Kerja

Banyak manfaat dilakukannya penilaian prestasi kerja bagi para pegawai, meskipun di dalam prakteknya kadang-kadang para kalangan manajer/pimpinan ada yang tidak memahami pentingnya penilaian prestasi kerja karyawan. Penilaian prestasi kerja karyawan merupakan “proses”, dalam mana organisasi mengevaluasi/menilai hasil dan kemampuan kerja karyawan.

Hasil penilaian prestasi kerja karyawan dapat dimanfaatkan dalam bidang kepegawaian, dalam perencanaan, serta bisa memberi umpan balik positif karyawan dengan atasan tentang pelaksanaan kerja. Seperti ditegaskan Mangkunegara (2000), ada beberapa kegunaan dari penilaian prestasi kerja karyawan, antara lain sebagai berikut:

1) Perbaikan  prestasi kerja, artinya umpan balik pelaksanaan kerja memberi kemungkinan karyawan, manajer dan bagian personalia dapat membetulkan kegiatan mereka untuk memperbaiki prestasi.

2) Penyesuaian kompensasi, maksudnya evaluasi prestasi kerja akan membantu para pengambil keputusan dalam menentukan kenaikan upah, pemberian bonus, dan bentuk kompensasi lainnya.

3) Keputusan penempatan, promosi, mutasi dan rolling, didasarkan pada prestasi kerja masa lalu. Promosi sering merupakan bentuk penghargaan terhadap prestasi kerja.

4) Kebutuhan latihan dan pengembangan, artinya prestasi kerja baik, ada kemungkinan untuk ditingkatkan/dikembangkan, termasuk untuk pengembangan karier pegawai.

Seirama dengan pendapat di atas tentang manfaat penilaian prestasi kerja menurut Notoatmodjo (2003) menegaskan bahwa secara umum manfaat penilaian prestasi kerja dalam organisasi di antaranya adalah:

1) Dapat memperoleh umpan balik, dan mereka akan dapat memperbaiki pekerjaannya.

2) Kesempatan kerja yang adil. Artinya dengan adanya penilaian kerja yang akurat menjamin setiap karyawan memperoleh kesempatan menempati posisi pekerjaan sesuai kemampuannya.

3) Kebutuhan-kebutuhan pelatihan pengembangan. Konteks ini dimak-sudkan melalui penilaian prestasi kerja dapat dideteksi karyawan-karyawan yang kemampuannya rendah, sedang, dan tinggi, yang kemungkinan perlu program pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

4) Penyesuaian kompensasi. Maksudnya dengan adanya penilaian pres-tasi kerja dapat membantu pimpinan (manajer) untuk mengambil keputusan menentukan perbaikan kompensasi gaji, bonus, tunjangan, dan lain-lain.

5) Keputusan-keputusan promosi dan demosi. Maksudnya, hasil penilaian prestasi kerja pegawai dapat dimanfaatkan untuk dasar pengambilan keputusan dalam mempromosikan karyawan berprestasi baik, dan keputusan demosi untuk karyawan yang berprestasi jelek.

6) Kesalahan-kesalahan desain pekerjaan. Artinya, dari hasil penilaian prestasi kerja karyawan dapat dipergunakan untuk menilai desain kerja apabila ada kesalahan-kesalahan dalam mendesain kerja.

7) Pedoman menilai proses rekrutmen dan seleksi karyawan baru. Hasil penilaian prestasi kerja karyawan juga dapat dipergunakan untuk menilai proses rekrutmen dan dasar seleksi penerimaan karyawan baru.

8) Kesempatan kerja yang adil. Hasil penilaian prestasi kerja karyawan yang akurat dapat menjamin keputusan penempatan (job description) internal yang diambil tanpa diskriminasi (perbedaan).

c. Langkah-langkah Dalam Menilai Prestasi Kerja

Sebuah departemen pemerintah maupun organisasi yang memiliki sumberdaya manusia di mana mereka melakukan tugas, setiap periode tertentu selalu melakukan penilaian untuk menentukan prestasi kerja  para pegawainya. Tentu dalam penilaian tersebut menggunakan standar penilaian yang baku, agar lebih objektif dalam penilaiannya.

Dalam melakukan penilaian prestasi kerja pegawai ada proses-proses penilaian yang harus dilalui. Sebagaimana pendapat Dessler (2005) bahwa proses penilaian prestasi kerja seorang pegawai berisi tiga langkah: 1) mendefinisikan pekerjaan, 2) menilai prestasi, 3) memberi umpan balik. Selanjutnya, dijelaskan bahwa anda dan bawahan sepakat atas tanggung jawab dan standar pekerjaan karyawan. Kedua: menilai prestasi kerja berarti membandingkan prestasi nyata bawahan anda dengan standar yang telah ditetapkan, biasanya menggunakan formulir peringkat. Ketiga, penilaian prestasi kerja biasanya membutuhkan satu atau lebih sesi umpan balik.

Penjelasan di atas memunculkan beberapa penafsiran antara lain tentang standar prestasi karyawan, formulir penilaian yang memuat kriteria penilaian dan umpan balik bawahan. Artinya, ketiga langkah itu harus mencakup elemen-elemen pokok sistem penilaian prestasi kerja.

Dari uraian di atas dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa jika dalam pelaksanaan penilaian prestasi kerja karyawan berhasil dengan ketiga langkah tersebut, maka hasil penilaian itu dapat dijadikan sebagai patokan/acuan dalam program pengembangan pelatihan dan pendidikan serta peningkatan karier. Sebaliknya, jika dalam pelaksanaan penilaian prestasi dengan ketiga langkah tersebut gagal, maka hal itu diartikan ketidaktahuan bawahan tentang apa maksud penilaian prestasi itu.

Demikian juga, jika dalam suatu penilaian prestasi mengalami kegagalan, maka itu bisa dikarenakan oleh permasalahan prosedur atau formulir dan mungkin kriteria prestasi kerja yang belum jelas bagi bawahan yang akan digunakan untuk melakukan penilaian.

Terkait dengan langkah-langkah penilaian prestasi kerja seperti diuraikan di atas, terdapat istilah lain yang memiliki kesamaan istilah “langkah-langkah penilaian”, dengan “proses penilaian” yaitu menurut Hall dan Goodale (dalam Sukamti, 1989), ada beberapa proses penilaian prestasi kerja yang harus dilakukan, dirancang dan diimplementasikan melalui beberapa tahap, yaitu: a) sebelum penilaian, b) selama penilaian, dan c) setelah penilaian. Proses penilaian prestasi kerja karyawan dimaksud dapat divisualisasikan pada tabel berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 2.1 Proses Penilaian Prestasi Kerja

SEBELUM

SELAMA

SETELAH

  1. Mengenali tujuan dan menetapkan kebijakan dan prosedur
  2. Analisa pekerjaan
  3. Merancang ukuran prestasi kerja
  4. Mengkomunikasikan standar penilaian kepada pegawai
    1. Observasi prestasi pegawai dan hasilnya
    2. Catat prestasi kerja pegawai an hasilnya
    3. Evaluasi hasil penilaian prestasi kerja
    4. Diskusikan penilaian itu dengan pegawai
    5. Tindak lanjut: rumuskan langkah selanjutnya setelah penilaian

Lebih lengkap ditambahkan lagi oleh Hall & Goodale (dalam Sukamti, 1989) sebagai berikut.

1) Mengenali tujuan dan menetapkan kebijakan dan prosedur, artinya kita harus dapat mengenali tujuan mana yang lebih penting dan perlu diutamakan.

2) Analisa pekerjaan, dimaksudkan bahwa manajer perlu terlebih dahulu menganalisa atau mengadakan review dari job diskripsi yang ada untuk mengenali tipe-tipe prestasi kerja.

3) Merancang ukuran prestasi kerja, artinya manajer harus memilih ukuran secara jelas, yang nantinya akan menjadi acuan dasar dalam penilaiannya.

4) Mengkomunikasikan standar prestasi kerja. Setiap pegawai harus/wajib mengetahui dan diberitahu standar baku tentang penilaian prestasi kerja.

5) Observasi prestasi kerja dan hasilnya. Manajer harus mengobservasi secara langsung maupun tidak langsung penilaian prestasi kerja. Siapa yang layak dinilai dan siapa yang harus menilai.

6) Mencatat prestasi kerja dan hasilnya. Setiap manajer dalam unit kerja seharusnya selalu mencatat, merekam setiap pegawai yang berprestasi guna dokumentasi lembaga.

7) Evaluasi penilaian prestasi kerja. Dalam hal ini perlu dilakukan evaluasi atas pelaksanaan penilaian prestasi kerja. Apakah ada kekurangan, kendala dan lain sebagainya.

8) Diskusikan penilaian dengan para pegawai. Pasca pelaksanaan penilaian prestasi kerja, hendaknya dilakukan diskusi dengan para pegawai yang langsung sebagai umpan balik dari pegawai.

9) Tindak lanjut. Usai penilaian prestasi, pihak lembaga perlu untuk menindaklanjuti.

Selain langkah-langkah dalam penilaian prestasi kerja seperti dituliskan di atas, unsur lain yang perlu diperhatikan adalah elemen-elemen pokok sistem penilaian prestasi kerja. Elemen-elemen dimaksud dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2 Elemen-elemen Pokok Sistem Penilaian Prestasi Kerja (Dessler,

2005)

 

d. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Kerja

Menurut Davis (dalam Mangkunegara, 2000) faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian prestasi kerja adalah kemampuan (ability) dan motivasi (motivation). Selanjutnya, Davis merumuskan bahwa: “Human performance = ability + motivation.     Motivation = attitude + situation, and Ability = knowledge + skill

Senada dengan di atas, Klinger & Nalbandian (dalam Gomes, 2003) menjelaskan “banyak hasil penelitian yang memperlihatkan bahwa produktivitas sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: knowledge, skills, abilities, attitude, dan behaviors” dari para pekerja yang ada dalam organisasi.

Ditambahkan oleh Mangkunegara (2000), secara psikologis kemampuan dalam istilah asing disebut ability seseorang/pegawai terbentuk oleh adanya potensi intelektualitas (IQ) dan kemampuan reality (knowledge + skill). Dalam pengertian, jika seorang pegawai memiliki IQ di atas rata-rata, antara 110 – 120 dengan pendidikan yang memadai untuk jabatannya dan terampil dalam mengerjakan tugas sehari-hari, maka ia akan lebih mudah mencapai prestasi kerja sesuai dengan keahliannya. Sedang motivasi terbentuk dari sikap pegawai dalam menghadapi situasi kerja. Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai yang terarah untuk mencapai tujuannya.

B. Kajian Terhadap Penelitian Terdahulu

Ada beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya berkaitan dengan motivasi dan kemampuan dosen dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya di suatu perguruan tinggi. Hasil penelitian dimaksud dikemukakan berikut ini.

Berkaitan dengan mutu (kualitas) proses belajar mengajar, dosen harus terus menerus dibina dan ditingkatkan keterampilannya. Hasil penelitian Ninik Ratnawati di Universitas Jember, menunjukkan bahwa ada korelasi yang positif signifikan antara pembinaan dosen melalui penataran pendekatan terapan dengan unjuk kerja dosen, dalam pemberian kuliah meliputi: perencanaan, implementasi dan evaluasi (Alit Ana, 1994:14).

Ini berarti bahwa semakin baik pembinaan dosen melalui penataran semakin baik unjuk kerja dalam interaksi belajar mengajar. Dengan demikian daya serap dan pengembangan potensi mahasiswa akan lebih berkualitas. Sebaliknya kekurangmam-puan dosen dapat menurunkan kualitas interaksi pembelajaran.

Dosen yang profesional memang memiliki lima kualitas, yaitu kualitas pengetahuan, kualitas keterampilan, kualitas sifat/trait, kualitas sikap, dan kualitas perilaku. Kelima kualitas tersebut juga dipersepsikan tampil dalam bentuk-bentuk tingkah laku yan kurang lebih sama. Selain itu tidak ada dominasi salah satu kualitas, karena jumlah tingkah laku yang dipersepsikan tampil dalam masing-masing kualitas relatif sama banyak (Silalahi, 2001:21).

Dari uraian tersebut, menunjukkan bahwa dosen yang profesional haruslah menampilkan ciri-ciri tertentu dalam pengetahuan, keterampilan, kepribadian, sikap dan tingkah lakunya.

Agus (1996) mengemukakan, bahwa prestasi kerja/kinerja adalah sesuatu yang dikerjakan atau produk/jasa yang dihasilkan atau diberikan seorang individu/kelompok. Selanjutnya ia mengemukakan bahwa prestasi kerja dipengaruhi oleh faktor motivasi dan kemampuan diri yang dimiliki pegawai, sehingga prestasi kerja antara pegawai satu mungkin berbeda dengan pegawai lain. Menurut Londo (2000) prestasi kerja adalah hasil daripada tindakan-tindakan atau pelaksanaan tugas yang diselesaikan oleh seseorang dalam kurun waktu tertentu dan dapat diukur.

Dalam kenyataan di masyarakat yang tampak selama ini, tidak banyak pegawai yang bisa menunjukkan prestasi kerja signifikan. Menurut Dumiati (1996) kenyataan di lapangan menunjukkan di dalam banyak organisasi, terutama instansi-instansi pemerintah, masih terdapat pegawai yang belum/kurang menunjukkan prestasi kerja secara maksimal sesuai dengan tujuan institusi atau lembaga di mana mereka bekerja. Kelemahan ini disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya: a) kurangnya kerjasama antar pegawai/tenaga adiministrasi, b) hubungan kerja yang kurang baik, dan c) suasana kepemimpinan yang kurang mendukung (Dumiati, 1996). Untuk mencapai prestasi kerja agar baik dan memadai dalam sebuah unit atau organisasi  memang bukan pekerjaan yang mudah, tetapi harus memerlukan kerja keras, terlebih lagi prestasi kerja itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain (a) kemampuan diri, (b) motivasi, dan (c) rasa kedisiplinan diri.

Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa salah satu komponen yang memegang peranan penting dalam upaya pencapaian tujuan organisasi adalah ketersediaan dan tingkat kemampuan sumberdaya manusia yang dimiliki. Manusia, dalam hal ini pegawai/pendidik merupakan satu-satunya sumberdaya yang potensial dan strategis perannya dalam setiap organisasi.

C. Pengembangan Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan penelitian terdahulu di atas, maka dapat ditarik kesimpulan yang dikembangkan menjadi hipotesis penelitian ini. Pengembangan hipotesis penelitian dimaksud dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Ada kontribusi yang signifikan dari tingkat pendidikan formal yang dimiliki terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Ada kontribusi yang signifikan dari motivasi kerja yang dimiliki terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  3. Ada kontribusi yang signifikan dari tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

Dari pengembangan hipotesis penelitian di atas dapat dibuat model hipotesis penelitian sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.3 Model Hipotesis Penelitian

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

A. Rancangan/Jenis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka penelitian ini adalah termasuk jenis penelitian eksplanasi (explanatory research). Penelitian eksplanasi adalah untuk menguji hubungan antar variabel yang dihipotesiskan (Faisal, 2005:21). Menurut Emory (dalam Umar, 2004:92), penelitian dengan desain eksplanatori adalah bertujuan untuk menemukan informasi dari pengalaman orang lain. Sesuai dengan pendapat tersebut, penelitian ini berusaha untuk mengetahui antara dua variabel bebas, yaitu tingkat pendidikan (x1) dan motivasi kerja (x2) terhadap kinerja profsionalisme dosen (y) yang merupakan variabel terikat.

Dari uraian di atas, dapat dikatakan penelitian ini dilakukan dengan desain (rancangan) penelitian eksplanasi dengan menggunakan pendekatan survey. Pendekatan survey dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi-informasi berkenaan dengan fokus masalah yang diteliti dari sekelompok manusia pada satu lokasi yang telah ditetapkan dalam hal ini, yaitu para dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

B. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Untuk menghindarkan salah penafsiran dan memudahkan dalam melakukan penilaian terhadap variabel yang diteliti, maka perlu ditegaskan mengenai definisi operasional dan cara pengukuran variabel yang dipergunakan berkenaan dengan penelitianini, yaitu sebagai berikut:

  1. Tingkat pendidikan (variabel bebas /x1)

Yang dimaksud dengan tingkat pendidikan adalah tingkat pendidikan formal yang terakhir dimiliki para dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Variabel ini diukur atau diamati dengan menggunakan ijazah yang diperoleh dari perguruan tinggi, yaitu: S1 (sarjana), S2 (magister), S3 (doktor).

  1. Motivasi kerja (variabel bebas/x2)

Yang dimaksud dengan motivasi kerja adalah suatu dorongan yang terjadi pada individu seseorang dalam hal ini dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, baik dorongan yang terjadi dari faktor intrinsik maupun ekstrinsik sehingga dapat menggerakkan semangat kerja yang dicerminkan dalam sikap atau perasaan-perasaan pada dirinya dalam melaksanakan tugas-tugas pokoknya. Variabel ini diukur atau diamati dengan menggunakan rasio total sikap atau perasaan-perasaan yang dialami dan dirasakan dosen berkenaan dengan tugas-tugas pokok yang dikerjakannya.

  1. Kinerja profesionalisme dosen (variabel terikat/y)

Yang dimaksud dengan kinerja profesionalisme dosen adalah kemampuan pencapaian hasil kerja atau unjuk kerja yang dilakukan oleh seseorang yang berprofesi sebagai dosen atau pengajar pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang yang telah diangkat dan berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) serta berkedudukan sebagai pejabat fungsional dengan tugas pokok yaitu melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Variabel ini diukur atau diamati dengan menggunakan ratio total capaian hasil kerja terhadap indikator kegiatan tugas pokok dosen.

Uraian mengenai definisi operasional dan pengembangan variabel penelitian di atas dapat disederhanakan dan disajikan dalam bentuk tabel jabaran variabel, sehingga mencerminkan ruang lingkup penelitian atau cakupan atas variabel-variabel yang diteliti, seperti Tabel 3.1 berikut ini.

Tabel 3.1 Jabaran Variabel Penelitian

 

No.

Variabel

Sub Variabel

Indikator

Subjek Penelitian/ Sumber Data

Instrumen Penelitian

1

Tingkat Pendidikan Pendidikan formal terakhir 1. Sarjana (S1)

2. Magister (S2)

3. Doktor (S3)Dosen Jurusan Akuntansi FE UM

Angket

2.

Motivasi Kerja1. Moti-vasi intrinsik

  1. Tuntutan kehidupan
  2. Kondisi kesehatan
  3. Pengakuran sebagai individu
  4. Kualitas kehidupan kerja
  5. Tanggung jawab tugas/ pekerjaan
  6. Keinginan untuk berprestasi
  7. Keinginan untuk menjalin hubungan sosial
  8. Penghargaan yang diperoleh dari pelaksanaan kerja (prestasi kerja)
  9. Kepuasan kerja

10. Kemampuan diri

 

Dosen Jurusan Akuntansi FE UM

 

Angket  2. Moti-vasi ekstrin-sik

  1. Penerimaan gaji
  2. Kondisi lingkungan kerja
  3. Iklim kerja

 

  1. Tuntutan perkembangan IPTEK
  2. Kebijaksanaan pimpinan/ lembaga
  3. Peluang karier (kenaikan pangkat/ jabatan
  4. Hubungan dengan teman sekerja (seprofesi)
  5. Hubungan dengan karyawan
  6. Hubungan dengan pimpinan
  7. Peraturan/ketentuan pedoman kerja

 

3.

Kinerja Profesionalisme Dosen1. Melak-sanakan Pendidikan dan penga-jaran

  1. Melaksanakan perkuliahan/tutorial dan menguji serta menyelenggarakan kegiatan pendidikan di laboratorium, praktik keguruan, praktik bengkel/studio/kebun percobaan/tekno-logi pembelajaran
  2. Membimbing seminar mahasiswa
  3. Membimbing kuliah kerja nyata (KKN), praktik kerja nyata (PKN), praktik kerja lapangan (PKL)
  4. Membimbing tugas akhir penelitian mahasiswa termasuk membimbing pembuatan laporan hasil penelitian tugas akhir
  5. Penguji pada ujian akhir
  6. Membina kegiatan mahasiswa di bidang

 

  1. akademik dan kemahasiswaan
  2. Mengembangkan program perkuliahan
  3. Mengembangkan bahan pengajaran
  4. Menyampaikan orasi ilmiah
  5. Menduduki jabatan pimpinan perguruan tinggi
  6. Membimbing dosen yang lebih rendah jabatannya
  7. Melaksanakan kegiatan datasering dan pencangkokan dosen

 

Dosen Jurusan Akuntansi FE UM

 

Angket  2. Melak-sanakan peneli-tian

  1. Menghasilkan karya penelitian
  2. Menerjemahkan/menyadur buku ilmiah
  3. Mengedit/menyunting karya ilmiah
  4. Membuat rancangan dan karya teknologi
  5. Membuat rancangan dan karya seni

 

Dosen Jurusan Akuntansi FE UM

 

Angket  3. Melak-sanakan pengab-dian kepada masya-rakat

  1. Menduduki jabatan pimpinan dalam lembaga pemerintahan/pejabat negara sehingga harus dibebaskan dari jabatan organiknya
  2. Melaksnakan pengembangan hasil pendidikan dan penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat

 

 

  1. Memberi latihan/penyuluhan/penataran pada masyarakat
  2. Memberi pelayanan kepada masyarakat atau kegiatan lain yang menunjang pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan
  3. Membuat/menulis karya pengabdian kepada masyarakat

 

Dosen Jurusan Akuntansi FE UM

 

Angket  4. Melak-sanakan kegiatan lain yang mendu-kung tugas pokok (kegi-atan penun-jang)

  1. Menjadi anggota dalam suatu panitia/badan pada perguruan tinggi
  2. Menjadi anggota/panitia badan pada lembaga pemerintah
  3. Menjadi anggota organisasi profesi
  4. Mewakili perguruan tinggi/lembaga pemerintah duduk dalam panitia antar lembaga
  5. Menjadi anggota delegasi nasional ke pertemuan internasional
  6. Berperan serta aktif dalam pertemuan ilmiah
  7. Mendapat tanda jasa/penghargaan
  8. Menulis buku pelajaran SLTA ke bawah
  9. Mempunyai prestasi di bidang olahraga/kesenian/sosial.

 

Dosen Jurusan Akuntansi FE UM

 

Angket

 

 

C. Populasi dan Sampel Penelitian

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2002:108). Sedangkan yang dimaksud dengan subjek penelitian adalah menunjuk orang/individu atau kelompok yang dijadikan unit atau satuan (kasus) yang diteliti (Faisal, 2001:109).

Dari pendapat di atas, maka populasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah semua dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. Adapun jumlah dosen dimaksud adalah sebanyak 20 orang (Universitas Negeri Malang, 2005:35). Jumlah dosen ini dapat dirinci lebih lanjut berdasarkan golongan (Universitas Negeri Malang, 2005:41-43) sebagai berikut:

Tabel 3.2 Jumlah Dosen Berdasarkan Golongan Pangkat pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang

 

No.

Golongan Pangkat

Jumlah (orang)

Keterangan

1.

2.

Golongan III

Golongan IV

11

9

                         Jumlah

20

 

 

 

2. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai wakil populasi bersangkutan (Faisal, 2001:57-58). Sedangkan Arikunto (2002:109) mengemukakan, sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.

Berdasarkan definisi di atas, mengingat jumlah populasi penelitian ini adalah relatif sedikit (20 orang dosen) maka dalam penelitian ini tidak dilakukan pengambilan sampel. Dengan kata lain 20 orang dosen pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang tersebut seluruhnya merupakan subjek penelitian.

D. Jenis, Sumber dan Teknik Pengumpulan Data

1. Jenis Data

Ditinjau dari sumber diperolehnya data, maka jenis data penelitian ini adalah terdiri dari data primer data sekunder. Data primer adalah data utama yang berkenaan dengan variabel yang diteliti dan diperoleh atau dikumpulkan secara langsung dari sumber data, dalam hal ini dari subjek penelitian. Data primer dimaksud yaitu (1) tingkat pendidikan formal yang terakhir dimiliki, (2) motivasi kerja yang meliputi motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, serta (3) kinerja profesionalisme dosen. Sedangkan data sekunder adalah data pelengkap penelitian yang diperoleh atau dikumpulkan secara tidak langsung melainkan melalui sumber data sekunder yang tersedia di lokasi penelitian berupa bahan-bahan dokumentasi, seperti: statistik kepegawaian dan lain-lain yang relevan dengan masalah yang diteliti.

2. Sumber Data

Sesuai dengan jenis data di atas, maka sumber data penelitian ini meliputi yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah subjek penelitian yang ditetapkan sebagai responden berkenaan dengan data utama (primer) yang hendak dikumpulkan. Sedangkan sumber data sekunder adalah bahan-bahan dokumentasi yang ditetapkan sebagai sumber data pelengkap (sekunder) yang relevan dengan masalah yang diteliti, seperti ata statistik kepegawaian.

3. Teknik Pengumpulan Data

Mengacu pada jenis data yang hendak dikumpulkan dalam penelitian ini, maka teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah teknik angket (kuesioner) dan teknik dokumentasi (dokumenter).

Dasar pertimbangan penggunaan teknik angket untuk pengumpulan data, adalah karena faktor efisiensi dan efektifitas dalam penggunaannya. Seperti dinyatakan Umar (2004:131) bahwa metode atau teknik yang berbentuk kuesioner (angket) sangat efektif dalam pendekatan survey dan lebih reliabel  jika pertanyaan yang diajukan terarah dengan baik dan efektif. Teknik angket ini dipergunakan untuk mengumpulkan data primer dalam hal ini yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Berikutnya, teknik dokumenter dipergunakan untuk pengumpulan data adalah untuk melengkapi data-data yang dipandang perlu dan relevan dengan penelitian ini.

E. Instrumen Penelitian

Berdasarkan teknik pengumpulan data yang dipergunakan , maka instrumen (alat) pengumpulan datanya juga disebut angket (kuesioner). Untuk teknik dokumentasi (dokumenter), instrumen pengumpulan datanya disebut lembar pencatatan dokumen.

Angket (kuesioner) merupakan kumpulan pertanyaan/pernyataan yang diajukan kepada responden secara tertulis, dan responden memberikan jawabannya dengan memberikan tanda cek (V) pada alternatif kategori jawaban yang dianggap sesuai/tepat dalam kolom yang tersedia pada angket. Penggunaan angket (kuesioner) ini adalah untuk memperoleh/mengumpulkan data primer yang berkenaan dengan variabel yang diteliti, yaitu: (1) tingkat pendidikan formal yang terakhir dimiliki dosen, (2) motivasi kerja dosen, dan (3) kinerja profesionalisme dosen.

Oleh karena itu data yang diperoleh/dikumpulkan dari angket (kuesioner) tersebut adalah merupakan data primer (data utama) berbentuk data diskrit atau data berupa kategori. Sedangkan sebagai data sekunder (data pelengkap) seperti data jumlah dosen pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang dan lain-lain yang relevan. Data sekunder tersebut diperoleh/dikumpulkan dengan menggunakan lembar pencatatan dokumen, seperti menggunakan buku statistik, laporan tahunan, laporan evaluasi kerja para dosen, dan berbagai sumber tertulis lainnya yang relevan dan tersedia di lokasi penelitian.

Terkait dengan angket sebagai alat pengumpulan data penelitian, di mana angket ini digunakan untuk mengukur nilai variabel yang diteliti, maka item-item yang terdapat dalam angket dikembangkan berdasarkan indikator-indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item angket yang berupa pernyataan atau pertanyaan. Mengingat item-item angket tersebut adalah untuk mengukur sikap atau pendapat responden (subjek penelitian) terhadap variabel yang diteliti, maka alternatif jawaban yang akan diukur berbentuk data diskrit atau data berupa kategori dengan menggunakan skala yang mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif. Dengan demikian model skala yang dipergunakan untuk setiap alternatif jawaban tersebut adalah menggunakan skala Likert (skala 1–5). Penggunaan model skala Likert ini untuk memudahkan dalam melakukan analisis data. Dengan menggunakan skala Likert, maka alternatif jawaban angket itu dapat diberi skor, seperti sebagai berikut:

  • Sangat Setuju (SS) / Sangat Sering (SS)                        =  5
  • Setuju (S) / Sering (S)                                                   =  4
  • Cukup Setuju (CS) / Kadang-kadang (KK)                  =  3
  • Kurang Setuju (KS) / Jarang (J)                                    =  2
  • Sangat Kurang Setuju (SKS) / Tidak Pernah (TP)         =  1

Mengenai pengembangan instrumen angket dimaksud lebih lanjut dapat dilihat pada Lampiran 2 dalam penelitian ini.

Untuk mendapatkan data penelitian yang valid dan reliabel, maka perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen penelitian, dalam hal ini terhadap angket yang akan dipergunakan untuk pengumpulan data.

Validitas menunjukkan tingkat kemampuan instrumen penelitian untuk mengungkapkan data sesuai dengan masalah yang hendak diungkapkan.

Singarimbun dan Effendi (1989) mengungkapkan bahwa instrumen penelitian dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti, dengan kata lain validitas menunjukkan sejauhmana alat pengukur itu dapat mengukur apa yang ingin diukur dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat. Untuk menguji validitas dilakukan dengan cara mengkorelasikan skor variabelnya, dengan formula Pearson Product Moment. Adapun rumusnya sebagai berikut:

Keterangan:

r       =  koefisien korelasi antara item x dengan skor total

x      =  variabel bebas

y      =  variabel terikat

n      =  jumlah subjek uji coba

 

Taraf signifikansi yang dipakai dalam uji validitas ini adalah sebesar 5%, kemudian hasil korelasinya dibandingkan dengan angka kritik pada tabel.

  • Jika rxy > r tabel, maka data yang dihasilkan dari pernyataan tersebut valid.
  • Jika rxy < r tabel, maka data yang dihasilkan dari pernyataan tersebut tidak valid.

Menurut Sugiyono (2004) mengatakan bahwa jika diperoleh korelasi positif dengan korelasi lebih dari 0.3, maka hasil uji tersebut merupakan konstruk yang kuat.

Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen penelitian dilakukan uji coba terlebih dahulu terhadap responden yang terpilih secara acak.

Reliabilitas merupakan indeks yang menunjukkan sejauhma-na alat pengukur dapat diandalkan atau dengan kata lain menunjukkan konsistensi dalam mengukur gejala yang sama. Untuk menguji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach. Rumusnya adalah sebagai berikut:

Keterangan:

r        =  rata-rata korelasi

K      =  jumlah item

Suatu instrumen dikatakan reliabel bila memiliki koefisien keandalan atau alpha sebesar 0.6 atau lebih, di mana penentuan kriteria indeks reliabilitas adalah sebagai berikut (Arikunto, 2005).

 

 

 

 

 

 

Tabel 4.2 Kriteria Indeks Koefisien Reliabilitas

 

No.

Interval

Kriteria

1.

2.

3.

4.

5.

< 0.200

0.200 – 0.399

0.400 – 0.599

0.600 – 0.799

0.800 – 1.00Sangat rendah

Rendah

Cukup

Tinggi

Sangat tinggi

 

 

Perhitungan reliabilitas dalam penelitian ini menggunakan program SPSS 10 for Windows, hasil perhitungannya kemudian dibandingkan dengan reliabilitas pembanding seperti tabel tersebut di atas. Bila alpha lebih kecil dari 0.6, maka dinyatakan tidak reliabel dan sebaliknya. Hasil uji validitas dan reliabilitas tersebut dapat dilihat dalam Lampiran 3.

F. Analisis Data

Mengacu pada rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka data hasil penelitian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dengan memanfaatkan persentase dan data penelitian disajikan dengan menggunakan tabel distribusi frekuensi. Ditinjau dari arti katanya, statistik deskriptif merupakan statistik yang bertugas untuk “mendeskripsikan” atau “memaparkan” gejala penelitian. Statistik deskriptif sifatnya sangat sederhana dalam arti tidak menghitung dan tidak pula menggeneralisasikan hasil penelitian (Arikunto, 2005:277).

Mengingat jenis data yang dikumpulkan dari angket (kuesioner) dalam penelitian ini adalah termasuk jenis data diskrit atau data berupa kategori yang berbentuk skala (skala 1 – 5) dengan menggunakan model skala Likert, maka skor ordinal tersebut harus ditransformasikan menjadi skala interval (suatu skala di mana jarak antara dua titik diketahui) sebagai tingkat pengukurannya. Transformasi skala ordinal menjadi skala interval menggunakan succesfull interval methods dengan bantuan komputer. Dalam prosedur Likert sejumlah pertanyaan disusun dengan jawaban responden berada dalam satu kontinum yang diberi bobot sesuai dengan item, dan dalam penelitian ini bobotnya adalah satu sampai lima.

Dengan demikian seperti yang telah dijelaskan di atas, maka analisis datanya menggunakan teknik analisis statistik deskriptif. Data ordinal tersebut hanya dikelompokkan secara terpisah menjadi dua atau beberapa kelompok sesuai dengan tujuan penelitian yang tidak ada hubungannya satu sama lain. Penyajian data dilakukan dengan menggunakan tabel sehingga memudahkan dalam melakukan analisis dan interpretasi terhadap data hasil penelitian, kemudian dapat mengambil kesimpulan tentang hasil penelitian tersebut.

Sedangkan untuk mengetahui ada tidaknya kontribusi antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen, maka teknik analisis data yang dipergunakan adalah analisis regresi dengan dua variabel (ubahan) prediktor, rumus persamaannya adalah:

Y = a1 x1 + a2 x2 + K     (Hadi, 1994:21)

 

Keterangan:

Y         =  kriterium (ubahan/variabel yang diramalkan)

X         =  prediktor (ubahan/variabel yang digunakan untuk

meramalkan

a          =  bilangan koefisien prediktor

K         =  bilangan konstan

 

Untuk menemukan persamaan garis regresi tersebut harga-harga koefisien prediktor dan bilangan konstannya dapat dicari dari data hasil penelitian. Sedangkan untuk mencari koefisien korelasi antara kriterium y dengan prediktor x1, dan prediktor x2 dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut:

(Hadi, 1994:25)

 

Keterangan:

Ry (1,2)    =  koefisien korelasi antara y dengan x1 dan x2

a1    =  koefisien prediktor x1

a2    =  koefisien prediktor x2

å x1 y     =  jumlah produk antara x1 dengan y

å x2 y     =  jumlah produk antara x2 dengan y

å y2        =  jumlah kuadrat kriterium y

 

Dari hasil analisis data di atas, kemudian diinterpretasikan dan diambil kesimpulan secara naratif sesuai dengan tujuan penelitian.

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan global dan dikaitkan dengan kondisi perekonomian dan sosial masyarakat yang tidak menguntungkan, tentu membawa dampak kepada kelangsungan pendidikan tinggi di tanah air. Disamping itu perubahan yang dirasakan serba cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta bermacam-macam kebutuhan dari berbagai sektor juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan dunia pendidikan termasuk mutu pendidikan tinggi.

Keprihatinan terhadap mutu pendidikan tinggi ini sudah meluas sampai kepada masyarakat termasuk didalamnya para orang tua murid. Dirasakan ada suatu harapan dari berbagai kalangan untuk melihat keterampilan pendidikan tinggi yang dalam banyak aspek dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi, yang sampai sekarang dirasakan masih kurang, bahkan belum terpenuhinya harapan tersebut.

Hal ini dapat dirasakan dari munculnya kritik terhadap dunia pendidikan tinggi yang semakin lama semakin banyak dan tajam. Kritik tersebut bervariasi mulai dari mutu pendidikan yang rendah, pendidikan tidak memenuhi tuntutan standar kerja, lulusan yang dirasakan tidak siap pakai hingga menurunnya kualitas lulusan perguruan tinggi. Kritik dan sorotan yang semakin tajam terhadap sistem pendidikan tinggi yang seolah-olah memperlihatkan ketidakmampuannya di dalam memenuhi tuntutan sesuai dengan persepsi masyarakat tersebut menjadi semakin jelas apabila hal itu dikaitkan dengan kenyataan di mana semakin tingginya angka pencari kerja yang sebagian besar adalah lulusan perguruan tinggi.

Munculnya kritik terhadap perguruan tinggi antara lain karena perguruan tinggi tidak dapat memenuhi tuntutan tujuan program perguruan tinggi tersebut. Tuntutan mengenai lulusan yang berkualitas ini semakin tinggi jika dikaitkan dengan tantangan globalisasi pada tahun-tahun mendatang (Seniati & Silalahi, 2001:18).

Disadari sepenuhnya bahwa mengurusi pendidikan tinggi, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan mutu bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini disebabkan karena peningkatan mutu pendidikan tinggi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : faktor kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan, faktor ketersediaan dana, faktor kurikulum, faktor sistem administrasi dan pengelolaan yang baik, dan tidak kalah pentingnya adalah faktor tersedianya dosen-dosen yang memiliki profesionalisme tinggi di dalam pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya (Tetelepta, 1995: 62). Saat ini kuantitas dan kualitas tenaga dosen dirasa masih belum dapat memenuhi tuntutan dalam mengemban misinya agar lulusan dapat mengisi kebutuhan pembangunan sesuai dengan kondisi dan potensi daerah (Kasih dan Suganda, 1999:ix).

Berbicara masalah profesionalisme dosen, kualitas kemampuan profesional staf akademik, yakni dosen merupakan faktor penting dan utama dalam menentukan peningkatan kualitas pendidikan yang akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas pula. Salah satu kebutuhan yang mendasar dalam suatu lembaga pendidikan yaitu dengan adanya peningkatan profesionalisme staf akademik (dosen). Pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut akibat dari pelaksanaan tugas-tugas yang belum terselenggara secara optimal. Karena berbagai keterbatasan di sana sini, sehingga jajaran pendidikan tinggi, dosen yang nota bene tidak saja sebagai pendidik, pengajar tetapi juga sebagai ilmuan, belum dapat menampilkan kinerja profesionalisme yang memadai.

Masalah kinerja profesionalisme dosen dalam melaksanakan tugas pokok di perguruan tinggi baik negeri maupun swasta telah sering menjadi perbincangan masyarakat luas maupun di kalangan ahli pendidikan. Dari hasil penelitian maupun pengamatan para ahli pendidikan dimaksud dapat dikemukakan berikut ini.

Wahjoetomo (1991:11), di antara semua faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan tinggi, maka dosen merupakan faktor yang paling dominan. Dalam banyak hal dosen akan sangat mewarnai wujud dari keluaran (lulusan). Dosen mau tidak mau akan menjadi objek imitasi bukan semata-mata memberi kuliah atau mentransfer ilmu, tetapi juga harus mampu memberikan motivasi, menumbuhkan sikap inovatif dan kreatif kepada mahasiswa, mendidik mahasiswa agar berjiwa mandiri. Oleh karena itu mutu pendidikan tinggi sangat dipengaruhi oleh kemampuan para dosen di dalam melakukan tugas dan fungsinya.

Ranuwihardjo (dalam Kompas, 1985:16) mengemukakan bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi merupakan keharusan mutlak, karena tahap pembangunan memerlukan pula peningkatan profesionalisme. Upaya peningkatan mutu ini, jelas bermula dari peningkatan para pengelola pendidikan tinggi dan tenaga pengajarnya. Tidak berlebihan apabila upaya peningkatan mutu dosen menempati posisi yang sangat strategis dalam pengembangan universitas/institut di Indonesia.

Dari hasil survey yang dilakukan oleh Ekawahyu Kasih dan Azis Suganda (1999:84) terhadap mahasiswa dan alumni Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang berada di bawah Koordinator Kopertis Wilayah III, mengungkapkan bahwa sampai saat ini kualitas dosen masih belum memuaskan. Mahasiswa menganggap masih banyak dosen yang tidak bisa diandalkan (44%), sedangkan kalangan alumni menganggap sebagian besar dosen tidak bisa diandalkan (56%). Menurut H.A.R. Tilaar (1995:542), rendahnya citra dosen tampak di dalam kemampuan atau tanggung jawab profesi dosen terhadap tugasnya. Dosen seharusnya adalah seorang manajer kelas, ia harus dapat bertanggung jawab terhadap kelancaran tugasnya di dalam kelas dalam menentukan metode belajarnya sendiri dan menyusun bahan pelajaran dari waktu ke waktu demi untuk pengembangan mahasiswanya. Namun kehidupan dosen dewasa ini yang meminta banyak waktu, untuk pekerjaan-pekerjaan sambilan lainnya sehingga tidak memungkinkan dia untuk menjadi seorang manajer yang profesional di dalam kelas. Lebih lanjut H.A.R. Tilaar (1995:543) mengemukakan, demikian pula kesempatan dosen untuk meneliti sangat kurang, bukan kurang dananya, juga kemampuan para dosen untuk meneliti sangat minim. Dengan sendirinya kualitas hasil-hasil penelitian masih rendah. Demikian pula kemampuan menulis ilmiah para dosen masih perlu ditingkatkan.

Demikian pula dari hasil penelitian yang dilakukan E.R. Kartika Waty (2005:111-112) terungkap bahwa motivasi kerja dan kondisi fisik lingkungan tempat bekerja berpengaruh negatif terhadap semangat kerja dosen (tenaga pengajar) di lingkungan FKIP Universitas Sriwijaya. Dari distribusi frekuensi menunjukkan bahwa belum seluruhnya (para dosen) mempunyai motivasi kerja yang tinggi. Motivasi kerja ini dilihat dari aspek terpenuhinya kebutuhan sehari-hari, keeratan dengan pimpinan atau rekan kerja, adanya dorongan dari pimpinan, penghargaan pimpinan atas kerja yang dilakukan, keberadaan diskusi dalam penyelesaian pekerjaa, kebersamaan dalam menyelesaikan tugas dengan teman kerja, serta sikap dan perhatian pimpinan terhadap prestasi yang dicapai bawahan.

Berdasarkan pengamatan Seniati dan Silalahi (2001:19) bahwa selama ini, cukup banyak dosen yang tidak mempersiapkan kuliah dengan baik serta hubungannya dengan mahasiswa hanya terbatas pada ruang kuliah. Dengan demikian mahasiswa juga tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya lebih mendalam tentang kuliah yang diajarkan karena dosen tidak siap atau dosen sulit ditemui. Di lain pihak, penataran pra jabatan yang seharusnya menjadi masa persiapan bagi calon pengajar agar dapat memberikan pengajaran dengan baik kadang baru diperoleh setelah dosen menjadi staf pengajar selama beberapa tahun. Selain itu menurut Melayu (2000:19), tidak jarang terjadi, bahwa motivasi kerja dosen tidak atau kurang membentuk perilaku belajar mahasiswa ke arah kemampuan mahasiswa untuk menunjukkan hasil belajar yang optimal. Keadaan tersebut terjadi karena ada faktor-faktor eksternal yang berpotensi membentuk motivasi kerja dosen.

Kondisi faktual menunjukkan bahwa kebanyakan dosen bukanlah tenaga yang dipersiapkan secara formal untuk menjadi pendidik, kecuali para dosen pada pendidikan tinggi keguruan. Oleh sebab itu, pada umumnya para dosen muda kurang memahami hakikat fungsinya sebagai pendidik. Faktor ini perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pembinaan karier para dosen (Wahjoetomo, 1991:12). Selain itu juga dikemukakan rendahya motivasi mereka untuk melakukan penelitian. Hal ini disebabkan mereka tidak menguasai metodologi penelitian, di samping keterbatasan dana. Karena tidak pernah atau sangat kurang melakukan penelitian, maka dalam memberikan kuliah para dosen tidak mampu mengintrodusir hal-hal baru yang berkaitan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akbatnya kuliah menjadi monoton dan steril (Wahjoetomo, 1991:12-13).

Pada akhir-akhir ini ditengarai bahwa banyak dosen bekerja paruh waktu di sektor swasta, atau mengajar di berbagai perguruan tinggi, sehingga waktu utama mengajarnya berkurang, atau kualitas persiapan mengajarnya kurang. Partisipasi dosen dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak dapat diperoleh secara maksimal, karena mereka membagi tenaganya dengan berbagai jenis kegiatan. Padahal partisipasi ini sangat penting dalam hubungannya dengan komitmen mereka untuk memajukan lembaganya (Sutjipto, dalam Tilaar, 2002:202). Lebih lanjut Sutjipto mengemukakan bahwa dosen banyak yang tidak berprestasi, lebih-lebih di perguruan tinggi negeri, karena sistem penggajian pegawai negeri tidak secara jelas membedakan antara pegawai yang berprestasi dan tidak. Dalam banyak hal dosen yang tidak berprestasi tetapi serius mengurus kenaikan pangkatnya dapat naik pangkat lebih cepat.

Menanggapi permasalahan kinerja profesionalisme dosen di atas, Pemerintah Indonesia secara terarah telah memberikan reaksi terhadap tuntutan yang semakin tinggi terhadap kualitas tenaga pendidik (guru/dosen) dan kualitas lembaga penyelenggara pendidikan di semua jenjang pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.

Reaksi itu diimplementasikan dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa dosen adalah sebutan lain dari istilah pendidik, yaitu tenaga kependidikan yang berkualifikasi sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (Silaban, 2003:3). Dalam pasal 39 undang-undang tersebut disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban (Silaban, 2003:23), yaitu: (a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Begitu juga dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa dosen mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat (Depdiknas, 2005:2). Dalam undang-undang ini disebutkan, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Depdiknas, 2005:4).

Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta dengan adanya tuntutan masyarakat terhadap perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, peran seorang dosen semakin berat. Sebagai tenaga pendidik pada perguruan tinggi yang diangkat dengan tugas utama mengajar maka seorang dosen tidak hanya harus mengetahui tuntutan tersebut, tetapi juga harus mampu memenuhinya. Hendaknya para dosen selalu berusaha untuk melakukan introspeksi diri, mengubah sikap dan perilakunya, melihat kekurangan dan kelemahan-kelemahannya, berusaha secara terus menerus melakukan improvisasi diri dengan menyesuaikan pada tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi serta arah kebijakan pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah terutama di bidang pendidikan tinggi.

Penugasan tenaga kependidikan dalam hal ini dosen pada suatu lembaga pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat dilakukan oleh pimpinan lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan dan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurut Makagiansar (1975:17-18), hakikat tugas staf pengajar pada suatu lembaga perguruan tinggi, adalah bahwa seorang staf pengajar harus menunjang misi pendidikan tinggi yang dibebankan kepadanya. Di mana salah satu asas pendidikan tinggi adalah Tridharma-nya, maka tugas-tugas seorang staf pengajar pada dasarnya meliputi tiga bidang utama: mendidik dan mengajar, melakukan penelitian dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, kinerja staf pengajar untuk mencapai sesuatu harus diukur dengan pelaksanaan ketiga fungsi utama tersebut.

Menurut UU No. 20 tahun 2003 pasal 42, dinyatakan bahwa “pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Dengan melihat amanat yang tertuang dalam UU tersebut, maka diwajibkan bagi dosen untuk memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, serta memiliki sertifikat profesi. Syarat kualifikasi akademik dan kompetensi penting untuk menentukan keprofesionalan seorang tenaga pendidik .

Ditinjau dari sudut profesi, seorang dosen adalah seorang pekerja profesional. Menurut Raelin (dalam Seniati & Silalahi, 2001:19), pekerja profesional adalah hanya bila menguasai pengetahuan dan memiliki keterampilan yang sesuai dengan profesinya. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki pekerja profesional yaitu: (1) memiliki pengetahuan khusus yang diperoleh dari pendidikan tinggi; (2) memiliki otonomi yaitu kebebasan untuk menentukan keputusan berdasarkan wewenang atau kompetensi yang dimiliki; (3) memiliki komitmen yang tinggi dan berminat untuk terus mengembangkan profesi; (4) mengidentifikasikan diri dengan kelompok profesional di mana mereka menjadi anggota organisasi profesi tersebut, secara formal maupun informal; (5) dalam menjalankan tugas berpegang pada etika profesi yang telah disosialisasikan; serta (6) memiliki tanggung jawab untuk menjalankan dan mempertahankan standar-standar profesi yang berlaku.

Adalah tugas seorang dosen untuk memberikan pengetahuan teoritis yang kuat kepada mahasiswanya, termasuk memberikan pengarahan dan pengalaman langsung mengenai penerapan pengetahuan teoritis pada kegiatan nyata sehari-hari. Melihat salah satu dari karakteristik yang dimiliki oleh pekerja profesional dalam hal ini adalah dosen, diketahui bahwa tingkat pendidikan dosen mempunyai peranan penting untuk mengetahui kemampuan menjalankan profesionalisme seorang dosen, karena untuk menjadi seorang dosen yang profesional, syarat yang harus dimiliki yakni memiliki latar belakang pendidikan yang memadai yang diperoleh dari pendidikan formal maupun pendidikan nonformal.

Pada hakekatnya, semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh oleh dosen itu, maka semakin tinggi pula pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang ilmu keguruannya dimana antara ketiga aspek dari kelakuan manusia itu tidak bisa dipisahkan (Nasution, 1982). Senada dengan hal tersebut, oleh Lieberman (1956) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang guru atau dosen, diharapkan menjadi guru atau dosen  yang lebih profesional.

Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki seorang dosen, maka ia akan memiliki penguasaan materi perkuliahan atau ilmu pengetahuan yang baik dan maksimal pada bidang yang ia ajarkan kepada mahasiswanya, dimana ia juga akan mampu untuk mengakses segala informasi dan perkembangan IPTEKS guna menunjang materi perkuliahannya, sehingga materi yang ia ajarkan selalu up to date. Dengan memiliki pendidikan yang tinggi, tentunya seorang dosen akan mampu mengembangkan dan menerapkan strategi pembelajarannya dengan baik. Begitu pula sebaliknya, jika tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seorang dosen masih dikatakan kurang maksimal, maka dapat dikatakan cenderung kurang maksimal pula dalam penguasaan materi ilmu pengetahuan yang ia ajarkan.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 19 (Silaban, 2003:11) disebutkan bahwa pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam rangka mengemban kewajiban atau misi penyelenggaraan pendidikan tinggi tersebut, dosen memiliki peranan yang sangat penting. Pramono (1990:18), tenaga pengajar atau dosen mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam meningkatkan mutu kelulusan. Sementara ini kondisi menunjukkan bahwa beban kerja (mengajar) dosen terlalu besar sehingga mereka kurang bisa mencurahkan perhatian secara penuh pada profesinya. Hal ini sebagai akibat adanya kerja sambilan di luar kegiatan mengajar di tempat lain dalam upaya untuk memperoleh penghasilan tambahan. Kondisi tersebut terjadi secara umum baik di perguruan tinggi negeri maupun di perguruan tinggi swasta. Selain itu, nampaknya profesi dosen belum merupakan pilihan utama, menjadi dosen hanya karena bisa memperoleh pekerjaan lain, sehingga kondisi ini kurang menunjang motivasi kerja mereka.

Mengingat peran dosen dalam tugas pengajarannya, yakni melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat sesuai dengan bidang keahliannya, serta memberi bimbingan kepada para mahasiswa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan minat mahasiswa dalam proses pendidikannya, maka diharapkan seorang dosen mempunyai motivasi yang tinggi terhadap tugasnya. Semakin kuat motivasi seorang dosen dalam melaksanakan tugasnya, maka semakin besar pula kemungkinan ia untuk mau bekerja dengan baik dan menunjukkan hasil atau prestasi yang baik pula. Jika motivasi yang dimiliki seorang dosen rendah, maka performansi dosen tersebut akan menurun, jika performansi menurun, ini berarti akan menyebabkan menurunnya hasil kerja.

Dengan demikian, seorang dosen tidak hanya diharapkan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian serta motivasi kerja sebagaimana tercermin dari semangat dan kegairahannya dalam pelaksanaan tugas-tugas pekerjaan. Menurut Glickman (dalam Tetelepta, 1995:62) Upaya-upaya ke arah peningkatan kinerja profesionalisme dosen merupakan hal yang penting, karena pada gilirannya sangat menentukan tinggi rendahnya produktivitas perguruan tinggi.

Berdasarkan  latar belakang permasalahan yang telah di paparkan diatas dan memperhatian permasalahan dosen tersebut, peneliti merasa tertarik dan terdorong untuk melakukan kajian melalui penelitian dengan judul: “Kontribusi Tingkat Pendidikan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Profesionalisme Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang”.

B. Pembatasan Masalah

Memperhatikan permasalahan mengenai dosen yang sangat luas dan kompleks serta mengingat keterbatasan yang ada pada peneliti, agar permasalahan substansi penelitian ini tidak menyimpang maka masalah yang diteliti difokuskan atau dibatasi pada:

  1. Tingkat pendidikan formal yang terakhir dimiliki dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Motivasi kerja yang dimiliki dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
  3. Kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: (a) pendidikan dan pengajaran, (b) penelitian, dan (c) pengabdian kepada masyarakat.
  4. Ada tidaknya kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan dan pembatasan masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diajukan beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, yakni sebagai berikut :

  1. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  2. Bagaimana gambaran motivasi kerja dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  3. Bagaimana gambaran kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  4. Apakah ada kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:

  1. Tingkat pendidikan dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Motivasi kerja dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  3. Kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  4. Ada atau tidaknya kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

E. Asumsi Penelitian

 

Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Tingkat pendidikan dan tingkat motivasi kerja dosen yang diteliti bervariasi.
  2. Ada dugaan tingkat pendidikan dan motivasi kerja dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  3. Dosen memahami dan menjawab angket penelitian sesuai dengan tata cara yang benar dan jujur sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

F. Manfaat Penelitian

 

Segala sesuatu yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, antara lain sebagai berikut :

  1. Bagi para Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, sebagai bahan evaluasi diri, refleksi dan masukan untuk menumbuhkan semangat dalam upaya meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas-tugas sesuai dengan lingkup pekerjaan dan kompetensinya ke arah yang lebih baik serta profesional. Pada akhirnya, kinerja profesionalisme dosen dapat ditingkatkan demi peningkatan kualitas pembelajaran akuntansi yang mereka laksanakan di fakultas.
  2. Bagi pimpinan lembaga, terutama Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dapat dijadikan sebagai sumber informasi ilmiah mengenai profesionalisme dosen jurusan akuntansi FE-UM serta dapat pula dijadikan sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia khususnya bagi para dosen untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme mereka baik dalam proses pembelajaran di fakultas maupun dalam proses pendidikan  baik itu formal maupun non formal. Pada akhirnya, dapat ditingkatkan kualitas pendidikan akuntansi di fakultas ekonomi.
  3. Bagi pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) adalah sebagai rekomendasi dan bahan kajian dalam rangka pembinaan dan pengembangan maupun dalam promosi karier Pegawai Negeri Sipil (PNS) khususnya bagi para dosen.
  4. Bagi peneliti lanjut, sebagai bahan rujukan (referensi) dalam rangka melakukan kajian lebih lanjut  dengan cakupan yang lebih luas dan mendalam.

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Prestasi sektor pendidikan negara Indonesia di level internasional belum juga menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hasil penilaian Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) dengan indikator kesehatan, pendidikan, dan ekonomi yang dilaksanakan pada tahun 2005 masih menempatkan Indonesia pada urutan 110 dari 175 negara yang diteliti. Indonesia bahkan berada di bawah negara-negara di Asia Tenggara lainnya seperti Malaysia (61), Thailand (73), Filipina (84), dan Vietnam (108).

Hal yang tidak jauh berbeda, terjadi pula pada nilai penguasaan atas ilmu pengetahuan. Tes yang diselenggarakan dibawah payung organisasi  Association for Evaluation of Educational Achievment International (AAEI), kembali menempatkan para siswa Indonesia pada urutan ke 36, dibawah Mesir dan Palestina yang berada satu peringkat diatasnya. Sedangkan negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia, bahkan menempati nomor pertama dan ke dua puluh dari 50 negara yang ditelaah.

Dua realita tersebut telah mampu memberikan  gambaran secara sekilas kepada kita, tentang kondisi dunia pendidikan saat ini di tanah air, dimana kualitas pendidikan di negara kita memang masih jauh dari yang kita harapkan.

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan semakin ketatnya persaingan global dan dikaitkan dengan kondisi perekonomian dan sosial masyarakat yang tidak menguntungkan, tentu membawa dampak kepada kelangsungan pendidikan tinggi di tanah air. Disamping itu perubahan yang dirasakan serba cepat dalam kehidupan masyarakat, akibat perkembangan ilmu dan teknologi, serta bermacam-macam kebutuhan dari berbagai sektor juga sangat berpengaruh terhadap kehidupan dunia pendidikan termasuk mutu pendidikan tinggi.

Keprihatinan terhadap mutu pendidikan tinggi ini sudah meluas sampai kepada masyarakat termasuk didalamnya para orang tua murid. Dirasakan ada suatu harapan dari berbagai kalangan untuk melihat keterampilan pendidikan tinggi yang dalam banyak aspek dapat memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan perkembangan dan perubahan-perubahan yang terjadi, yang sampai sekarang dirasakan masih kurang, bahkan belum terpenuhinya harapan tersebut.

Hal ini dapat dirasakan dari munculnya kritik terhadap dunia pendidikan tinggi yang semakin lama semakin banyak dan tajam. Kritik tersebut bervariasi mulai dari mutu pendidikan yang rendah, pendidikan tidak memenuhi tuntutan standar kerja, lulusan yang dirasakan tidak siap pakai hingga menurunnya kualitas lulusan perguruan tinggi. Kritik dan sorotan yang semakin tajam terhadap sistem pendidikan tinggi yang seolah-olah memperlihatkan ketidakmampuannya di dalam memenuhi tuntutan sesuai dengan persepsi masyarakat tersebut menjadi semakin jelas apabila hal itu dikaitkan dengan kenyataan di mana semakin tingginya angka pencari kerja yang sebagian besar adalah lulusan perguruan tinggi.

Munculnya kritik terhadap perguruan tinggi antara lain karena perguruan tinggi tidak dapat memenuhi tuntutan tujuan program perguruan tinggi tersebut. Tuntutan mengenai lulusan yang berkualitas ini semakin tinggi jika dikaitkan dengan tantangan globalisasi pada tahun-tahun mendatang (Seniati & Silalahi, 2001:18).

Disadari sepenuhnya bahwa mengurusi pendidikan tinggi, khususnya yang berkaitan dengan peningkatan mutu bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini disebabkan karena peningkatan mutu pendidikan tinggi dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : faktor kelengkapan sarana dan prasarana pendidikan, faktor ketersediaan dana, faktor kurikulum, faktor sistem administrasi dan pengelolaan yang baik, dan tidak kalah pentingnya adalah faktor tersedianya dosen-dosen yang memiliki profesionalisme tinggi di dalam pelaksanaan tugas-tugas profesionalnya (Tetelepta, 1995: 62). Saat ini kuantitas dan kualitas tenaga dosen dirasa masih belum dapat memenuhi tuntutan dalam mengemban misinya agar lulusan dapat mengisi kebutuhan pembangunan sesuai dengan kondisi dan potensi daerah (Kasih dan Suganda, 1999:ix).

Berbicara masalah profesionalisme dosen, kualitas kemampuan profesional staf akademik, yakni dosen merupakan faktor penting dan utama dalam menentukan peningkatan kualitas pendidikan yang akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas pula. Salah satu kebutuhan yang mendasar dalam suatu lembaga pendidikan yaitu dengan adanya peningkatan profesionalisme staf akademik (dosen). Pemenuhan terhadap kebutuhan tersebut akibat dari pelaksanaan tugas-tugas yang belum terselenggara secara optimal. Karena berbagai keterbatasan di sana sini, sehingga jajaran pendidikan tinggi, dosen yang nota bene tidak saja sebagai pendidik, pengajar tetapi juga sebagai ilmuan, belum dapat menampilkan kinerja profesionalisme yang memadai.

Wahjoetomo (1991:11), di antara semua faktor yang mempengaruhi mutu pendidikan tinggi, maka dosen merupakan faktor yang paling dominan. Dalam banyak hal dosen akan sangat mewarnai wujud dari keluaran (lulusan). Dosen mau tidak mau akan menjadi objek imitasi bukan semata-mata memberi kuliah atau mentransfer ilmu, tetapi juga harus mampu memberikan motivasi, menumbuhkan sikap inovatif dan kreatif kepada mahasiswa, mendidik mahasiswa agar berjiwa mandiri. Oleh karena itu mutu pendidikan tinggi sangat dipengaruhi oleh kemampuan para dosen di dalam melakukan tugas dan fungsinya.

Ranuwihardjo (dalam Kompas, 1985:16) mengemukakan bahwa peningkatan mutu pendidikan tinggi merupakan keharusan mutlak, karena tahap pembangunan memerlukan pula peningkatan profesionalisme. Upaya peningkatan mutu ini, jelas bermula dari peningkatan para pengelola pendidikan tinggi dan tenaga pengajarnya. Tidak berlebihan apabila upaya peningkatan mutu dosen menempati posisi yang sangat strategis dalam pengembangan universitas/institut di Indonesia.

Pemerintah Indonesia secara terarah telah memberikan reaksi terhadap tuntutan yang semakin tinggi terhadap kualitas tenaga pendidik (guru/dosen) dan kualitas lembaga penyelenggara pendidikan di semua jenjang pendidikan baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat.

Reaksi itu diimplementasikan dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa dosen adalah sebutan lain dari istilah pendidik, yaitu tenaga kependidikan yang berkualifikasi sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan (Silaban, 2003:3). Dalam pasal 39 undang-undang tersebut disebutkan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik dan tenaga kependidikan berkewajiban (Silaban, 2003:23), yaitu: (a) menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis; (b) mempunyai komitmen secara profesional untuk meningkatkan mutu pendidikan; dan (c) memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga profesi dan kedudukan sesuai dengan kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Begitu juga dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, disebutkan bahwa dosen mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat (Depdiknas, 2005:2). Dalam undang-undang ini disebutkan, dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Depdiknas, 2005:4).

Dengan ditetapkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta dengan adanya tuntutan masyarakat terhadap perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas, peran seorang dosen semakin berat. Sebagai tenaga pendidik pada perguruan tinggi yang diangkat dengan tugas utama mengajar maka seorang dosen tidak hanya harus mengetahui tuntutan tersebut, tetapi juga harus mampu memenuhinya. Hendaknya para dosen selalu berusaha untuk melakukan introspeksi diri, mengubah sikap dan perilakunya, melihat kekurangan dan kelemahan-kelemahannya, berusaha secara terus menerus melakukan improvisasi diri dengan menyesuaikan pada tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi serta arah kebijakan pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah terutama di bidang pendidikan tinggi.

Penugasan tenaga kependidikan dalam hal ini dosen pada suatu lembaga pendidikan tinggi yang diselenggarakan oleh pemerintah atau masyarakat dilakukan oleh pimpinan lembaga pendidikan tinggi yang bersangkutan dan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menurut Makagiansar (1975:17-18), hakikat tugas staf pengajar pada suatu lembaga perguruan tinggi, adalah bahwa seorang staf pengajar harus menunjang misi pendidikan tinggi yang dibebankan kepadanya. Di mana salah satu asas pendidikan tinggi adalah Tridharma-nya, maka tugas-tugas seorang staf pengajar pada dasarnya meliputi tiga bidang utama: mendidik dan mengajar, melakukan penelitian dan melaksanakan pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu, kinerja staf pengajar untuk mencapai sesuatu harus diukur dengan pelaksanaan ketiga fungsi utama tersebut.

Menurut UU No. 20 tahun 2003 pasal 42, dinyatakan bahwa “pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Dengan melihat amanat yang tertuang dalam UU tersebut, maka diwajibkan bagi dosen untuk memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran yang sehat jasmani dan rohani, memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, serta memiliki sertifikat profesi. Syarat kualifikasi akademik dan kompetensi penting untuk menentukan keprofesionalan seorang tenaga pendidik .

Ditinjau dari sudut profesi, seorang dosen adalah seorang pekerja profesional. Menurut Raelin (dalam Seniati & Silalahi, 2001:19), pekerja profesional adalah hanya bila menguasai pengetahuan dan memiliki keterampilan yang sesuai dengan profesinya. Ada beberapa karakteristik yang dimiliki pekerja profesional yaitu: (1) memiliki pengetahuan khusus yang diperoleh dari pendidikan tinggi; (2) memiliki otonomi yaitu kebebasan untuk menentukan keputusan berdasarkan wewenang atau kompetensi yang dimiliki; (3) memiliki komitmen yang tinggi dan berminat untuk terus mengembangkan profesi; (4) mengidentifikasikan diri dengan kelompok profesional di mana mereka menjadi anggota organisasi profesi tersebut, secara formal maupun informal; (5) dalam menjalankan tugas berpegang pada etika profesi yang telah disosialisasikan; serta (6) memiliki tanggung jawab untuk menjalankan dan mempertahankan standar-standar profesi yang berlaku.

Adalah tugas seorang dosen untuk memberikan pengetahuan teoritis yang kuat kepada mahasiswanya, termasuk memberikan pengarahan dan pengalaman langsung mengenai penerapan pengetahuan teoritis pada kegiatan nyata sehari-hari. Melihat salah satu dari karakteristik yang dimiliki oleh pekerja profesional dalam hal ini adalah dosen, diketahui bahwa tingkat pendidikan dosen mempunyai peranan penting untuk mengetahui kemampuan menjalankan profesionalisme seorang dosen, karena untuk menjadi seorang dosen yang profesional, syarat yang harus dimiliki yakni memiliki latar belakang pendidikan yang memadai yang diperoleh dari pendidikan formal maupun pendidikan nonformal.

Pada hakekatnya, semakin tinggi tingkat pendidikan yang ditempuh oleh dosen itu, maka semakin tinggi pula pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang ilmu keguruannya dimana antara ketiga aspek dari kelakuan manusia itu tidak bisa dipisahkan (Nasution, 1982). Senada dengan hal tersebut, oleh Lieberman (1956) menyatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang guru atau dosen, diharapkan menjadi guru atau dosen  yang lebih profesional.

Semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimiliki seorang dosen, maka ia akan memiliki penguasaan materi perkuliahan atau ilmu pengetahuan yang baik dan maksimal pada bidang yang ia ajarkan kepada mahasiswanya, dimana ia juga akan mampu untuk mengakses segala informasi dan perkembangan IPTEKS guna menunjang materi perkuliahannya, sehingga materi yang ia ajarkan selalu up to date. Dengan memiliki pendidikan yang tinggi, tentunya seorang dosen akan mampu mengembangkan dan menerapkan strategi pembelajarannya dengan baik. Begitu pula sebaliknya, jika tingkat pendidikan yang dimiliki oleh seorang dosen masih dikatakan kurang maksimal, maka dapat dikatakan cenderung kurang maksimal pula dalam penguasaan materi ilmu pengetahuan yang ia ajarkan.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 19 (Silaban, 2003:11) disebutkan bahwa pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam rangka mengemban kewajiban atau misi penyelenggaraan pendidikan tinggi tersebut, dosen memiliki peranan yang sangat penting. Pramono (1990:18), tenaga pengajar atau dosen mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam meningkatkan mutu kelulusan. Sementara ini kondisi menunjukkan bahwa beban kerja (mengajar) dosen terlalu besar sehingga mereka kurang bisa mencurahkan perhatian secara penuh pada profesinya. Hal ini sebagai akibat adanya kerja sambilan di luar kegiatan mengajar di tempat lain dalam upaya untuk memperoleh penghasilan tambahan. Kondisi tersebut terjadi secara umum baik di perguruan tinggi negeri maupun di perguruan tinggi swasta. Selain itu, nampaknya profesi dosen belum merupakan pilihan utama, menjadi dosen hanya karena bisa memperoleh pekerjaan lain, sehingga kondisi ini kurang menunjang motivasi kerja mereka.

Berdasarkan pengamatan Seniati dan Silalahi (2001:19) bahwa selama ini, cukup banyak dosen yang tidak mempersiapkan kuliah dengan baik serta hubungannya dengan mahasiswa hanya terbatas pada ruang kuliah. Dengan demikian mahasiswa juga tidak mempunyai kesempatan untuk bertanya lebih mendalam tentang kuliah yang diajarkan karena dosen tidak siap atau dosen sulit ditemui. Di lain pihak, penataran pra jabatan yang seharusnya menjadi masa persiapan bagi calon pengajar agar dapat memberikan pengajaran dengan baik kadang baru diperoleh setelah dosen menjadi staf pengajar selama beberapa tahun. Selain itu menurut Melayu (2000:19), tidak jarang terjadi, bahwa motivasi kerja dosen tidak atau kurang membentuk perilaku belajar mahasiswa ke arah kemampuan mahasiswa untuk menunjukkan hasil belajar yang optimal. Keadaan tersebut terjadi karena ada faktor-faktor eksternal yang berpotensi membentuk motivasi kerja dosen.

Kondisi faktual menunjukkan bahwa kebanyakan dosen bukanlah tenaga yang dipersiapkan secara formal untuk menjadi pendidik, kecuali para dosen pada pendidikan tinggi keguruan. Oleh sebab itu, pada umumnya para dosen muda kurang memahami hakikat fungsinya sebagai pendidik. Faktor ini perlu mendapatkan perhatian dalam rangka pembinaan karier para dosen (Wahjoetomo, 1991:12). Selain itu juga dikemukakan rendahya motivasi mereka untuk melakukan penelitian. Hal ini disebabkan mereka tidak menguasai metodologi penelitian, di samping keterbatasan dana. Karena tidak pernah atau sangat kurang melakukan penelitian, maka dalam memberikan kuliah para dosen tidak mampu mengintrodusir hal-hal baru yang berkaitan dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Akbatnya kuliah menjadi monoton dan steril (Wahjoetomo, 1991:12-13).

Pada akhir-akhir ini ditengarai bahwa banyak dosen bekerja paruh waktu di sektor swasta, atau mengajar di berbagai perguruan tinggi, sehingga waktu utama mengajarnya berkurang, atau kualitas persiapan mengajarnya kurang. Partisipasi dosen dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi tidak dapat diperoleh secara maksimal, karena mereka membagi tenaganya dengan berbagai jenis kegiatan. Padahal partisipasi ini sangat penting dalam hubungannya dengan komitmen mereka untuk memajukan lembaganya (Sutjipto, dalam Tilaar, 2002:202). Lebih lanjut Sutjipto mengemukakan bahwa dosen banyak yang tidak berprestasi, lebih-lebih di perguruan tinggi negeri, karena sistem penggajian pegawai negeri tidak secara jelas membedakan antara pegawai yang berprestasi dan tidak. Dalam banyak hal dosen yang tidak berprestasi tetapi serius mengurus kenaikan pangkatnya dapat naik pangkat lebih cepat.

Mengingat peran dosen dalam tugas pengajarannya, yakni melaksanakan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat sesuai dengan bidang keahliannya, serta memberi bimbingan kepada para mahasiswa dalam rangka memenuhi kebutuhan dan minat mahasiswa dalam proses pendidikannya, maka diharapkan seorang dosen mempunyai motivasi yang tinggi terhadap tugasnya. Semakin kuat motivasi seorang dosen dalam melaksanakan tugasnya, maka semakin besar pula kemungkinan ia untuk mau bekerja dengan baik dan menunjukkan hasil atau prestasi yang baik pula. Jika motivasi yang dimiliki seorang dosen rendah, maka performansi dosen tersebut akan menurun, jika performansi menurun, ini berarti akan menyebabkan menurunnya hasil kerja.

Dengan demikian, seorang dosen tidak hanya diharapkan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki kepedulian serta motivasi kerja sebagaimana tercermin dari semangat dan kegairahannya dalam pelaksanaan tugas-tugas pekerjaan. Menurut Glickman (dalam Tetelepta, 1995:62) Upaya-upaya ke arah peningkatan kinerja profesionalisme dosen merupakan hal yang penting, karena pada gilirannya sangat menentukan tinggi rendahnya produktivitas perguruan tinggi.

Berdasarkan  latar belakang permasalahan yang telah di paparkan diatas dan memperhatian permasalahan dosen tersebut, peneliti merasa tertarik dan terdorong untuk melakukan kajian melalui penelitian dengan judul: “Kontribusi Tingkat Pendidikan dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Profesionalisme Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang”.

B. Pembatasan Masalah

Memperhatikan permasalahan mengenai dosen yang sangat luas dan kompleks serta mengingat keterbatasan yang ada pada peneliti, agar permasalahan substansi penelitian ini tidak menyimpang maka masalah yang diteliti difokuskan atau dibatasi pada:

  1. Tingkat pendidikan formal yang terakhir dimiliki dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Motivasi kerja yang dimiliki dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang baik yang bersifat intrinsik maupun ekstrinsik.
  3. Kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, berkaitan dengan pelaksanaan tugas-tugas dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu: (a) pendidikan dan pengajaran, (b) penelitian, dan (c) pengabdian kepada masyarakat.
  4. Ada tidaknya kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan dan pembatasan masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat diajukan beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, yakni sebagai berikut :

  1. Bagaimana gambaran tingkat pendidikan dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  2. Bagaimana gambaran motivasi kerja dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  3. Bagaimana gambaran kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?
  4. Apakah ada kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan:

  1. Tingkat pendidikan dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  2. Motivasi kerja dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  3. Kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  4. Ada atau tidaknya kontribusi yang signifikan antara tingkat pendidikan dan tingkat motivasi kerja terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.

E. Asumsi Penelitian

 

Asumsi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Tingkat pendidikan dan tingkat motivasi kerja dosen yang diteliti bervariasi.
  2. Ada dugaan tingkat pendidikan dan motivasi kerja dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kinerja profesionalisme dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang.
  3. Dosen memahami dan menjawab angket penelitian sesuai dengan tata cara yang benar dan jujur sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.

F. Manfaat Penelitian

 

Segala sesuatu yang dihasilkan dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, antara lain sebagai berikut :

  1. Bagi para Dosen Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, sebagai bahan evaluasi diri, refleksi dan masukan untuk menumbuhkan semangat dalam upaya meningkatkan kemampuan pelaksanaan tugas-tugas sesuai dengan lingkup pekerjaan dan kompetensinya ke arah yang lebih baik serta profesional. Pada akhirnya, kinerja profesionalisme dosen dapat ditingkatkan demi peningkatan kualitas pembelajaran akuntansi yang mereka laksanakan di fakultas.
  2. Bagi pimpinan lembaga, terutama Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang, dapat dijadikan sebagai sumber informasi ilmiah mengenai profesionalisme dosen jurusan akuntansi FE-UM serta dapat pula dijadikan sebagai bahan masukan dalam merumuskan kebijakan pembinaan dan pengembangan sumberdaya manusia khususnya bagi para dosen untuk meningkatkan kemampuan dan profesionalisme mereka baik dalam proses pembelajaran di fakultas maupun dalam proses pendidikan  baik itu formal maupun non formal. Pada akhirnya, dapat ditingkatkan kualitas pendidikan akuntansi di fakultas ekonomi.
  3. Bagi pemerintah, dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Depdiknas) dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) adalah sebagai rekomendasi dan bahan kajian dalam rangka pembinaan dan pengembangan maupun dalam promosi karier Pegawai Negeri Sipil (PNS) khususnya bagi para dosen.
  4. Bagi peneliti lanjut, sebagai bahan rujukan (referensi) dalam rangka melakukan kajian lebih lanjut  dengan cakupan yang lebih luas dan mendalam.

 

 

 

 

Pengunjung datang dari kata kunci: